<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-2107481068058571539</id><updated>2012-01-08T09:43:54.488-08:00</updated><category term='Admin'/><category term='Kisah Teladan'/><category term='General'/><category term='Sekilas Info Saja'/><category term='Cinta'/><category term='Kisah-kisah'/><category term='Dienul Islam'/><category term='Mu&apos;amalah'/><title type='text'>Buletin Darul Ilmy</title><subtitle type='html'>Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda, 
"IKATLAH ILMU DENGAN TULISAN". [Hasan, HR. Ibnu 'Abdil Barr dalam al- Jaami' (I/ 306, No. 395) dari Shahabat Anas bin Malik Radhialloohu 'Anhu. Lihat Takhrij lengkapnya dalam 'Silsilah ash- Shahiihah, No. 2026, dan Shahiih al- Jaami'ish Shaghiir, No. 4434].</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://buletindarulilmy.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2107481068058571539/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buletindarulilmy.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2107481068058571539/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>khafidl khafidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12391092020879071145</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/__bf6ZucOoBA/TB-b6CilMiI/AAAAAAAAAaU/Sdg2fZ8YQRs/S220/085.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>170</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2107481068058571539.post-390897713982553519</id><published>2012-01-08T03:24:00.000-08:00</published><updated>2012-01-08T03:44:50.394-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dienul Islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Admin'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kisah Teladan'/><title type='text'>KISAH TENTANG TUKANG BESI YANG TIDAK DAPAT TERBAKAR API</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-1snO3kIAhog/TwmBQZHxwwI/AAAAAAAAArc/evgeDhfdrJM/s1600/vista-wallpaper-grass-ripples.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px; padding:3px; border:6px solid #BEBBBB;" src="http://2.bp.blogspot.com/-1snO3kIAhog/TwmBQZHxwwI/AAAAAAAAArc/evgeDhfdrJM/s200/vista-wallpaper-grass-ripples.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5695225322408100610" /&gt;&lt;/a&gt;Salah seorang yang shalih menceritakan, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Aku pernah masuk ke kota Mesir, di sana aku melihat &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;seorang tukang besi sedang mengeluarkan besi dari perapian besar dengan menggunakan tangannya&lt;/span&gt; kemudian ia membalikkannya di atas perapian. Anehnya tukang besi tersebut tidak merasakan sakit atau panas sedikitpun!”.&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat kejadian yang mengagumkan itu aku berkata kepada diri sendiri, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Dia pasti seorang hamba yang shalih sampai- sampai api pun tidak mampu memusuhinya”.&lt;/span&gt; Kemudian aku menyapa tukang besi tersebut dengan mengucapkan salam. Aku berkata kepadanya, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Wahai tuanku, dengan karomah yang engkau miliki ini, maka do’akanlah aku”.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar perkataanku tukang besi tersebut menangis dan berkata, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Wahai saudaraku, demi Alloh aku tidaklah seperti yang engkau sangka”.&lt;/span&gt; Aku menjawab, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Tapi ini adalah sebuah peristiwa yang baru dan sangat mengagumkan. Atau perlihatkan kepadaku agar aku bisa tahu bagaimana engkau bisa melakukan hal itu”.&lt;/span&gt; Tukang besi tersebut menjawab, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Baiklah”.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tukang besi tersebut mulai bercerita:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam beberapa hari aku berada di tempat tukang besi tersebut. (*Sesuai redaksi buku. pemilik toko besi sebelumnya. Red).  Hal itu menyebabkan aku banyak bercampur dengan hal- hal yang berkaitan dengan besi. Pada suatu hari ketika sedang duduk di toko besi tersebut, aku dikejutkan oleh kedatangan seorang perempuan yang sangat cantik, aku belum pernah melihat wajah secantik wajahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan tersebut berkata kepadaku, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Wahai saudaraku, apakah engkau memiliki sesuatu untuk Alloh Subhanahu Wa Ta’ala?”&lt;/span&gt; Ketika memandangnya aku merasa terpikat oleh kecantikannya, aku berkata kepadanya, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Apakah kamu mau pergi bersamaku ke rumah? Aku akan membayarmu berapapun yang menurutmu cukup”.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar perkataanku, perempuan tersebut lama memandang ke arahku, kemudian dia pergi dan tidak menampakkan dirinya dalam waktu yang cukup lama. Setelah itu perempuan tersebut kembali ke tempatku dan berkata, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Wahai saudaraku, apa yang aku katakan tadi sangat mendesak dan aku sangat membutuhkannya”. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian aku menutup toko buku tersebut dan mengajaknya menuju rumah. Perempuan tersebut berkata kepadaku, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Sesungguhnya aku memiliki seorang anak yang masih kecil, aku meninggalkannya dalam keadaan kemiskinan dan kefakiran. Jika engkau memberiku sesuatu maka aku akan pergi ke tempat anakku untuk memberikan pemberianmu itu, setelah itu aku akan kembali kepadamu lagi”.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar hal itu aku langsung melaksanakan perjanjian dengannya dan membayarnya beberapa dirham. Setelah menerima beberapa dirham dariku perempuan tersebut bergegas pergi. Perempuan tersebut kembali lagi menemuiku setelah satu jam dia menghilang. Aku langsung menyuruhnya masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat apa yang aku lakukan perempuan tersebut bertanya kepadaku, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Kenapa engkau melakukan hal itu (mengunci pintu)?”&lt;/span&gt; Aku menjawab, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Aku takut orang lain akan melihat kita”.&lt;/span&gt; Perempuan tersebut berkata, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Kenapa engkau tidak takut terhadap Rabb manusia?”.&lt;/span&gt; Dengan enteng aku menjawab, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Sesungguhnya Alloh Maha Pengampun lagi Maha Pengasih”.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian aku mendekati perempuan tersebut, namun aku mendapati tubuhnya menggigil dan bergetar hebat seperti bergetarnya dahan pohon kurma pada saat terjadi badai (angin topan), air matanya deras menetes di kedua pipinya. Aku bertanya kepada perempuan tersebut, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Apa yang membuat engkau bergetar hebat dan menangis?”.&lt;/span&gt; Perempuan tersebut menjawab, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Sesungguhnya aku takut terhadap Alloh ‘Azza Wa Jalla”.&lt;/span&gt; Kemudian dia berkata kepadaku, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Wahai saudaraku, jika engkau mau meninggalkan aku saat ini, aku jamin Alloh Subhanahu Wa Ta’ala tidak akan menyiksamu dengan panasnya api baik di Dunia maupun di Akhirat”.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar perkataannya, aku berdiri dan memberinya (semua) harta yang aku miliki. Aku berkata kepadanya, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Dengan ini aku akan meninggalkanmu karena takut terhadap Alloh ‘Azza Wa Jalla”.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika aku berpisah dengan perempuan tersebut aku merasa mataku sangat berat karena mengantuk, tidak lama kemudian aku tertidur. Dalam tidur aku melihat seorang perempuan yang sangat cantik, aku belum pernah melihat wajah secantik wajahnya. Di atas kepala perempuan tersebut terdapat mahkota terbuat dari Yaqut berwarna merah. Perempuan tersebut berkata kepadaku, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Semoga Alloh ‘Azza Wa Jalla memberimu kebaikan”.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Aku bertanya kepadanya, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Siapa kamu?”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan tersebut menjawab, &lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Aku adalah seorang ibu dari anak perempuan yang datang kepadamu,&lt;span style="font-weight:bold;"&gt; dan engkau memutuskan untuk meninggalkannya karena takut terhadap Alloh Subhanahu Wa Ta’ala.&lt;/span&gt; Aku menjamin Alloh Subhanahu Wa Ta’ala tidak akan membakarmu dengan panasnya api baik di Dunia maupun di Akhirat”.&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berkata kepadanya, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Jelaskan padaku tentang dirimu sebenarnya, engkau berasal dari keturunan mana, sehingga Alloh Subhanahu Wa Ta’ala mengasihimu?”.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan tersebut menjawab, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Aku adalah keturunan Rasululloh Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam, aku akan mengingatkan kepadamu firman Alloh yang artinya adalah,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya Alloh bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, wahai ahlul bait dan membersiihkan kamu sebersih- bersihnya”. (QS. Al- Ahzaab: 33).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Setelah perempuan tersebut selesai membacakan ayat Al- Qur’an tersebut aku terbangun, dan sejak kejadian itu aku tidak pernah merasa panas oleh api. Aku berharap semoga api di akhirat juga tidak memusuhiku dan tidak menimbulkan panas terhadapku”.&lt;/span&gt; &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;[Al- Mawaa’idl  Wa al- Majaalis. Karya Ibnu al- Jauzi (159- 160), dengan tahqiq dari Majdi Muhammad asy-Syahawi].&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sumber: ‘Wujudkan Impian Anda Dengan Do’a: 100 Kisah Nyata Kekuatan Do’a yang Seketika Dikabulkan/ Judul Asli: 100 Qishash Min Mujaabi ad- Du’a. Hal. 204- 208.&lt;/span&gt; Syaikh Majdi Muhammad Asy- Syahawi. Penerbit: AN-NABA’. Solo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan: Buku ini bagus. Penerbitnya Insya Alloh berpegang kepada Sunnah yang Shahih. Di dalamnya terdapat : Alasan2 mengapa do’a kita tidak segera dikabulkan, Bagaimana agar do’a kita didengar dan segera dikabulkan oleh Alloh, Syarat dan adab dalam berdo’a, Do’a2 dalam berbagai kondisi, dan Kisah orang2 yang tidak pernah menyerah hingga do’a mereka dikabulkan. Setiap Kisah yang terdapat di dalamnya disertakan juga sumber rujukannya di Footnote-nya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2107481068058571539-390897713982553519?l=buletindarulilmy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buletindarulilmy.blogspot.com/feeds/390897713982553519/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2107481068058571539&amp;postID=390897713982553519&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2107481068058571539/posts/default/390897713982553519'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2107481068058571539/posts/default/390897713982553519'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buletindarulilmy.blogspot.com/2012/01/kisah-tentang-tukang-besi-yang-tidak.html' title='KISAH TENTANG TUKANG BESI YANG TIDAK DAPAT TERBAKAR API'/><author><name>khafidl khafidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12391092020879071145</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/__bf6ZucOoBA/TB-b6CilMiI/AAAAAAAAAaU/Sdg2fZ8YQRs/S220/085.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-1snO3kIAhog/TwmBQZHxwwI/AAAAAAAAArc/evgeDhfdrJM/s72-c/vista-wallpaper-grass-ripples.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2107481068058571539.post-8712928391063273443</id><published>2012-01-04T19:38:00.000-08:00</published><updated>2012-01-05T02:05:42.734-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dienul Islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mu&apos;amalah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Admin'/><title type='text'>Barangsiapa yang memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya dari Allah Ta'ala.</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Hak Bertetangga/ Kerabat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;نَحْمَدُهُ, وَنَسْتَعِينُهُ, وَنَسْتَغْفِرُهُ, وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا, وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ, وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya diantara &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;keindahan Syari’at Islam&lt;/span&gt; adalah &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;memperhatikan keadilan dan memberikan hak kepada setiap pemiliknya dengan tanpa berlebihan dan mengurangi.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  Sungguh Allah telah memerintahkan keadilan, berbuat baik, dan menunaikan hak- hak kerabat. Dengan keadilan pula para Rasul ‘AlaihimusSholatu Wassalam diutus, Kitab- kitab diturunkan, dan urusan dunia dan akhirat tegak karenanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Keadilan adalah memberikan hak kepada setiap pemiliknya dan menetapkan sesuatu pada tempatnya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Keadilan ini tidak akan sempurna kecuali dengan mengetahui hak- hak mereka, sehingga bisa diberikan kepada pemiliknya. Satu diantara sekian banyak Hak- hak seorang Muslim adalah &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Hak Bertetangga.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Tetangga adalah orang yang paling dekat rumahnya dengan kita.&lt;/span&gt; Ia mempunyai hak yang besar atas kita. Jika ia memiliki hubungan kerabat dengan kita dan seorang muslim, maka ia memiliki tiga hak, yakni hak tetangga, hak kerabat, dan hak sebagai seorang muslim. Jika ia seorang kerabat dan bukan seorang muslim, maka ia memiliki dua hak, hak sebagai tetangga dan hak kerabat. Jika dia bukan seorang kerabat dan bukan seorang muslim, maka ia memiliki satu hak saja, yakni hak sebagai tetangga. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(Berdasarkan Hadits yang Diriwayatkan oleh Abu Bakar al- Bazzar dengan Sanadnya, dari al- Hasan, dari Jabir bin Abdillah Radhiallohu 'Anhum. Ibnu Katsir telah menyebutkan dalam Tafsirnya tentang ayat 36 dari Surat An- Nisaa’).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-NupZ60IOrS4/TwUnH-tNrbI/AAAAAAAAArQ/Q-rmmHRZ788/s1600/380423_235123506553428_100001673406902_596717_137868237_n.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 112px; padding:3px; border:6px solid #BEBBBB;" src="http://4.bp.blogspot.com/-NupZ60IOrS4/TwUnH-tNrbI/AAAAAAAAArQ/Q-rmmHRZ788/s200/380423_235123506553428_100001673406902_596717_137868237_n.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5694000321925066162" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu- bapak, karib kerabat, anak- anak yatim, orang- orang miskin, Tetangga yang Dekat, dan Tetangga yang Jauh”. (QS. An- Nisaa’ :36).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Senantiasa Jibril mewasiatkan kepadaku terhadap hak tetangga sehingga aku mengira bahwa tetangga akan mendapatkan harta waris”. (Muttafaqun ‘Alaih).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Diantara hak tetangga atas tetangga lainnya adalah berbuat baik kepadanya sesuai kemampuan, baik dengan harta, atau dengan kedudukan lainnya.&lt;/span&gt; Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Sebaik- baik orang yang hidup bertetangga di hadapan Allah adalah yang paling baik kepada tetangganya”. (HR. At- Tirmidzi dan beliau berkata, “Hadits Hasan Gharib”).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah berbuat baik kepada tetangganya”. (HR. Muslim).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam juga bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Jika engkau memasak Sayur, maka perbanyaklah kuahnya dan perhatikanlah tetanggamu”.(HR. Muslim).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Termasuk berbuat baik kepada tetangga ialah memberikan hadiah kepada mereka pada beberapa kesempatan.&lt;/span&gt; Karena hadiah akan mendatangkan kecintaan dan menghilangkan permusuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Diantara hak tetangga yaitu tidak mengganggu mereka, baik dengan ucapan, ataupun dengan perbuatan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Rasulullah Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Demi Allah tidaklah beriman, Demi Allah tidaklah beriman..!” Mereka bertanya, “Siapakah dia Wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Orang yang tetangganya merasa tidak aman dari Gangguannya”.(HR. al- Bukhari).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah riwayat, &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Tidak akan masuk Surga orang yang tetangganya merasa tidak aman dari Gangguannya”.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Yang dimaksud gangguan adalah berupa perbuatan Jahat.&lt;/span&gt; Barangsiapa yang tetangganya merasa tidak aman dari kejahatannya, maka tidaklah sempurna imannya, dan ia tidak akan masuk Surga. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kebanyakan orang pada saat ini mereka tidak memperhatikan hak tetangganya, bahkan tetangganya merasa terganggu dari kejahatannya.&lt;/span&gt; Kita lihat mereka selalu bertengkar dan merampas hak- hak tetangganya serta mengganggunya dengan Ucapan dan Perbuatan. Semua perbuatan ini menyelisihi perintah Allah dan Rasulullah Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam.,mengakibatkan terpecahnya kaum muslimin dan berjauhannya hati- hati mereka Serta sebagian mereka menodai kehormatan sebagian lainnya. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Wallahul Musta’an.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(6+ 7). Sabar atas Sikap Bodoh dan Sabar atas Gangguan Mereka. Berusaha menghadapi Sikap buruk mereka dengan Kebaikan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Dan Tidaklah Sama Kebaikan dengan Kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, sehingga orang yang ada rasa permusuhan antara kamu dan dia akan seperti teman yang setia”. (QS. Fushshilat: 34).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Subhanahu Wa Ta'ala juga berfiman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Barangsiapa yang memaafkan dan berbuat baik (kepada orang yang berbuat jahat) maka pahalanya dari Allah”. (QS. Asy- Syuuraa: 40).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sumber:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. “Adab dan Akhlak Penuntut Ilmu”. Hal. 74.&lt;/span&gt; Ust. Yazid bin Abdul Qadir Jawas. Pustaka at- Taqwa. Bogor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;2. ’10 Hak Fitrah Sebagaimana Yang Ditetapkan Oleh Syari’at’. Hal. 63-66. &lt;/span&gt;Syaikh Muhammad bin Shalih al- ‘Utsaimin. Rumah Dzikir. Solo.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2107481068058571539-8712928391063273443?l=buletindarulilmy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buletindarulilmy.blogspot.com/feeds/8712928391063273443/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2107481068058571539&amp;postID=8712928391063273443&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2107481068058571539/posts/default/8712928391063273443'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2107481068058571539/posts/default/8712928391063273443'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buletindarulilmy.blogspot.com/2012/01/barangsiapa-yang-memaafkan-dan-berbuat.html' title='Barangsiapa yang memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya dari Allah Ta&apos;ala.'/><author><name>khafidl khafidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12391092020879071145</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/__bf6ZucOoBA/TB-b6CilMiI/AAAAAAAAAaU/Sdg2fZ8YQRs/S220/085.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-NupZ60IOrS4/TwUnH-tNrbI/AAAAAAAAArQ/Q-rmmHRZ788/s72-c/380423_235123506553428_100001673406902_596717_137868237_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2107481068058571539.post-1494371709003110189</id><published>2011-12-25T16:04:00.000-08:00</published><updated>2011-12-25T16:14:00.384-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dienul Islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Admin'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='General'/><title type='text'>Akhir Kehidupan Yang Baik</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-uHn59mzZpz4/Tve7jVJkKyI/AAAAAAAAArE/FNAwEDyLpBw/s1600/4110199609_a524d487b2.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px; padding:3px; border:6px solid #BEBBBB;" src="http://3.bp.blogspot.com/-uHn59mzZpz4/Tve7jVJkKyI/AAAAAAAAArE/FNAwEDyLpBw/s200/4110199609_a524d487b2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5690222869852990242" /&gt;&lt;/a&gt;19 Tanda Husnul Khatimah &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh al- Imam al- Muhaddits, Syaikh Muhammad Nashiruddin al- Albani Rahimahullah, Sang Mujaddid Abad ini, menuliskan Alamaat Husnil Khaatimah (Tanda- tanda Husnul Khatimah) dalam Kitab Ahkaamul Janaa-iz. (Terbitan Maktabah al- Ma’arif –Riyadh, Cetakan ke -3 Th. 1410H). Selanjutnya beliau Rahimahullah mengatakan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    “Allah Subhanahu Wa Ta'ala, Pembuat Syari’at Yang Maha Bijaksana telah menetapkan tanda- tanda yang jelas, yang menunjukkan akhir kehidupan yang baik (Husnul Khaatimah). Semoga Allah Ta’ala dengan Keutamaan dan Karunia- Nya menetapkan tanda- tanda tersebut bagi kita. Barangsiapa dianugerahi salah satu dari tanda- tanda tersebut, maka baginyalah kabar Gembira (dengan mendapatkan akhir kehidupan yang baik itu). Inilah tanda- tanda Husnul Khatimah tersebut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Ucapan Kalimat Syahadat ketika meninggal Dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak Hadits- hadits yang menerangkan tentang tanda yang pertama ini. Di antaranya adalah Sabda Rasulullah Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    “Barangsiapa yang Akhir perkataannya adalah Kalimat Laa Ilaaha Illallaah (Tidak ada Ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah), maka ia pasti masuk Surga”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    (Hadits Hasan, Lihat Shahiih al- Jaami’ish Shaghir No. 6479, dan Irwaa-ul Ghaliil (III/ 149)).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Meninggal dengan Berkeringat Di Dahinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini berdasarkan Hadits dari Buraidah bin al- Khashib Radhiallohu 'Anhu, Bahwasanya Buraidah sedang berada di daerah Khurasan. Lalu ia menjenguk saudaranya yang sedang sakit, dan ia menyaksikan kematiannya. Ia melihat keringat di dahi saudaranya yang telah meninggal itu. Ia berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    “Allah Maha Besar. Aku telah mendengar Rasulullah Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    “Meninggalnya seorang Mukmin adalah dengan berkeringat di dahinya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    (Hadits Shahih, Lihat Shahiih Sunan an- Nasa-i (No. 1828)).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Meninggal pada Malam Atau Hari Jum’at.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan Hadits Yang Seluruh Jalan Periwayatannya Hasan Atau Shahih. Rasulullah Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    “Tidak ada seorang Muslim pun yang meninggal pada hari atau malam Jum’at, Kecuali ia akan dijaga oleh Allah dari Fitnah Kubur”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    (Hadits ini Hasan: Lihat Shahiih al- Jami’ish Shaghiir (No. 5773), Shahiih at- Targhiib wat Tarhiib (No. 3562), dan Misykaatul Mashaabiih (No. 1367)).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Gugur Sebagai Syuhada di Medan Perang,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan Firman Allah Ta’ala:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    “Janganlah Kamu Mengira Bahwa Orang- orang yang gugur di Jalan Allah itu mati. Bahkan mereka itu hidup di sisi Rabb- nya dengan mendapatkan Rizki. Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang dianugerahkan- Nya kepada mereka. Dan mereka senang terhadap orang- orang yang masih tinggal di belakang mereka (masih hidup di dunia), yang belum menyusul mereka, Bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Mereka senang dengan nikmat dan karunia yang besar dari Allah, dan bahwa Allah tidak menyia- nyiakan pahala orang yang beriman”. (QS. Ali ‘Imran 169- 170).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan juga berdasarkan Sabda Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    “Bagi orang yang mati Syahid (gugur di medan perang Fii Sabiilillaah) ada 6 (enam) perkara (anugerah) pada sisi Allah: (1) Allah mengampuninya sejak pertama kali darahnya menetes, (2) ia melihat tempat tinggalnya kelak di Surga, (3) Dilindungi dari Siksa Kubur, (4) Merasa Aman dari kegoncangan yang besar (di Hari Kiamat), (5) Diberi perhiasan dengan perhiasan Iman serta dinikahkan dengan bidadari (Surga), dan (6) Diberi wewenang untuk memberikan Syafa’at (pembelaan) kepada tujuh puluh orang familinya”.   (Hadits ini Shahiih, Lihat Misykaatul Mashaabiih (No. 3834), dan Shahiih at- Targhiib Wat Tarhiib, (No. 1375)).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Meninggal Ketika Berperang Di Jalan Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini berdasarkan Sabda Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    “Menurut Kalian, Siapa Sajakah orang yang Syahid di antara Kalian?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Maka Para Shahabat pun menjawab, “Orang yang Syahid adalah yang gugur di medan perang di Jalan Allah”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Maka Rasulullah Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    “Jika demikian, maka orang yang Syahid dari umatku itu sangat sedikit”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Para Shahabat- pun bertanya, “Kalau begitu, Siapakah mereka Wahai Rasulullah?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Beliau Menjawab:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    “Orang Yang terbunuh (gugur) di medan perang Fii Sabiilillah, Ia Syahid. Orang Yang meninggal dalam memperjuangkan Agama Allah (Fii Sabiilillah), Ia Syahid. Orang yang meninggal karena Suatu Wabah Penyakit, Ia Syahid. Orang yang meninggal karena Sakit perut, Ia Syahid. Dan orang yang mati tenggelam, Ia Syahid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    (Hadits ini Shahiih, Lihat Misykaatul Mashaabiih (No. 3811), dan Shahiih at- Targhiib Wat Tarhiib, (No. 1393)).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Meninggal karena Suatu Wabah Penyakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini berdasarkan beberapa Hadits, di antaranya adalah Sabda Rasulullah Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    “Wabah Penyakit menular itu adalah (Salah Satu penyebab) mati Syahid bagi Setiap Muslim”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    (Hadits ini Shahiih, Lihat Shahiihul Jaami’ (No. 3947), Shahiih at- Targhiib Wat Tarhiib (No. 1399), dan Misykaatul Mashaabiih (No. 1545)).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Meninggal Karena Menderita Penyakit Di Perutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini berdasarkan Sabda Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam yang telah lalu. Yakni Sabda beliau:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    “Dan Orang yang meninggal karena Sakit perut, dia Syahid”. (Hadits ini Shahiih).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8 &amp; 9. Orang yang Meninggal Karena Tenggelam, atau Tertimpa Reruntuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini berdasarkan Sabda Rasulullah Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    “Orang- orang yang Syahid ada Lima:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    (1) Orang yang meninggal karena Wabah Penyakit, (2) Orang Yang meninggal karena Sakit Perut, (3) Orang Yang Mati Tenggelam, (4) Orang Yang tertimbun Longsor (atau tertimpa Reruntuhan), (5) Orang yang meninggal dalam membela agama Allah”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    (Lihat Shahiihul Jaami’ (No. 3741), Shahiih at- Targhiib Wat Tarhiib (No. 1393), dan Misykaatul Mashaabiih, (No. 1546)).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10.  Wanita Yang Meninggal dalam Masa Nifasnya, atau disebabkan karena melahirkan Anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini berdasarkan Hadits ‘Ubadah bin ash- Shamit, ia mengatakan bahwa Rasulullah Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam menjenguk ‘Abdullah bin Rawahah yang Sudah tidak mampu lagi beranjak dari tempat tidurnya.  Maka Rasulullah Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    “Tahukah engkau tentang para Syuhada dari umatku?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Para Shahabat menjawab, “Gugurnya seorang muslim (di medan perang) adalah Syahid”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Rasulullah Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda lagi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    “Jika demikian, maka para syuhada dari umatku sangat sedikit. Gugurnya seorang muslim (di medan perang) adalah Syahid. Orang yang terkena wabah penyakit juga Syahid. Wanita yang meninggal disebabkan anaknya yang masih dalam rahimnya (atau ketika melahirkannya) adalah syahid. [Anaknya akan menarik ibunya ke dalam Surga dengan Tali Pusarnya]..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad- nya (IV/ 210, V/ 323) dengan Sanad Yang Shahiih).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11 &amp; 12.  Meninggal karena terbakar atau karena Radang selaput Dada (Atau pada Rusuk),&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini berdasarkan Beberapa Hadits , Yang Paling Masyhur adalah Hadits Marfu’ dari Jabir bin ‘Atik:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    “Selain gugur di medan perang Fii Sabiilillah, ada tujuh (golongan) Yang Mati sebagai Syuhada: (1) Orang yang meninggal karena Suatu wabah penyakit adalah Syahid, (2) Orang Yang Mati Tenggelam adalah Syahid, (3) Orang yang meninggal karena penyakit radang selapput dada adalah Syahid, (4) Orang Yang meninggal karena sakit perut adalah Syahid, (5) Orang yang mati terbakar adalah Syahid, (6) Orang yang meninggal karena tertimpa (atau terjebak) di bawah reruntuhan (atau longsor) adalah Syahid, (7) Wanita yang meninggal karena anaknya (sedang hamil atau ketika melahirkan) adalah Syahid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    (Hadits ini Shahiih, Lihat Shahiih at- Targhiib Wat Tarhiib (No. 1398), Misykaatul Mashaabiih (No. 1561), dan Shahiih Sunan Abi Dawud (No. 2668)).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13. Meninggal Karena Penyakit TBC.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini berdasarkan Sabda Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    “Orang Yang terbunuh (gugur) di Jalan Allah adalah Syahid. Wanita yang meninggal di masa nifas (karena melahirkan anaknya) adalah Syahid. Orang yang mati terbakar adalah Syahid. Orang yang meninggal karena penyakit TBC adalah Syahid. Dan orang yang meninggal karena sakit perut adalah Syahid”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    (Hadits ini Hasan, Lihat al- Mu’jamul Kabiir (No. VI/ 247), No. 6115) oleh Imam ath- Thabrani).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;14. Orang Yang meninggal dalam membela harta yang hendak dirampas orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini berdasarkan beberapa hadits, di antaranya adalah Sabda Rasulullah Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    “Orang Yang meninggal dalam rangka membela hartanya (pada riwayat yang lain: Barangsiapa yang hartanya akan dirampas dengan cara yang tidak dibenarkan, lalu ia berkelahi membela haknya, dan ia terbunuh), maka ia Syahid”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    (Hadits ini Shahiih, Lihat Shahiihul Jaami’ (No. 6444)).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;15 &amp; 16.  Orang Yang Meninggal karena membela agama dan Jiwanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini berdasarkan Sabda Rasulullah Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    “Orang yang terbunuh dalam rangka membela hartanya, Ia Syahid. Orang yang terbunuh dalam rangka membela keluarganya adalah Syahid. Orang yang meninggal dalam rangka membela agamanya, ia Syahid. Dan orang yang terbunuh dalam membela darah (jiwa)nya adalah Syahid”. (Hadits ini Shahiih, Lihat Shahiihul Jaami’ No. 6445)).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;17. Orang yang Meninggal dalam Tugas Fii Sabiilillah dalam menjaga Wilayah Perbatasan Atau Menjaga Wilayah Negeri Kaum Muslimin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini berdasarkan Sabda Rasulullah Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    “Ribath (Siap Siaga dalam menjaga perbatasan Kaum Muslimin) Sehari semalam adalah lebih baik daripada berpuasa sebulan, dan malam- malamnya digunakan untuk Qiyamul Lail. Jika ia meninggal, maka pahala amalnya yang ia lakukan (di dunia) akan tetap mengalir kepadanya, dan rizqynya pun akan tetap mengalir kepadanya. Dan ia akan aman dari berbagai fitnah (setelah mati)”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    (Hadits ini Shahiih, Lihat Shahiih at- Targhiib Wat Targhiib, (No. 1217)).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;18.  Meninggal Ketika Sedang Berada Dalam Suatu Amal Shalih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal Ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    “Barangsiapa yang mengucapkan Laa Ilaaha Illallaah (Tidak Ada Ilah Yang berhak diibadahi dengan benar, Kecuali Allah) dengan mengharapkan Wajah Allah (Ikhlas), sedangkan hidupnya diakhiri dengan kalimat ini, maka ia pasti masuk ke Surga. Barangsiapa yang berpuasa karena mengharapkan Wajah Allah (Ikhlas), lalu ia tutup usia, maka ia pasti masuk Surga, dan Barangsiapa BerSHadaqah dengan mengharapkan Wajah- Nya (Ikhlas), lalu ia meninggal dengan amal Shadaqah ini, maka ia pasti masuk Surga”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    (Hadits Shahiih, Lihat Shahiih at- Targhiib Wat Tarhiib, No. 985)).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;19. Orang Yang Dibunuh Oleh Raja Yang Zhalim, dalam Rangka menegakkan (Kebenaran) dan memberikan Nashihat kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini Berdasarkan Sabda Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    “Pemimpin Para Syuhada adalah Hamzah bin ‘Abdul Muththalib, dan Seseorang yang mendatangi Imam (Pemimpin Kaum Muslimin) untuk memerintahkan (kebaikan), dan melarangnya (melakukan kemungkaran), namun pemimpin kaum muslimin itu malah membunuhnya”. (HR. Al- Hakim, dan Ia menShahiih-kannya. Diriwayatkan juga oleh al- Khathib).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    (Hadits ini Shahiih, Lihat Shahiih at- Targhiib Wat Tarhiib, (No. 2308), dan Silsilah ash- Shahiihah, No. 374)).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab- Sebab Husnul Khatimah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab terbesar dari Husnul Khatimah adalah seseorang senantiasa Taat dan bertakwa kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala, dan Pokok Pangkal dari Ketaatan dan ketakwaan ini adalah meneguhkan Tauhid (Meng- Esa-kan Allah ‘Azza Wa Jalla) , berhati- hati dari melakukan segala sesuatu yang diharamkan – Nya, serta bersegera untuk bertaubat dari segala sesuatu yang menodai ketaatan dan ketakwaannya itu. Dan noda terbesar yang harus segera ditaubati adalah Syirik (Menyekutukan Allah Subhanahu Wa Ta'ala), baik Syirik Besar, maupun Syirik Kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah ‘Azza Wa Jalla Berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    “Sungguh Allah tidak akan mengampuni Dosa Syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (Syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki- Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka Sungguh ia telah berbuat dosa yang sangat Besar”. (QS. An- Nisaa’ :48).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian dari penyebab Husnul Khatimah (Akhir Kehidupan Yang Baik) adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Senantiasa bersungguh-sungguh dan tidak bosan- bosan untuk berdo’a agar Allah Ta’ala mewafatkannya dalam Keimanan dan Ketakwaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Seseorang harus beramal dengan segenap kesungguhan dan Ketaatannya dalam rangka memperbaiki Zhahir dan bathinnya. Niat dan tujuannya harus dihadapkan untuk membuktikan dan membenarkan amal tersebut, karena Sunnatullah Yang Maha Mulia Subhanahu Wa Ta'ala telah berlaku, bahwa Allah ‘Azza Wa Jalla akan memberikan Taufik kepada Setiap Pencari Kebenaran untuk menggapai Kebenaran Tersebut. Setelah kebenaran itu tergapai, maka Allah Subhanahu Wa Ta'ala akan meneguhkannya di jalan kebenaran tersebut, serta Dia akan mengakhiri hidup si hamba dalam keadaan akhir yang baik tersebut. Wallahu a’lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Bahagia Ataukah Sengsara Di Akhir Kehidupan. Hal. 54- 73 dan Hal. 34- 36. Syaikh Khalid bin ‘Abdurrahman asy- Syayi’ . Media Tarbiyah. Bogor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Ahkaamul Janaa-iz (Tuntunan Pengurusan Jenazah &amp; Ziarah Kubur). Hal. 79-96. Syaikh Muhammad Nashiruddin al- Albani. Ash- Shaf Media. Tegal. (Catatan: Pada Buku ini hanya disebutkan 18 Tanda Khusnul Khatimah, Tanpa ada No.19. Buku ini Insya Allah sangat Bermanfaat dengan keterangan lebih mendalam dan penjelasan yang Shahih).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2107481068058571539-1494371709003110189?l=buletindarulilmy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buletindarulilmy.blogspot.com/feeds/1494371709003110189/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2107481068058571539&amp;postID=1494371709003110189&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2107481068058571539/posts/default/1494371709003110189'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2107481068058571539/posts/default/1494371709003110189'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buletindarulilmy.blogspot.com/2011/12/akhir-kehidupan-yang-baik.html' title='Akhir Kehidupan Yang Baik'/><author><name>khafidl khafidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12391092020879071145</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/__bf6ZucOoBA/TB-b6CilMiI/AAAAAAAAAaU/Sdg2fZ8YQRs/S220/085.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-uHn59mzZpz4/Tve7jVJkKyI/AAAAAAAAArE/FNAwEDyLpBw/s72-c/4110199609_a524d487b2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2107481068058571539.post-5110437079050550877</id><published>2011-12-09T21:41:00.000-08:00</published><updated>2011-12-09T21:58:42.493-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dienul Islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Admin'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='General'/><title type='text'>Dan hendaknya mengadukan semua kesulitan itu hanya kepada Allah 'Azza Wa Jalla..</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sesungguhnya hakikat hidup ini adalah cobaan dan ujian.  &lt;/span&gt; Allah ciptakan hidup dan mati untuk menguji manusia: Siapa yang paling baik amalnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa, Maha Pengampun”. (QS. Al- Mulk: 2).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Cobaan dan Ujian selalu mengiringi manusia,&lt;/span&gt; apakah itu berupa kesenangan atau kesusahan, kekayaan atau kemiskinan, sehat atau sakit, gembira atau sedih, dan lainnya. Semua itu merupakan ujjian, apakah manusia bersyukur atau tidak, bersabar atau tidak.  &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Bagi orang yang diberikan kesenangan, kekayaan, kegembiraan, maka konsekuensi kesenangan yaitu bersyukur atas segala nikmat Allah dengan mentauhidkan Allah dalam beribadah hanya kepada- Nya, melaksanakan ketaatan kepada Allah, dan menjauhkan perbuatan dosa dan maksyiat. &lt;/span&gt;Orang yang bersyukur kepada Allah sangat sedikit sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Dan sedikit sekali dari hamba- hamba- Ku yang bersyukur”. (QS. Saba’ : 13)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Bagi orang yang diberikan cobaan, ujian berupa kesusahan, kefaqiran, dan penyakit, maka konsekuensinya adalah sabar,  tidak banyak berkeluh kesah dan hendaknya mengadukan semua kesulitan itu hanya kepada Allah, Sabar dan Ridho kepada Takdir Allah, tidak berputus asa dari Rahmat Allah, dan terus berdo’a hanya kepada Allah saja, maka Allah akan memberikan ganjaran yang besar kepada orang yang Sabar.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Hanya orang- orang yang Bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas”. (QS. Az- Zumar: 10).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Seorang Mukmin, Semua urusannya adalah baik,&lt;/span&gt; jika ia mendapat kesenangan, maka ia bersyukur. Dan jika ia mendapat kesulitan, kesusahan, atau penyakit, maka ia bersabar, sebagaimana disebutkan dalam &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;hadits riwayat Muslim No. 2999&lt;/span&gt; dari Shahabat Shuhaib Radhiallohu 'Anhu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Seorang Mukmin harus memahami dan meyakini hakikat Cobaan dan Ujian, karena dengan cobaan dan Ujian, Allah memberikan Ganjaran, Pahala, Derajat Yang Tinggi, dan Jaminan Surga bagi orang yang Lulus dalam Ujian hidup ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Begitu pula orang yang ditimpa musibah berupa penyakit dan lainnya, ia harus Ridha dan Sabar.&lt;/span&gt; Dan Yang Wajib kita ingat bahwa &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Allah Subhanahu Wa Ta'ala Yang menurunkan Penyakit, dan Dia jugalah yang menurunkan obatnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Allah tidak menurunkan penyakit melainkan pasti menurunkan obatnya”. (HR. al- Bukhari No. 5678, dari Abu Hurairah Radhiallohu 'Anhu).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Setiap Penyakit ada obatnya, jika suatu obat itu tepat (manjur) untuk suatu penyakit, maka penyakit itu akan sembuh dengan izin Allah ‘Azza Wa Jalla”. (HR. Muslim No. 2204, dari Jabir Radhiallohu 'Anhu).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada seorangpun yang dapat menghilangkan bahaya, penyakit, dan musibah kecuali hanya Allah saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Dan apabila aku sakit, Dia- lah yang menyembuhkan aku”. (QS. Asy- Syu’araa’ : 80).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan Jika Allah menimpakan suatu bencana kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagimu, maka tidak ada yang dapat menolak karunia- Nya. Dia memberikan kebaikan kepada siapa saja yang Dia kehendaki di antara hamba- hamba- Nya,  dan Dia- lah yang Maha Pengampun , Maha Penyayang”. (QS. Yunus: 107).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Jika Allah menimpakan suatu bencana kepadamu, maka tidak ada yang menghilangkannya selain Dia. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu”. (QS. Al- An’aam: 17).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Untuk menghilangkan bahaya dan menyembuhkan penyakit, cara yang paling baik, mujarab, dan manjur adalah dengan Al- Qur-an dan As- Sunnah. &lt;/span&gt;  Di dalam buku ini, penulis menjelaskan tuntunan Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam yang Lengkap tentang bagaimana mengobati orang yang terkena musibah penyakit, guna- guna, santet, Sihir, dan lainnya, yaitu dengan Al- Qur-an dan As-Sunnah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Hanya Allah saja yang dapat memudahkan urusan kaum Muslimin, menghilangkan kesulitan- kesulitan mereka dan menyembuhkan kita dan saudara- saudara kita yang terkena musibah dan penyakit.&lt;/span&gt;  Mudah- mudahan kita kembali kepada Allah dengan bertaubat, mentauhidkan Allah menjauhkan Syirik, dan segala macam maksyiat, dan mudah- mudahan kita dapat melaksanakan ibadah kepada Allah dengan Ikhlas dan Ittiba’ (Mencontoh_red) kepada Rasulullah Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mudah- mudahan buku ini bermanfaat untuk penulis dan para pembaca. Semoga Amal ikhlas ini semata- mata karena Allah dan dicatat sebagai amal Shalih pada timbangan kebaikan pada hari Kiamat, pada hari yang tidak bermanfaat harta dan anak- anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Semoga Sholawat dan Salam dilimpahkan kepada Nabi Muhammad Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam, keluarganya, Para Shahabatnya, dan orang- orang yang mengikuti mereka dengan baik.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bogor, 6 Ramadhan 1429H&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yazid bin Abdul Qadir Jawas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Abu Fat-hi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-tb_aYOH_-7I/TuL0wbx2AeI/AAAAAAAAAq4/uvv147aGCm4/s1600/377017_316738988336219_100000003609885_1292033_1361356082_n.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px; padding:3px; border:6px solid #BEBBBB;" src="http://4.bp.blogspot.com/-tb_aYOH_-7I/TuL0wbx2AeI/AAAAAAAAAq4/uvv147aGCm4/s200/377017_316738988336219_100000003609885_1292033_1361356082_n.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5684374792622703074" /&gt;&lt;/a&gt;Sumber: 'Hikmah Di Balik Musibah &amp; Ruqyah Syar'iyyah: Do'a- do'a terhadap pengobatan dan Sihir, Guna- guna, dan Penyakit- penyakit Lainnya'. Muqaddimah. Ust. Yazid bin Abdul Qadir Jawas. Pustaka Imam Asy- Syafi'i. Jakarta.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2107481068058571539-5110437079050550877?l=buletindarulilmy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buletindarulilmy.blogspot.com/feeds/5110437079050550877/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2107481068058571539&amp;postID=5110437079050550877&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2107481068058571539/posts/default/5110437079050550877'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2107481068058571539/posts/default/5110437079050550877'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buletindarulilmy.blogspot.com/2011/12/dan-hendaknya-mengadukan-semua.html' title='Dan hendaknya mengadukan semua kesulitan itu hanya kepada Allah &apos;Azza Wa Jalla..'/><author><name>khafidl khafidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12391092020879071145</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/__bf6ZucOoBA/TB-b6CilMiI/AAAAAAAAAaU/Sdg2fZ8YQRs/S220/085.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-tb_aYOH_-7I/TuL0wbx2AeI/AAAAAAAAAq4/uvv147aGCm4/s72-c/377017_316738988336219_100000003609885_1292033_1361356082_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2107481068058571539.post-6338328661531910795</id><published>2011-11-29T06:01:00.000-08:00</published><updated>2011-11-29T06:28:58.563-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dienul Islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mu&apos;amalah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Admin'/><title type='text'>Pembatal- Pembatal Sedekah</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-0FLi_gNzJW0/TtTpqxnJU9I/AAAAAAAAAqs/iORrzRcrhJ8/s1600/Desert.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px; padding:3px; border:6px solid #BEBBBB;" src="http://3.bp.blogspot.com/-0FLi_gNzJW0/TtTpqxnJU9I/AAAAAAAAAqs/iORrzRcrhJ8/s200/Desert.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5680421951102342098" /&gt;&lt;/a&gt;Pahala Sedekah Dapat terhapus dan Batal apabila dilakukan pembatal- pembatalnya. Di antara pembatal- pembatal sedekah ialah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;1.Riya’&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Riya’ dapat membatalkan sedekah jika ia menyertai sedekah tersebut. Dan allah Ta’ala telah mencela orang- orang yang bersedekah karena riya’ dalam firman- Nya (Yang Artinya):&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Dan (juga) orang- orang yang menginfakkan harnyata karena riya’ kepada orang lain (ingin dilihat dan dipuji), dan orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari Kemudian. Barangsiapa yang menjadikan setan sebagai temannya, maka (ketahuilah) dia (Setan itu) adalah teman yang sangat jahat. Dan apa (keberatan) bagi mereka jika mereka beriman kepada Allah dan hari Kemudian dan menginfakkan sebagian dari rezeki yang telah diberikan Allah kepadanya? Dan Allah Maha Mengetahui keadaan mereka”.&lt;/span&gt; (QS. An- Nisaa’ : 38-39).&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Hurairah Radhiallohu 'Anhu ia berkata, Rasulullah Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda, “Allah Berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Aku adalah Dzat yang paling tidak butuh sekutu. Barangsiapa yang melakukan suatu amal di mana ia mempersekutukan Aku di dalamnya dengan selain- Ku, maka Aku tinggalkan dia dan sekutunya itu”. (Shahih, HR. Muslim (No. 2985)).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sebagian &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;orang yang bersedekah karena Riya’ (ingin Dilihat manusia), Sum’ah (Ingin didengar manusia), dan berbangga- bangga dengan sedekahnya. Semua ini dapat menyebabkannya mendapatkan hukuman yang sangat keras pada hari Kiamat.&lt;/span&gt; Rasulullah Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda tentang tiga orang yang pertama kali Api Neraka dipanaskan untuknya, Salah Satunya adalah orang yang bersedekah, dan berinfak karena Riya’. Rasulullah Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“...Dan Orang yang diberikan kelapangan Rezeki dan berbagai macam harta bendam ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan- kenikmatannya, maka ia pun mengenalinya (mengakuinya). Allah bertanya, ‘Apa yang engkau telah lakukan dengan nikmat- nikmat itu?’ ia menjawab, “Aku tidak pernah meninggalkan sedekah dan infak pada jalan yang Engkau cintai, melainkan aku pasti melakukannya semata- mata karena-Mu’. Allah berfirman, “Engkau Dusta! Engkau berbuat yang demikian itu supaya dikatakan seorang dermawan (murah hati) dan memang begitulah yang dikatakan (tentang dirimu)’. Kemudian (Malaikat) diperintahkan untuk menyeretnya di atas mukanya, lalu ia pun dilemparkan ke dalam Neraka”. (Shahih, HR. Muslim (No. 1905), Ahmad (II/ 322), an- Nasa-i (VI/ 23-24), al- Baihaqi (IX/ 168), dan al- Hakim (I/ 418-419)).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;2. Menyebut-nyebut sedekah dan menyakiti perasaan penerima Sedekah dapat membatalkan sedekah.&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Perkataan yang Baik dan Pemberian maaf lebih baik daripada sedekah yang diiringi tindakan yang menyakiti. Allah Maha Kaya, Maha Penyantun. Wahai orang- orang yang beriman! Janganlah kamu merusak sedekahmu dengan menyebut- nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima), seperti orang yang menginfaqkan hartanya karena riya’ (pamer) kepada manusia, dan dia tidak beriman kepada Allah dan Hari Akhir. Perumpamaannya (orang itu) seperti batu yang licin yang di atasnya ada debu, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, maka tinggallah batu itu licin lagi. Mereka tidak memperoleh sesuatu apapun dari apa yang mereka kerjakan. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang- orang kafir”. (QS. Al- Baqarah: 263- 264).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Dzarr Radhiallohu 'Anhu, dari Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam beliau bersabda,&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Tiga Orang yang tidak akan diajak bicara oleh Allah pada hari Kiamat, tidak melihat kepada mereka, tidak mensucikan mereka, dan bagi mereka adzab yang pedih”.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Abu Dzar berkata, “Rasulullah Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam membacakannya tiga kali. Abu Dzar berkata, “Merugilah mereka. Siapakah mereka itu, wahai Rasulullah?” Beliau Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam menjawab,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“(Mereka adalah) Orang yang melabuhkan kainnya (sampai melewati mata kaki), Orang yang mengungkit- ungkit (Kebaikan), dan orang yang melariskan dagangannya dengan sumpah palsu”. (Shahih, HR. Muslim, No. 106)).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;3. Sedekah dari Harta Ghulul (Harta rampasan perang yang diambil sebelum dibagikan oleh imam kaum muslimin) Tidak Diterima.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Ibnu ‘Umar Radhiallohu 'Anhuma, dari Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam, beliau bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Tidak diterima Sholat tanpa bersuci, dan sedekah dari Ghulul”. (Shahih, HR. Muslim, No. 224).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;4. Sedekah dari Harta yang Haram.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Hurairah Radhiallohu 'Anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Barangsiapa mengumpulkan harta yang Haram kemudian berseekah dengannya, maka tidak ada Ganjaran pahala di dalamnya, dan dia yang menanggung dosa (hukuman)nya”. (Hasan, HR. Ibnu Khuzaimah (No. 2471), Ibnu Hibban (No. 797 –Mawaariduzh Zham-aan), dan al- Hakim (I/ 390). Dihasankan oleh Syaikh al- Albani Rahimahullah dalam Shahiih at- Targhiib war Tarhiib (I/ 527. No. 880)).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sumber: ‘Sedekah Sebagai Bukti Keimanan &amp; Penghapus Dosa”. Hal. 125- 130.&lt;/span&gt; Ust. Yazid bin Abdul Qadir Jawas. Pustaka at- Taqwa. Bogor.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2107481068058571539-6338328661531910795?l=buletindarulilmy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buletindarulilmy.blogspot.com/feeds/6338328661531910795/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2107481068058571539&amp;postID=6338328661531910795&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2107481068058571539/posts/default/6338328661531910795'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2107481068058571539/posts/default/6338328661531910795'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buletindarulilmy.blogspot.com/2011/11/pembatal-pembatal-sedekah.html' title='Pembatal- Pembatal Sedekah'/><author><name>khafidl khafidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12391092020879071145</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/__bf6ZucOoBA/TB-b6CilMiI/AAAAAAAAAaU/Sdg2fZ8YQRs/S220/085.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-0FLi_gNzJW0/TtTpqxnJU9I/AAAAAAAAAqs/iORrzRcrhJ8/s72-c/Desert.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2107481068058571539.post-8514350141812728471</id><published>2011-11-16T02:57:00.000-08:00</published><updated>2011-11-16T05:14:07.168-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dienul Islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mu&apos;amalah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Admin'/><title type='text'>Karena ziarah kubur dapat melembutkan hati, meneteskan air mata, mengingat akhirat,</title><content type='html'>53. Bab: Ziarah Kubur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam menganjurkan untuk Ziarah kubur ke Pemakaman kaum Muslimin, karena Ziarah kubur mengandung banyak manfaat. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Manfaat ziarah kubur antara lain: akan melembutkan hati, mengingatkan diri kita kepada kematian, dan mengingatkan negeri akhirat,&lt;/span&gt; sebagaimana Sabda Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Dahulu aku pernah melarang kalian untuk Ziarah kubur, sekarang Ziarahilah kubur, karena ziarah kubur dapat melembutkan hati, meneteskan air mata, mengingat akhirat, dan janganlah kalian mengucapkan kata- kata kotor (di dalamnya)”.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;HR. Al- Hakim (1/ 376)&lt;/span&gt; dari Shahabat Anas bin Malik Radhiallohu 'Anhu dengan sanad yang Hasan. Lihat keterangan lebih lengkap dalam &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ahkaamul Janaa-iz Wa Bidaa’uha (Hal. 227- 229)&lt;/span&gt; oleh Syaikh al- Albani Rahimahullah.&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Sesungguhnya dulu aku telah melarang kalian dari berziarah kubur, maka sekarang ziarahilah kubur, sesungguhnya pada ziarah kubur itu ada pelajaran (bagi yang hidup)”.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;HR. Ahmad (III/ 38), al- Hakim (I/ 374- 375), dan al- Baihaqy (IV/ 77).&lt;/span&gt; Al- Hakim berkata, “Hadits Shahih sesuai dengan Syarat Muslim”, dan disepakati oleh adz- Dzahabi.&lt;br /&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Mengenai perbuatan yang dilakukan orang di kuburan, dan ketika ziarah kubur ada tiga (3) macam &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;(Mujmal Ushuul Ahlus Sunnah Wal Jama’ah Fil Aqiidah, Hal. 16):&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;1. Ziarah yang disyari’atkan, yaitu Ziarah kubur dengan tujuan mengingat mati, akhirat, untuk memberikan Salam kepada ahli kubur, dan mendo’akan mereka atau memohonkan ampun untuk mereka.&lt;/span&gt; (# Peringatan: Tidak boleh memohonkan ampunan untuk orang Kafir, meskipun orang tua sendiri/ kerabat. Lihat dalilnya di &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;QS. At- Taubah: 113)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;2. Ziarah yang Diada- adakan (Bid’ah), tidak sesuai dengan kesempurnaan tauhid. Ini merupakan salah satu sarana perbuatan Syirik, di antaranya adalah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;ziarah ke kuburan dengan tujuan untuk beribadah kepada Allah dan mendekatkan diri kepada- Nya di sisi kuburan., atau bertujuan untuk mendapatkan berkah, menghadiahkan pahala kepada ahli kubur, membuat bangunan di atas kuburan, mengecat, menembok, memberinya lampu penerang serta menulis nama di atas papan nisan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah hadits disebutkan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Rasulullah Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam melarang untuk menembok kuburan, duduk- duduk di atasnya, dan membuat bangunan di atasnya (atau ditambah tanahnya) (atau ditulis atasnya- ditulis nama pada nisannya).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;HR. Muslim (No. 970 (94)), Abu Dawud (No. 3225), at- Tirmidzi (No. 1052), an- Nasa-i (IV/ 86), Ahmad (III/ 339, 399), al- Hakim (I/ 370), al- Baihaqy (IV/ 4)&lt;/span&gt; dari Shahabat Jabir bin ‘Abdullah Radhiallohu 'Anhuma. Tambahan pertama dalam kurung diriwayatkan oleh Abu Dawud dan an- Nasa-i, tambahan kedua dalam kurung diriwayatkan oleh at- Tirmidzi dan al- Hakim. Hadits ini dishahihkan oleh at- Tirmidzi dan al- Hakim. Lihat &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ahkaamul Janaa-iz (hal. 260).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;termasuk perbuatan bid’ah bila menjadikan kuburan sebagai tempat ibadah dan sengaja bepergian jauh untuk mengunjunginya.&lt;/span&gt; (Tentang masalah ini lebih lengkap dapat dilihat dalam &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kitab Ahkaamul Janaa-iz wa Bida’uha Hal. 259- 294&lt;/span&gt; oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al- Albani Rahimahullah, &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Fathul Majiid Syarah Kitaabit Tauhiid&lt;/span&gt; oleh Syaikh ‘Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda tentang larangan untuk mengadakan perjalanan dengan tujuan ibadah ke tempat- tempat selain dari tiga (3) tempat:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Tidak boleh mengadakan Safar/ perjalanan (dengan tujuan beribadah) kecuali ke tiga masjid, yaitu: Masjidil Haram, dan Masjidku ini (Masjid Nabawi) Serta Masjid al- Aqsha”.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;HR. Al- Bukhari (No. 1197, 1864, 1995), Muslim (No. 827),&lt;/span&gt; dan yang lainnya dari Shahabat Abu Sa’id al- Khudri Radhiallohu 'Anhu. Terdapat juga di &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Shahiih al- Bukhari (No. 1189), Muslim (No. 1397),&lt;/span&gt; dan yang lainnya dari Shahabat Abu Hurairah Radhiallohu 'Anhu. Hadits ini Shahih, Diriwayatkan dari beberapa Shahabat yang derajatnya Mutawatir, Lihat &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Irwaa-ul Ghaliil (III/ 226 No. 773).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;3. Ziarah Kubur yang Syirik, yaitu Ziarah yang bertentangan dengan tauhid, misalnya mempersembahkan suatu macam ibadah kepada ahli kubur, seperti berdo’a kepadanya sebagaimana layaknya kepada Allah, meminta bantuan dan pertolongannya, berthowaf di sekelilingnya, menyembelih kurban, dan bernadzar untuknya dan lain sebagainya.&lt;/span&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang mukmin tidak boleh memalingkan ibadahnya kepada selain Allah Subhanahu Wa Ta'ala, perbuatan ini adalah Syirkun Akbar dan mengeluarkan seseorang dari Islam bila sudah terpenuhi syaratnya dan tidak ada penghalangnya.  Seluruh ibadah harus kita lakukan hanya kepada Allah Saja dengan ikhlas tidak boleh menjadikan kubur sebagai perantara menuju kepada Allah, karena ini adalah perbuatan orang Kafir Jahiliyah. (# Orang- orang Kafir menjadikan berhala sebagai perantara kepada Allah, lihat &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;QS. Az- Zumar: 3).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sesuatu yang menjadi Wasaa-il (Sarana) dihukumi berdasarkan tujuan dan sasaran. Setiap sesuatu yang menjadi sarana menuju Syirik dalam ibadah kepada Allah atau menjadi Sarana menuju bid’ah, maka wajib dihentikan dan dilarang.&lt;/span&gt; Setiap perkara baru (Dalam Agama, yang tidak ada dasarnya, tidak ada contohnya dari Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam dan Para Shahabatnya) adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah kesesatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Di muka bumi ini, tidak ada satu pun Kuburan yang mengandung berkah sehingga sia- sia orang yang sengaja ziarah menuju kesana untuk mencari berkah. Dalam Islam tidak dibenarkan sengaja mengadakan safar (perjalanan) siarah (dengan tujuan ibadah) ke kubur- kubur tertentu, seperti kuburan Wali, Kyai, Habib, dan lainnya dengan niat (tujuan) mencari keramat dan berkah serta mengadakan ibadah di sana.&lt;/span&gt;  Hal ini tidak boleh dan tidak dibenarkan di dalam Islam, karena perbuatan ini adalah bid’ah merupakan sarana yang menjurus kepada kemusyrikan. Wallohu a’lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sumber: Syarah Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah: Bab. 53: Ziarah Kubur. Hal. 439- 442.&lt;/span&gt; Ust. Yazid bin Abdul Qadir Jawas. Pustaka Imam Asy- Syafi’i. Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(2). Ziarah Kubur Yang Disyari’atkan Oleh Rasulullah Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ziarah Kubur yang diSyari’atkan oleh Rasulullah Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam kepada ummatnya meliputi: Pergi Ke Kuburan, membaca Salam kepada Ahli Kubur, dan mendo’akan mereka.&lt;/span&gt; Ziarah ini sama kedudukannya dengan Sholat Jenazah. Orang yang melakukan Sholat Jenazah pun bermaksud untuk mendo’akan mayit agar memperoleh Rahmat dan ampunan Alloh., dan ia mendapatkan pahala atas kebaikannya terhadap mayyit atau ahli kubur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Adab- adab dan tatacara Ziarah kubur yang disyari’atkan di antaranya:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Peziarah disunnahkan keluar rumah menuju pekuburan dengan niat Ikhlas karena Allah Subhanahu Wa Ta'ala, tunduk hati dan merasa diawasi oleh Allah Azza Wa Jalla. Ia mengambil pelajaran dari orang- orang yang telah terlebih dahulu meninggal.&lt;/span&gt; Dengan demikian maka bacaan salam dan do’anya bagi mayyit untuk mendapatkan rahmat dan ampunan akan bermanfaat (bagi mayyit tersebut). Disunnahkan pula untuk tidak mengeraskan suara di kuburan, tidak banyak berkata- kata mengenai urusan dunia dan berbagai kesibukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Begitu tiba di pekuburan, bersegeralah mengucapkan Salam kepada penghuninya dengan ucapan Salam yang diajarkan dalam hadits- hadits Rasulullah Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam yang Shahih,&lt;/span&gt; di antaranya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan dari Buraidah Radhiallohu 'Anhu,&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;السلام عليكم آهل الديار من المؤمنين والمسلمين&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    -&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    وانا ان شْآ الله بكم لاحقون –&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     نسأل الله لنا ولكم العافية&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Kesejahteraan atas kalian wahai penghuni kubur dari kaum mukminin dan muslimin. Sesungguhnya kami Insya Allah akan menyusul kalian. Kami memohon kepada Allah agar menyelamatkan kami dan kalian”.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;HR. Muslim, Kitab al- Janaa-iz (35), Bab &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Maa Yuqaalu ‘inda Dukhuu-lil Qubuur Wad Du’aa-i li Ahlihaa &lt;/span&gt;(II/ 61, No. 975), Ahmad dalam  al- Musnad (V/ 353, 359).&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau dari jalur yang lain,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Riwayat Ibnu ‘Abbas Radhiallohu 'Anhuma,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;السلام عليكم يا أهل القبور يغفرالله لنا ولكم أنتم سلفنا ونحن بالأثر&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Kesejahteraan atas kalian wahai penghuni kubur. Semoga Allah mengampuni kami dan kalian. Kalian adalah para pendahulu kami, sedangkan kami akan mengikuti jejak kalian”.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HR. At- Tirmidzi, kitab Al- Janaa-iz (59), bab Maa Yaquulur Rajulu idzaa Dakhal Maqaabira (III/ 369, No. 1053).&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau dari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Riwayat ‘Aisyah Radhiallohu 'Anha,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;السلام عليكم دار قوم مؤمنين – انتم لنا فرط – ونحن بكم لاحقون&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         اللهم لاتخرمنا أجرهم ولا تفتنا بعدهم&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Kesejahteraan atas kalian wahai penghuni negeri kaum Mukminin, bagi kami, kalian adalah para pendahulu, dan kami akan menyusul kalian. Ya Allah, jangan halangi kami mendapatkan pahala (semisal) yang mereka dapatkan, dan janganlah Engkau turunkan fitnah kepada kami sepeninggal mereka”.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;HR. Ibnu Majah dalam kitab Al- Janaa-iz (36), Bab Maa Jaa-a Fiimaa Yuqaalu idzaa Dakhalal Maqaabira (I/ 493, No. 1546).&lt;/span&gt; Wallahu a’lam.&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sumber: Tuntunan Praktis Ta’Ziyah dan Ziarah Kubur, Hal. 14- 22.&lt;/span&gt; Abu Muhammad  Ibnu Shalil bin Hasbullah. Pustaka Ibnu Umar. Bogor.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2107481068058571539-8514350141812728471?l=buletindarulilmy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buletindarulilmy.blogspot.com/feeds/8514350141812728471/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2107481068058571539&amp;postID=8514350141812728471&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2107481068058571539/posts/default/8514350141812728471'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2107481068058571539/posts/default/8514350141812728471'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buletindarulilmy.blogspot.com/2011/11/karena-ziarah-kubur-dapat-melembutkan.html' title='Karena ziarah kubur dapat melembutkan hati, meneteskan air mata, mengingat akhirat,'/><author><name>khafidl khafidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12391092020879071145</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/__bf6ZucOoBA/TB-b6CilMiI/AAAAAAAAAaU/Sdg2fZ8YQRs/S220/085.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2107481068058571539.post-8751643641997848661</id><published>2011-10-28T17:36:00.000-07:00</published><updated>2011-10-28T17:43:01.015-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dienul Islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Admin'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='General'/><title type='text'>Di Dalamnya kalian memperoleh apa saja yang kalian inginkan dan kalian minta,</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Bagaimana dengan Pasangan Wanita Penduduk Surga Kelak..??&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah ditanyakan kepada Fadhilatusy Syaikh Muhammad bin Shalih al- Utsaimin Rahimahulloh beberapa pertanyaan berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;1. Disebutkan bahwa kaum lelaki di Surga kelak akan mendapatkan Hurun ‘In (#bidadari bermata Jeli), bagaimana dengan kaum wanita..?&lt;br /&gt;   2. Apabila seorang wanita ahlul Jannah saat di dunia belum sempat menikah, atau ia menikah hanya saja suaminya tidak masuk Surga, Siapakah yang menjadi pasangan/ suaminya di Surga..?&lt;br /&gt;   3. Apabila seorang wanita pernah menikah dua kali di dunia (punya dua suami), nanti di Surga si Wanita bersama suami yang mana..? Mengapa Alloh Subhanahu Wa Ta'ala menyebutkan adanya istri- istri bagi para lelaki di Surga, namun tidak ada penyebutan suami- suami untuk para Wanita..?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Ibnu Utsaimin Rahimahulloh menjawab satu persatu pertanyaan di atas,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;1. Alloh Subhanahu Wa Ta'ala berfirman tentang kenikmatan yang diperoleh penduduk Surga,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Di Dalamnya kalian memperoleh apa saja yang kalian inginkan dan beroleh pula di dalamnya: apa saja yang kalian minta. Sebagai hidangan (persembahan) bagi kalian dari Rabb Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. Fushshilat [41/ Ha Miim Assajdah_red] : 31- 32).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia Yang Maha Tinggi juga berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Dan Di dalam Surga itu terdapat segala apa yang diinginkan oleh jiwa dan sedap dipandang mata, kalian pun kekal di dalamnya”. (QS. Az- Zukhruf: 71).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimaklumi bahwa menikah (mendapatkan pasangan hidup) termasuk hal yang palling didamba oleh setiap jiwa.   Dengan demikian, hal itupun akan didapatkan di Surga oleh penghuninya, laki- laki atau perempuan.  Jadi, kelak di Surga, Alloh Subhanahu Wa Ta'ala akan menikahkan (memasangkan) seorang wanita dengan suaminya di dunia, sebagaimana firman – Nya (tentang do’a para Malaikat untuk orang- orang beriman):&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Wahai Rabb kami, Masukkanlah mereka ke Dalam Surga ‘Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka dan orang- orang yang shaleh diantara bapak- bapak mereka, DAN ISTRI- ISTRI MEREKA serta anak keturunan mereka semuanya. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Memiliki Hikmah”. (QS. Ghafir / Al- Mu’min [40_red]: 8).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;2. Jawaban Pertanyaan (yang kedua) diambil dari keumuman firman Alloh Subhanahu Wa Ta'ala,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Di Dalamnya kalian memperoleh apa saja yang kalian inginkan dan beroleh pula di dalamnya: apa saja yang kalian minta. Sebagai hidangan (persembahan) bagi kalian dari Rabb Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. Fushshilat [41/ Ha Miim Assajdah_red]: 31- 32).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia Yang Maha Tinggi juga berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Dan Di dalam Surga itu terdapat segala apa yang diinginkan oleh jiwa dan sedap dipandang mata, kalian pun kekal di dalamnya”. (QS. Az- Zukhruf: 71).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian jika seorang wanita menjadi penghuni Surga padahal di dunia ia belum menikah atau suaminya bukan ahlul Jannah, di Surga tentu ada pula kaum lelaki yang di dunia belum sempat menikah. Para lelaki inilah yang akan beroleh istri- istri dari kalangan bidadari dan juga istri- istri dari kalangan wanita penduduk dunia, jika para lelaki ini menghendaki dan jiwa mereka berhasrat. Demikian pula yang kita katakan tentang wanita yang ketika di dunia tidak memiliki suami atau suaminya tidak masuk Surga bersamanya. Jika si wanita menghendaki untuk menikah, pasti ia akan dapatkan apa yang dikehendakinya, berdasarkan keumuman ayat di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun nash khusus terkait dengan hal ini, sekarang belum tampak bagi kami. Ilmunya ada di sisi Alloh Subhanahu Wa Ta'ala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;3. Jika seorang wanita memiliki dua suami ketika di dunia (pernah menikah dua kali), pada hari kiamat di Surga kelak ia akan diberi pilihan di antara kedua suaminya.  Jika di dunia, si wanita belum sempat menikah, Alloh Subhanahu Wa Ta'ala akan menikahkannya dengan seseorang yang menyenangkan pandangan matanya di Surga.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kenikmatan di Surga pun tidaklah hanya dirasakan oleh kaum pria, namun oleh semuanya, baik pria maupun wanita. Di antara sejumlah nikmat tersebut adalah mendapat pasangan (menikah).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan penanya: Alloh Subhanahu Wa Ta'ala menyebutkan tentang hurun ‘in yang menjadi istri- istri lelaki ahlul Jannah, namun Alloh Ta’ala tidak menyebutkan pasangan bagi kaum wanita..?., Kami jawab,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Alloh Subhanahu Wa Ta'ala hanya menyebutkan istri- istri bagi para suami karena seorang prialah yang mencari dan menginginkan wanita (bukan wanita yang mencari pasangan hidupnya, dia adalah pihak yang dicari). Oleh karena itu, Alloh 'Azza Wa Jalla menyebutkan istri- istri bagi para pria di dalam Surga dan tidak menyebutkan suami- suami bagi para wanita. Akan tetapi tidaklah berarti bahwa para wanita tidak memiliki Suami di Surga kelak. Mereka punya suami dari Kalangan Bani Adam (Manusia). (Majmu’ Fatawa Wa Rasail Fadhilatusy Syaikh Ibnu Utsaimin, 2/ 51- 53)&lt;/span&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita memohonkan kepada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala agar memasukkan kita ke dalam Negeri Kenikmatan yang kekal abadi, yang dikatakan- Nya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Dan Di dalam Surga itu terdapat segala apa yang diinginkan oleh jiwa dan sedap dipandang mata, kalian pun kekal di dalamnya”. (QS. Az- Zukhruf: 71).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dinyatakan oleh Rasul- Nya Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam sebagai &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;kenikmatan yang tidak pernah terlihat oleh mata, tak pernah terdengar oleh telinga, dan tiada pula pernah terbesit di hati manusia.&lt;/span&gt; Wallohu Ta’ala a’lam Bish-Showab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tambahan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ahmad Rahimahulloh membawakan dalam Musnad-nya, Hadits Abu Hurairoh Radhiallohu 'Anhu dari Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Seorang lelaki penghuni Surga akan mendapatkan dua istri dari Hurun ‘In. Pada setiap bidadari tersebut ada tujuh puluh pakaian/ perhiasan. Terlihat sumsum betisnya dari balik pakaiannya”. (Dinyatakan Shahih oleh Syaikh al- Albani Rahimahulloh dalam Shahiihul Jaami’ No. 2564).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Hurun ‘In = Bidadari yang bermata jeli, bagian hitam matanya sangat hitam dan bagian putihnya sangat putih, sebagaimana keterangan al- Imam al- Bukhari Rahimahulloh dalam Shahiihnya, Kitabul Jihad Was Sair, Bab “al- Hurun ‘In Wa Shifatihinna”.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sumber: Majalah Asy Syariah Vol. VII/ No. 75/ 1432H/ 2011, Rubrik Sakinah- Niswah: ‘Wanita Surga dalam Sebutan Sunnah Yang Mulia’. Hal. 96-99- 103.&lt;/span&gt; Ustdzh Ummu Ishaq al- Atsariyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Footnote:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;2564. “Rombongan pertama yang masuk Surga adalah seperti rupa Bulan Purnama, dan rombongan kedua adalah lebih bagus dari rupa bintang gemerlap di langit, setiap laki- laki mereka memiliki dua istri, pada setiap istri ada tujuh puluh buah perhiasan, [Tulang Sumsum] betisnya tampak dari belakangnya”.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Shahih, [Musnad Imam Ahmad bin Hanbal, dan Sunan at- Tirmidzi] dari Shahabat Abu Sa’id Radhiallohu 'Anhu. Hadits ini dapat dilihat juga dalam kitab Silsilah al- Ahaadiits ash- Shahiihah, No. 1736, Syarh as- Sunnah No. 4374 Karya al- Baghawi dalam Hadits Ibnu al- Ja’d, dan [al- Mu’jam al- Kabir karya Imam ath- Thabrani] dari Shahabat Ibnu Mas’ud Radhiallohu 'Anhu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sumber: ‘Shahih Al Jami’ Ash- Shaghir II’ Hal. 416, Hadits No. 2564.&lt;/span&gt; Syaikh Muhammad Nashiruddin al- Albani. Pustaka Azzam, Jakarta.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2107481068058571539-8751643641997848661?l=buletindarulilmy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buletindarulilmy.blogspot.com/feeds/8751643641997848661/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2107481068058571539&amp;postID=8751643641997848661&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2107481068058571539/posts/default/8751643641997848661'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2107481068058571539/posts/default/8751643641997848661'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buletindarulilmy.blogspot.com/2011/10/di-dalamnya-kalian-memperoleh-apa-saja.html' title='Di Dalamnya kalian memperoleh apa saja yang kalian inginkan dan kalian minta,'/><author><name>khafidl khafidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12391092020879071145</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/__bf6ZucOoBA/TB-b6CilMiI/AAAAAAAAAaU/Sdg2fZ8YQRs/S220/085.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2107481068058571539.post-58336193421910608</id><published>2011-10-28T17:29:00.000-07:00</published><updated>2011-10-28T17:33:42.760-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dienul Islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mu&apos;amalah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Admin'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='General'/><title type='text'>Bagaimanapun, Semoga Alloh Subhanahu Wa Ta'ala membalasmu dengan kebaikan</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Menerapkan Sikap Hikmah Dalam Berdakwah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Samir az- Zuhairi (Salah Satu murid Syaikh al- Albani Rahimahulloh) menceritakan bahwa suatu kali beliau pernah mengundang Syaikh al- Albani ke rumahnya bersama beberapa rekan- rekan penuntut ilmu untuk berdialog dengan salah seorang yang sangat kolot dan benci terhadap al- Albani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah- tengah dialog, orang tersebut mendebat Syaikh al- Albani dengan suara yang keras, lantang, dan tegang sehingga membuat Syaikh Samir jengkel dan marah. Melihat raut muka Syaikh Samir, maka Syaikh al- Albani menoleh kepadanya sambil tersenyum seraya mengatakan, “Rileks Saja”.  Syaikh al- Albani menanggapi orang tersebut dengan selalu senyum, lapang dada, objektif, dan mematahkan Syubhat- syubhat orang tersebut dengan argumen Al- Qur’an dan As- Sunnah sebagaimana biasanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di akhir dialog, Syaikh al- Albani Rahimahulloh berkata kepada orang tadi,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Bagaimanapun, Semoga Alloh Subhanahu Wa Ta'ala membalasmu dengan kebaikan. Saya meminta maaf kepadamu bila saya berbuat salah dan saya memohon ampun kepada Alloh atas segala kesalahan yang saya perbuat kepada seorang muslim”.  Kemudian beliau menangis.&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya orang tadi luluh hatinya sehingga turut menangis, dan mencium tangan kepada Syaikh al- Albani Rahimahulloh. Sejak hari itu, dia berpegang teguh dengan manhaj Salaf dan mencintai Syaikh al- Albani Rahimahulloh hingga hari ini. (Muhaddits ‘Ashr Muhammad Nasiruddin al- Albani, Hal. 44- 45 oleh Syaikh Samin bin Amin az- Zuhairi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sumber: ‘Syaikh al- Albani dihujat..!: Risalah Pembelaan Atas Tuduhan dan Hujatan kh. Ali Musthofa Yaqub’. Hal 149- 150.  &lt;/span&gt; Ust. Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar As- Sidawi. Salwa Press. Depok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh al- Albani Rahimahulloh pernah menyampaikan sebuah Wasiat, kira- kira satu tahun sebelum wafatnya beliau,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Wasiatku untuk setiap muslim yang ada di muka bumi ini, terutama untuk saudara- saudara kami yang menisbahkan diri kepada dakwah yang penuh berkah ini – yaitu dakwah kitab dan sunnah di atas manhaj as- Salaf ash- Shalih: ... Hendaknya kita senantiasa berlemah lembut tatkala mendakwahkan manhaj ini kepada orang- orang yang berseberangan dengan kita, dan hendaknya kita selalu terus- menerus bersama firman Allah Tabaaroka Wa Ta’ala (yang artinya),&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Serulah (manusia) kepada jalan Rabb-mu dengan hikmah dan nashihat yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan orang yang pertama kali paling berhak untuk kita sikapi dengan penuh hikmah adalah orang yang paling keras permusuhannya terhadap prinsip- prinsip (dakwah) dan akidah kita, agar kita tidak termasuk orang- orang yang menggabungkan antara beratnya dakwah al- haq yang telah Alloh karuniakan kepada kita,, dengan beratnya metode yang buruk dalam berdakwah kepada Jalan Alloh 'Azza Wa Jalla”. (Dinukil dari Kitab Muhaddits al- ‘Ashr Muhammad Nashiruddin al- Albani Karya Samir bin Amin az- Zuhairi, Hal. 74- 75.)&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sumber: ‘Majalah al- Furqon Edisi 4 Th. 11, Dzulqo’dah 1432H/ Oktober- November 2011: &lt;/span&gt;Rubrik Fiqih Dakwah: Tema : “Penerapan Sikap Hikmah dalam Berdakwah”. Hal. 56- 57. Ust. Abu Abdurrahman Abdullah Zaen, MA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al- Allamah Abdurrahman bin Nashir as- Sa’di Rahimahulloh menafsirkan Ayat di atas,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Ajaklah para manusia –baik mereka yang beragama Islam maupun mereka yang non muslim- kepada jalan Alloh yang lurus dengan hikmah, yang berarti masing- masing sesuai dengan kondisi , tingkat pemahaman, perkataan, dan taraf ketaatannya. Juga dengan nasihat yang baik, yaitu: perintah dan larangan dibarengi dengan motivasi dan ancaman. Adapun jika yang didakwahi tersebut menganggap bahwa apa yang dia kerjakan atau dia yakini selama ini adalah benar –padahal sebenarnya salah- maka debatlah mereka dengan cara yang baik berlandaskan dalil- dalil Syar’i maupun akal”. (Lihat Tafsir as- Sa’di, hal. 404).&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara contoh nyata kekuatan hikmah dan akhlak mulia dalam berdakwah yang dicontohkan oleh para ulama, diantaranya para ulama yang termasuk dalam jajaran Aimmah ad- Da’wah  (para Da’i besar dakwah tauhid yang dirintis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Rahimahulloh) yang tinggal di kota Makkah adalah Syaikh Ahmad bin Isa. Beliau adalah salah satu murid pengarang kitab Fathul Majid, Syaikh Abdurrahman bin Hasan, Cucu Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Rahimahulloh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk memenuhi kebutuhan sehari – hari, Syaikh Ahmad bin Isa berdagang kain.  Setiap tahunnya beliau membeli kain dengan jumlah besar di kota Jeddah dari seorang pedagang Sufi bernama Abdul Qadir at- Tilmisani. Kain itu seharga 1000 junaih Emas. Sebagai uang muka, Syaikh Ahmad membayar 400 junaih, sedangkan sisanya beliau cicil per bulan. Cicilan terakhir beliau berikan kepada at- Tilmisani ketika dia pergi berhaji ke Makkah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Bertahun- tahun transaksi bisnis antara mereka berdua berjalan demikian. Dan Syaikh Ahmad selalu tepat waktu dalam membayar cicilan dan sama sekali tidak pernah terlambat dalam menunaikan hak at- Tilmisani.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka suatu hari at- Tilmisani berkata, “Saya telah bergaul dan bertransaksi dengan berbagai macam bentuk manusia selama empat puluh tahun, namun aku tidak pernah menemukan orang yang lebih baik dari akhlakmu wahai Wahabi! Tampaknya isu- isu buruk tentang kalian, semata- mata kedustaan dari musuh- musuh politik kalian! Mereka menuduh kalian tidak mau bershalawat kepada Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam..!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Serta merta Syaikh Ahmad membalas, &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Subhanalloh, ini adalah kedustaan yang amat besar..! Madzhab yang kami anut (Madzhab Hambali) berpendapat bahwa orang yang tidak bersholawat kepada Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam ketika tasyahud akhir, sholatnya tidak sah..! Aqidah yang kami anut meyakini bahwa orang yang tidak cinta kepada Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam maka dia kafir! Sebenarnya yang kami ingkari adalah sikap pengagungan yang berlebihan yang telah dilarang oleh Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam, kami juga mengingkari perbuatan istighotsah serta minta tolong kepada orang- orang yang telah mati. Seluruh ibadah itu hanya kami persembahkan kepada Alloh semata!”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian terjadilaah diskusi antara Syaikh Ahmad dengan at- Tilmisani seputar tauhid uluhiyyah selama tiga hari, hingga Alloh membuka hati at- Tilmisani untuk menerima Aqidah Salaf. Adapun dalam masalah Tauhid Asma’ Wa Shifat, maka diskusi antara mereka berdua berlangsung selama lima belas hari, karena at- Tilmisani pernah belajar di al- Azhar- Mesir, sehingga aqidah asy’Ariyyah sudah sangat mendarah daging dalam dirinya. Namun akhirnya Alloh Ta’ala membuka juga hati at- Tilmisani untuk menerima aqidah Salaf dalam masalah Asma’ Wa Shifat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesai itu, Syaikh at- Tilmisani pun menjadi donatur dakwah Salaf untuk membiayai percetakan dan penyebaran kitab- kitab Salaf, serta menjadi salah satu da’i yang menyerukan kepada manhaj Salaf setelah sebelumnya beliau amat membenci dakwah Wahabi yang disetuskan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Rahimahulloh.  (Lihat ‘Ulama Najd karya Syaikh Abdulloh al- Bassam, Hal, 156- 158). Wallohu a’lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sumber: ‘Majalah al- Furqon Edisi 1 Th. 11, Sya’ban - Ramadhan 1432H/ Juli- September 2011: Rubrik Fiqih Dakwah: Tema : “Penerapan Sikap Hikmah dalam Berdakwah”. Hal. 63- 65. &lt;/span&gt;Ust. Abu Abdurrahman Abdullah Zaen, MA.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2107481068058571539-58336193421910608?l=buletindarulilmy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buletindarulilmy.blogspot.com/feeds/58336193421910608/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2107481068058571539&amp;postID=58336193421910608&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2107481068058571539/posts/default/58336193421910608'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2107481068058571539/posts/default/58336193421910608'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buletindarulilmy.blogspot.com/2011/10/bagaimanapun-semoga-alloh-subhanahu-wa.html' title='Bagaimanapun, Semoga Alloh Subhanahu Wa Ta&apos;ala membalasmu dengan kebaikan'/><author><name>khafidl khafidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12391092020879071145</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/__bf6ZucOoBA/TB-b6CilMiI/AAAAAAAAAaU/Sdg2fZ8YQRs/S220/085.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2107481068058571539.post-2564936750450898741</id><published>2011-09-28T04:47:00.000-07:00</published><updated>2011-09-28T05:33:36.201-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dienul Islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mu&apos;amalah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='General'/><title type='text'>Tidak ada hari- hari di mana amal shaleh di dalamnya lebih dicintai Alloh ‘Azza Wa Jalla daripada hari- hari yang sepuluh ini..</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-OJLFqpGXFd0/ToMTo0kXh0I/AAAAAAAAAqk/fh34gO3X-Sk/s1600/296496_199015076834911_100001792604416_454261_610001339_n.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 126px; padding:3px; border:6px solid #BEBBBB;" src="http://4.bp.blogspot.com/-OJLFqpGXFd0/ToMTo0kXh0I/AAAAAAAAAqk/fh34gO3X-Sk/s200/296496_199015076834911_100001792604416_454261_610001339_n.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5657387148934350658" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Mari Meneladani Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam&lt;/b&gt;Dalam Sebuah Riwayat dari Ibnu Abbas Radhiallohu 'Anhu disebutkan bahwa Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda:&lt;blockquote&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;“Tidak ada hari- hari di mana amal shaleh di dalamnya lebih dicintai Alloh ‘Azza Wa Jalla daripada hari- hari yang sepuluh ini”, Para Shahabat bertanya, “Tidak juga jihad di jalan Alloh?”, Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam menjawab,  “Tidak juga jihad di jalan Alloh, kecuali orang yang keluar mempertaruhkan jiwa dan hartanya, lalu tidak kembali dengan sesuatupun”. (HR. al- Bukhari No. 969, dan at- Tirmidzi No. 757, dan lafazh ini adalah lafazh riwayat at- Tirmidzi).&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/blockquote&gt; Dalam riwayat yang lain, Salah seorang istri Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam mengatakan,&lt;blockquote&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;“Adalah Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam melakukan puasa sembilan hari bulan Dzulhijjah”.(HR. Abu Daud dan an- Nasa’i. Hadits ini dinilai Shahih oleh Syaikh al- Albani Rahimahulloh dalam Shahih Sunan Abi Daud, No. 2129 dan Shahih Sunan Nasa’i No. 2236). (Lihat al- Mausu’ah al- Fiqhiyah al- Muyassar, 1/ 254).&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;b&gt;Hadits ini sangat gamblang menjelaskan keutamaan sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, dan keutamaan Amal Shaleh yang dilakukan pada masa- masa itu, dibandingkan dengan hari- hari yang lain selama setahun.&lt;/b&gt;Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahulloh pernah ditanya tentang mana yang lebih utama antara sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah ataukah sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan? Beliau Rahimahulloh menjawab,&lt;blockquote&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;“Siang hari Sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah lebih utama daripada siang hari sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, dan sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan lebih utama dari pada sepuluh malam pertama bulan Dzulhijjah”.(Majmuu’ Fataawa, 25/ 287). (Lihat al- Mausu’ah al- Fiqhiyah al- Muyassar, 1/ 256).&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/blockquote&gt;Ibnul Qayyim Rahimahulloh juga setuju dengan perkataan guru beliau tersebut.Hadits ini sudah cukup memberikan motivasi kepada kaum muslimin untuk berlomba- lomba melakukan amal Shalih pada waktu- waktu yang diisyaratkan oleh Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam tersebut. Terlebih lagi di antara waktu yang disebutkan itu ada waktu yang teramat istimewa yang juga dijelaskan keutamaannya secara khusus oleh Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam, yaitu hari Arafah. Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda:&lt;blockquote&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;“Tidak ada hari di mana Alloh 'Azza Wa Jalla membebaskan hamba dari api neraka lebih banyak daripada hari Arafah. Sungguh Dia mendekat lalu membanggakan mereka di depan para Malaikat dan berkata: “Apa yang mereka Inginkan?”. (HR. Muslim, No. 1348).&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/blockquote&gt;Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam juga menjelaskan tentang keutamaan berpuasa pada hari ini bagi kaum Muslimin yang sedang tidak melakukan ibadah haji. Beliau Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda:&lt;blockquote&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;“Puasa hari Arafah aku harapkan dari Alloh bisa menghapuskan dosa setahun sebelumnya, dan setahun setelahnya”. (HR. Muslim, No. 1162).&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/blockquote&gt;Alangkah naifnya, kalau hari- hari penuh keutamaan ini kita sia- siakan begitu saja. &lt;b&gt;Sudah menjadi keharusan bagi setiap kaum Muslimin yang mengimani hari akhir untuk meneladani Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam dalam memanfaatkan waktu- waktu yang memiliki nilai lebih ini.&lt;/b&gt; Semoga Alloh Subhanahu Wa Ta'ala menjadikan kita termasuk diantara hamba- Nya bisa memanfaatkan masa- masa ini dan semoga Alloh 'Azza Wa Jalla menjadikan kita termasuk para hamba- Nya yang dibebaskan dari api neraka. Aamiin.&lt;b&gt;Sumber: Majalah As-Sunnah/ Rubik:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Tajuk. Hal.1. Edisi 06. Thn. XV. Dzulqa’dah 1432H/ Oktober 2011.&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Footnote:&lt;/b&gt;196. (1162) Dari Abu Qatadah, &lt;i&gt;“Telah datang seorang laki- laki kepada Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam lalu bertanya, &lt;b&gt;“Bagaimana engkau berpuasa?”&lt;/b&gt; mendengar itu, Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam marah. Ketika Umar melihat  kemarahan beliau, dia berkata, &lt;b&gt;“Kami rela Alloh sebagai Tuhan, Islam Sebagai agama, dan Muhammad sebagai Nabi, Kami berlindung kepada Alloh dari murka Alloh dan murka Rasul- Nya”,&lt;/b&gt; Lalu Umar mengulang- ulang ucapannya itu, sehingga meredalah kemarahan beliau. Kemudian Umar bertanya, &lt;b&gt;“Wahai Rasululloh, bagaimana menurutmu dengan orang- orang yang berpuasa setahun penuh dan berbuka sehari?” &lt;/b&gt;Beliau menjawab, &lt;b&gt;“Dia tidak dianggap berpuasa dan tidak dianggap berbuka”.&lt;/b&gt; Umar bertanya, &lt;b&gt;“Bagaimana dengan orang yang berpuasa dua hari dan berbuka sehari?” &lt;/b&gt;Beliau menjawab, &lt;b&gt;“Apakah ada orang yang mampu melakukan itu?” &lt;/b&gt;Umar bertanya, &lt;b&gt;“Bagaimana dengan orang yang berpuasa sehari dan berbuka sehari?”&lt;/b&gt; Beliau menjawab,&lt;b&gt; “Itulah puasa Daud ‘Alaihis Salaam”, &lt;/b&gt;Umar bertanya, &lt;b&gt;“Bagaimana dengan orang yang berpuasa sehari, dan berbuka dua hari?” &lt;/b&gt;Beliau menjawab, &lt;b&gt;“Aku berharap aku diberi kekuatan untuk itu”, &lt;/b&gt;Lalu Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda,&lt;/i&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;“Puasa tiga hari dalam setiap bulan, dari Ramadhan ke Ramadhan, itu sama dengan puasa selama setahun penuh. Puasa Arafah dengan mengharap pahala dari Alloh akan menghapus dosa setahun yang telah lalu, dan setahun yang akan datang, dan Puasa pada hari ‘Asyura dengan mengharap pahala dari Alloh, akan menghapus dosa setahun yang telah lalu”.&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;b&gt;Sumber: “Shahih Muslim II, Bab 36. Anjuran Puasa Tiga Hari Setiap Bulan, Puasa Arafah, Puasa ‘Asyura, dan Puasa Senin dan Kamis. Hadits No. 196 (1162).  Hal. 405. Muhammad Fuad Abdul Baqi. Pustaka As- Sunnah. Jakarta.&lt;/b&gt; 969. Dari Ibnu Abbas dari Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam bahwasanya beliau bersabda,&lt;blockquote&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;“Tidak ada amalan pada hari- hari lain yang lebih utama dari pada sepuluh hari ini”, Mereka bertanya, “Tidak pula Jihad?” Beliau menjawab, “Tidak Pula Jihad, kecuali orang yang keluar dengan mempertaruhkan jiwa dan hartanya, kemudian ia tidak kembali dengan sesuatupun”.&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;b&gt;Sumber:  Shahih al- Bukhari I, Bab 11: Keutamaan Beramal pada hari- hari Tasyriq/ Hadits No. 969. Hal. 679. Muhammad Fuad Abdul Baqi. Pustaka As- Sunnah. Jakarta.&lt;/b&gt;436 (1348). Dari Ibnu Musayyab berkata: 'Aisyah berkata:&lt;blockquote&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;“Sesungguhnya Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam telah bersabda, “Tidak ada satu hari pun yang lebih banyak hamba terbebas dari neraka selain hari Arafah. Karena saat itu Alloh mendekat dan membangga- banggakan mereka kepada para Malaikat, maka firman- Nya, “Apa yang mereka Inginkan?”.&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/blockquote&gt; &lt;b&gt;Sumber: “Shahih Muslim II, Bab 79: Keutamaan Haji, Umrah, dan Hari Arafah. Hadits No. 436 (1348). Hal. 655. Muhammad Fuad Abdul Baqi. Pustaka As- Sunnah. Jakarta.&lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2107481068058571539-2564936750450898741?l=buletindarulilmy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buletindarulilmy.blogspot.com/feeds/2564936750450898741/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2107481068058571539&amp;postID=2564936750450898741&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2107481068058571539/posts/default/2564936750450898741'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2107481068058571539/posts/default/2564936750450898741'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buletindarulilmy.blogspot.com/2011/09/tidak-ada-hari-hari-di-mana-amal-shaleh.html' title='Tidak ada hari- hari di mana amal shaleh di dalamnya lebih dicintai Alloh ‘Azza Wa Jalla daripada hari- hari yang sepuluh ini..'/><author><name>khafidl khafidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12391092020879071145</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/__bf6ZucOoBA/TB-b6CilMiI/AAAAAAAAAaU/Sdg2fZ8YQRs/S220/085.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-OJLFqpGXFd0/ToMTo0kXh0I/AAAAAAAAAqk/fh34gO3X-Sk/s72-c/296496_199015076834911_100001792604416_454261_610001339_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2107481068058571539.post-3981926109311082087</id><published>2011-09-28T04:00:00.000-07:00</published><updated>2011-09-28T04:27:09.513-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dienul Islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Admin'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='General'/><title type='text'>Maka sungguh hal itu sama sekali tidak bertentangan dengan kesabaran...</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-T65SnYQpV2I/ToMDaamcOlI/AAAAAAAAAqM/T_K8JPra23g/s1600/%25282%2529.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 125px; padding:3px; border:6px solid #BEBBBB;" src="http://3.bp.blogspot.com/-T65SnYQpV2I/ToMDaamcOlI/AAAAAAAAAqM/T_K8JPra23g/s200/%25282%2529.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5657369309259512402" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Mengadu Kepada Alloh Subhaanahu Wa Ta'ala.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Tunduk di hadapan Alloh Subhaanahu Wa Ta'ala, juga berharap, dan menghadap kepada- Nya dengan do’a di kala terjadi kesulitan, adalah ibadah yang sangat agung,&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; karena kala itu seorang hamba menampakkan penghambaannya kepada Alloh Subhaanahu Wa Ta'ala, juga rasa butuhnya dan kehinaannya di hadapan Alloh Subhaanahu Wa Ta'ala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Terkadang seorang hamba mendapatkan musibah, lantas dia mengeluh kepada Alloh Subhaanahu Wa Ta'ala, sungguh sikap seperti itu sama sekali tidak bertentangan dengan kesabaran.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ya’qub ‘Alaihissalam telah berjanji untuk bersabar dengan kesabaran yang baik, sebagaimana yang Alloh Subhaanahu Wa Ta'ala firmankan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku). Dan Alloh sajalah yang dimohon pertolongan- Nya terhadap apa yang kamu ceritakan”. (QS. Yusuf: 18).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula dijelaskan dalam firman- Nya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku). Mudah- mudahan Alloh mendatangkan mereka semuanya kepadaku. Sesungguhnya Dia lah yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”.(QS. Yusuf: 83).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan tentunya jika seorang Nabi telah berjanji, niscaya dia tidak akan menyelisihi, akan tetapi Alloh Subhaanahu Wa Ta'ala mengabarkan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Ya’qub menjawab, “Sesungguhnya hanyalah kepada Alloh, aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Alloh, apa yang kamu tiada mengetahuinya”. (QS. Yusuf: 86).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula Ayyub (‘Alaihissalam), Alloh Subhaanahu Wa Ta'ala mengabarkan bahwa beliau termasuk orang- orang yang bersabar sebagaimana dalam firman- Nya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Sesungguhnya kami dapati dia (Ayyub) seorang yang Sabar. Dialah sebaik- baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Rabb- nya)”. (QS. Shaad: 44).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendati demikian, beliau mengadu kepada Alloh Subhaanahu Wa Ta'ala atas musibah yang menimpanya ketika beliau menyeru:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Dan ingatlah akan hamba kami Ayyub ketika ia menyeru Rabb nya, “Sesungguhnya aku digangggu setan dengan kepayahan dan siksaan”. (QS. Shaad: 41)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di ayat lain Alloh Subhaanahu Wa Ta'ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Dan (Ingatlah kisah) Ayyub, ketika ia menyeru Rabb nya, “(Ya Rabb ku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Rabb yang Maha Penyayang diantara semua penyayang”. (QS. Al- Anbiyaa’ : 83).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-JvIoz_8ECCg/ToMEPFx2NwI/AAAAAAAAAqU/9LV_oRgZMPE/s1600/%252811%2529.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 125px; padding:3px; border:6px solid #BEBBBB;" src="http://4.bp.blogspot.com/-JvIoz_8ECCg/ToMEPFx2NwI/AAAAAAAAAqU/9LV_oRgZMPE/s200/%252811%2529.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5657370214203275010" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Walhasil, ketika seorang hamba ditimpa musibah, lantas dia memohon kepada Alloh Subhaanahu Wa Ta'ala agar musibah tersebut dihilangkan darinya atau diberikan keringanan untuknya, maka sungguh hal itu sama sekali tidak bertentangan dengan kesabaran, bahkan itulah diantara hikmah Alloh Subhaanahu Wa Ta'ala memberikan ujian kepada hamba- Nya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ia kehilangan sesuatu, lantas memohon kepada Alloh ‘Azza Wa Jalla agar mengembalikannya, maka sungguh hal itu tidak merusak kesabaran yang Baik. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Yang bertentangan dengan kesabaran hanyalah mengeluh kepada Alloh Ta’ala akan tetapi di hadapan manusia, menampakkan kesulitan dan kesedihan di hadapannya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai hamba Alloh yang taat.! Jika anda memahami hal ini, maka sungguh anda mengetahui kesesatan orang yang mengatakan, “Ketika anda memohon kepada Alloh ‘Azza Wa Jalla, maka hal itu berarti anda menuduh buruk kepada Nya”. Maha Suci Alloh Subhaanahu Wa Ta'ala atas segala sifat yang diungkapkan oleh orang- orang bodoh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka berhujjah dengan perkataan Ibrahim ‘Alaihissalam sebagaimana mereka tuturkan, Yakni ketika beliau dilemparkan ke dalam Api, lantas Jibril datang kepadanya seraya berkata, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Wahai Ibrahim, apakah engkau membutuhkan sesuatu?”&lt;/span&gt; Dia menjawab, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Aku tidak membutukanmu”&lt;/span&gt;. Kata Jibril, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Mintalah kepada Alloh Ta’ala!”&lt;/span&gt; Ibrahim berkata, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Aku tidak harus meminta, karena Dia mengetahuinya”.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Hadits ini tidak bersumber,  ia hanya merupakan Israiliyyat sebagaimana dituturkan oleh al- Baghawi dalam kitabnya Mu’alimut Tanzil (III/ 250),&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; beliau mengisyaratkan bahwa riwayat tersebut lemah, dan menganggapnya termasuk Israiliyyat, bahkan menyatakan bersumber dari Ka’ab al- Ahbar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahulloh berkata dalam kitabnya &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Majmu’ul Fataawa (VIII/ 539):&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Diantara mereka ada yang berhujjah  dengan riwayat yang menjelaskan bahwa Ibrahim dilemparkan ke dalam api, lantas Jibril berkata, “Wahai Ibrahim, apakah engkau membutuhkan sesuatu?” Dia menjawab, “Aku tidak membutuhkanmu” Kata Jibril, “Mintalah kepada Alloh Subhaanahu Wa Ta'ala!” Ibrahim berkata, “Aku tidak harus minta, karena Dia mengetahuinya”.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awal hadits ini dikenal, yakni ungkapan bahwa Ibrahim tidak membutuhkannya, sebagaimana dijelaskan dalam Shahiih al- Bukhari, dari Ibnu ‘Abbas Radhialloohu 'Anhuma,&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;حسبنا الله و نعم الوكيل&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Cukuplah Alloh menjadi penolong kami, dan Alloh adalah sebaik- baik pelindung”.   (QS. Ali Imran: 173)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dijelaskan, bahwa itulah perkataan yang diucapkan oleh Ibrahim kala dilemparkan ke dalam api, juga dikatakan oleh Nabi Muhammad Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam kala seseorang berkata kepadanya,&lt;span style="font-style:italic;"&gt; “Manusia telah berkumpul untuk menyerang kalian, maka takutlah!”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun ungkapan, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Aku tidak harus meminta, karena Dia mengetahuinya”,&lt;/span&gt; &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;adalah ungkapan bathil yang bertentangan dengan riwayat yang menjelaskan tentang Ibrahim juga yang lainnya dari kalangan para Nabi, yakni mereka Berdo’a dan Meminta kepada Alloh Ta’ala.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga bertentangan dengan perintah Alloh ‘Azza Wa Jalla kepada para hamba- Nya agar meminta kepada- Nya berkaitan dengan kemashlahatan dunia maupun akhirat, seperti dinyatakan dalam ayat berikut ini:&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;ربنا أتنا في الدنيا حسنة و في الاخرة حسنة وقنا عذاب النار&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan diantara mereka ada orang yang berdo’a “Ya Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan peliharalah kami dari Siksa Api Neraka”. (QS. Al- Baqarah: 201).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Do’a, meminta dan bertawakkal kepada Alloh Ta’ala merupakan salah satu bentuk ibadah kepada- Nya dengan tetap melakukan sebab yang ditentukan oleh- Nya...”. Wallohu a'lam.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Arraq Rahimahulloh berkata dalam kitabnya &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Tanzihusy Syari’ah (I/ 250)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; dengan menukil perkataan Ibnu Taimiyyah, “Riwayat tersebut Palsu”.  Wallohu a’lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sumber: ‘Meniru Sabarnya Nabi”, Hal. 155- 159. Syaikh Salim bin ‘Ied al- Hilali. Darul Ilmi Publishing. Bogor.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2107481068058571539-3981926109311082087?l=buletindarulilmy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buletindarulilmy.blogspot.com/feeds/3981926109311082087/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2107481068058571539&amp;postID=3981926109311082087&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2107481068058571539/posts/default/3981926109311082087'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2107481068058571539/posts/default/3981926109311082087'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buletindarulilmy.blogspot.com/2011/09/maka-sungguh-hal-itu-sama-sekali-tidak.html' title='Maka sungguh hal itu sama sekali tidak bertentangan dengan kesabaran...'/><author><name>khafidl khafidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12391092020879071145</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/__bf6ZucOoBA/TB-b6CilMiI/AAAAAAAAAaU/Sdg2fZ8YQRs/S220/085.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-T65SnYQpV2I/ToMDaamcOlI/AAAAAAAAAqM/T_K8JPra23g/s72-c/%25282%2529.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2107481068058571539.post-6901961723531370965</id><published>2011-08-09T02:22:00.000-07:00</published><updated>2011-08-09T02:58:11.958-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dienul Islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Admin'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='General'/><title type='text'>Karena Alloh ‘Azza Wa Jalla Maha Tahu akan Perubahan yang Akan Terjadi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-YfS8R77JTz8/TkEEbJSBLUI/AAAAAAAAAqE/uQIGf7Mn89U/s1600/%25282%2529.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 125px; padding:3px; border:6px solid #BEBBBB;" src="http://1.bp.blogspot.com/-YfS8R77JTz8/TkEEbJSBLUI/AAAAAAAAAqE/uQIGf7Mn89U/s200/%25282%2529.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5638793072839044418" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Mana Yang Terbaik, Berbuka atau Berpuasa..?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;(Majmuu’ Fataawaa Wa Maqaalaatu Mutanawwi’ah, 15/ 237- 238)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Soal: Mana yang lebih baik bagi seorang muslim yang sedang melakukan perjalanan jauh, tetap berpuasa ataukah berbuka..? Terutama dalam perjalanan yang tidak berat, seperti perjalanan dengan menggunakan Pesawat Terbang atau Transportasi Modern lainnya..?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Jawab: Yang terbaik bagi yang melakukan perjalanan itu adalah berbuka, namun kalau ada yang (memilih) tetap berpuasa, maka itu tidak mengapa.&lt;/span&gt; Karena kedua- duanya ada riwayatnya dari Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam, begitu juga para Shahabat Radhialloohu 'Anhum. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Namun jika cuacanya sangat panas dan beban perjalanan terasa semakin berat, maka (dalam kondisi ini) sangat dianjurkan berbuka dan makruh hukumnya (jika tetap) berpuasa&lt;/span&gt;. Karena Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam ketika dalam sebuah perjalanan dalam cuaca yang sangat panas, beliau Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam melihat ada seseorang yang dipayungi karena dia tetap berpuasa, Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Tidaklah termasuk sebuah kebaikan: berpuasa dalam perjalanan”.  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(HR. al- Bukhari Bab ‘Sabda Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam kepada orang yang dipayungi di saat panas terik, No. 1810 dan HR. Muslim Bab “Jawazis Shaum Wal Fithr Fi Syahri Ramadhan Lil Musafir, No. 1879)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga berdasarkan Hadits Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Sesungguhnya Alloh ‘Azza Wa Jalla Suka Rukhshah (keringanan)- Nya dilakukan sebagaimana Dia benci perbuatan Maksyiat kepada- Nya”. (HR. Ahmad, No. 5600)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam lafazh yang lain:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Sebagaimana Alloh ‘Azza Wa Jalla Suka ‘Azimah (Kewajiban- kewajiban dari- Nya) dilaksanakan”.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sama saja, baik perjalanan itu dilakukan dengan menggunakan mobil, unta, kapal laut, ataupun menggunakan pesawat terbang. Semuanya itu masuk dalam kategori Safar (melakukan perjalanan) dan berhak mendapatkan Rukhshah (Dispensasi) Safar. &lt;/span&gt;Alloh ‘Azza Wa Jalla telah menetapkan pada masa Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam (masih hidup) dan kaum Muslimin setelahnya, hukum- hukum (berkenaan dengan) Safar bagi para hamba- Nya juga menetapkan hukum- hukum ketika menetap di suatu tempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Alloh ‘Azza Wa Jalla (Yang telah menetapkan hukum- hukum ini) Maha Tahu akan perubahan yang akan terjadi,&lt;/span&gt; begitu juga dengan alat- alat transportasi. Seandainya hukum akan berbeda (dengan sebab perubahan kondisi dan sarana transportasi itu), tentu Alloh ‘Azza Wa Jalla telah mengingatkannya, sebagaimana firman- Nya (yang artinya):&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Dan Kami turunkan kepadamu Al- Kitab (Al- Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta Rahmat dan kabar gembira bagi orang- orang yang berserah diri”. (QS. An- Nahl (16): 89).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga Firman- Nya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Dan (Dia telah menciptakan) kuda, bighal (peranakan kuda dengan keledai) dan keledai, agar kamu menungganginya, dan (menjadikannya) perhiasan, dan Alloh menciptakan apa yang kamu tidak mengetahuinya. (QS. An- Nahl (16): 8).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sumber: Majalah As- Sunnah Edisi 03/ Thn XV/ Sya’ban 1432H/ Juli 2011/ Hal. 6. Rubrik : Soal- Jawab.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Footnote:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1946. (Dari) muhammad bin Amr bin al- Hasan bin Ali, dari Jabir bin Abdulloh Radhialloohu 'Anhum, ia berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam di saat bepergian pernah melihat kerumunan orang- orang, ada seorang laki- laki yang dipayungi, lalu beliau bertanya, “Kenapa dia?” mereka menjawab, “Dia sedang berpuasa”, maka beliau bersabda, &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Bukan termasuk kebaikan: berpuasa saat bepergian”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sumber: ‘Shahih al- Bukhari/ II” Kitab Puasa: Bab 36. “Sabda Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam kepada Orang yang Dipayungi karena Cuaca sangat Panas: “Bukan Termasuk Suatu Kebaikan Berpuasa saat Bepergian”. No. 1946. Hal. 317.&lt;/span&gt; Muhammad Fuad Abdul Baqi. Pustaka as- Sunnah. Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;92. (1115) Dari Jabir bin Abdulloh Radhialloohu 'Anhuma, dia berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam dalam suatu perjalanan pernah melihat seorang laki- laki dikerumuni oleh orang banyak, dan dinaungi, lalu beliau bertanya, “Mengapa dia?”, mereka menjawab, “Dia berpuasa”, Lalu Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda, &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Bukan termasuk perbuatan baik: Kalian berpuasa di perjalanan”.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sumber: ‘Shahih Muslim/ II” Kitab Puasa: Bab 15. “Bolehnya Berpuasa dan Berbuka di Bulan Ramadhan bagi Orang yang Sedang Bepergian yang Bukan Untuk Kemaksyiatan, Apabil Jarak Perjalanannya sudah memenuhi Ketentuan, dan Berpuasa Lebih Utama bagi Orang yang Mampu Berpuasa Tanpa Kesulitan, Serta berbuka Lebih Utama bagi Orang yang Merasa Kesulitan” No. 92 (1115). Hal 350.&lt;/span&gt; Muhammad Fuad Abdul Baqi. Pustaka as- Sunnah. Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;17. (684) Dari ‘Aisyah, Istri Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam, bahwasanya Hamzah bin Amir al- Aslami bertanya kepada Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Apakah saya akan berpuasa ketika bepergian? Dan ia lebih sering berpuasa, Maka Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda, &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Bila engkau mau, maka berpuasalah, dan jika tidak: maka tidak ada yang menghalangimu untuk berbuka”.&lt;/span&gt; (Muttafaqun ‘Alaih)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sumber: “al- Lu’lu’ Wal Marjan: Ensiklopedi Hadits Shahih yg Disepakati oleh Bukhari dan Muslim”. Kitab Shiyam: Bab 17. Kebebasan Memillih Bagi Para Musafir untuk Melaksanak dan Puasa, atau Tidak”. No. 684. Hal. 554.&lt;/span&gt; Muhammad Fuad Abdul Baqi. Pustaka as- Sunnah. Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam al- Hafizh al- Mundziri Rahimahulloh berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Para Ulama berbeda pendapat tentang yang lebih utama di antara keduanya dalam bepergian jauh, apakah puasa atau berbuka?, Anas bin Malik berpendapat bahwa &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;puasa lebih utama,&lt;/span&gt; hal ini juga diriwayatkan dari ‘Utsman bin Abul ‘Ash. Pendapat ini diikuti oleh Ibrahim an- Nakha’i, Said bin Jubair, ats- Tsauri, Abu Tsau dan ashab ar- Ra’yi. Malik, al- Fudhail bin Iyadh dan asy- Syafi’i berkata, “Puasa lebih kami Cintai bagi yang Kuat”.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Sedangkan ‘Abdulloh bin ‘Umar, Abdulloh bin ‘Abbas, Said bin al- Musayyib, asy- Sya’bi, al- Auza’i, Ahmad bin Hanbal, dan Ishaq bin Rawahaih berkata, &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Berbuka Lebih Utama”.&lt;/span&gt; Dan Diriwayatkan dari ‘Umar bin Abdul ‘Aziz, Qatadah, dan Mujahid bahwa &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;yang lebih utama adalah yang lebih mudah bagi seseorang, diantara keduanya.&lt;/span&gt; Pendapat ini dipilih oleh Hafizh Abu Bakar bin al- Mundzir, dan ia adalah pendapat yang bagus. Wallohu a’lam”.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh al- Albani Rahimahulloh berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Imam al- Mundziri telah berkata benar, &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;bahwa yang lebih utama adalah yang paling mudah dari keduanya. Dan manusia adalah berbeda- beda kekuatan dan kondisinya, maka hendaknya masing- masing mengambil apa yang termudah baginya,&lt;/span&gt; oleh karena itu telah diriwayatkan dengan Shahih dari Nabi bahwa beliau bersabda kepada penanya tentang berpuasa dalam perjalanan, &lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Berpuasalah kalau kamu mau, dan berbukalah kalau kamu mau”. Diriwayatkan oleh Muslim (3/ 145), dan dalam jalan yang lain yang shahih dengan lafazh, “Mana yang lebih mudah bagimu kerjakanlah”. Ia ditakhrij dalam ash- Shahiihah No. 2884”.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Wallohu a’lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: “Shahih at- Targhiib wa at- Tarhiib/ II”. Kitab Puasa: Bab  14: Ancaman Bagi Musafir Yang Berpuasa Apabila Terasa Berat Baginya dan Anjuran untuk Berbuka”. Hal 413- 414. Syaikh Muhammad Nashiruddin al- Albani. Pustaka Sahifa. Jakarta.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2107481068058571539-6901961723531370965?l=buletindarulilmy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buletindarulilmy.blogspot.com/feeds/6901961723531370965/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2107481068058571539&amp;postID=6901961723531370965&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2107481068058571539/posts/default/6901961723531370965'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2107481068058571539/posts/default/6901961723531370965'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buletindarulilmy.blogspot.com/2011/08/karena-alloh-azza-wa-jalla-maha-tahu.html' title='Karena Alloh ‘Azza Wa Jalla Maha Tahu akan Perubahan yang Akan Terjadi'/><author><name>khafidl khafidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12391092020879071145</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/__bf6ZucOoBA/TB-b6CilMiI/AAAAAAAAAaU/Sdg2fZ8YQRs/S220/085.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-YfS8R77JTz8/TkEEbJSBLUI/AAAAAAAAAqE/uQIGf7Mn89U/s72-c/%25282%2529.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2107481068058571539.post-6439054827594015271</id><published>2011-07-15T20:27:00.000-07:00</published><updated>2011-07-15T20:53:14.271-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mu&apos;amalah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Admin'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='General'/><title type='text'>Dan Sesungguhnya Anaknya Adalah Hasil Usahanya.</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-ja0_4tU8V0Y/TiEKmgplu3I/AAAAAAAAAp8/heGFQ9jFCSs/s1600/227164_111283258960374_100002361025187_118550_5950383_n.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px; padding:3px; border:6px solid #BEBBBB;" src="http://3.bp.blogspot.com/-ja0_4tU8V0Y/TiEKmgplu3I/AAAAAAAAAp8/heGFQ9jFCSs/s200/227164_111283258960374_100002361025187_118550_5950383_n.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5629792665905511282" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sedekah Untuk Orang Tua Yang Telah Meninggal Dunia.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;(Lihat Ahkaamul Janaa-iz Hal. 216- 219) dan az- Zakaah Fil Islam (Hal 597- 600).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sedekah yang dikeluarkan seorang anak untuk salah satu atau untuk kedua orang tuanya yang telah meninggal dunia, maka pahalanya akan sampai kepada keduanya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  Selain itu segala amal shalih yang diamalkan anaknya, maka pahalanya akan sampai kepada kedua orang tuanya tanpa mengurangi pahala si anak tersebut, sebab si anak merupakan hasil usaha kedua orang tuanya. Alloh ‘Azza Wa Jalla berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Dan Bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya”. (QS. An- Najm: 39).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Sungguh sebaik- baik apa yang dimakan oleh seseorang adalah dari hasil usahanya sendiri, dan sesungguhnya anaknya adalah hasil usahanya”.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;(Shahih,&lt;/span&gt;  HR. Ahmad (VI/ 41, 126, 162, 173, 193, 201, 202, 220), Abu Dawud (No. 3528), at- Tirmidzi (No. 1358), an- Nasa-i (VII/ 241), Ibnu Majah (No. 2137), dan al- Hakim (II/ 46)).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang ditunjukkan oleh ayat Al- Qur’an dan hadits di atas diperkuat lagi oleh beberapa hadits secara khusus membahas tentang kemungkinan pengambilan manfaat oleh orang tua yang telah meninggal dunia dari anak Shalihnya, seperti Sedekah, Puasa, memerdekakan Budak, dan lain- lain semisalnya. Hadits- hadits tersebut ialah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari ‘Aisyah Radhialloohu 'Anha,  bahwa seorang laki- laki berkata kepada Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Sesungguhnya ibuku meninggal dunia secara tiba- tiba [dan tidak memberikan wasiat], dan aku mengira jika ia bisa berbicara maka ia akan bersedekah, maka apakah ia memperoleh pahala jika aku bersedekah atas namanya [dan aku pun mendapat pahala]? Beliau menjawab, “Ya. [Maka bersedekahlah untuknya]”.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;(Shahih,&lt;/span&gt; HR. al- Bukhori  (No. 1388), Muslim (N0. 1004), Ahmad (VI/ 51), Abu Dawud (No. 2881), an- Nasa-i (VI/ 250), Ibnu Majah (No. 2717), dan al- Baihaqi (IV/ 62; VI/ 277- 278)). Syaikh al- Albani Rahimahulloh berkata dalah &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ahkaamul Janaa-iz (Hal 217),&lt;/span&gt; “Redaksi ini milik al- Bukhari di salah satu dari dua riwayatnya, tambahan yang terakhir adalah miliknya dalam riwayat lain. Juga Ibnu Majah dimana tambahan kedua miliknya, sedangkan tambahan pertama milik Muslim))&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Ibnu ‘Abbas Radhialloohu 'Anhuma,&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;“Bahwa Sa’ad bin ‘Ubadah –Saudara Bani Sa’idah- ditinggal mati oleh ibunya, sedang dia tidak berada bersamanya, maka ia bertanya, “Wahai Rasululloh,! Sesungguhnya ibuku meninggal dunia, dan aku sedang tidak bersamanya. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Apakah bermanfaat baginya apabila aku menyedekahkan sesuatu atas namanya..?’, Beliau menjawab, “Ya”.&lt;/span&gt; Dia berkata, “Sesungguhnya aku menjadikan engkau saksi bahwa kebun (ku) yang berbuah itu menjadi sedekah atas nama ibuku”.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;(Shahih,&lt;/span&gt;  HR. al- Bukhari (No. 2756), Ahmad (I/ 333, 370), Abu Dawud (No. 2882), at- Tirmidzi (No. 669), an- Nasa-i (VI/ 252- 253), dan al- Baihaqi (VI/ 278), dan lafadz ini milik Ahmad).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Hurairoh Radhialloohu 'Anhu bahwa ada seorang laki- laki bertanya kepada Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Sesungguhnya ayahku meninggal dunia dan meninggalkan harta, tetapi ia tidak berwasiat. Apakah (Alloh) akan menghapuskan (kesalahan) nya karena sedekahku atas namanya?” Beliau menjawab, “Ya”.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(Shahih,&lt;/span&gt; HR. Muslim (No. 1630), Ahmad (II/ 371), an- Nasa-i (VI/ 252), dan al- Baihaqi (VI/ 278)).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam asy- Syaukani Rahimahulloh berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Hadits- hadits bab ini menunjukkan bahwa sedekah dari anak itu bisa sampai kepada kedua orang tuanya setelah kematian keduanya meski tanpa adanya wasiat dari keduanya, pahalanya pun bisa sampai kepada keduanya. &lt;/span&gt;  Dengan hadits- hadits ini, keumuman firman Alloh Ta’ala berikut ini dikhususkan,&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya”. (QS. An- Najm: 39)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Tetapi, di dalam hadits tersebut hanya menjelaskan sampainya sedekah anak kepada kedua orangn tuanya. Dan telah ditetapkan pula bahwa seorang anak itu merupakan hasil usahanya sehingga tidak perlu lagi mendakwa ayat di atas dikhususkan oleh hadits- hadits tersebut. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sedangkan selain dari anak, maka menurut zhahir ayat- ayat Al- Qur’an, pahalanya tidak akan sampai kepada orang yang sudah meninggal dunia. Maka hal tersebut tidak perlu diteruskan hingga ada dalil yang mengkhususkannya”.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(Nailul Authaar (V/ 184) Cetakan Daar Ibnil Qayyim).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh al- Albani Rahimahulloh mengomentari pernyataan di atas dengan berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Inilah pemahaman yang benar yang sesuai dengan tuntunan kaidah- kaidah ilmiah, yaitu bahwa ayat Al- Qur’an di atas tetap dengan keumumannya, sedangkan pahala sedekah dan lain- lainnya tetap sampai dari seorang anak kepada kedua orang tuanya, karena ia hasil dari usahanya, berbeda dengan selain anak..” (Ahkaamul Janaa-iz (Hal. 219)).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;ADAPUN pengiriman pahala baca Al- Qur’an, Yasin, Al- Faatihah, kepada orang yang sudah meninggal dunia, MAKA TIDAK AKAN SAMPAI , karena semua riwayat- riwayat hanya menyebutkan tentang SAMPAINYA PAHALA SEDEKAH ANAK KEPADA ORANG TUA (Bukan Bacaan Al- Qur’an), &lt;/span&gt; berdasarkan ayat,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Dan Bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya”. (QS. An- Najm: 39)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika menafsirkan ayat di atas, al- Hafizh Ibnu Katsir Rahimahulloh berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebagaimana dosa seseorang tidak dapat dipindahkan kepada orang lain, maka demikian pula ganjaran seseorang (tidak dapat dipindahkan/ dikirimkan) kepada orang lain, kecuali apa yang didapat dari hasil usahanya sendiri.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari ayat ini, Imam asy- Syafi’i dan orang (pada ulama) yang mengikuti beliau beristinbat (mengambil dalil) bahwa mengirimkan pahala bacaan Al- Qur’an tidak sampai kepada Mayit, karena yang demikian bukanlah amal dan usaha mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Oleh karena itu, Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam TIDAK PERNAH MENYUNNAHKAN ummatnya (Mengirimkan pahala Bacaan Al- Qur’an kepada mayit) dan TIDAK PERNAH MENGAJARKAN kepada mereka dengan satu Nash yang sah dan tidak pula dengan isyarat.&lt;/span&gt; Dan tidak pernah dinukil ada seorangn Shahabat pun yang melakukan demikian. Seandainya hal itu (menghadiahkan pahala bacaan Al- Qur’an kepada mayit) adalah baik, Semestinya merekalah yang lebih dulu mengerjakan perbuatan yang baik itu. Tentang Bab amal- amal Qurbah ( Amal ibadah untuk mendekatkan diri kepada Alloh) hanya dibolehkan berdasarkan Nash (Dalil/ Contoh dari Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam ), dan tidak boleh memakai Qiyas atau pendapat”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(Tafsiir Ibni Katsir (VII/ 465) Tahqiq Sami Bin Muhammad as- Salamah. Dan Lihat Ahkaamul Janaa-iz Wa Bida’Uhaa (Hal. 220)   Cetakan Maktabah al- Ma’arif, Riyadh)).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang telah disebutkan oleh Ibnu Katsir Rahimahulloh dari Imam asy- Syafi’i itu merupakan pendapat sebagian besar ulama, dan juga pendapat Imam Hanafi, sebagaimana dinukil oleh Imam az- Zubaidi dalam &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Syarah Ihya’ ‘Ulumuddin (X/ 369)). (Lihat Ahkaamul Janaa-iz, Hal. 220)).  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Walloohu a'lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;SUMBER:  Sedekah Sebagai Bukti Keimanan dan Penghapus Dosa. Hal 177- 184.  &lt;/span&gt; Yazid bin abdul Qadir Jawas. Pustaka at- Taqwa. Bogor.Cet. 2 NOvember 2009.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2107481068058571539-6439054827594015271?l=buletindarulilmy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buletindarulilmy.blogspot.com/feeds/6439054827594015271/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2107481068058571539&amp;postID=6439054827594015271&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2107481068058571539/posts/default/6439054827594015271'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2107481068058571539/posts/default/6439054827594015271'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buletindarulilmy.blogspot.com/2011/07/dan-sesungguhnya-anaknya-adalah-hasil.html' title='Dan Sesungguhnya Anaknya Adalah Hasil Usahanya.'/><author><name>khafidl khafidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12391092020879071145</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/__bf6ZucOoBA/TB-b6CilMiI/AAAAAAAAAaU/Sdg2fZ8YQRs/S220/085.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-ja0_4tU8V0Y/TiEKmgplu3I/AAAAAAAAAp8/heGFQ9jFCSs/s72-c/227164_111283258960374_100002361025187_118550_5950383_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2107481068058571539.post-1987153691158368581</id><published>2011-06-11T19:47:00.000-07:00</published><updated>2011-06-11T20:41:39.548-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dienul Islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mu&apos;amalah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Admin'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='General'/><title type='text'>Kisah Abu Zur'ah Rahimahulloh [Menjelaskan Beberapa Hadits Para Perawi Dalam Keadaan Sakaratul Maut].</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-wnp0ULVg8fc/TfQx0_XNrwI/AAAAAAAAApc/WnXPyI_BCsA/s1600/226664_111282545627112_100002361025187_118546_6863852_n.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 130px; padding:3px; border:6px solid #BEBBBB;" src="http://3.bp.blogspot.com/-wnp0ULVg8fc/TfQx0_XNrwI/AAAAAAAAApc/WnXPyI_BCsA/s200/226664_111282545627112_100002361025187_118546_6863852_n.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5617169421669609218" /&gt;&lt;/a&gt;Abu Ja’far at- Tusturi Rahimahulloh menceritakan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Kami mendatangi Abu Zur’ah Rahimahulloh –Yakni ar- Razi- yang sedang dalam keadaan Sakaratul Maut. Dia didampingi oleh Abu Hatim, Muhammad bin Muslim, al- Mundzir bin Syadzan, dan sekelompok ulama hadits lainnya. Mereka membicarakan hadits tentang Talqin dan hadits Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;لقنوا مو تا كم لا إله إلا الله&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Bisikkanlah kepada orang yang menghadapi kematian di antara kalian, kalimat: &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;‘Laa Ilaaha Illallaah (Tiada Ilah (yang haq) Selain Alloh”.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Abu Ja’far Rahimahulloh meneruskan, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Mereka semua merasa malu kepada Abu Zur’ah , mereka takut kepadanya. Lalu mereka berkata, “Kesinilah, mari kita bicarakan hadits itu”.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhammad bin Muslim Rahimahulloh berkata,  &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Kami mendapatkan hadits ini dari adh- Dhahhak bin Makhlad, dari Abdul Hamid bin Ja’far, dari Shalih,..”&lt;/span&gt;   Namun dia tidak bisa meneruskan perawinya selanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Hatim menceritakan bahwa dia mendapatkan riwayat hadits ini dari Bundar, dari Abu ‘Ashim, dari Abdul Hamid bin Ja’far, dari Shalih. Namun dia juga hanya sampai pada perawi ini. Adapun yang lainnya hanya terdiam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu Abu Zur’ah – yang sedang Naza’ (Sakaratul Maut)- berkata, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Kami mendapatkan riwayat ini dari Bundar, dari Abu ‘Ashim, dari Abdul Hamid bin Ja’far, dari Shalih, dari Shalih bin Abu ‘Arib, dari Kutsair bin Murrah al- Hadhrami, dari Mu’adz bin Jabal yang berkata bahwa Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;من كان اخر كلا مه لا إله إلا الله دخل الجنة&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Barangsiapa yang akhir ucapannya adalah kalimat, “Laa ilaaha illallaah”, maka dia akan masuk Surga”.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak lama kemudian Abu Zur’ah meninggal dunia. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(Lihat Taqdimah al- Jarh Wa at- Ta’diil, Hal. 345; Ma’rifat ‘Ulum al- Hadits, Hal. 76, al- Irsyad li al- Khalily (II/ 677), Syu’b al- Iiman (VI/ 546), Tarikh Baghdad (X/ 335), Tarikh Madinat Dimsyiq (38/ 35).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-p2fu-AJnQ-Q/TfQyIspDhqI/AAAAAAAAApk/OcUKvy4WjL4/s1600/248994_116168035138563_100002361025187_159294_8098073_n.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 160px; padding:3px; border:6px solid #BEBBBB;" src="http://4.bp.blogspot.com/-p2fu-AJnQ-Q/TfQyIspDhqI/AAAAAAAAApk/OcUKvy4WjL4/s200/248994_116168035138563_100002361025187_159294_8098073_n.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5617169760241551010" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Hatim Rahimahulloh menambahkan kisah ini: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Rumah itu menjadi gaduh dengan tagisan orang yang hadir’.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Abi Hatim memuat Kisah ini dalam sebuah bab, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Bab Maa Zahara Li Abi Zur’ah Min Sayyidi ‘Amalihi ‘Inda Wafatihi’&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;(Amal Mulia Abu Zur’ah yang tampak menjelang wafat beliau) juga menceritakan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Aku mendatangi ayahku Rahimahulloh yang sedang dalam keadaan Naza’, sedang aku tidak mengetahui hal tersebut. Aku bertanya kepada beliau mengenai ‘Uqbah bin Abdul Ghafir yang meriwayatkan dari Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam, &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Apakah dia memiliki derajat sebagai Shahabat?”&lt;/span&gt; Dengan menggelengkan kepala dan dengan suara lemah, ayahku menjawab, &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Tidak”.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;"Aku tidak bisa menangkap jawaban beliau, lalu aku pun berkata, &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Apakah ayah paham maksudku?”&lt;/span&gt;, Ayah menjawab lagi, &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Dia (‘Uqbah bin Abdul Ghafir) adalah seorang Tabi’in”.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;"Amalan mulia ayahku adalah karena beliau mengetahui hadits, penukil atsar, dan beliau menyalin hadits sepanjang hidupnya, maka Alloh berkehendak menampakkan andil yang telah beliau lakukan semasa hidupnya ketika ajal itu tiba”.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;   Wallohu a’lam. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(Taqdimah al- Jarh Wa at- Ta’diil, Hal. 367, al- Jarh Wa at- Ta’diil (VI/ 313).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sumber : “Menggali Harta Karun Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam: Menelusuri Jejak Ahli Hadits Dalam Mencari Hadits Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam”, Hal 23- 26. &lt;/span&gt;DR. Ali Bin ‘Abdulloh ash- Shayyah. Daar an- Naba. Solo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Referensi : Al- Jarh Wa At- Ta’diil, Ibnu Abi Hatim ‘Abdurrahman bin Muhammad (Wafat 327H):&lt;/span&gt; Kaji Ulang: Abdurrahman al- Mu’allimi, cetakan pertama, 1371H, Majelis Dairah al- Ma’arif, India.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tambahan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Al- Jarh Wa at- Ta’diil adalah ilmu yang mempelajari tentang derajat keshahihan seorang perawi terhadap hadits yang diriwayatkannya, baik dari segi  ittishal (Sambungnya satu perawi  dengan perawi sebelumnya), sanad, dhabt (ketepatan), dan sebagainya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Keutamaan Mempelajari dan Menyampaikan hadits Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Semoga Alloh memberikan cahaya kepada wajah seseorang yang mendengarkan hadits dari kami, kemudian ia menyampaikannya sebagaimana yang ia dengar. Banyak orang yang disampaikan hadits lebih faham daripada orang yang mendengarnya langsung”.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(Shahih, HR. at- Tirmidzi (No. 2657), Ibnu Hibban (No. 74- 76/ Mawaarid),&lt;/span&gt; dan selainnya, dari Shahabat ‘Abdulloh bin Mas’ud Radhialloohu 'Anhu. At- Tirmidzi berkata, Hadits ini  ‘Hasan Shahiih’).&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sumber: “Kedudukan as- Sunnah dalam Syari’at Islam”, Hal. 17.&lt;/span&gt; Yazid bin Abdul Qadir Jawas. Pustaka at- Taqwa. Bogor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Referensi : Mawaariiduz Zam-aan ilaa Zawaa-idi Ibni Hibban (Wafat 356H), karya al- Hafizh Nuruddin ‘Ali bin Abu Bakar al- Haitsami (Wafat 807H),&lt;/span&gt; Tahqiq Muhammad ‘Abdurrazaq Hamzah, Cet. Darul Kutub ‘ilmiyyah, Beirut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-WIAyWNCIc9Q/TfQznK0OOEI/AAAAAAAAAps/xZluBpyT7Hs/s1600/183.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 160px; height: 200px; padding:3px; border:6px solid #BEBBBB;" src="http://1.bp.blogspot.com/-WIAyWNCIc9Q/TfQznK0OOEI/AAAAAAAAAps/xZluBpyT7Hs/s200/183.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5617171383249156162" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;NB:&lt;/span&gt; Kisah di atas merupakan salah satu dari sekian banyak kedahsyatan kisah para Ahli Hadits dalam mencari dan meriwayatkan hadits Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam yg ada dalam buku tersebut. Buku ini bagus, literasi+ daftar pustaka nya sesuai Sunnah insya ALLOH. Semoga Bermanfaat.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2107481068058571539-1987153691158368581?l=buletindarulilmy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buletindarulilmy.blogspot.com/feeds/1987153691158368581/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2107481068058571539&amp;postID=1987153691158368581&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2107481068058571539/posts/default/1987153691158368581'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2107481068058571539/posts/default/1987153691158368581'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buletindarulilmy.blogspot.com/2011/06/kisah-abu-zurah-rahimahulloh.html' title='Kisah Abu Zur&apos;ah Rahimahulloh [Menjelaskan Beberapa Hadits Para Perawi Dalam Keadaan Sakaratul Maut].'/><author><name>khafidl khafidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12391092020879071145</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/__bf6ZucOoBA/TB-b6CilMiI/AAAAAAAAAaU/Sdg2fZ8YQRs/S220/085.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-wnp0ULVg8fc/TfQx0_XNrwI/AAAAAAAAApc/WnXPyI_BCsA/s72-c/226664_111282545627112_100002361025187_118546_6863852_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2107481068058571539.post-7420587684706206950</id><published>2011-05-25T10:20:00.000-07:00</published><updated>2011-05-25T10:42:57.762-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dienul Islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mu&apos;amalah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Admin'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='General'/><title type='text'>Keduanya merupakan Harapan Tertinggi dan Anugerah Termulia.</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-MJY9WeLz4PI/Td0_N3muN1I/AAAAAAAAApQ/gHLdgZYw76Q/s1600/09_sunrise_rays.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 130px; padding:3px; border:6px solid #BEBBBB;" src="http://1.bp.blogspot.com/-MJY9WeLz4PI/Td0_N3muN1I/AAAAAAAAApQ/gHLdgZYw76Q/s200/09_sunrise_rays.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5610710218270717778" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Do'a Agar Dianugerahi Istiqomah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;أللهم ا هد ني و سد د ني &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Allohummah-dinii Wa Saddidnii..”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Ya Alloh, Berikanlah petunjuk kepadaku, dan berilah taufiq kepadaku untuk tetap lurus (benar dalam segala hal),&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam riwayat lain:&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;أللهم إني أسأ لك الهد ي و السد ا د&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;“Allohumma Innii As-Alukal- Huda Was-Sadaada”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Ya Alloh, aku memohon kepada- Mu petunjuk dan taufiq agar tetap istiqomah’&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasululloh Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam mengajarkan do’a ini secara langsung kepada ‘Ali bin Abi Thalib Radhiallohu 'Anhu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh ‘Abdurrazaq Hafizhahulloh mengatakan, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Do’a ini berisi permohonan Huda (petunjuk), dan Sadad (taufiq agar tetap lurus dalam segala hal) kepada Alloh ‘Azza Wa Jalla. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Keduanya merupakan harapan tertinggi dan anugerah termulia. Kesuksesan dan kebahagiaan tidak akan pernah terwujud kecuali dengan keduanya.&lt;/span&gt; Oleh karenanya, sangat penting untuk menganjurkan kaum muslimin agar mengamalkan do’a ini”.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau hafizhahulloh juga mengatakan, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Ini adalah sebuah do’a yang agung. Kalimat- kalimatnya singkat, namun kandungan kebaikannya begitu agung. Dan umum (mencakup banyak hal). Ini termasuk dalam kategori &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Jawaami’ul Kalim (Kalimat singkat namun memiliki makna luas yang menjadi salah satu keistimewaan Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam)&lt;/span&gt;".&lt;/span&gt;   &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(Fiqhul Ad’iyah Wal Adzkar, Volume 4. Hal. 164- 165).&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sumber: Do’a Agar Dianugerahi Istiqomah’. Majalah As- Sunnah. No. 09/ thn. XIV.&lt;/span&gt; Shafar 1432H/ Januari 2011. Hal. 2. ‘&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada Sumber yang Lain disebutkan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;95. Do’a agar diberi Keteguhan Petunjuk yang Lurus:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;أللهم ا هد ني و سد د ني - أللهم إني أسأ لك الهد ي و السد ا د&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Allohummah-dinii Wa Saddidnii.. Allohumma Innii As-Alukal- Huda Was-Sadaada”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Ya Alloh, berilah petunjuk kepadaku, dan luruskanlah diriku. Ya Alloh, Sesungguhnya aku memohon petunjuk dan kelurusan kepada- Mu”. &lt;/span&gt; &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(HR. Muslim, No. 2725).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sumber: “Kumpulan Do’a dari Al- Qur’an dan as- Sunnah yang Shahih”, Hal. 212- 213.&lt;/span&gt; Yazid bin Abdul Qadir Jawas. Pustaka Imam asy- Syafi’i. Bogor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;13. Do’a Memohon Hidayah&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;أللهم ا هد ني و سد د ني واذ كر با لهد ي هد ا يتك ا لطريق وا لسداد سداد السهم&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Allohummah- Dinii Wa Saddidnii Wadzkur Bil Huda Hidaayatuka-Ththoriiqo Wa-Ssadaadi Sadaada-Ssahmi..”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Ya Alloh, berilah aku petunjuk dan tepatkanlah aku pada sasaran, karena dengan petunjuk itu aku akan menuju ke jalan yang lurus, dan dengan ketepatan itu anak panah akan mengenai sasarannya’. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(Shahih, HR. Muslim, Abu Dawud, dan an- Nasa’I dari Shahabat ‘Ali bin Abi Thalib Radhiallohu 'Anhu: Shahih Jami’ ash- Shaghir: 4401).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sumber: “Dzikir &amp; Do’a Shahih dari Shahih Adabul Mufrad- Jami’ush Shaghir”, Hal. 68- 69.&lt;/span&gt; Syaikh al- Albani Rahimahulloh. Media Hidayah. Yogyakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Keutamaan Orang Yang Istiqomah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keutamaan orang yang bisa ber- Istiqomah sangatlah banyak sekali. Akan tetapi secara umum, keutamaan tersebut tercantum dalam tiga ayat berikut (yang artinya):&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Sesungguhnya orang- orang yang mengatakan, “Rabb kami ialah Alloh” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka (ber- Istiqomah), &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;maka Malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan, “Janganlah kamu takut, dan janganlah merasa Sedih”, dan Gembirakanlah mereka dengan Jannah yang telah dijanjikan Alloh kepadamu. Kamilah pelindung- pelindungmu dalam kehidupan Dunia dan Akhirat, Di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta.&lt;/span&gt; Sebagai hidangan (bagimu) dari (Rabb) yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(QS. Fushshilat [41]: 30- 32).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Qayyim al- Jauziyyah Rahimahulloh berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;"...Oleh karena itu, agama (Islam) seluruhnya terkandung dalam Firman Alloh (yaitu ayat yang kita bahas ini):&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;فا ستقم كما أمر ت&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Firman- Nya (yang artinya):&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Sesungguhnya orang- orang yang mengatakan, “Tuhan kami ialah Alloh” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka (ber- Istiqomah), &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;tidak ada ketakutan pada diri mereka, dan tidak pula mereka bersedih”.&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(QS. Al- Ahqaf: 13). (Lihat Thariq al- Hijratain Wa Bab as-Sa’aadatain, Hal. 73).&lt;/span&gt; Wallohu a’lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sumber: “Keutamaan Orang Yang Beristiqomah” Oleh Ust. Abu Ahmad Said Yai. Rubrik Tafsir Majalah As- Sunnah: No. 09/ thn. XIV.&lt;/span&gt; Shafar 1432H/ Januari 2011, Hal. 9.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Alloh memberikan Taufiq dan Hidayah- Nya kepada kita semua. Aamiin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2107481068058571539-7420587684706206950?l=buletindarulilmy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buletindarulilmy.blogspot.com/feeds/7420587684706206950/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2107481068058571539&amp;postID=7420587684706206950&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2107481068058571539/posts/default/7420587684706206950'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2107481068058571539/posts/default/7420587684706206950'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buletindarulilmy.blogspot.com/2011/05/keduanya-merupakan-harapan-tertinggi.html' title='Keduanya merupakan Harapan Tertinggi dan Anugerah Termulia.'/><author><name>khafidl khafidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12391092020879071145</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/__bf6ZucOoBA/TB-b6CilMiI/AAAAAAAAAaU/Sdg2fZ8YQRs/S220/085.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-MJY9WeLz4PI/Td0_N3muN1I/AAAAAAAAApQ/gHLdgZYw76Q/s72-c/09_sunrise_rays.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2107481068058571539.post-5641347886453052339</id><published>2011-05-08T03:05:00.000-07:00</published><updated>2011-05-08T04:42:26.477-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dienul Islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mu&apos;amalah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Admin'/><title type='text'>Bersikap Kepada Musuh &amp; Keutamaan Ta'ziyah</title><content type='html'>Ibnu Qayyim al- Jauziyyah Rahimahulloh mengatakan, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;"Aku tidak mengetahui seorang yang memiliki sifat- sifat ini selain Ibnu Taimiyyah. Semoga Alloh menyucikan arwahnya”.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah seorang murid senior beliau pernah mengatakan,  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Aku berharap bisa bersikap dengan para shahabatku sebagaimana Ibnu Taimiyyah bersikap dengan musuh- musuhnya. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Aku tidak pernah mengetahui Ibnu Taimiyyah mendo’akan kejelekan untuk seorangpun dari musuh- musuhnya. Sebaliknya, beliau sering mendo’akan kebaikan untuk mereka&lt;/span&gt;”.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;"Suatu hari aku menemui beliau untuk menyampaikan kabar gembira berupa meninggalnya musuh terbesar beliau sekaligus orang yang paling memusuhi dan paling suka menyakiti beliau. Mendengar berita yang kusampaikan, beliau membentakku, &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;menyalahkan sikapku, dan mengucapkan istirja’ (Innaa Lillaahi Wa Innaa Ilaihi Rooji’uun).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-nLOyTGtxjo4/TcZ_aw3Sa5I/AAAAAAAAApI/xocF2h0zw-E/s1600/18979_1154862442952_1569444348_30329617_1341525_n.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 125px; padding:3px; border:6px solid #BEBBBB;" src="http://2.bp.blogspot.com/-nLOyTGtxjo4/TcZ_aw3Sa5I/AAAAAAAAApI/xocF2h0zw-E/s200/18979_1154862442952_1569444348_30329617_1341525_n.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5604306884079283090" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;"Kemudian beliau bergegas pergi menuju rumah orang tersebut. Beliau lantas menghibur keluarga yang ditinggal mati. Bahkan beliau mengatakan, &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Aku adalah pengganti beliau untuk kalian. Jika kalian memerlukan suatu bantuan pasti aku akan membantu kalian”,&lt;/span&gt; dan ucapan semisal itu. Akhirnya mereka pun bergembira, mendo’akan kebaikan untuk Ibnu Taimiyyah, dan sangat kagum dengan sikap Ibnu Taimiyyah tersebut. Semoga Alloh menyayangi dan meridhoi Ibnu Taimiyyah”.&lt;/span&gt; &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;(Madarij as- Salikin&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Karya Ibnu Qayyim &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;:2/ 328- 329&lt;/span&gt;, Tahqiq: Ahmad ‘Amir, terbitan Darul Hadits, Kairo, Cet. Pertama 1316H). Wallohu a'lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sumber: “Sembilan Faedah Tentang Adab dan Akhlak”.&lt;/span&gt; Ust. Aris Munandar Hafizhahulloh. Majalah Al- Furqon. Hal 27. Edisi 10/ 10/ Jumadil Ula 1432H/ April 2011.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Note Tambahan:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Keutamaan Berta’ziyah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Berta’ziyah kepada saudara yang sedang tertimpa musibah dapat mendatangkan keutamaan yang sangat banyak,&lt;/span&gt; antara lain dijelaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadits berikut ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;1. Diberi pakaian kehormatan pada hari kiamat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Tidaklah ada seorang mukmin yang berta’ziyah kepada saudaranya tatkala tertimpa suatu musibah, melainkan &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Allah azza wa jalla akan memberinya pakaian dari pakaian kemulian pada hari kiamat.&lt;/span&gt;” &lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;[HR.Ibnu Majah, no.1601 &lt;/span&gt;dan dihasankan oleh Syaikh al Albani dalam &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Shahih Ibn Majah, no.1311, Irwa’ al Ghalil, no.764, ash Shahihah, no.195. Al-I’lam bi Akhiri Ahkam al-Albani al-Imam, hal.154 no.209]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;2. Termasuk amalan yang utama&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ta’ziyah merupakan amalan yang utama. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah menjelaskannya dalam sabda beliau:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Amalan yang paling utama adalah &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;menyenangkan orang mukmin, memberi pakaian dia untuk menutup auratnya, mengenyangkan kelaparannya atau memenuhi kebutuhannya.” &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;[Shahih Targhib wa Tarhib, no.2090, hadits hasan)&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;3. Mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itu &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah banyak melakukan ta’ziyah kepada orang yang sedang tertimpa musibah.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Wallohu a'lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sumber : Meraih Pahala Melimpah dengan Berta’ziyah.&lt;/span&gt; Oleh : Abu Ashim Muhtar Arifin Marzuqi, Lc. Majalah adz Dzakhiirah Vol.8 No.1, Edisi 55, Th.1430/2009, hal.46-51.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih Lengkap mengenai Definisi, Hukum, Cara Ta'ziyah bisa dilihat di alamat berikut &lt;a href="http://alqiyamah.wordpress.com/2009/11/17/meraih-pahala-melimpah-dengan-berta%E2%80%99ziyah/"&gt;http://alqiyamah.wordpress.com/2009/11/17/meraih-pahala-melimpah-dengan-berta%E2%80%99ziyah/&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2107481068058571539-5641347886453052339?l=buletindarulilmy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buletindarulilmy.blogspot.com/feeds/5641347886453052339/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2107481068058571539&amp;postID=5641347886453052339&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2107481068058571539/posts/default/5641347886453052339'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2107481068058571539/posts/default/5641347886453052339'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buletindarulilmy.blogspot.com/2011/05/bersikap-kepada-musuh-keutamaan-taziyah.html' title='Bersikap Kepada Musuh &amp; Keutamaan Ta&apos;ziyah'/><author><name>khafidl khafidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12391092020879071145</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/__bf6ZucOoBA/TB-b6CilMiI/AAAAAAAAAaU/Sdg2fZ8YQRs/S220/085.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-nLOyTGtxjo4/TcZ_aw3Sa5I/AAAAAAAAApI/xocF2h0zw-E/s72-c/18979_1154862442952_1569444348_30329617_1341525_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2107481068058571539.post-3183904442122233931</id><published>2011-05-04T01:30:00.000-07:00</published><updated>2011-05-04T02:02:25.609-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dienul Islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Admin'/><title type='text'>Ia merupakan do’a terbaik yang diucapkan oleh para Nabi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-b1FJOUfF8lg/TcEUVEdqyYI/AAAAAAAAApA/ZzfBxvlP6bY/s1600/18979_1154862522954_1569444348_30329619_7974435_n.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px; padding:3px; border:6px solid #BEBBBB;" src="http://2.bp.blogspot.com/-b1FJOUfF8lg/TcEUVEdqyYI/AAAAAAAAApA/ZzfBxvlP6bY/s200/18979_1154862522954_1569444348_30329619_7974435_n.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5602781763633596802" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Keutamaan Laa Ilaaha Illallaah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalimat ini di samping memiliki beberapa keutamaan yang agung, ia juga memiliki kedudukan tersendiri di sisi Alloh Ta’ala. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Barangsiapa mengucapkannya dengan jujur, maka Alloh akan memasukkannya ke dalam Surga, dan barangsiapa mengucapkannya dengan dusta, maka darah dan hartanya masih terjaga di dunia, akan tetapi kelak di akhirat hisabnya diserahkan kepada Alloh Subhanahu Wa Ta’ala.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalimat ini memang pendek lafazhnya, sedikit hurufnya, dan ringan diucapkan. Namun memiliki bobot yang sangat berat di dalam timbangan keadilan. Imam Ibnu Hibban dan al- Hakim telah meriwayatkan dari Abu Sa’id al- Khudri Radhialloohu 'Anhu, bahwa Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Musa pernah berkata, “Wahai Tuhan-ku, ajarilah aku sesuatu yang dapat aku pakai untuk ingat dan berdo’a kepada- Mu”, Alloh berfirman, “Wahai Musa, ucapkanlah &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Laa Ilaaha Illallaah&lt;/span&gt;”, Musa berkata, “Semua hamba- Mu mengucapkan kalimat ini”, Alloh berfirman, “Wahai Musa, &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;seandainya tujuh (7) langit dan penghuninya selain Aku, dan tujuh (7) bumi diletakkan di salah satu daun timbangan dan Laa Ilaaha Illallaah lainnya, niscaya Laa ilaaha Illallaah lebih berat dari itu semua”.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(HR. al- Hakim No. 1528, Ibnu Hibban No. 2324&lt;/span&gt; dalam &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Mauridh Adh- Dam’an&lt;/span&gt;).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits ini menunjukkan Laa Ilaaha Illallaah merupakan &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;dzikir yang paling utama.&lt;/span&gt; Sebagaimana yang ditegaskan oleh hadits dari ‘Abdulloh bin ‘Umar Radhialloohu 'Anhuma, Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Sebaik- baik do’a adalah do’a di hari ‘Arafah,&lt;/span&gt; dan dia (adalah) sebaik- baik yang aku ucapkan, demikian pula para Nabi sebelumku, yaitu &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;do’a LAA ILAAHA ILLALLAAHU WAHDAHU LAA SYARIIKA LAHU, LAHUL MULKU WA LAHUL HAMDU WA HUWA ‘ALAA KULLI SYAI-IN QODIIR &lt;/span&gt;–Tiada Ilah yang berhak disembah kecuali Alloh Yang Maha Esa tidak ada sekutu bagi- Nya, Milik- Nya kekuasaan dan pujian. Dia Maha Kuasa atas Segala Sesuatu”&lt;/span&gt; &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(HR. Ahmad dan at- Tirmidzi dalam Ad- Da’wat, No. 3579).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara dalil yang juga menunjukkan Laa Ilaaha Illallaah memiliki bobot yang sangat besar di dalam timbangan keadilan adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam at- Tirmidzi, ia menghasankannya. An- Nasa’i dan al- Hakim, ia berkata hadits ini Shahih atas Syarat Imam Muslim. Dari Abdulloh bin ‘Amr Radhialloohu 'Anhu, Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Akan dipanggil seorang dari umatku di atas para pemuka makhluk pada hari Kiamat, kemudian dibentangkan baginya 900 Sijjiil (catatan amal), masing- masing sijjiil sepanjang pandangan mata, lalu dikatakan kepadanya, “Apa kamu mengingkari hal ini?” ia menjawab, “Tidak Wahai Tuhanku”. Ia ditanya, “Apa kamu punya alasan lain atau kebajikan?”, dengan rasa takut ia menjawab, “Tidak punya”, lalu ia diberitahu, “Sesungguhnya kamu memiliki kebajikan di sisi Kami dan kamu tidak akan didzalimi sedikitpun”, Kemudian dikeluarkan baginya &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;sebuah Bithoqoh (kartu ucapan amal) yang di dalamnya tertulis Laa Ilaaha Illallaah.&lt;/span&gt; Maka ia berkata, “Wahai Tuhanku, apa maksud dari Bithoqoh dan Sijjiil ini?” Dikatakan kepadanya, “Engkau tidak akan didzalimi sedikitpun”, lalu Sijjil- sijjil itu diletakkan di salah satu daun timbangan, dan bithoqoh pada daun timbangan lainnya, tiba- tiba sijjil- sijjil itu menjadi ringan sedangkan bithoqoh malah bertambah berat”. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(HR. at- Tirmidzi No. 2641 dalam Al- Iman, dan al- Hakim (I/ 5-6) dan selainnya).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al- Hafizh Ibnu Rajab Rahimahulloh menyebutkan dalam risalahnya yang berjudul &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kalimatul Ikhlas,&lt;/span&gt; bahwa kalimat yang agung ini memiliki banyak keutamaannya, beliau menyebutkan sebagiannya, dan memberi dalil bagi masing- masing keutamaannya, di antaranya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;1. Ia merupakan harga Surga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Barangsiapa mengucapkannya di akhir hayatnya, ia pasti masuk Surga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Ia menjadi penyelamat dari kekekalan Neraka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Ia menjadi sebab diampuninya seluruh dosa,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Ia merupakan kebajikan yang terbaik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Ia mampu memperbaharui Iman dalam hati,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Ia mampu mengalahkan lembaran- lembaran dosa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Ia mampu membuka tabir sampai berjumpa dengan Alloh Ta’ala bagi orang yang jujur mengucapkannya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Ia merupakan do’a terbaik yang diucapkan oleh para Nabi,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. Ia merupakan dzikir yang paling utama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11. Ia adalah amalan yang paling utama dan paling banyak pahalanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    yang menyamai pahala membebaskan beberapa budak,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12. Ia dapat menjaga dari syaithan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13. Ia menjadi pengaman kesengsaraan kubur dan kedahsyatan hari dikumpulkannya semua makhluk,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;14. Ia menjadi syi’ar orang- orang mukmin tatkala dibangkitkan dari kubur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;15. Ia menjadi kunci dibukanya delapan (8) pintu Surga hingga bisa masuk lewat pintu mana saja yang disukai,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;16. Ia dapat mengeluarkan seseorang dari Siksa Neraka sekecill apapun amalnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Kalimatul Ikhlaas, Ibnu Rajab al- Hanbali, Hal. 54- 56). Walloohu a'lam.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sumber: ‘Hakekat Tauhid dan Makna Laa Ilaaha Illallaah”. Hal 107- 111.&lt;/span&gt; Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan al- Fauzan. Pustaka al- Haura’. Yogyakarta.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2107481068058571539-3183904442122233931?l=buletindarulilmy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buletindarulilmy.blogspot.com/feeds/3183904442122233931/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2107481068058571539&amp;postID=3183904442122233931&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2107481068058571539/posts/default/3183904442122233931'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2107481068058571539/posts/default/3183904442122233931'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buletindarulilmy.blogspot.com/2011/05/ia-merupakan-doa-terbaik-yang-diucapkan.html' title='Ia merupakan do’a terbaik yang diucapkan oleh para Nabi'/><author><name>khafidl khafidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12391092020879071145</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/__bf6ZucOoBA/TB-b6CilMiI/AAAAAAAAAaU/Sdg2fZ8YQRs/S220/085.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-b1FJOUfF8lg/TcEUVEdqyYI/AAAAAAAAApA/ZzfBxvlP6bY/s72-c/18979_1154862522954_1569444348_30329619_7974435_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2107481068058571539.post-3623602528082367740</id><published>2011-04-30T19:07:00.000-07:00</published><updated>2011-04-30T19:49:26.881-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dienul Islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mu&apos;amalah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Admin'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='General'/><title type='text'>Do’a Seorang Ayah Untuk Anaknya.</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-vnXPosBbuGI/TbzJp8PMBnI/AAAAAAAAAo4/4UPagHfodfE/s1600/%252837%2529.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 125px; padding:3px; border:6px solid #BEBBBB;" src="http://2.bp.blogspot.com/-vnXPosBbuGI/TbzJp8PMBnI/AAAAAAAAAo4/4UPagHfodfE/s200/%252837%2529.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5601573758923703922" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Do’a Seorang Ayah Untuk Anaknya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Muhammad al- Mukhtar asy- Syinqithi menceritakan tentang seseorang yang dia adalah orang yang lemah, menderita, dan dalam keadaan yang sempit. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Dia pergi mencari nafkah untuk ayahnya. Jika ia datang membawa upah kerjanya hari itu, maka ia letakkan uang- uang itu di atas dipan. Hal itu ia lakukan karena ia malu untuk menyerahkannya langsung dengan tangannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap kali ia meletakkan uang di hadapan ayahnya, maka ayahnya selalu berdo’a kepada Alloh:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Ya Alloh, berikanlah Rizqi Al- Qur’an kepada anakku, dan jadikan ia sebagai ahli Al- Qur’an”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah hingga berlangsung dua puluh (20) tahun, ia sibuk dengan pekerjaannya. Hingga pada suatu hari, ketika ia pulang dari pekerjaannya, Alloh berkehendak untuk mempertemukannya dengan seorang ‘alim. Orang ‘alim tersebut adalah seorang tokoh yang pendapat- pendapatnya menjadi pegangan- pegangan orang- orang di negerinya. Orang ‘alim itu bertanya, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Apa kegiatanmu sekarang..?” &lt;/span&gt; Laki- laki tersebut menjawab, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Seperti yang anda lihat, saya berusaha mencari nafkah”.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ulama tersebut berkata lagi, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Bisakah anda menyediakan waktu untuk saya sehari dalam seminggu?”&lt;/span&gt;, Laki- laki itu menjawab, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Ya, dengan senang hati”.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Maka laki- laki itu senantiasa pulang pergi kepada ulama itu untuk belajar. &lt;/span&gt;Tidak terasa, hingga tibalah hari di mana laki- laki itu harus melakukan tanya jawab pada sebuah sidang untuk mempertahankan risalah doktoralnya dalam bidang tafsir Al- Qur’an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika ia dipanggil untuk melakukan tanya jawab, dan ia telah duduk, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;maka tiba- tiba ulama yang menjadi Guru Besar sekaligus Dosennya itu berdiri karena hormat dan memuliakan laki- laki itu, &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;dikarenakan keilmuannya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Kemudian ia berkata kepada laki- laki itu, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Silahkan Syaikh”.&lt;/span&gt; Padahal seperti kita ketahui , seorang dosen tidak biasa berdiri untuk memuliakan mahasiswanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian di hadapan khalayak umum, tiba- tiba guru besar itu berkata, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Ilmu dan pengetahuannya tentang Kitabulloh yang saya lihat dari laki- laki ini membawa saya untuk menumpahkan rasa hormat kepadanya dan mendorongku untuk memuliakannya”.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ketika laki- laki itu telah dipersilahkan, maka ia pun duduk sambil bercucuran airmata. Maka sang Guru besar bertanya, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Mengapa anda menangis, padahal kami hanya ingin memuliakan anda?”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laki- laki itu menjawab, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Saya teringat do’a ayah saya rahimahulloh: &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Ya Alloh, berikan Rizqi Al- Qur’an kepada anakku, dan jadikanlah ia sebagai ahli Al- Qur’an”.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Berkat do’a ayahandanya, Alloh Ta’ala telah menghantarkan laki- laki ini meraih kedudukan yang mulia dan terhormat. Wallohu a’lam. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(Rahmatudh Dhu’afaa’,&lt;/span&gt; dalam bentuk kaset rekaman: Tasjilatut Taqwa, Riyadh, 1417H. Syaikh Muhammad al- Mukhtar asy- Syinqithi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sumber: ‘Akhirnya Alloh ‘Azza Wa Jalla mengabulkan do’a Mereka: Kisah Do’a Orang- orang yang Dikabulkan!”. Hal. 68- 70. &lt;/span&gt;Shalih bin Rasyid bin Muhammad al- Huwaimil. Pustaka Ibnu ‘Umar. Bogor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tambahan:&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;14. Do’a Kedua Orang Tua.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;24/ 32. Dari Abu Hurairoh Radhialloohu 'Anhu, Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Ada tiga (3) do’a yang tidak diragukan kemustajabannya, yaitu do’a orang yang dizhalimi (dianiaya), do’a orang musafir, &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;dan do’a kedua orang tua kepada anaknya”.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Hasan, &lt;/span&gt;di dalam kitab &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;ash- Shahiihah (598),&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Abu Dawud: &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;8- Kitab ash- Shalat, 29- bab ad- Du’a Bizhahril Ghaibi,&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;at- Tirmidzi, &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;25- Kitab al- Birru wash- Shilah, 7- Bab Ma Ja’ala fi Da’watil Walidaini.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Ibnu Majah: &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;34, Kitab Do’a, 11- Da’watul Walid Da’watul Mazhlum, hadits No. 3862).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sumber: Shahih Adabul Mufrad. Hal. 47 (24/ 32).&lt;/span&gt; Syaikh al- Albani Rahimahulloh. Pustaka Azzam. Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Tiga Orang Yang Do’anya dikabulkan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Ada tiga (3) do’a yang tidak diragukan kemustajabannya, yaitu do’a orang yang dizhalimi (dianiaya), do’a orang musafir, serta &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;do’a seorang ayah kepada anaknya”.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Shahih,&lt;/span&gt; HR. al- Bukhori dari Shahabat Abu Hurairoh: &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Shahih Adabul Mufrad: 372&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sumber: Dzikir dan Do’a Shahih dari Shahih Adabul Mufrad dan Shahih Jami’ush Shaghir. Hal 29.&lt;/span&gt; Syaikh al- Albani Rahimahulloh. Media Hidayah. Yogyakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Ada tiga (3) do’a yang dikabulkan oleh Alloh –Subhaanahu Wa Ta'ala- yang tidak diragukan tentang do’a ini: &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(1) do’a kedua orang tua terhadap anaknya,&lt;/span&gt; (2) do’a musafir –orang yang sedang dalam perjalanan-, dan (3) do’a orang yang dizhalimi”.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Hasan, &lt;/span&gt;HR. al- Bukhori dalam &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;al- Adabul Mufrad (No. 32, 481/ Shahih Adabul Mufrad (No. 24, 372))&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;, Ahmad (II/ 258, 348, 478, 517, 523), Abu Dawud (No. 1536), at- Tirmidzi (No. 1905, 3448), Ibnu Majah (No. 3862), Ibnu Hibban (No. 2406/ al- Mawaarid), dan ath- Thayalisi (No. 2639), dari Shahabat Abu Hurairoh Radhialloohu 'Anhu. Lihat &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Silsilah al- Ahaadiits ash- Shahiihah, No. 596).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sumber: “Birrul Walidain: Berbakti Kepada Orang Tua”. Hal. 85.&lt;/span&gt; Yazid bin Abdul Qadir Jawas Hafizhahulloh. Pustaka at- Taqwa. Bogor.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2107481068058571539-3623602528082367740?l=buletindarulilmy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buletindarulilmy.blogspot.com/feeds/3623602528082367740/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2107481068058571539&amp;postID=3623602528082367740&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2107481068058571539/posts/default/3623602528082367740'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2107481068058571539/posts/default/3623602528082367740'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buletindarulilmy.blogspot.com/2011/04/doa-seorang-ayah-untuk-anaknya.html' title='Do’a Seorang Ayah Untuk Anaknya.'/><author><name>khafidl khafidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12391092020879071145</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/__bf6ZucOoBA/TB-b6CilMiI/AAAAAAAAAaU/Sdg2fZ8YQRs/S220/085.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-vnXPosBbuGI/TbzJp8PMBnI/AAAAAAAAAo4/4UPagHfodfE/s72-c/%252837%2529.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2107481068058571539.post-1207356278712124293</id><published>2011-04-21T20:06:00.000-07:00</published><updated>2011-04-21T23:13:11.467-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dienul Islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mu&apos;amalah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='General'/><title type='text'>Karena di akhirat nanti tidak ada lagi dinar dan dirham</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-Ap2E6WyW_NM/TbEbq-GoTmI/AAAAAAAAAow/qejWRMCbUNY/s1600/%25289%2529.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 125px; padding:3px; border:6px solid #BEBBBB;v" src="http://3.bp.blogspot.com/-Ap2E6WyW_NM/TbEbq-GoTmI/AAAAAAAAAow/qejWRMCbUNY/s200/%25289%2529.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5598286236837498466" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Meminta  Pembebasan dari Kezhaliman yang Pernah Dilakukannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam at- Tirmidzi meriwayatkan dari hadits Abu Hurairoh Radhialloohu 'Anhu, ia berkata, Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Semoga Alloh merahmati seorang hamba yang saudaranya memiliki hak karena kezhaliman yang pernah dilakukan olehnya, baik menyangkut kehormatan maupun harta, kemudian ia pun meminta pembebasan kepadanya sebelum ia dituntut. Karena di akhirat nanti tidak ada lagi dinar dan dirham. Jika ia memiliki kebajikan, maka diambil dari kebajikannya. Jika ia tidak memiliki kebajikan, maka keburukan mereka dipikulkan kepadanya”.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Shahih. &lt;/span&gt;Syaikh al- Albani Rahimahulloh menilai Shahih. Lihat &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;as- Silsilah ash- Shahiihah (No. 3265),&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt; &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Shahiih Sunan at- Tirmidzi Wa Dha’iifihi (No. 2419).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Sebelumnya ia mendha’ifkannya dalam &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Dha’if al- Jaami’ (No. 3112),&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; kemudian menshahihkannya dengan murtabi’ dan syahidnya yang kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits ini asalnya terdapat dalam al- Bukhori dari haditsnya. Ia mengatakan, Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Barangsiapa memiliki kezhaliman yang pernah ia lakukan pada seseorang, baik menyangkut kehormatannya maupun selainnya, maka hendaklah ia meminta penghalalan darinya pada hari ini, sebelum tidak ada lagi dinar dan dirham. Jika ia memiliki kebajikan, maka diambilkan dari kebajikannya. Jika ia tidak memiliki kebajikan, maka diambilkan dari keburukan sahabatnya, lalu dipikulkan kepadanya”.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al- hafizh Ibnu Hajar al- ‘Asqalani dalam &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Fat-hul Baari (VII/ hal. 360)&lt;/span&gt; mengatakan, &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;“Barangsiapa memiliki tanggungan kezhaliman pada saudaranya”&lt;/span&gt;  -huruf Laam, pada sabdanya, ‘Lahu’ (untuknya) bermakna ‘Ala (atasnya), yakni, Siapa yang memiliki tanggungan kezhaliman pada saudaranya. Ini disebutkan dalam &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;ar- Riqaaq&lt;/span&gt; dari riwayat Malik, dari al- Maqburi dengan  lafazh, &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Barangsiapa pernah berbuat kezhaliman pada saudaranya”. &lt;/span&gt;Juga diriwayatkan oleh Imam at- Tirmidzi dari jalur Zaid bin Abi Unaisah, dari al- Maqburi,&lt;span style="font-weight:bold;"&gt; “Semoga Alloh Subhanahu Wa Ta’ala merahmati seorang hamba yang pernah berbuat kezhaliman pada saudaranya”.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Baik menyangkut kehormatannya maupun sesuatu”.&lt;/span&gt; Ini termasuk menghubungkan sesuatu yang umum pada sesuatu yang khusus. Termasuk di dalamnya harta dengan aneka macamnya, dan luka, hingga tamparan dan semisalnya. Dalam riwayat at- Tirmidzi, &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Baik kehormatan maupun Harta”.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sabdanya, &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Sebelum tidak ada lagi dinar dan dirham”,&lt;/span&gt; Yakni pada Hari Kiamat. Hal itu disebutkan dalam riwayat ‘Ali bin al- Ja’d dari Ibnu Abi Dzi’-b pada riwayat al- Isma’ili.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabdanya, &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Diambilkan dari keburukan pemiliknya”,&lt;/span&gt; yakni Orang yang didzalimi, &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Lalu dipikulkan kepadanya”,&lt;/span&gt; yakni kepada orang yang berbuat Zhalim. Dalam riwayat Malik, &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Lalu dicampakkan padanya”.&lt;/span&gt; Hadits ini telah dikeluarkan oleh Imam Muslim yang semakna dengannya dari jalur lainnya, dan redaksinya lebih jelas daripada ini, dengan lafazh,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Sesungguhnya Orang yang bangkrut dari umatku ialah Orang yang datang pada hari Kiamat dengan membawa pahala sholat, puasa dan zakat, namun ia datang dalam keadaan telah mencaci maki fulan, menumpahkan darah fulan, dan memakan harta fulan, lalu fulan yang ini diberi dari kebajikan- kebajikannya, dan fulan yang lain diberi dari kebajikan- kebajikannya. Jika kebajikan- kebajikannya telah habis sebelum menyelesaikan tanggungannya, maka diambilkan dari dosa- dosa mereka, lalu diberikan kepadanya, dan ia dicampakkan ke dalam Neraka”. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(Tuhfatul Ahwadzi (VI/ hal. 209) &lt;/span&gt;oleh al- Mubarakfuri. Dan &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Faidh al- Qadir (IV/ hal. 35)&lt;/span&gt; oleh al- Munawi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini tidak bertentangan dengan ayat Al- Qur’an yang berbunyi,&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;“..Dan orang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain..”&lt;/span&gt; &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(QS. Al- An’aam: 164).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Karena ia hanyalah disiksa karena perbuatannya dan kezhalimannya. Ia tidak dihukum karena selain dosa dirinya, bahkan karena dosanya.&lt;/span&gt; Kemudian kebajikan ditukar dengan keburukan sesuai keadilan Alloh yang Maha Benar pada para hamba- Nya. Sebagian kalangan berpendapat tentang sah nya membebaskan diri dari suatu yang tidak dikenal dari hadits ini. Menurut Ibnu Baththal Rahimahulloh, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“bahkan di dalamnya berisi hujjah tentang disyaratkannya ta’yin (menentukan), karena sabdanya, “mazhlimah (hak yang dizhalimi) menunjukkan bahwa ia sudah diketahui kadarnya”.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnul Munir Rahimahulloh mengatakan, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Dalam hadits hanyalah disebutkan bahwa orang yang dizhalimi itu akan menuntut dari orang yang menzhaliminya, hingga ia bisa mengambil darinya sesuai kadar haknya. Ini disepakati. Sesungguhnya yang diperselisihkan hanyalah mengenai apabila orang yang dizhalimi itu menggugurkan haknya di dunia, apakah disyaratkan diketahui kadarnya? Sementara hadits ini bersifat mutlak”.&lt;/span&gt; Wallohu A’lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sumber: ‘Amalan2 Yang Mendatangkan Rahmat Alloh ‘Azza Wa Jalla’. Hal. 124- 131.&lt;/span&gt; Abu ‘Abdurrahman Sulthan ‘Ali. Pustaka Ibnu ‘Umar. Bogor.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2107481068058571539-1207356278712124293?l=buletindarulilmy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buletindarulilmy.blogspot.com/feeds/1207356278712124293/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2107481068058571539&amp;postID=1207356278712124293&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2107481068058571539/posts/default/1207356278712124293'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2107481068058571539/posts/default/1207356278712124293'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buletindarulilmy.blogspot.com/2011/04/karena-di-akhirat-nanti-tidak-ada-lagi.html' title='Karena di akhirat nanti tidak ada lagi dinar dan dirham'/><author><name>khafidl khafidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12391092020879071145</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/__bf6ZucOoBA/TB-b6CilMiI/AAAAAAAAAaU/Sdg2fZ8YQRs/S220/085.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-Ap2E6WyW_NM/TbEbq-GoTmI/AAAAAAAAAow/qejWRMCbUNY/s72-c/%25289%2529.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2107481068058571539.post-5239544281961755932</id><published>2011-04-20T16:15:00.000-07:00</published><updated>2011-04-20T16:28:51.147-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dienul Islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Admin'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='General'/><title type='text'>BUAH ISTIKHOROH--</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-2h6pxUYUXvI/Ta9rw7ypb7I/AAAAAAAAAoo/H1tbMrPbX6Y/s1600/Desert.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px; padding:3px; border:6px solid #BEBBBB;" src="http://2.bp.blogspot.com/-2h6pxUYUXvI/Ta9rw7ypb7I/AAAAAAAAAoo/H1tbMrPbX6Y/s200/Desert.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5597811350272831410" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;BUAH ISTIKHOROH--&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam adz- Dzahabi Rahimahulloh menceritakan bahwasanya pernah ada suatu perjalanan yang mengumpulkan empat orang ulama besar yang sama- sama bernama Muhammad: &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Muhammad bin Jarir ath- Thobari, Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah, Muhammad bin Nashr al- Marwazi, Muhammad bin Harun ar- Ruyani Rahimahulloh Jamii’an.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Bekal perjalanan mereka sama- sama habis sehingga mereka sama- sama lapar. Lalu mereka berkumpul di dalam suatu rumah dan mengundi, Barangsiapa yang keluar namanya, maka ia mendapat tugas untuk meminta sedekah kepada orang- orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata undian jatuh kepada Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah. Ia berkata, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Tunggu sejenak, biarkan aku Sholat istikhoroh terlebih dahulu”.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Selesai sholat ia bertolak menuju ke pintu untuk keluar. Namun tiba- tiba ia melihat beberapa buah lilin ada di depan pintu yang dibawa oleh beberapa tentara utusan. Mereka mengetuk pintu , dan Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah membukakan pintu untuk mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka para tentara utusan berkata, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Siapa dari kalian yang bernama Muhammad bin Nashr?”,&lt;/span&gt; lalu mereka mengeluarkan pundi uang sejumlah 50 dinar dan memberikan kepadanya. Mereka bertanya lagi, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Mana yang namanya Muhammad bin Jarir?”&lt;/span&gt; Lalu mereka memberinya 50 dinar. Demikian seterusnya hingga keempat Muhammad mendapatkan 50 dinar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian utusan itu menjelaskan bahwa Amir (pemimpin) mereka telah bermimpi dan melihat keempat Muhammad kelaparan, maka itu ia mengirimkan pundi- pundi uang itu kepada mereka dan dia bersumpah apabila uang- uang tersebut habis, hendaklah mereka mengabarkan kepada Amir tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;(Siyar A’lam an- Nubala’,&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Imam adz- Dzahabi Rahimahulloh, &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;14/ 270&amp; 508.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Dinukil dari &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kitab Jami’ Mukhtashar al- ‘Ulum,&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; DR. Fakhruddin bin az- Zubair al- Muhsi, &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Hal. 24).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Beberapa Permasalahan Penting&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(1) Mengulangi Istikhoroh&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Diperbolehkan mengulangi Sholat dan Do’a Istikhoroh.&lt;/span&gt; Bahkan banyak ulama yang menganjurkannya, di antaranya adalah asy- Syaukani, Badruddin al- ‘Aini, al- Iroqi, Ali al- Qori, dan Ulama Lainnya  &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;(Umdatul Qori, 7/ 235, Mirqot al- Mafatih, 3/ 406, Nailul Author 3/ 89)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Bin Baaz Rahimahulloh dan Syaikh al- Albani Rahimahulloh juga membolehkan hal ini. Mereka mengatakan, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Apabila hatinya belum mantap dengan sholat yang pertama, maka ia boleh mengulanginya”.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;(Tsalat Sholawat Mahjuroh,&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;Adnan ‘Ur’ur, &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Hal. 33).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Muslim di dalam Kitabnya, &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Shahih Muslim No. 1333&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; meriwayatkan bahwasanya Ibnu az- Zubair Radhialloohu 'Anhu berkata, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Sesungguhnya aku istikhoroh kepada Rabb- ku sebanyak tiga kali, kemudian aku berazzam untuk melakukan urusanku”.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-2h6pxUYUXvI/Ta9rw7ypb7I/AAAAAAAAAoo/H1tbMrPbX6Y/s1600/Desert.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px; padding:3px; border:6px solid #BEBBBB;" src="http://2.bp.blogspot.com/-2h6pxUYUXvI/Ta9rw7ypb7I/AAAAAAAAAoo/H1tbMrPbX6Y/s200/Desert.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5597811350272831410" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun hadits yang berbunyi, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Wahai Anas, apabila engkau ingin melakukan suatu urusan maka lakukanlah istikhoroh kepada Rabb- mu sebanyak tujuh (7) kali”,&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; maka &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;hadits ini derajatnya sangat lemah.&lt;/span&gt; Para ulama banyak yang melemahkan hadits ini, di antaranya adalah al- Imam al- Hafizh Ibnu Hajar al- ‘Asqalani Rahimahulloh ia berkata, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Sekiranya hadits ini Shahih maka bisa dijadikan sandaran, namun ternyata sanadnya sangat lemah”.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;(Fat-hul Baari’ 11/ 223)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;(2) Kapan membaca do’a Istikhoroh..?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkenaan dengan kapan membacanya, &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;ulama menjelaskan boleh setelah membaca Tahiyyat Akhir sebelum salam, dan boleh juga setelah Salam.&lt;/span&gt; Adalah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahulloh telah menjelaskan hal ini, hanya saja beliau lebih cenderung bahwa yang afdhol adalah sebelum Salam. Beliau berkata,&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Do’a Pada Sholat istikhoroh boleh (dibaca) sebelum salam atau setelahnya, namun do’a sebelum Salam lebih utama”. (Majmuu’ al- Fatawa, 23/ 177).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sementara menurut ulama yang laijnnya, &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;mereka menegaskan bahwa do’a istikhoroh dibaca setelah salam. Inilah pendapat yang rojih (kuat) insya Alloh,&lt;/span&gt; sebab di Dalam Hadits Jabir Radhialloohu 'Anhu, Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Apabila seorang dari kalian ingin melakukan suatu urusan hendaknya ia mengerjakan Sholat Dua Roka’at tidak wajib kemudian ia berdo’a....”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; (HR. Ahmad 11/ 250, No. 4642, al- Bukhori No.1162, 6382, 7390, Abu Dawud 2/ 91 No. 1583, at- Tirmidzi 2/ 345, No. 480, an- Nasa’i 3/ 3389, No. 3253 dan lafazh haditsnya milik al- Bukhori),&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kata &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Kemudian ia berdo’a”&lt;/span&gt; menunjukkan diakhirkannya do’a setelah selesai Sholat. Dari sisi bahasa, kata ‘Kemudian” menunjukkan urutan dengan jeda waktu, sehingga maksudnya Sholat dahulu baru kemudian berdo’a.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika ditanya seputar permasalahan ini Syaikh Bin Baaz Rahimahulloh menjawab,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Do’anya dikerjakan setelah salam sebagaimana yang ada di hadits yang mulia”. (Majmu’ Fatawa bin Baaz, 2/ 236).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Al- Lajnah Da’imah&lt;/span&gt; pernah ditanya &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Apakah do’a iStikhoroh dibaca sebelum Salam atau setelah Salam seusai Sholat..?” &lt;/span&gt;mereka menjawab, &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Do’a Istikhoroh waktunya setelah Salam dari Sholat Istikhoroh”.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(Fatawa al- Lajnah ad- Da’imah 8/ 162).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(3) Satu Sholat dengan dua (2) niat, Sholat Istikhoroh dan Sholat Sunnah Lainnya, bolehkah..?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Para Ulama menjelaskan apabila &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;seseorang mengerjakan satu pelaksanaan Sholah Sunnah dengan dua (2) niat, seperti tahiyatul Masjid dan istikhoroh, hal itu dibolehkan dan termasuk sholat Istikhoroh. Namun hendaknya sejak awal diniatkan dua niat tersebut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam an- Nawawi Rahimahulloh berkata, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Dzohirnya, sholat istikhoroh dapat dihasilkan dengan mengerjakan dua rokaat Sunnah Rowatib, dengan Tahiyyatul Masjid, atau Sholat Sunnah Lainnya”.&lt;/span&gt; &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(al- Adzkaar hal. 112).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ibnu Hajar al- ‘Asqalani Rahimahulloh berkata, &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Apabila diniatkan sholat tertentu dan Sholat Istikhoroh secara bersamaan, maka hal itu mencukupi. Lain halnya bila tidak diniatkan”. (Fat-hul Baari, 11/ 221).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Wallohu a’lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sumber: ‘Buah Istikhoroh&amp; Mari Sholat Istikhoroh’.&lt;/span&gt; Majalah Adz- Dzakhiirah al- Islamiyyah, Sekolah Tinggi Agama Islam Ali bin Abi Thalib Surabaya. Hal. 56- 58, 71. Rubrik Ibroh&amp; Mutiara Sunnah. Vo. 9/no. 1 edisi 67. Februari 2011.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NB: mengenai Tatacara+ Selengkapnya bisa dibuka link2 berikut ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/panduan-shalat-istikhoroh.html"&gt;http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/panduan-shalat-istikhoroh.html&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://maramissetiawan.wordpress.com/2010/05/24/mantapkan-keputusan-dengan-sholat-istikharah/"&gt;http://maramissetiawan.wordpress.com/2010/05/24/mantapkan-keputusan-dengan-sholat-istikharah/&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2107481068058571539-5239544281961755932?l=buletindarulilmy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buletindarulilmy.blogspot.com/feeds/5239544281961755932/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2107481068058571539&amp;postID=5239544281961755932&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2107481068058571539/posts/default/5239544281961755932'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2107481068058571539/posts/default/5239544281961755932'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buletindarulilmy.blogspot.com/2011/04/buah-istikhoroh.html' title='BUAH ISTIKHOROH--'/><author><name>khafidl khafidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12391092020879071145</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/__bf6ZucOoBA/TB-b6CilMiI/AAAAAAAAAaU/Sdg2fZ8YQRs/S220/085.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-2h6pxUYUXvI/Ta9rw7ypb7I/AAAAAAAAAoo/H1tbMrPbX6Y/s72-c/Desert.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2107481068058571539.post-7342250223065224958</id><published>2011-04-14T10:00:00.000-07:00</published><updated>2011-04-14T10:27:01.633-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dienul Islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Admin'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='General'/><title type='text'>Barangsiapa yang bersabar dengan kelelahan itu, maka ia akan mendapatkan kelezatan ilmu yang melebihi kelezatan dunia.</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/--vJOJ99DncA/TactvxgAS2I/AAAAAAAAAog/-EjxuzzURgc/s1600/%25285%2529.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 125px; padding:3px; border:6px solid #BEBBBB;" src="http://1.bp.blogspot.com/--vJOJ99DncA/TactvxgAS2I/AAAAAAAAAog/-EjxuzzURgc/s200/%25285%2529.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5595491360795806562" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;FAEDAH SEPUTAR LELAH.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(1) Ilmu Tidak Dicapai kecuali dengan Kelelahan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yahya bin Abi Katsir Rahimahulloh berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Ilmu itu tidak tercapai dengan bersantai- santai”.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;(al- Muzhir fii Ulumil Lughoh, II/ 303, karya asy- Syuyuthi).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Sesungguhnya Alloh telah menjadikan suatu kebiasaan bahwa &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;ilmu itu tidak dicapai melainkan dengan kesabaran dan kekelahan dalam mencarinya dalam safar- safar (perjalanan) yang jauh”. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;(al- Mi’yar al- Mu’rob, karya al- Wansyarisi, XI/ 221).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Az- Zarnuji mengungkapkan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Ketahuilah bahwa perjalanan untuk menuntut ilmu itu tidak terlepas dari kelelahan, karena menuntut ilmu itu adalah perkara yang agung, dan lebih utama daripada orang- orang yang berperang di medan perang menurut kebanyakan ulama. &lt;/span&gt;Sedangkan pahalanya sesuai dengan kelelahannya dan kecapekannya. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Barangsiapa yang bersabar dengan kelelahan itu, maka ia akan mendapatkan kelesatan ilmu yang melebihi kelezatan dunia.&lt;/span&gt; Oleh karena itu, dahulu Muhammad bin Hasan apabila beliau bergadang pada malam hari, dan ada beberapa masalah rumit yang terselesaikan, beliau berkata, &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Manakah anak- anak raja terhadap kelezatan ini?”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;(Ta’limul Muta’alim, Hal. 115).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;(2) Kelelahan adalah sebab meraih maghfiroh (Ampunan) Alloh Ta’ala.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Tidaklah ada yang menimpa seorang Muslim yang berupa rasa lelah, rasa sakit, kegelisahan, kesedihan, gangguan, atau kegundahan, sampai duri yang menimpanya, melainkan Alloh menghapus sebagian dosa- dosanya disebabkan hal tersebut”.&lt;/span&gt; &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(HR. Bukhori. No. 5641, 5642, Muslim No. 2573).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Muhammad bin Shalih al- ‘Utsaimin Rahimahulloh menjelaskan hadits ini bersama sebuah hadits lain yang senada dengan mengungkapkan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Dua hadits ini –yaitu hadits Abu Sa’id dan Abu Hurairoh bersama hadits Ibnu Mas’ud Radhialloohu 'Anhum- di dalamnya terdapat dalil bahwa manusia dihilangkan dosa- dosanya disebabkan oleh apa saja yang menimpanya, baik berupa kegelisahan, kelelahan, kesedihan, dan sebagainya. Ini adalah termasuk di antara nikmat Alloh Subhaanahu Wa Ta'ala. Alloh menguji hamba- Nya dengan musibah- musibah, dan hal itu menjadi sebab terhapusnya kesalahan- kesalahannya, dan menghilangkan dosa- dosanya”.&lt;/span&gt; &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;(Syarh Riyadhus Shaalihiin, jilid 1, hal. 243- 244,&lt;/span&gt; dalam sebuah Silsilah yang bernama &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Silsilah Muallafat Fadhilah Syaikh Muhammad bin Shalih al- ‘Utsaimin, No. 53,&lt;/span&gt; Madar al- Wathon, Riyadh, 1426H, lihat juga Syarahnya dalam &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Fat-hul Baari, Jilid 10, Hal. 106.&lt;/span&gt; Darul Ma’rifat, Beirut).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;(3) Kenikmatan berada dalam Kelelahan&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Imam Ibnul Qayyim al- Jauziyyah Rahimahulloh berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Orang yang paling merasa nyaman adalah orang yang paling lelah, karena kepemimpinan di dunia, dan kebahagiaan di akhirat itu tidak dapat dicapai melainkan harus melalui suatu ‘jembatan’ yang berupa kelelahan”.&lt;/span&gt; &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;(Tuhfatul Maudud bi Ahkaamil Mauluud, Ibnul Qayyim al- Jauziyyah hal. 146).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;(4) Dibolehkan memberitakan Kelelahan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kisah perjalanan Nabi Musa ‘Alaihis Salaam dan Nabi Khidir ‘Alaihis Salaam, Alloh Subhaanahu Wa Ta'ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Maka tatkala mereka berjalan lebih jauh, berkatalah Musa kepada muridnya, “Bawalah kemari makanan kita, sesungguhnya kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini”.&lt;/span&gt; &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(QS. Al- Kahfi: 62).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Abdurrahman bin Nashir as- Sa’di Rahimahulloh berkata tentang faedahnya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Diantaranya: bolehnya seseorang memberitahukan tentang apa yang merupakan kandungan tabiat jiwa seperti lelah, lapar, atau haus, apabila diungkapkan bukan sebagai bentuk kemarahan, sedangkan dia benar...” &lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;(Taisiir al- Kariimir Rahmaan, Hal. 483,&lt;/span&gt; Darus Sunnah Cet. 1, 1425H).&lt;/span&gt; Wallohu A’lam/&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sumber: ‘Faedah Seputar Lelah’.&lt;/span&gt; Ust. Muhtar Arifin Lc. Majalah Adz- Dzakhiirah al- Islamiyyah, Sekolah Tinggi Agama Islam Ali bin Abi Thalib Surabaya. Hal. 68- 70. Rubrik Faedah. Vo. 9/no. 1 edisi 67. Februari 2011.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2107481068058571539-7342250223065224958?l=buletindarulilmy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buletindarulilmy.blogspot.com/feeds/7342250223065224958/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2107481068058571539&amp;postID=7342250223065224958&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2107481068058571539/posts/default/7342250223065224958'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2107481068058571539/posts/default/7342250223065224958'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buletindarulilmy.blogspot.com/2011/04/barangsiapa-yang-bersabar-dengan.html' title='Barangsiapa yang bersabar dengan kelelahan itu, maka ia akan mendapatkan kelezatan ilmu yang melebihi kelezatan dunia.'/><author><name>khafidl khafidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12391092020879071145</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/__bf6ZucOoBA/TB-b6CilMiI/AAAAAAAAAaU/Sdg2fZ8YQRs/S220/085.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/--vJOJ99DncA/TactvxgAS2I/AAAAAAAAAog/-EjxuzzURgc/s72-c/%25285%2529.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2107481068058571539.post-634971565509949583</id><published>2011-04-04T23:53:00.000-07:00</published><updated>2011-04-05T02:48:32.963-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dienul Islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mu&apos;amalah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Admin'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='General'/><title type='text'>Sekadar Niat Baik Saja Tidak Cukup</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-1WNJ_d1k4d0/TZrbRVZ76qI/AAAAAAAAAoQ/GXXhpDL3Nx8/s1600/18979_1154870043142_1569444348_30329636_195504_n.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px; padding:3px; border:6px solid #BEBBBB;" src="http://1.bp.blogspot.com/-1WNJ_d1k4d0/TZrbRVZ76qI/AAAAAAAAAoQ/GXXhpDL3Nx8/s200/18979_1154870043142_1569444348_30329636_195504_n.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5592022978184080034" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;[Teks Atsar]:&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Dari Sa’id bin Musayyib, ia melihat seorang laki- laki menunaikan &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;sholat setelah fajar lebih dari dua roka’at, ia memanjangkan ruku’ dan sujudnya.&lt;/span&gt; Maka Sa’id bin Musayyib pun melarangnya. Orang itu bertanya, &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Wahai Abu Muhammad, apakah Alloh akan menyiksaku dengan sebab sholat?”&lt;/span&gt;, Beliau menjawab, &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Tidak, tetapi Alloh akan menyiksamu karena menyelisihi Sunnah”.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;[Takhrij Atsar]: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Shahih.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Dikeluarkan oleh ad- Darimi dalam &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Musnad- nya, 1/ 404/ 450,&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; al- Baihaqi dalam &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sunan Kubra: 2/ 466,&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; dan Abdurrozzaq dalam &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;al- Mushonnaf no. 4755&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; dari jalur Sufyan dari Abu Robah dari Sa’id. Sanad Atsar ini dishahihkan oleh Syaikh al- Albani Rahimahulloh dalam &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Irwa’ul Ghalil: 2/ 236.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Dan diriwayatkan juga oleh al- Khothib al- Baghdadi dalam &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Faqih wal Mutafaqqih: 1/ 381&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; dari jalur Makhlad bin Malik dari Athof bin Kholid dari Abdurrahman bin Harmalah dari Sa’id dengan sanad &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;hasan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; (Dinukil dari &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Silsilah Atsar ash- Shahiihah,&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;karya Abu Abdillah ad- Dani, &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;1/ 58, cetakan Daar Atsariyyah)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;[Fiqih Atsar]:&lt;/span&gt; Syaikh Muhammad Nashiruddin al- Albani Rahimahulloh mengomentari atsar ini dalam kitabnya, &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Irwa’ul Ghalil (2/ 236),&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Ini adalah jawaban Sa’id bin Musayyib yang sangat indah. Dan merupakan senjata pamungkas terhadap ahlul bid’ah yang menganggap baik kebanyakan bid’ah dengan alasan dzikir dan sholat, kemudian membantai Ahlus Sunnah dan menuduh bahwa mereka (Ahlus Sunnah) mengingkari dzikir dan sholat,.! &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Padahal sebenarnya yang mereka ingkari adalah penyelewengan ahlul bid’ah dari tuntunan Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam dalam dzikir, sholat, dan lain- lainnya"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(berkata al- Fasii dalam ‘Aqdu Tsamin tentang nama Sa’id Radhialloohu 'Anhu, “Yang masyhur adalah dengan memfathah huruf ya’ (baca: Musayyab), namun penduduk madinah berpendapat dengan mengkasroh huruf ya’ (baca: Musayyib). Dan adalah Sa’id membenci bila dibaca fathah (Musayyab)”. (Dinukil dari &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Dhobtu al- A’lam, hal. 191&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; karya Ahmad Taimur Basya)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;agar amal ibadah kita diterima oleh Alloh, bukan hanya dengan modal niat yang baik dan keikhlasan, melainkan juga harus sesuai dengan tuntunan Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  Maka sudah semestinya bagi kita untuk menggali ilmu agar amalan ibadah yang kita lakukan betul- betul sesuai dengan tuntunan Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam.  Semoga Alloh menerima amal ibadah kita semua. Amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sumber: “Majalah al- Furqon: hal. 17. ‘Sekedar niat Baik Saja Tidak Cukup:&lt;/span&gt; Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar as- Sidawi Hafizhahulloh. Edisi 07, Tahun X, Shofar 1432H, Januari- Februari 2011.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-ddYytZD13OY/TZrb_NDCDqI/AAAAAAAAAoY/t3HmwfYsMBM/s1600/repentance-forgiveness.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 146px; padding:3px; border:6px solid #BEBBBB;" src="http://3.bp.blogspot.com/-ddYytZD13OY/TZrb_NDCDqI/AAAAAAAAAoY/t3HmwfYsMBM/s200/repentance-forgiveness.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5592023766214512290" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Note Tambahan:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Sebuah Hadits Shahih yang Diriwayatkan oleh ‘Aisyah Radhialloohu 'Anha disebutkan bahwa Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Barangsiapa yang mengada- adakan sesuatu yang baru (bid’ah) dalam urusan (agama) kami, maka hal itu tertolak”.&lt;/span&gt; &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(HR. Bukhori No. 2697), dan Muslim (No. 1718).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Riwayat Muslim,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Barangsiapa mengerjakan suatu amalan yang tidak ada dasarnya dalam urusan (agama) kami, maka ia tertolak”. (HR. Muslim, No. 1718)&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Barangsiapa mengada- dakan sesuatu yang baru (bid’ah) atau mendukung pelaku bid’ah, maka akan mendapatkan laknat Alloh, para Malaikat, dan manusia semuanya”.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Diriwayatkan oleh &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;al- Bukhori (hadits No. 1870, 3179), dan Muslim (hadits No. 1370),&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; dan ‘Ali bin Abi Thalib Radhialloohu 'Anhu. Hadits di atas meerupakan penggalan dari hadits tentang ash- Shahifah yang masyhur. Imam Muslim juga meriwayatkan hadits ini dari Anas bin Malik Radhialloohu 'Anhu (hadits No. 1366), dan dari Abu Hurairoh Radhialloohu 'Anhu (hadits No. 1371).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sumber: “Ringkasan al- I’tisham Imam asy- Syathibi Rahimahulloh”. 48-49&amp; 63.&lt;/span&gt; Alawi bin Abdul Qadir as- Saqqaf. Media Hidayah. Yogyakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Bagaimana Perkataan Para Shahabat, Tabi’in, dan Salafush Shalih mengenai Bid’ah (Perkara Baru Dalam Agama)..??&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Sa’ad menyebutkan dengan sanadnya sendiri dari &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Abu Bakar ash- Shiddiq Radhialloohu 'Anhu&lt;/span&gt; bahwa beliau pernah berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Wahai Kaum Muslimin, Aku hanyalah orang yang mengikuti jejak Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam, bukan orang yang membuat kebid’ahan. Kalau aku berbuat baik, tolonglah diriku!, dan kalau aku menyimpang, luruskan diriku,!”. (ath- Thabaqat al- Kubra, 3/ 136).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;‘Umar bin al- Khaththab Radhialloohu 'Anhu&lt;/span&gt; beliau berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Hati- hatilah terhadap kaum rasionalis (ahlurra’yi), karena mereka adalah musuh- musuh Sunnah. Mereka tidak mampu menghafal hadits- hadits, maka mereka pun menggunakan akal sehingga mereka menjadi sesat dan menyesatkan..”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dikeluarkan oleh al- Laalika’i dalam &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Syarah Ushul as- Sunnah wal Jama’ah, 1/ 139, No. 201,&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; dan ad- Darimi dalam &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sunan- nya1/ 47, No.121,&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; juga oleh Ibnu Abdil Barr dalam &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Jami’ul Ilmi Wa Fadhlihi, 2/ 1040, No. 2001, 2005).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Abdulloh bin Mas’ud Radhialloohu 'Anhu&lt;/span&gt; berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Ikutilah ajaran Sunnah dan janganlah berbuat bid’ah, dengan itu kalian akan dicukupkan, karena setiap bid’ah itu adalah sesat..”&lt;/span&gt; (Dikeluarkan oleh Ibnu Wadhdhah dalam &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Fii Maa Jaa’aFil Bida’ hal. 43, No. 12, 14.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Diriwayatkan juga oleh ath- Thabrani dalam &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;al- Mu’jam al- Kabir, 9/ 154, No. 8770.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Al- Haitsami menyebutkan dalam &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Majma’uz Zawaaid, 1/ 181,&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Para perawinya adalah perawi yang Shahih”.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Dikeluarkan juga oleh al- Laalika’i dalam &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Syarah Ushul I’tiqad Ahlus Sunnah Wal Jama'ah 1/ 96, No. 102).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surat- Surat &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;‘Umar bin ‘Abdul Aziz&lt;/span&gt; kepada Seorang lelaki, beliau menyebutkan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Amma Ba’du, aku wasiatkan kepada anda agar bertakwa kepada Alloh, bersikap sederhana dalam segala urusan, mengikuti ajaran Rasululloh dan meninggalkan segala bid’ah yang diciptakan oleh kalangan ahlul bid’ah, setelah melaksanakan Sunnah Nabi yang selayaknya..”&lt;/span&gt;.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;(Sunan Abi Dawud dalam as- Sunnah, bab “Berpegang pada Sunnah”, 4/ 203, No. 4612.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Lihat &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Shahih Sunan Abi Dawud&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; oleh Syaikh al- Albani Rahimahulloh,&lt;span style="font-weight:bold;"&gt; &lt;span style="font-style:italic;"&gt;3/ 873)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;al- Hasan al- Bashri Rahimahulloh&lt;/span&gt; mengungkapkan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Ucapan hanya dibenarkan bila diamalkan, ucapan dan amal itu sendiri hanya sah apabila disertai dengan niat. Sementara ucapan, amal, dan niat itu hanya sah bila disertai dengan Sunnah”.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Dikeluarkan oleh al- Laalila’i dalam &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Syarah Ushul I’tiqad Ahlis Sunnah Wal Jama’ah, 1/ 63, No. 18).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Imam asy- Syafi’i Rahimahulloh&lt;/span&gt; menegaskan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Keputusan kami terhadap ahlulkalam adalah agar mereka dipukul dengan pelepah, digotong di atas unta lalu diarak keliling kampung dan suku- suku. Lalu dikatakan kepada mereka, “Inilah ganjaran bagi orang yang meninggalkan Kitabulloh dan Sunnah Rasul lalu mengambil ilmu kalam sebagai landasan..”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Dikeluarkan oleh Abu Nu’aim dalam &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;al- Hilyah, 9/ 116).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Imam Malik Rahimahulloh&lt;/span&gt; menyebutkan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Barangsiapa melakukan perbuatan bid’ah dalam Islam lalu menganggap bid’ah itu sebagai kebaikan, berarti ia telah beranggapan bahwa Nabi Muhammad itu telah mengkhianati kerasulannya. Karena Alloh berfirman,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Hari ini telah Aku sempurnakan agamamu..” (QS. Al- Maidah: 3),,&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Yang bukan merupakan agama pada masa hidup beliau (Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam), maka pada hari ini juga bukan merupakan agama..”. (Al- I’tisham&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; oleh asy- Syathibi, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;1/ 65)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Imam Ahmad Rahimahulloh&lt;/span&gt; menyatakan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Pondasi Ahlussunnah menurut kami adalah berpegang pada jalan hidup para Shahabat Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam, dan meninggalkan bid’ah. Setiap bid’ah adalah sesat, meninggalkan pertikaian, meninggalkan belajar bersama ahlulbid’ah serta meninggalkan perdebatan dan adu argumentasi serta pertikaian dalam agama”.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Dikeluarkan oleh al- Laalika’i dalam &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Syarah Ushul I’tiqad Ahlissunnah Wal Jama’ah, 1/ 176).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sumber: “Putihnya Sunnah- Hitamnya Bid’ah”. Hal. 58- 60.&lt;/span&gt; Said bin Wahf al- Qahthani. Wafa Press. Klaten.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;NB:  Imam Abul Qasim al- Laalika’i Rahimahulloh (wafat tahun 418H)&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Imam Utsman bin Sa’id ad- Darimi Rahimahulloh (wafat tahun 282H),&lt;/span&gt; adalah dua dari sekian banyak ulama Syafi’iyyah yang setia mengikuti manhaj dan madzhab imam as- Syafi’i Rahimahulloh dalam hal akidah dan Fiqih. Wallohu a’lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sumber: “Ulama Syafi’iyyah dalam Memperjuangkan Sunnah dan Mengingkari Bid’ah I”. &lt;/span&gt;Dr. Muhammad Nur Ihsan, MA Hafizhahulloh. Majalah Al Furqon edisi 05/ X/ Dzulhijjah 1431H/ November- Desember 2011, hal. 56- 57.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2107481068058571539-634971565509949583?l=buletindarulilmy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buletindarulilmy.blogspot.com/feeds/634971565509949583/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2107481068058571539&amp;postID=634971565509949583&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2107481068058571539/posts/default/634971565509949583'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2107481068058571539/posts/default/634971565509949583'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buletindarulilmy.blogspot.com/2011/04/sekadar-niat-baik-saja-tidak-cukup.html' title='Sekadar Niat Baik Saja Tidak Cukup'/><author><name>khafidl khafidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12391092020879071145</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/__bf6ZucOoBA/TB-b6CilMiI/AAAAAAAAAaU/Sdg2fZ8YQRs/S220/085.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-1WNJ_d1k4d0/TZrbRVZ76qI/AAAAAAAAAoQ/GXXhpDL3Nx8/s72-c/18979_1154870043142_1569444348_30329636_195504_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2107481068058571539.post-4704444018353141804</id><published>2011-04-02T10:32:00.000-07:00</published><updated>2011-04-02T11:29:39.026-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dienul Islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Admin'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='General'/><title type='text'>Karena sesungguhnya ziarah dapat mengingatkan kepada kematian</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-Or4otBNCXFE/TZdqv4CCqRI/AAAAAAAAAoI/C8jQlqs89eo/s1600/alhambra_by_Aj07.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 152px; padding:3px; border:6px solid #BEBBBB;" src="http://3.bp.blogspot.com/-Or4otBNCXFE/TZdqv4CCqRI/AAAAAAAAAoI/C8jQlqs89eo/s200/alhambra_by_Aj07.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5591054833131104530" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Soal: Assalamu’alaikum. Apakah di antara adab ziarah kubur tidak boleh duduk atau cukup berdiri saja? Apa boleh menghadiahkan bacaan Qur’an kepada ahli kubur..? Lalu siapa yang akan mendapatkan manfaat dari bacaan tersebut..?&lt;/span&gt; Tolong penjelasannya.(Fulan, Bumi Alloh 0852xxxxxxx)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Jawab: Ziarah kubur terbagi menjadi tiga (3): Ziarah Syar’iyyah, Bid’iyyah, dan Syirkiyyah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(1) Ziarah Syar’iyyah, yang Sesuai Sunnah dan Syar’i.&lt;/span&gt; Dalil dari ziarah kubur ini adalah hadits Buroidoh Radhialloohu 'Anhu bahwa Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Dulu aku melarang kalian berziarah kubur, tapi (sekarang) berziarahlah kalian, karena sesungguhnya ziarah dapat mengingatkan kepada kematian”. (HR. Muslim 977, at- Tirmidzi 1054, an- Nasa-i 2034).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ziarah kubur memiliki beberapa adab di antaranya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;1. Hendaklah niat penziarah kubur untuk mengingat akhirat dan mengambil pelajaran darinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Tujuan ziarah kubur adalah berdo’a untuk dirinya sendiri, dan ahli kubur yang MUSLIM.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Hendaklah ziarah kubur tidak dijadikan sebagai tujuan safar karena Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam melarangnya.&lt;/span&gt; Sebagaimana hadits yang Diriwayatkan dari Abu Sa’id al- Khudri Radhialloohu 'Anhu bahwasanya Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Tidak boleh mengadakan perjalanan kecuali ke tiga masjid, Masjid al- Haram, Masjidku ini (Masjid Nabawi), dan masjid al- Aqsho”.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(2) Ziarah Kubur Bid’ah. Yang dimaksud ziarah kubur ini adalah orang yang ziarah kubur tidak berdasarkan petunjuk Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam seperti berdo’a, sholat, atau i’tikaf di sisi kubur, atau tawassul (menjadikan perantara) ahli kubur ketika berdo’a kepada Alloh seperti mengatakan, “Ya Alloh, aku memohon kepada- Mu dengan kedudukan si Fulan”, padahal ia sudah meninggal atau masih hidup, dengan sangkaan bahwa si Fulan memiliki kedudukan di sisi Alloh Ta’ala, walaupun ia berpandangan bahwa tidak boleh berdo’a kecuali kepada Alloh dan tidak boleh beribadah kepada selain- Nya. Akan tetapi dia telah beribadah kepada Alloh tanpa ada dasar syar’i, dan dia telah berbiat bid’ah dalam agama, menyimpang dalam berdo’a dan berdo’a kepada Alloh dengan cara yang tidak diperintahkan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;(3) Ziarah Kubur Syirik. Yaitu Penziarah ada tujuan tertentu kepada Ahli Kubur, berdo’a kepada selain Alloh agar memperoleh manfaat dan dijauhkan dari mara bahaya, seperti memohon agar disembuhkan dari sakit, agar barang yang telah hilang dikembalikan, atau yang semisalnya yang berkaitan dengan hajat mereka. Ini merupakan perbuatan syirik beesar yang Alloh Ta’ala tidak akan mengampuni kedcuali dengan Taubat Nashuha&lt;/span&gt;.&lt;/span&gt; Alloh Ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Dan janganlah kamu menyembah apa- apa yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi madhorot kepadamu selain Alloh. Sebab jika kamu berbuat (yang demikian) itu, maka sesungguhnya kalau begitu kamu termasuk 0rang- orang yang dzalim. Jika Alloh menimpakan suatu kemadhorotan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Alloh menghendaki kebaikan bagimu, maka tak ada yang dapat menolak karunia –Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki- Nya di antara hamba- hamba- Nya dan Dia lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. Yunus [10]: 106- 107). &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(Khulashotul Kalam Fii Arkanil Islam, 37- 38)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sumber: Majalah al- Mawaddah: hal. 42.&lt;/span&gt; Rubrik Ulama Berfatwa. ‘Etika Ziarah Kubur’. Vol. 37. Shofar 14H. Januari- Februari 2011.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2107481068058571539-4704444018353141804?l=buletindarulilmy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buletindarulilmy.blogspot.com/feeds/4704444018353141804/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2107481068058571539&amp;postID=4704444018353141804&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2107481068058571539/posts/default/4704444018353141804'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2107481068058571539/posts/default/4704444018353141804'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buletindarulilmy.blogspot.com/2011/04/karena-sesungguhnya-ziarah-dapat.html' title='Karena sesungguhnya ziarah dapat mengingatkan kepada kematian'/><author><name>khafidl khafidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12391092020879071145</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/__bf6ZucOoBA/TB-b6CilMiI/AAAAAAAAAaU/Sdg2fZ8YQRs/S220/085.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-Or4otBNCXFE/TZdqv4CCqRI/AAAAAAAAAoI/C8jQlqs89eo/s72-c/alhambra_by_Aj07.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2107481068058571539.post-4205001556885468308</id><published>2011-04-02T09:28:00.001-07:00</published><updated>2011-04-02T10:00:36.140-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dienul Islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kisah Teladan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='General'/><title type='text'>Kebersihan Hati Dari Kecurangan Dan Hasad [231]</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-YsXWAOXqZf4/TZdVbLIrhyI/AAAAAAAAAoA/DZM23SbT-9M/s1600/18979_1154862442952_1569444348_30329617_1341525_n.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 125px; padding:3px; border:6px solid #BEBBBB;" src="http://1.bp.blogspot.com/-YsXWAOXqZf4/TZdVbLIrhyI/AAAAAAAAAoA/DZM23SbT-9M/s200/18979_1154862442952_1569444348_30329617_1341525_n.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5591031387737786146" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kebersihan Hati Dari Kecurangan Dan Hasad [231]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Anas bin Malik Radhialloohu 'Anhu ia berkata, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Kami sedang duduk bersama Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam, beliau bersabda,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Seorang laki- laki penghuni Surga muncul kepada kalian sekarang”,&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka muncullah seorang laki- laki Anshar, air wudhunya menetes dari jenggotnya, menenteng kedua sandalnya di tangan kirinya. Esok harinya Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam mengatakan ucapan yang sama dan orang yang sama pun muncul. Di hari ketiga Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam mengatakan ucapan yang sama dan orang yang sama pun muncul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam berdiri, Abdulloh bin Amru bin Ash mengikuti orang tersebut. Abdulloh berkata, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Aku telah bertengkar dengan bapakku, aku bersumpah tidak bermalam dengannya selama tiga malam, kalau engkau mengizinkanku bermalam bersamamu sampai perkaranya selesai, maka aku akan senang”,&lt;/span&gt; Laki- laki tersebut menjawab, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Boleh”,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anas berkata, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Abdulloh bercerita bahwa dia bermalam dengan laki- laki tersebut selama tiga malam itu. Abdulloh tidak melihatnya sedikitpun berqiyamul lail, &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;hanya saja apabila dia terjaga dan berguling di tempat tidurnya dia berdzikir kepada Alloh dan bertakbir sampai dia bangun untuk Sholat Shubuh”.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abdulloh berkata, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Hanya saja aku tidak mendengar darinya kecuali kebaikan".&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Manakala tiga malam tersebut berlalu, dan aku hampir- hampir meremehkan amalnya, maka aku berkata kepadanya, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Wahai Abdulloh, antara diriku dengan bapakku tidak ada rasa marah dan saling mendiamkan, hanya saja aku mendengar Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda untukmu tiga kali, “Seorang laki- laki penghuni Surga muncul kepada kalian sekarang”, lalu yang muncul adalah engkau, maka aku ingin bermalam kepadamu untuk melihat amalmu lalu aku teladani tetapi aku tidak melihatmu banyak beramal. Lalu apakah yang membuatmu sampai pada derajat seperti yang dikatakan oleh Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam ..?”&lt;/span&gt;,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menjawab, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Tidak ada kecuali apa yang kamu lihat”,&lt;/span&gt; Abdulloh berkata, “Manakala aku hendak beranjak, dia memanggilku, dia berkata, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Tidak ada kecuali apa yang kamu lihat, hanya saja hatiku bersih dari kecurangan kepada setiap muslim dan aku pun tidak hasad kepada siapapun atas nikmat yang Alloh berikan kepadanya”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abdulloh menjawab, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Inilah derajat yang kamu capai, dan itu yang kami tidak mampu”.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;(Hasan,&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; diriwayatkan oleh Imam Ahmad dengan sanad berdasarkan syarat al- Bukhori dan Muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al- Mundziri berkata, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Diriwayatkan oleh Ahmad berdasarkan syarat Bukhori dan Muslim”.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Ya’la dan al- Bazzar meriwayatkan hadits senada dan dia menamakan laki- laki tersebut Sa’ad, Dia berkata di Akhir hadits, Sa’ad berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Tidak ada kecuali apa yang kamu lihat wahai keponakanku, hanya saja aku tidak bermalam dalam keadaan mendengki kepada seorang muslim”, atau kata yang senada dengannya".&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan oleh imam an- Nasa’i, al- baihaqi, dan al- Ashbahani, lalu Abdulloh berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Inilah yang menyampaikanmu dan inilah yang kami tidak mampu”.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan oleh al- Baihaqi juga dari Salim bin Abdulloh bin Umar dari bapaknya, berkata,&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;“Kami sedang duduk bersama Rasulullloh lalu beliau bersabda, “Sungguh akan muncul dari pintu ini seorang laki- laki penghuni Surga”, lalu muncullah &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sa’ad bin Malik&lt;/span&gt; dari pintu itu. Al- Baihaqi berkata, “Lalu dia menyebutkan hadits selengkapnya”.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abdulloh bin Umar berkata, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Aku belum puas kalau aku belum bisa menginap dengan laki- laki itu untuk melihat amalnya”.&lt;/span&gt; Lalu Abdulloh bin Umar menyebutkan hadits selengkapnya tentang kehadirannya kepada laki- laki tersebut. Abdulloh berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Dia memberiku sepotong kain, lalu aku berbaring di atasnya tidak jauh darinya. Semalaman aku memperhatikannya dengan mataku. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Setiap kali dia terjaga dia bertasbih, bertakbir, bertahlil, dan bertahmid. Sampai ketika waktu sahur tiba, dia bangun lalu berwudhu kemudian masuk masjid, lalu sholat dua belas roka’at dengan membaca dua belas surat dari surat- surat Mufashshal, bukan dari yang panjang, bukan pula dari yang pendeknya, di setiap dua roka’at setelah tasyahud dia mengucapkan tiga do’a:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Ya Alloh, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan di akhirat. Jagalah kami dari api Neraka. Ya Alloh, cukupkanlah kami dari perkara dunia dan akhirat yang menyibukkan kami. Ya Alloh, Sesungguhnya kami memohon kepada- Mu seluruh kebaikan dan kami berlindung kepada- Mu dari seluruh keburukan”.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai ketika dia selesai, dia berkata... lalu dia menyebutkan hadits tentang amalnya yang menurutnya sedikit, dan kembali kepadanya tiga kali sampai dia berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Aku berangkat tidur sementara di hatiku tidak terdapat kedengkian kepada siapa pun”,&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesai Ucapan al- Mundziri Rahimahulloh. Wallohu a'lam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sumber: “Sesungguhnya Dia Maha Pengampun- 286 Sebab Meraih Ampunan Alloh Subhaanahu Wa Ta'ala”, Hal 268- 270.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Dr. Sayyid Husain al- Affani. Pustaka Darul haq. Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;NB:   Imam al- Mundziri Rahimahulloh (Wafat 656H), Beliau adalah Abdul Azhim bin Abul Waqi bin Abdulloh bin Salamah bin Sa’ad al- Mundziri.&lt;/span&gt; Beliau adalah seorang ahli hadits (al- Hafizh) &amp; ahli fikih dalam Madzhab asy- Syafi’i. Penulis Kitab &lt;span style="font-style:italic;"&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&gt;at- Targhiib wat- Tarhiib, Mukhtashar Shahih Muslim, Mukhtashar Sunan Abu Dawud, Syarah at- Tanbih, al- Mu’jam, al- Muwafaqat&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; dan masih banyak yang lainnya.  Lihat &lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Siyar A’lam an- Nubala,&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; karya al- Hafizh adz- Dzahabi Rahimahulloh.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Shahih at- Targhiib Wat Tarhiib IV. Hal 15+18.&lt;/span&gt; Syaikh al- Albani. Pustaka Shahifa. Jakarta.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2107481068058571539-4205001556885468308?l=buletindarulilmy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buletindarulilmy.blogspot.com/feeds/4205001556885468308/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2107481068058571539&amp;postID=4205001556885468308&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2107481068058571539/posts/default/4205001556885468308'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2107481068058571539/posts/default/4205001556885468308'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buletindarulilmy.blogspot.com/2011/04/kebersihan-hati-dari-kecurangan-dan.html' title='Kebersihan Hati Dari Kecurangan Dan Hasad [231]'/><author><name>khafidl khafidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12391092020879071145</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/__bf6ZucOoBA/TB-b6CilMiI/AAAAAAAAAaU/Sdg2fZ8YQRs/S220/085.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-YsXWAOXqZf4/TZdVbLIrhyI/AAAAAAAAAoA/DZM23SbT-9M/s72-c/18979_1154862442952_1569444348_30329617_1341525_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2107481068058571539.post-4461369090411345168</id><published>2011-03-27T02:49:00.000-07:00</published><updated>2011-03-27T03:17:51.385-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dienul Islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mu&apos;amalah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='General'/><title type='text'>Do’a ‘Ulbah bin Zaid Radhialloohu 'Anhu Sebagai Sedekah yang Diterima.﻿</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-DxmaMSKR044/TY8LvIElmGI/AAAAAAAAAn4/Fzwg_5EJwCE/s1600/%25288%2529.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 125px; padding:3px; border:6px solid #BEBBBB;" src="http://3.bp.blogspot.com/-DxmaMSKR044/TY8LvIElmGI/AAAAAAAAAn4/Fzwg_5EJwCE/s200/%25288%2529.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5588698566838556770" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Do’a ‘Ulbah bin Zaid Radhialloohu 'Anhu Sebagai Sedekah yang Diterima.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pada tahun 9H&lt;/span&gt; Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam mengumumkan kepada para Shahabat Radhialloohu 'Anhum untuk pergi berperang &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;melawan Romawi di Tabuk.&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;Saat itu kota Madinah sedang dilanda musim paceklik dan musim kemarau yang panas. Setelah Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam selesai mengumumkan seruan perang, maka satu persatu Shahabat datang kepada Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam. Di antara mereka ada yang mendaftarkan dirinya guna mengikuti peperangan, sedangkan sebagian yang lain datang dengan membawa sedekah dari harta yang mereka punya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian besar Shahabat Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam adalah orang- orang yang tidak punya atau miskin. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Meski begitu, mereka tetap bersemangat tinggi untuk mengikuti pertempuran&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; yang diserukan oleh Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam di bumi seberang. Tujuh (7) shahabat yang tergolong miskin saat itu mendatangi Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam untuk mendaftarkan diri menjadi calon tentara di medan perang. Besar harapan mereka untuk ikut serta dalam pertempuran ini, walaupun mereka tidak punya harta untuk bekal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi mereka harus bersedih karena keadaan mereka tidak memungkinkan untuk membawa mereka berperang, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;karena Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam tidak mempunyai bekal lagi untuk keberangkatan mereka.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ulbah bin Zaid Radhialloohu 'Anhu&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; adalah salah seorang shahabat yang sangat bersedih karena tidak diizinkan Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam untuk ikut berperang. Beliau sangat sedih melihat para shahabat yang lain datang membawa sedekahnya masing- masing kepada Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam sedangkan dirinya tidak mampu berbuat apa- apa. Jangankan untuk disedekahkan, untuk makan sendiri pun ia tidak punya. Akhirnya Ulbah kembali dengan menahan air mata yang makin lama makin tak kuasa untuk dibendung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada malam harinya, &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ulbah bangun untuk mengerjakan Sholat malam, mengadukan keadaannya kepada Alloh Subhaanahu Wa Ta'ala Yang Maha Kuasa.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Beliau sholat dengan sangat panjang dan khusyu’. Beliau tumpahkan air matanya saat itu, mengadu di hadapan Alloh Subhaanahu Wa Ta'ala. Beliau Radhialloohu 'Anhu berdo’a:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Ya Alloh, Sesungguhnya Engkau memerintahkanku untuk berjihad, dan menjanjikan pahala di dalamnya. Namun Engkau belum berkenan memberikan harta yang bisa kugunakan untuk bekal. Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam juga tidak bisa menemukan bekal untuk memberangkatkanku pergi berjihad. Maka sekarang, aku akan menyedekahkan untuk setiap muslim yang berangkat ke medan jihad, dengan segala kedzoliman yang telah aku terima dari semua orang yang telah mendzolimiku, pada hartaku, badanku, atau kehormatanku...”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah do’a yang dipanjatkan oleh Ulbah bin Zaid Radhialloohu 'Anhu yang fakir dan tidak berdaya dalam do’a beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka pada keesokan harinya, beliau berkumpul bersama para shahabat yang lain. Tiba- tiba Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam bertanya, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Siapa yang telah bersedekah tadi malam?”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; akan tetapi tidak ada yang merasa telah bersedekah. Kemudian beliau Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam ulangi pertanyaan yang serupa, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Siapa yang bersedekah? Ayo berdiri!”&lt;/span&gt; lantas berdirilah Ulbah bin Zaid Radhialloohu 'Anhu dan menceritakan kejadian tadi malam, kemudian Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Berbahagialah, Sungguh demi jiwaku yang berada di Tangan- Nya, sedekah  itu telah dicatat dalam sedekah yang diterima oleh Alloh ‘Azza Wa Jalla”.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Subhanalloh,&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; walaupun tidak mempunyai apa- apa, Ulbah bin Zaid Radhialloohu 'Anhu tidak berkecil hati untuk berusaha membantu saudaranya dalam membela agama Alloh Subhaanahu Wa Ta'ala dengan menyedekahkan do’a yang tulus kepada mereka. Wallohu a’lam. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;(al- Bidayah Wan Nihayah VII/ 151- 152).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sumber: Majalah Tarjim- Suplemen Majalah al- mawaddah.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Edisi khusus Dzulhijjah 1431H- Muharrom 1432H. Hal.13- 15. Kisah Shahabat.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2107481068058571539-4461369090411345168?l=buletindarulilmy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buletindarulilmy.blogspot.com/feeds/4461369090411345168/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2107481068058571539&amp;postID=4461369090411345168&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2107481068058571539/posts/default/4461369090411345168'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2107481068058571539/posts/default/4461369090411345168'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buletindarulilmy.blogspot.com/2011/03/doa-ulbah-bin-zaid-radhialloohu-anhu.html' title='Do’a ‘Ulbah bin Zaid Radhialloohu &apos;Anhu Sebagai Sedekah yang Diterima.﻿'/><author><name>khafidl khafidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12391092020879071145</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/__bf6ZucOoBA/TB-b6CilMiI/AAAAAAAAAaU/Sdg2fZ8YQRs/S220/085.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-DxmaMSKR044/TY8LvIElmGI/AAAAAAAAAn4/Fzwg_5EJwCE/s72-c/%25288%2529.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2107481068058571539.post-624181353558751174</id><published>2011-03-26T20:33:00.000-07:00</published><updated>2011-03-26T21:09:24.816-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dienul Islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Admin'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kisah Teladan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='General'/><title type='text'>Abu Qilabah Rahimahulloh dan Kesabarannya.</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-f-KxDONQ-6M/TY63lsMZv7I/AAAAAAAAAno/FFyL20D5FcA/s1600/image112.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 142px; padding:3px; border:6px solid #BEBBBB;" src="http://4.bp.blogspot.com/-f-KxDONQ-6M/TY63lsMZv7I/AAAAAAAAAno/FFyL20D5FcA/s200/image112.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5588606045759586226" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;BUAH KESABARAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Abu Qilabah Rahimahulloh adalah seorang Tabi’in yang mulia,&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; akan tetapi kondisinya sangat merenyuhkan hati. Beliau kehilangan kedua kaki dan tangannya, mata dan pendengarannya sudah melemah, tidak ada bagian tubuh yang bermanfaat kecuali lisannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau selalu berdo’a, &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Ya Alloh, tunjukilah aku untuk memuji- Mu dengan pujian yang sebanding, sebagai rasa syukur atas nikmat dan keutamaan yang Engkau berikan kepadaku”.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari Abdulloh bin Muhammad Rahimahulloh bertanya kepadanya, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Mengapa engkau selalu mengulang- ulang do’amu? Sebenarnya nikmat apa yang telah diberikan kepadamu?”,&lt;/span&gt; Abu Qilabah berkata,&lt;span style="font-style:italic;"&gt; “Tidakkah engkau melihat apa yang diperbuat oleh Rabb- ku? Demi Alloh, andaikan Alloh memerintahkan langit untuk mengirim api dan membakarku, memerintahkan gunung agar menimpaku, dan laut agar menenggelamkanku, tidaklah hal itu kecuali menambah rasa syukurku kepada- Nya &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;karena Dia telah memberi nikmat Lisan ini”.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Qilabah berkata lagi, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Aku punya kebutuhan, sudikah engkau membantuku? Aku ini orang yang lemah, aku punya seorang anak kesayangan yang selalu menemaniku, dia yang mewudhukanku saat tiba waktu sholat. Apabila aku lapar, dia yang memberi makan. Apabila aku haus, dia yang memberi minum. Tetapi sudah tiga (3) hari ini aku kehilangan dia, tolong carikan di mana dia?”,&lt;/span&gt; Aku (Abdulloh bin Muhammad_red) berkata, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Sungguh tidak ada pahala yang lebih besar di sisi Alloh daripada orang yang berjalan untuk memenuhi kebutuhanmu”.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mulai berjalan mencari anak tersebut. Baru beberapa meter aku melihat tumpukan bebatuan dan aku dapati anak yang kucari telah dimangsa binatang buas. Melihat itu aku hanya bisa mengucap, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Inna Lillaahi Wa Inna Ilaihi Rooji’uun”.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai di rumah Abu Qilabah aku langsung mengucapkan salam. Abu Qilabah membalasnya, dan berkata, “Bukankah engkau Sahabatku?” Aku menjawab, “Benar”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana kebutuhanku?” tanya Abu Qilabah. Aku berkata,&lt;span style="font-style:italic;"&gt; &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Engkau lebih mulia di sisi Alloh ataukah Nabi Ayyub ‘Alaihis Salaam yang lebih mulia?”, &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Nabi Ayyub ‘Alaihis Salaam yang lebih mulia”,&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Jawab Abu Qilabah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bertanya lagi, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Bukankah kita tahu cobaan yang diberikan Alloh kepada Nabi Ayyub ‘Alaihis Salaam? Beliau diuji dalam hartanya, keluarganya, dan anak- anaknya”.&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Benar demikian”,&lt;/span&gt; Jawab Abu Qilabah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berkata lagi, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Bagaimana sikap Nabi Ayyub menerima cobaan itu?”&lt;/span&gt; Abu Qilabah menjawab, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Dia bersabar, bersyukur, dan selalu memuji Alloh Subhaanahu Wa Ta'ala”.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya dengan berat hati aku berkata, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Sesungguhnya anak kesayanganmu yang engkau cari telah meninggal dimangsa binatang buas. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Semoga Alloh memberi kesabaran dan pahala yang besar kepadamu”&lt;/span&gt;.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Qilabah menjawab, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Segala Puji Bagi Alloh yang tidak menjadikan satu pun dari keturunanku yang memaksyiati- Nya”.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Kemudian abu Qilabah mengucapkan, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Inna Lillaahi Wa Inna Ilaihi Rooji’uun”,&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Sambil mengeluarkan air matanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak lama berselang Abu Qilabah meninggal dunia. Tatkala pemakaman selesai, aku kembali ke rumah. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Di waktu malam aku tertidur dan bermimpi melihat Abu Qilabah Rahimahulloh di Surga memakai perhiasan Surga, &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;dia membaca ayat Alloh:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“SALAAMUN ‘ALAIKUM BIMAA SHOBARTUM, FANI’MA ‘UQBA-ADDAARI”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Keselamatan atasmu karena kesabaranmu, Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu”.&lt;/span&gt; (QS. Ar- Ra’du [13]: 24).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bertanya, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Bukankah engkau adalah sahabatku?”&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Benar”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Bagaimana engkau meraih itu semua?”,&lt;/span&gt; Abu Qilabah menjawab,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Sesungguhnya Alloh mempunyai tingkatan yang tidak bisa diraih kecuali dengan kesabaran ketika tertimpa musibah, bersyukur ketika senang dengan selalu takut kepada Alloh secara tersembunyi maupun terang- terangan” &lt;/span&gt; (Kitab ats- Tsiqoot, 5/ 2-5 oleh Ibnu Hibban Rahimahulloh).&lt;/span&gt; Wallohu a’lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sumber:  ‘Bila Sakit Menyapa”. Hal. 45- 48. &lt;/span&gt;Abu Abdillah Syahrul Fatwa bin Luqman al- Atsari. Pustaka al- Furqon. Gresik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;NB:  Kisah Nabi Ayyub ‘Alaihis Salaam telah diabadikan di dalam Al- Qur’an, Surat al- Anbiyaa’ [21]: 83- 84, dan juga Surat Shaad [38]: 41- 44.&lt;/span&gt; Lihat kisah lengkapnya dalam &lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;al Bidayah Wan Nihayah I/ 506&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;oleh al Hafizh Ibnu Katsir Rahimahulloh, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Shahih al –Qashas an- Nabawi Hal. 58&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; oleh al- Huwaini, dan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Shahih al- Qashas an- Nabawi hal. 157&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; oleh DR. Sulaiman al- Asyqor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-8YZm-MyIKjA/TY64KRI8SBI/AAAAAAAAAnw/LJ7yjAjGuc8/s1600/bismillah__by_ischosita.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px; padding:3px; border:6px solid #BEBBBB;" src="http://2.bp.blogspot.com/-8YZm-MyIKjA/TY64KRI8SBI/AAAAAAAAAnw/LJ7yjAjGuc8/s200/bismillah__by_ischosita.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5588606674152474642" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Note Tambahan:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(1) Meraih Derajat yang Tinggi: &lt;/span&gt; Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Ada Seorang hamba yang meraih kedudukan mulia di sisi Alloh bukan karena amalannya, &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Alloh memberi cobaan badannya atau hartanya atau anaknya, kemudian Alloh menjadikannya bersabar, hingga ia dapat meraih derajat mulia”&lt;/span&gt;.&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(HR. Abu Dawud 3090, Ahmad 5/ 272, Ibnu Sa’ad 7/ 477. Dishahihkan oleh Syaikh al- Albani Rahimahulloh dalam &lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;ash- Shahiihah, No. 2599&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sumber:  ‘Bila Sakit Menyapa”. Hal. 34- 35.&lt;/span&gt; Abu Abdillah Syahrul Fatwa bin Luqman al- Atsari. Pustaka al- Furqon. Gresik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;440- Hasan Lighairihi:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  Dari Abu Musa al- Asy’ari Radhialloohu 'Anhu bahwasanya Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Apabila ada anak seorang hamba meninggal dunia, maka Alloh ‘Azza Wa Jalla berkata kepada para Malaikat- Nya, “Apakah kalian mencabut nyawa anak hamba- Ku?” Para Malaikat menjawab, “Ya”, Alloh berkata, “Apakah kalian mencabut nyawa buah hatinya?” Para Malaikat menjawab, “Ya”, Alloh berkata, “Lalu apa yang dikatakan hamba- Ku?” Para Malaikat menjawab, “Ia memuji- Mu dan mengucapkan kalimat istirja’, Lalu Alloh berkata (kepada Para Malaikat), “Bangunkanlah bagi hamba- Ku itu sebuah rumah di dalam Surga, dan berilah nama dengan Baitul Hamdi”&lt;/span&gt;. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(HR. at- Tirmidzi dalam kitab &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;al- Janaa-iz bab 36&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;, Ahmad (IV/ 415), Ibnu Hibban dalm &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Shahiih-nya (No. 726- al- Mawaarid).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;441- Shahiih:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  Dari Abu Hurairoh Radhialloohu 'Anhu bahwasanya Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Alloh ta’ala berfirman, &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Tidak ada balasan dari- Ku bagi hamba- Ku yang mukmin ketika Aku mengambil nyawa orang yang dicintainya di dunia, kemudian ia ikhlas menerimanya, melainkan (balasannya adalah) Surga”.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(HR. al- Bukhori dalam kitab &lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;ar- Razaa-iq, Bab. 6/ HR. al- Bukhori No. 6424).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sumber: “Shahiih Hadits Qudsi&amp; Syarahnya II”, hal. 80- 81&lt;/span&gt;. Syaikh Zakariya ‘Umairat. Pustaka Imam asy- Syafi’i. Jakarta/ “Adab Harian Muslim Teladan” Hal. 173- 174. ‘Abdul Hamid bin ‘Abdirrahman as- Suhaibani. Pustaka Ibnu Katsir. Bogor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;161- Orang yang Kehilangan orang yang dikasihinya kemudian dia berharap pahala dari Alloh:&lt;/span&gt; Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda, Alloh Subhaanahu Wa Ta'ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Tidak ada balasan di sisi-Ku bagi hamba- Ku yang beriman apabila Aku mengambil orang yang dikasihinya dari penduduk dunia kemudian dia mengharap pahala karenanya, kecuali Surga”.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(HR. Ahmad dan al- Bukhori, al- Hafizh Ibnu Hajar Rahimahulloh dalam &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Fat-hul Baari (11/ 247)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; berkata, “Orang yang dikasihi berarti umum, bisa berarti anak, dan yang lainnya”).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;216:&lt;/span&gt;  Dari Ibnu ‘Umar Radhialloohu 'Anhuma, Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Manusia yang paling dicintai Alloh adalah yang paling bermanfaat bagi manusia, dan amalan yang paling dicintai Alloh adalah kebahagiaan yang kamu berikan kepada seorang muslim, atau meringankan kesulitannya, atu melunasi hutangnya, atau mengusir kelaparannya. Aku berjalan bersama saudaraku yang muslim salam satu keperluan lebih aku sukai daripada beri’tikaf di masjid selama satu bulan. Barangsiapa menahan amarahnya niscaya Alloh menutup auratnya. Barangsiapa menahan amarahnya –kalau dia mau, dia bisa melampiaskannya- nicaya Alloh memenuhi hatinya dengan keridhoan pada hari Kiamat. Barangsiapa berjalan bersama saudaranya yang muslim dalam rangka memenuhi suatu kebutuhannya sehingga dia mendapatkannya untuknya, niscaya Alloh meneguhkan kakinya pada hari di mana kaki- kaki terpeleset. Sesungguhnya keburukan akhlak merusak amal, sebagaimana cuka merusak madu”.&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;(Hasan,&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Diriwayatkan oleh Ibnu Abi ad- Dunya dalam &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Qadha al- Hawa’ij,&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; ath- Thabrani dalam &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;al- Mu’jam al- Kabir,&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; di- Hasan- kan oleh Syaikh al- Albani Rahimahulloh dalam &lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Shahih al- jami’ No. 174&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;as- Silsilah ash- Shahiihah, No. 903)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sumber: “Sesungguhnya Dia Maha Pengampun: 286 Sebab Meraih ampunan Alloh Subhaanahu Wa Ta'ala”, Hal. 223&amp; 261.&lt;/span&gt; Dr. Sayyid Husain al- Affani. Darul Haq. Jak&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2107481068058571539-624181353558751174?l=buletindarulilmy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buletindarulilmy.blogspot.com/feeds/624181353558751174/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2107481068058571539&amp;postID=624181353558751174&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2107481068058571539/posts/default/624181353558751174'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2107481068058571539/posts/default/624181353558751174'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buletindarulilmy.blogspot.com/2011/03/abu-qilabah-rahimahulloh-dan.html' title='Abu Qilabah Rahimahulloh dan Kesabarannya.'/><author><name>khafidl khafidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12391092020879071145</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/__bf6ZucOoBA/TB-b6CilMiI/AAAAAAAAAaU/Sdg2fZ8YQRs/S220/085.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-f-KxDONQ-6M/TY63lsMZv7I/AAAAAAAAAno/FFyL20D5FcA/s72-c/image112.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2107481068058571539.post-2928035030538771307</id><published>2011-03-26T19:36:00.000-07:00</published><updated>2011-03-26T20:15:37.336-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dienul Islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kisah-kisah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='General'/><title type='text'>Kisah Nabi Dzulkifli ‘Alaihis Salaam</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-nWPpr_gXYIw/TY6oi8N70UI/AAAAAAAAAnY/-r-DrWoVFUA/s1600/18979_1154862442952_1569444348_30329617_1341525_n.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 125px; padding:3px; border:6px solid #BEBBBB;" src="http://3.bp.blogspot.com/-nWPpr_gXYIw/TY6oi8N70UI/AAAAAAAAAnY/-r-DrWoVFUA/s200/18979_1154862442952_1569444348_30329617_1341525_n.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5588589505846956354" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sifat Nabi Dzulkifli ‘Alaihis Salaam.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dialah seorang Nabi yang tidak dijelaskan secara gamblang tentang zaman kenabiannya, dan di kaum apa beliau berdakwah. Semua cerita tentang Nabi Dzulkifi hanya sebatas pendapat- pendapat, tidak berdasarkan dalil yang qoth’i. Alloh Subhaanahu Wa Ta'ala telah mencatat beliau ‘Alaihis Salaam sebagai jajaran orang- orang yang sabar dan menjadi hamba pilihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Dan ingatlah Nabi Isma’il, Nabi Idris, dan Nabi Dzulkifli, semuanya termasuk orang- orang yang sabar. (QS. Al- Anbiya’ [21]: 85).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Dan ingatlah Nabi Isma’il, Nabi Yasa’, dan Nabi Dzulkifli, semuanya termasuk orang- orang pilihan”. (QS. Shod [38]: 48).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dzulkifli adalah julukan untuk beliau. Nama beliau sebenarnya tidak diketahui secara pasti. Sebab musabbabnya juga beragam. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Al- Kifli maknanya MENJAMIN TANGGUNGAN.&lt;/span&gt; Telah terjadi silang pendapat tentang di masa apa Nabi Dzulkifli ‘Alaihis Salaam hidup.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Pendapat yang pertama menyatakan bahwa Nabi Dzulkifli ‘Alaihis Salaam adalah anak Nabi Ayyub ‘Alaihis Salaam yang mana nama lengkapnya adalah Bisyr bin Ayyub.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Beliau berdakwah di daerah Syam. Pendapat ini mengatakan bahwa Nabi Dzulkifli ‘Alaihis Salaam adalah seorang Nabi bukan dari Kalangan Bani Isro’il.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Pendapat yang kedua menyebutkan bahwa Nabi Dzulkifli adalah seorang Nabi dari kalangan Bani Isro’il. Beliau hidup di masa Nabi Yasa’ 'Alaihis Salaam.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  Seorang Nabi yang hidup setelah Nabi Ilyas ‘Alaihis Salaam. Alasan mereka, karena ada riwayat yang disebutkan dengan jelas perihal nama Nabi Yasa’ sebagaimana diriwayatkan Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim dari Jalan &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Mujahid.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Dan Ibnu Katsir Rahimahulloh menukilnya dalam kitab &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Qoshosh al- Anbiya’ 217&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; dan beliau tidak berkomentar tentang derajat kisah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Mujahid berkata:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  Ketika Nabi Yasa’ telah berusia tua, beliau ingin memberikan mandat kepada seseorang untuk mengurusi kaumnya saat dirinya masih hidup agar dia tahu bagaimana cara kerjanya. Maka Nabi Yasa’ mengumumkan pada kaumnya, &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Siapa yang bisa menerima tiga (3) kewajiban dariku, yaitu berpuasa di Siang Hari, Sholat Tahajjud di malam hari, dan sekali- kali tidak akan marah, maka aku berikan mandat padanya”&lt;/span&gt;.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka majulah seorang laki- laki yang rendahan di antara mereka, sambil menjawab, “Saya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi Yasa’ bertanya, “Apakah engkau sanggup?”, Ia menjawab, “Ya”. Maka sejak saat itulah Nabi Dzulkifli diberikan mandat untuk menggantikan tugas nabi tersebut untuk memutuskan segala urusan pada kaumnya waktu itu. Beliau terbukti mampu menunaikan tugasnya dan sanggup melaksanakan tiga (3) kewajiban yang dibebankan kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak saat itu setan ingin mengodanya. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Setan menjelma sebagai seorang yang tua renta lagi kelihatan miskin papa.&lt;/span&gt; Sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan Nabi Dzulkifli karena terlalu sibuknya, dalam kesehariannya beliau tidak ada waktu untuk tidur kecuali sesaat di waktu siang. Maka datanglah setan yang menjelma sebagai lelaki tua itu ketika Nabi Dzulkifli ‘Alaihis Salaam hendak tidur siang. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Tujuannya adalah agar Nabi Dzulkifli ‘Alaihis Salaam menjadi marah karenanya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mula- mula lelaki tua itu mengetuk rumah Nabi Dzulkifli ‘Alaihis Salaam padahal beliau sudah berbaring untuk istirahat. Begitu pintu diketuk, menyahutlah Nabi Dzulkifli dari dalam, “Siapa.?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya lelaki tua yang teraniaya”. Jawab lelaki tua itu. Setelah pintu terbuka, mengadulah lelaki itu pada Nabi Dzulkifli ‘Alaihis Salaam. Dia berkata, “Saya seorang tua yang teraniaya, telah terjadi pertikaian antara diriku dan kaumku, lalu mereka berbuat dzolim kepadaku, dan mereka juga berbuat begini dan begitu”. Lelaki itu terus bercerita dan menambah ceritanya hingga datanglah waktu sore. Hingga pada akhirnya hilanglah kesempatan tidur siang Nabi Dzulkifli ‘Alaihis Salaam. Beliau berkata, “Wahai tuan, hendaklah engkau datang di majelisku sore ini. Nanti akan aku selesaikan hakmu dari kaummu”. Maka pulanglah lelaki tua itu dan Nabi Dzulkifli ‘Alaihis Salaam tidak jadi beristirahat karenanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, sore itu Nabi Dzulkifli ‘Alaihis Salaam duduk di majelisnya untuk menyelesaikan urusan- urusan kaumnya. Beliau menunggu lelaki tua yang datang barusan tadi untuk diselesaikan urusannya. Namun lelaki tua itu tidak muncul- muncul. Keesokan harinya ketika Nabi Dzulkifli ‘Alaihis Salaam kembali duduk di majelisnya untuk menyelesaikan berbagai urusan kaumnya. Beliaupun tidak mendapati lelaki tua itu. Baru ketika datang siang dan Nabi Dzulkifli beranjak untuk istirahat, kembali pintu rumahnya terketuk. Selanjutnya Nabi Dzulkifli membukakan pintu dan ternyata lelaki tua itulah yang  muncul. Nabi Dzulkifli lalu berkata, “Wahai tuan bukankah sudah aku katakan, jika aku di majelis, datanglah padaku lalu aku akan menyelesaikan urusanmu”. Lelaki itu pun beralasan, “Wahai Nabi Alloh, sesungguhnya kaumku sejelek- jelek manusia, ketika mereka tahu bahwa engkau duduk di majelis untuk menampung berbagai aduan rakyatmu, mereka bersegera memberikan hakku. Namun ketika mereka tahu bahwa dirimu tidak ada di majelis, mereka kembali merampas hakku”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah lelaki itu di hari kedua terus bercerita dan menambah ceritanya hingga datanglah waktu sore. Hingga pada akhirnya, hilanglah kesempatan tidur siang bagi Nabi Dzulkifli untuk kedua kalinya. Namun Nabi Dzulkifli tidak marah karenanya. Dan sore harinya,kembalilah Nabi Dzulkifli ‘Alaihis Salaam duduk di majelisnya untuk menyelesaikan urusan- urusan kaumnya. Namun lagi- lagi lelaki tua itu tidak muncul batang hidungnya. Maka di siang harinya pada hari ketiganya, ketika Nabi Dzulkifli ‘Alaihis Salaam tertimpa rasa kantuk yang luar biasa, beliau berpesan kepada sebagian keluarganya, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Sekali- kali jangan biarkan seorang pun untuk mendekati pintu kamarku ini sampai diriku bangun tidur. Sungguh rasa kantuk yang sangat telah menimpaku”&lt;/span&gt;.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa saat kemudian, datanglah kembali lelaki tua itu. Penjaga pintu langsung menghalanginya, “Pergilah tuan,.! Nabi Dzulkifli sedang beristirahat, beliau tidak bisa diganggu”..!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun lelaki tua itu tetap bersikeras, “Sungguh aku telah datang di hari kemarin, dan aku telah bercerita padanya akan masalahku. Sekarang aku betul- betul mendesak bertemu dengan beliau”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penjaga pintu tetap bersikukuh, “Tidak, sekali- kali kami tidak memperbolehkan seorangpun untuk mendekati pintu itu”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka ketika menemui jalan buntu dalam perdebatan itu, lelaki itu melihat ada suatu lubang angin di rumah Nabi Dzulkifli ‘Alaihis Salaam, lalu dengan sigap ia pun menyusup ke rumah Nabi Dzulkifli ‘Alaihis Salaam lewat lubang itu. Hal itu mudah baginya karena memang dirinya adalah setan. Ketika sampai di dalam, lelaki itu mengetuk pintu dari dalam. Mendengar pintu terketuk, bangunlah Nabi Dzulkifli ‘Alaihis Salaam dan tercenganglah beliau karena ternyata di dalam kamarnya ada orang. Beliau pun bangun lalu memeriksa pintu rumahnya, dan didapatinya pintu rumah masih terkunci rapat. Nabi Dzulkifli ‘Alaihis Salaam selanjutnya tahu siapa lelaki tua itu, &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Apakah dirimu musuh Alloh, yakni setan..?”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki itu menjawab, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Ya, Sungguh kau telah membuatku payah. Aku telah melakukan berbagai cara, sebagaimana kaui lihat supaya bia membuatmu marah, namun ternyata usahaku itu sia- sia”.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka begitulah Alloh Subhaanahu Wa Ta'ala memberi nama pada beliau Dzulkifli, karena apabila beliau menjamin atau menanggung sesuatu, maka beliau bisa menuntaskannya”. Walloohu a’lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sumber: Kisah Para Nabi: Sifat Nabi Dzulkifli ‘Alaihis Salaam.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Penulis: Ust. Abu Adibah ash- Shoqoli. Majalah al- Mawaddah. Hal. 43-44. Shofar 1432H. Vol. 37. Januari – Februari 2011.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-jN_bYrL4jZA/TY6psJNJh3I/AAAAAAAAAng/6VqvzHKjwaA/s1600/alhambra_by_Aj07.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 152px; padding:3px; border:6px solid #BEBBBB;" src="http://2.bp.blogspot.com/-jN_bYrL4jZA/TY6psJNJh3I/AAAAAAAAAng/6VqvzHKjwaA/s200/alhambra_by_Aj07.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5588590763463772018" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Note Tambahan: Keutamaan Menahan Marah.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;2753- 9: Hasan Lighairihi&lt;/span&gt;.&lt;/span&gt; Dari Mu’adz bin Anas Radhialloohu 'Anhu, bahwasanya Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Siapa yang menahan kemarahannya padahal ia mampu menumpahkannya, niscaya ALLOH memanggilnya di hadapan seluruh makhluk di Hari Kiamat sehingga Dia menyuruhnya untuk memilih dari bidadari Surga yang dikehendakinya”.&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;[HR. Abu Dawud, at- Tirmidzi, dan Ibnu Majah: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sunan Abu Dawud No. 4777, Sunan at- Tirmidzi No. 2022, 2495, Sunan Ibnu Majah No. 4186].&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;2752- 8: Shahih Lighairihi&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;: Dari Ibnu ‘Umar Radhialloohu 'Anhuma, dia berkata, Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Tidak ada seteguk minuman yang lebih besar pahalanya di sisi ALLOH daripada seteguk minum kemarahan yang ditahan seorang hamba karena mencari wajah ALLOH".&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Diriwayatkan oleh Ibnu Majah, dan para perawinya dijadikan Hujjah dalam &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;ash- Shahih&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;2479- 5: Shahih Lighairihi:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Dari Abu ad- Darda’ Radhialloohu 'Anhu dia berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Seorang laki- laki berkata kepada Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam, “Tunjukkanlah kepadaku suatu amalan yang dapat memasukkan aku ke dalam Surga?” Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam menjawab, “Jangan Marah, Maka kamu mendapatkan Surga”. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Diriwayatkan oleh ath- Thabrani dengan dua sanad, salah satunya Shahih].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sumber: ‘Shahih at- Targhib Wa at- Tarhib V’ Bab. Ancaman Tentang Sifat marah dan anjuran menolak&amp; menahannya dan Sesuatu yang dilakukan ketika marah. Hal 197-200.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Syaikh al- Albani Rahimahulloh. Pustaka Shahifa. Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;217: Meninggalkan Amarah.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Dari Abu ad- Darda’ Radhialloohu 'Anhu ia berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;‘Seorang laki- laki berkata kepada Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam, “Tunjukkan kepadaku suatu amalan yang memasukkanku ke Surga?” Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam menjawab, “Jangan marah, dan bagimu Surga”. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;[Shahih,&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Diriwayatkan oleh ath- Thabrani dalam &lt;span style="font-style:italic;"&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&gt;al- Mu’jam al- Kabir&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; dan Ibnu Abi ad- Dunya, dan dishahihkan oleh Syaikh al- Albani Rahimahulloh dalam &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Shahih al- Jami’ No. 2179]&lt;/span&gt;.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;216: Menahan Amarah.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Dari Ibnu ‘Umar Radhialloohu 'Anhuma, Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Manusia yang paling dicintai Alloh adalah yang paling bermanfaat bagi manusia, dan amalan yang paling dicintai Alloh adalah kebahagiaan yang kamu berikan kepada seorang muslim, atau meringankan kesulitannya, atu melunasi hutangnya, atau mengusir kelaparannya. Aku berjalan bersama saudaraku yang muslim salam satu keperluan lebih aku sukai daripada beri’tikaf di masjid selama satu bulan. Barangsiapa menahan amarahnya niscaya Alloh menutup auratnya. Barangsiapa menahan amarahnya –kalau dia mau, dia bisa melampiaskannya- nicaya Alloh memenuhi hatinya dengan keridhoan pada hari Kiamat. Barangsiapa berjalan bersama saudaranya yang muslim dalam rangka memenhui suatu kebutuhannya sehingga dia mendapatkannya untuknya, niscaya Alloh meneguhkan kakinya pada hari di mana kaki- kaki terpeleset. Sesungguhnya keburukan akhlak merusak amal, sebagaimana cuka merusak madu”.&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;[Hasan,&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Diriwayatkan oleh Ibnu Abi ad- Dunya dalam &lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Qadha al- Hawa’ij,&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; ath- Thabrani dalam &lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;al- Mu’jam al- Kabir,&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; di- Hasan- kan oleh Syaikh al- Albani Rahimahulloh dalam &lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Shahih al- jami’ No. 174&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;as- Silsilah ash- Shahiihah, No. 903].&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sumber: ‘Sesungguhnya DIA Maha Pengampun: 286 Sebab Meraih Ampunan Alloh Subhaanahu Wa Ta'ala”. Hal 259- 261.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Dr. Sayyid Husain al- Affani. Pustaka Darul haq. Jakarta.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2107481068058571539-2928035030538771307?l=buletindarulilmy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buletindarulilmy.blogspot.com/feeds/2928035030538771307/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2107481068058571539&amp;postID=2928035030538771307&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2107481068058571539/posts/default/2928035030538771307'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2107481068058571539/posts/default/2928035030538771307'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buletindarulilmy.blogspot.com/2011/03/kisah-nabi-dzulkifli-alaihis-salaam.html' title='Kisah Nabi Dzulkifli ‘Alaihis Salaam'/><author><name>khafidl khafidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12391092020879071145</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/__bf6ZucOoBA/TB-b6CilMiI/AAAAAAAAAaU/Sdg2fZ8YQRs/S220/085.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-nWPpr_gXYIw/TY6oi8N70UI/AAAAAAAAAnY/-r-DrWoVFUA/s72-c/18979_1154862442952_1569444348_30329617_1341525_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2107481068058571539.post-190499517133057105</id><published>2011-03-25T02:21:00.000-07:00</published><updated>2011-03-25T03:41:39.404-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dienul Islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Admin'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='General'/><title type='text'>Ucapan ‘Shadaqallohul ‘Azhiim’ (Maha Benar Alloh yang Maha Agung), Mencium Mushaf, dan Permasalahan Lainnya.</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-yHo2opCX8Ic/TYxvBo_78wI/AAAAAAAAAnI/quSRiAM3W9k/s1600/repentance-forgiveness.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 146px; padding:3px; border:6px solid #BEBBBB;" src="http://4.bp.blogspot.com/-yHo2opCX8Ic/TYxvBo_78wI/AAAAAAAAAnI/quSRiAM3W9k/s200/repentance-forgiveness.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5587963311636083458" /&gt;&lt;/a&gt;Ucapan ‘Shadaqallohul ‘Azhiim’ (Maha Benar Alloh yang Maha Agung) seusai setiap membaca Al- Qur’an merupakan perbuatan yang di-ada- adakan, &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;karena perbuatan tersebut tidak pernah dilakukan oleh Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam, maupun para al- Khulafa’ur Rasyidin, atau para Shahabat Radhialloohu 'Anhum. Juga tidak pernah dilakukan oleh para Imam- imam Salaf padahal mereka sangat sering membaca Al- Qur’an, sangat memperhatikannya, dan mengerti tentangnya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Dengan demikian ucapan tersebut dan &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;PENGHARUSAN BACAANNYA SETIAP KALI USAI MEMBACA AL- QUR’AN adalah perbuatan bid’ah yang diada- adakan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Telah diriwayatkan dari Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam bahwasanya beliau bersabda,&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Barangsiapa mengada- adakan dalam perkara kami ini (perkara agama) yang tidak berasal darinya, maka dia akan tertolak”.&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;(HR. al- Bukhori dan Muslim. Diriwayatkan oleh &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;al- Bukhori No. 2697 dalam al- Shulh, Bab ‘Idzaa Ishthalahu ‘ala Shulhin Juur Fash Shulh Mardud” dan Muslim No. 1718, jilid 18,&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; dalam &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kitab ‘al- Uqdhiyah’ Bab ‘Naqdhul Ahkamil Bathilah Wa Raddu Muhdatsatil Umur’&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; dari hadits ‘Aisyah Radhialloohu 'Anha).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam lafazh yang lain yang diriwayatkan oleh imam Muslim disebutkan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Barangsiapa melaksanakan suatu amalan yang tidak ada perintah kami, maka amalan tersebut tertolak”&lt;/span&gt;.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan oleh Muslim No. 1718, jilid 18, dalam &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kitab ‘al- Uqdhiyah’ Bab ‘Naqdhul Ahkamil Bathilah Wa Raddu Muhdatsatil Umur’&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; dari hadits ‘Aisyah Radhialloohu 'Anha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;ADAPUN APABILA UCAPAN TERSEBUT DILAFAZHKAN SESEORANG SESEKALI SAAT MENDENGARKAN SUATU AYAT ATAU MEMIKIRKANNYA KEMUDIAN IA MENDAPATKAN SUATU PENGARUH YANG NYATA DALAM DIRINYA, MAKA TIDAK MENGAPA BAGINYA UNTUK MENGUCAPKAN “SHODAQOLLOHUL ‘AZHIIM” Maha Benar Alloh Yang Maha Agung, telah begini dan begitu”.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;(Fatawa Lajnah Da’imah, No. 3303)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;Alloh Ta’ala telah berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Katakanlah ‘SHODAQOLLOH” -Benarlah (apa yang difirmankan) Alloh-, maka ikutilah agama Ibrahim yang lurus, dan bukanlah dia termasuk orang- orang yang musyrik”. (QS. Ali Imran: 95).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Dan siapakah yang lebih benar perkataan(nya) daripada Alloh”. (QS. An- Nisa’ :87).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam telah bersabda,&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Sesungguhnya sebaik- baik perkataan adalah Kitabulloh”&lt;/span&gt;.&lt;/span&gt; (Diriwayatkan oleh Muslim, No. 867, 43 dalam &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kitab Jum’ah, Bab ‘Memendekkan Sholat dan Khutbah’&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;boleh mengucapkan ucapan, “Shadaqolloh” &lt;/span&gt;dalam beberapa peristiwa yang menunjang ucapan tersebut, seperti bila melihat sesuatu yang terjadi, yang sebelumnya Alloh Ta’ala telah mengingatkannya. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;NAMUN APABILA KITA MENJADIKAN UCAPAN TERSEBUT SEAKAN- AKAN TERMASUK HUKUMAN BACAAN, maka perbuatan itu tidak ada dasarnya dan MENGHARUSKANNYA termasuk bid’ah&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;. Yang ada dasarnya dalam hukum bacaan adalah memulai membaca dengan mengucapkan ISTI’ADZAH (do’a memohon perlindungan), sebagaimana difirmankan Alloh Ta’ala:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Apabila kamu membaca Al- Qur’an, hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Alloh dari syaithan yang terkutuk”.&lt;/span&gt; &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;(QS. An- Nahl: 98)&lt;/span&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam mengucapkan do’a perlindungan dari syaithan saat memulai membaca Al- Qur’an dan &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;MEMBACA BASMALAH SETIAP AWAL SURAT SELAIN SURAT AL- BARA’AH (At- Taubah).&lt;/span&gt; Adapun seusai membaca Al- Qur’an, tidak ada pengharusan untuk mengucapkan dzikir khusus atau ucapan “Shadaqolloh”, atau lainnya. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;(Fatawa Syaikh Shalih bin Fauzan al- Fauzan, Nur ‘Alad Darbi. Juz III. I’dad Fayis Musa Abu Syaikhah).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-3nUO_dWYVrk/TYxwQOMXpgI/AAAAAAAAAnQ/VFJeARBtQo4/s1600/bsm_allah_alr7man_al_ra7em__by_kitkath.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px; padding:3px; border:6px solid #BEBBBB;" src="http://2.bp.blogspot.com/-3nUO_dWYVrk/TYxwQOMXpgI/AAAAAAAAAnQ/VFJeARBtQo4/s200/bsm_allah_alr7man_al_ra7em__by_kitkath.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5587964661650138626" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Mencium Mushaf Sebelum Membaca Atau Sesudahnya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tidak Kami ketahui sebuah dalil pun yang mensyari’atkan untuk mencium Al- Qur’anul Karim, karena Al- Qur’an diturunkan untuk dibaca, diperhatikan, diagungkan, dan diamalkan. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;(Fatawa Lajnah Da’imah, No. 8852)&lt;/span&gt;.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Membasuh Tangan seusai membaca Al- Qur’an&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak disyari’atkan mencuci tangan seusai membaca Al- Qur’an, baik di kran maupun di kamar mandi. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;(Fatawa Lajnah Da’imah, No. 9410)&lt;/span&gt;.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sumber: “Bida’un Naas Fil Qur’an:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Penyimpangan Terhadap Al- Qur’an. 93- 97. Abu Anas Ali Bin Husain Abu Luz. Pustaka Darul Haq. Jakarta.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2107481068058571539-190499517133057105?l=buletindarulilmy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buletindarulilmy.blogspot.com/feeds/190499517133057105/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2107481068058571539&amp;postID=190499517133057105&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2107481068058571539/posts/default/190499517133057105'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2107481068058571539/posts/default/190499517133057105'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buletindarulilmy.blogspot.com/2011/03/ucapan-shadaqallohul-azhiim-maha-benar.html' title='Ucapan ‘Shadaqallohul ‘Azhiim’ (Maha Benar Alloh yang Maha Agung), Mencium Mushaf, dan Permasalahan Lainnya.'/><author><name>khafidl khafidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12391092020879071145</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/__bf6ZucOoBA/TB-b6CilMiI/AAAAAAAAAaU/Sdg2fZ8YQRs/S220/085.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-yHo2opCX8Ic/TYxvBo_78wI/AAAAAAAAAnI/quSRiAM3W9k/s72-c/repentance-forgiveness.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2107481068058571539.post-4396914892377318549</id><published>2011-03-24T01:30:00.000-07:00</published><updated>2011-03-24T03:45:56.624-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dienul Islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mu&apos;amalah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='General'/><title type='text'>Seluruh Nabi berbakti kepada kedua orang tua mereka.</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-TyZgevp6Wfo/TYsfexLeJkI/AAAAAAAAAm4/M5CpNawA-eY/s1600/Digital_composite_spring_1006.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 125px; padding:3px; border:6px solid #BEBBBB;" src="http://3.bp.blogspot.com/-TyZgevp6Wfo/TYsfexLeJkI/AAAAAAAAAm4/M5CpNawA-eY/s200/Digital_composite_spring_1006.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5587594376141219394" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;BAB III: Berbakti kepada kedua Orang Tua merupakan Sifat yang menonjol dari Para Nabi ‘Alaihimus Sholaatu Wassalaam.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antaranya Alloh Subhaanahu Wa Ta’ala menjelaskan bahwa ‘&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Isa bin Maryam ‘Alaihis Salaam adalah anak yang berbakti kepada ibunya.&lt;/span&gt; Alloh Ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Dia (‘Isa) berkata, “Sesungguhnya aku hamba Alloh, Dia memberiku Kitab (Injil), dan Dia menjadikan aku seorang Nabi  dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkahi di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku untuk (melaksanakan) Sholat, dan (menunaikan) zakat selama aku hidup, dan berbakti kepada Ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka”. (QS. Maryam: 30- 32).&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Alloh Ta’ala berfirman tentang &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;do’a Nabi  Ibrahim ‘Alaihis Salaam,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Wahai Rabb- ku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang yang tetap melaksanakan Sholat, wahai Rabb kami perkenankanlah do’aku. Wahai Rabb kami, ampunilah aku dan kedua ibu- bapakku, dan semua orang yang beriman pada hari diadakannya perhitungan (hari Kiamat)”. (QS. Ibrahim: 40- 41).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Alloh Subhaanahu Wa Ta’ala berfirman tentang &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;do’a Nabii Ibrahim ‘Alaihis Salaam &lt;/span&gt;untuk bapaknya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Dan ampunilah bapakku, sesungguhnya dia termasuk orang yang sesat, dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan”. (QS. Asy- Syu’araa: 86- 87).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alloh Ta’ala berfirman tentang do’a &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Nabi Nuh ‘Alaihis Salaam untuk kedua orang tuanya,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Ya Rabb ku, Ampunilah aku, Ibu- Bapakku, dan Siapa pun yang memasuki rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman laki- laki dan perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang- orang zhalim itu selain kehancuran”. (QS. Nuh: 28).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula dengan &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Nabi  Yahya ‘Alaihis Salaam yang senantiasa berbakti kepada orang tuanya.&lt;/span&gt; Alloh Ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Dan sangat berbakti kepada kedua orang tuanya, dan dia bukan orang yang sombong bukan (pula) orang yang durhaka. Dan kesejahteraan bagi dirinya, pada hari lahirnya, pada hari wafatnya, dan pada hari dia dibangkitkan hidup kembali”. (QS. Maryam: 14- 15).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-ps7iOFAmr_g/TYsgGukY2OI/AAAAAAAAAnA/FcvgswDPpoA/s1600/Digital_composite_spring_6006.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 125px; padding:3px; border:6px solid #BEBBBB;" src="http://4.bp.blogspot.com/-ps7iOFAmr_g/TYsgGukY2OI/AAAAAAAAAnA/FcvgswDPpoA/s200/Digital_composite_spring_6006.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5587595062635190498" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Alloh Ta’ala berfirman tentang do’a &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Nabi Sulaiman ‘Alaihis Salaam,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“..Dan dia berdo’a, “Ya Rabb- ku, anugerahkanlah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat- Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku, dan kedua orang tuaku, dan agar aku mengerjakan kebajikan yang Engkau ridhai, dan masukkanlah aku dengan rahmat- Mu ke dalam golongan hamba- hamba- Mu yang Shalih”. (QS. An- naml: 19).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat- ayat di atas menunjukkan bahwa &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;berbakti kepada kedua orang tua merupakan sifat yang menonjol dari para Nabi. Seluruh Nabii berbakti kepada kedua orang tua mereka. Dan ini menunjukkan bahwa berbakti kepada kedua orang tua adalah Syari’at yang umum.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Alloh Ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Dan Rabb- mu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah (beribadah) selain Dia, dan hendaklah berbuat baik kepada Ibu –Bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua- duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan, “Ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik. Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, ROBBI-RHAMHUMAA KAMAA ROBBAYAANII SHOGHIIROO –Wahai Rabb- ku sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil”. (QS. Al- Israa’: 23- 24).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hadits yang Diriwayatkan oleh imam al- Bukhori dalam kitab &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;al- Adab al- Mufrad&lt;/span&gt;,&lt;/span&gt; Ibnu Hibban, al- Hakim, dan at- Tirmidzi, dari Shahabat ‘Abdulloh bin ‘Amr bin al- ‘Ash Radhialloohu 'Anhuma, bahwa Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Ridho Alloh tergantung kepada ridho orang tua, dan Murka Alloh tergantung kepada murka kedua orang tua”.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Shahih&lt;/span&gt;,&lt;/span&gt; HR. al- Bukhori dalam &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;al- Adab al- Mufrad (No. 2),&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Ibnu Hibban (No. 2026/ al- Mawaarid), at- Tirmidzi (No. 1899), al- Hakim (IV/ 151- 152), beliau menshahihkannya, dan disepakati oleh imam adz- Dzahabi. Syaikh al- Albani Rahimahulloh berkata, “Hadits ini sebagaimana dikatakan keduanya (al- Hakim dan adz- Dzahabi)”. Lihat &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Shahiih al- Adabil Mufrad, (No. 2).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam al- Qurthubi Rahimahulloh secara umum mengatakan bahwa dalam berbakti kepada kedua orang tua hendaknya seorang anak menyetujui apa yang dikehendaki, dan diinginkan oleh kedua orang tuanya. Al- Fudhail bin ‘Iyadh Rahimahulloh berkata, &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“janganlah engkau mencegah apa- apa yang disenangi keduanya”.&lt;/span&gt; Ketika ditanya bagaimana tentang bentuk berbakti kepada kedua orang tua, Fudhail menjawab, &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Janganlah engkau melayani kedua orang tuamu dalam keadaan Malas”.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Abu Hurairoh Radhialloohu 'Anhu ditanya bagaimana berbakti kepada kedua orang tua, ia berkata, &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Janganlah engkau memberikan nama seperti namanya, janganlah engkau berjalan di hadapannya, dan janganlah engkau duduk sebelum dia duduk (orangtua dipersilahkan duduk terlebih dahulu_red)”&lt;/span&gt;.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Atsar Shahih:&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; HR. al- Bukhori dalam &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;al- Adabul Mufrad (No. 44/ Shahiih al- Adabil Mufrad. No. 32)&lt;/span&gt;.&lt;/span&gt; Walloohu A’lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sumber: Birrul Walidain. Hal. 33- 37, 43, 52.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Yazid bin Abdul Qadir Jawas. Pustaka at- Taqwa. Bogor.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2107481068058571539-4396914892377318549?l=buletindarulilmy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buletindarulilmy.blogspot.com/feeds/4396914892377318549/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2107481068058571539&amp;postID=4396914892377318549&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2107481068058571539/posts/default/4396914892377318549'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2107481068058571539/posts/default/4396914892377318549'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buletindarulilmy.blogspot.com/2011/03/seluruh-nabi-berbakti-kepada-kedua.html' title='Seluruh Nabi berbakti kepada kedua orang tua mereka.'/><author><name>khafidl khafidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12391092020879071145</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/__bf6ZucOoBA/TB-b6CilMiI/AAAAAAAAAaU/Sdg2fZ8YQRs/S220/085.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-TyZgevp6Wfo/TYsfexLeJkI/AAAAAAAAAm4/M5CpNawA-eY/s72-c/Digital_composite_spring_1006.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2107481068058571539.post-3461481008912661635</id><published>2011-03-21T01:57:00.000-07:00</published><updated>2011-03-21T02:29:13.857-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dienul Islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mu&apos;amalah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Admin'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='General'/><title type='text'>Obat Penawar Yang Sangat Bermanfaat.</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-q53_AJy0OuM/TYcY1tbMFWI/AAAAAAAAAmg/kswoChdTVKc/s1600/A_page_of_holy_Quran_HQ_by_tiptopland.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px; padding:3px; border:6px solid #BEBBBB;" src="http://4.bp.blogspot.com/-q53_AJy0OuM/TYcY1tbMFWI/AAAAAAAAAmg/kswoChdTVKc/s200/A_page_of_holy_Quran_HQ_by_tiptopland.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5586461173782156642" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;TERUS- MENERUS DALAM BERDO'A/.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sikap Terus- menerus dalam berdo’a termasuk obat penawar yang sangat bermanfaat.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Ibnu Majah dalam Sunan- nya meriwayatkan sebuah hadits dari Abu Hurairoh Radhialloohu 'Anhu, beliau mengatakan bahwa Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Barangsiapa yang tidak meminta kepada Alloh niscaya Alloh akan murka kepadanya”.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sunan Ibni Majah (No. 3827)&lt;/span&gt;.&lt;/span&gt; Hadits ini juga Diriwayatkan oleh at- Tirmidzi (No. 3370), al- Bukhari dalam &lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;al- Adabul Mufrad (No. 658),&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Ahmad (II/ 442 dan 477), al- Hakim (I/ 491), dan al- Baihaqi dalam &lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;ad- Da’awaatul Kabiirah (Hal. 22).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Dalam sanadnya terdapat Abu Shalih al- Khuzi. Abu Zur’ah berkomentar tentangnya, “Laa Ba’sa Bihi” (Tidak mengapa dengannya)”. Hal ini tercantum dalam Kitab, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“al- Jarh Wat Ta’diil (IX/ 393)&lt;/span&gt;.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Disebutkan pula dalam &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Shahiih al- Hakim&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; dari Anas Radhialloohu 'Anhu, bahwasanya Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Janganlah kalian lemah dalam berdo’a karena sesungguhnya tidak ada orang yang binasa dikarenakan do’a”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;.&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Al- Mustadrak (I/ 493)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;. Hadits ini Diriwayatkan pula oleh adh- Dhiya’ dalam &lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;al- Ahaadiitsul Mukhtaarah (1760 dan 1761),&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; al- ‘Uqaili dalam &lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;adh- Dhu’afaa’ (III/ 188),&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Ibnu ‘Adi dalam &lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;al- Kaamil (V/ 1674),&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Ibnu Hibban (No. 871), dan Abu Nu’aim dalam &lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Dzikr akhbaar Ashbahaan (II/ 232)&lt;/span&gt;.&lt;/span&gt; Di dalam sanadnya terdapat ‘Umar bin Muhammad bin Shuhban. Ia adalah perawi yang matruk (haditsnya ditinggalkan). Merupakan sebuah kesalahan apabila menyangka bahwa ia adalah ‘Umar bin Muhammad bin Zaid, seperti halnya pendapat al- Hakim, Ibnu Hibban, dan adh- Dhiya’. Lihat &lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Silsilatul Ahaadiits ash- Shahiihah, No. 843&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; karya Syaikh Muhammad Nashiruddin al- Albani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al- Auza’i menyebutkan dari az- Zuhri, dari ‘Urwah, dari ‘Aisyah Radhialloohu 'Anha, ia (‘Aisyah) mengatakan bahwa Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Sesungguhnya Alloh menyukai orang- orang yang terus- menerus mengulang- ulang ketika berdo’a”&lt;/span&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HR. ath- Thabrani dalam &lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;ad- Du’aa’ (Hal. 20)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;, al- ‘Uqaili dalam &lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;adh- Dhu’afaa’ (IV/ 452),&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; dan Ibnu ‘Adi (VII/ 2621). Ibnu Hajar al- Asqalani berkomentar dalam &lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;at- Talkhiishul Habiir (II/ 95):&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; “Yusuf bin Sifr bin al- Auza’i meriwayatkan hadits ini sendirian, padahal ia perawi matruk, dan bisa jadi Baqiyyah telah men-tadlis hadits ini”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-FndkHB8Mtr4/TYcZnuH3rmI/AAAAAAAAAmo/wTqMLNi_fOU/s1600/Buah_Kaligrafi_by_51face.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px; padding:3px; border:6px solid #BEBBBB;" src="http://3.bp.blogspot.com/-FndkHB8Mtr4/TYcZnuH3rmI/AAAAAAAAAmo/wTqMLNi_fOU/s200/Buah_Kaligrafi_by_51face.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5586462032963022434" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam kitab &lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;az- Zuhd&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; karya Imam Ahmad Rahimahulloh disebutkan bahwa Qatadah bercerita, “Muwarriq berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Saya tidak pernah mendapatkan suatu perumpamaan bagi orang mukmin (dalam hal berdo’a) melainkan seperti seseorang di atas kayu yang tengah mengapung di lautan, kemudian ia berdo’a :’Wahai Rabb- ku, Wahai Rabb- ku”. Ia berharap semoga Alloh menyelamatkannya”&lt;/span&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Az- Zuhd (II/ 273).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Hadits ini diriwayatkan juga oleh Abu Nu’aim dalam &lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;al- Hilyah (II/ 235).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dalam &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Shahiih al- Bukhari&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; terdapat sebuah riwayat dari Abu Hurairoh Radhialloohu 'Anhu bahwasanya Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Do’a masing- masing kalian akan dikabulkan selama ia tidak tergesa- gesa, yaitu dengan berkata, “Saya sudah berdo’a tetapi belum juga dikabulkan”.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Shahiih Bukhari, No. 5981&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;).&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam &lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Shahiih Muslim,&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; masih dari Abu Hurairoh Radhialloohu 'Anhu, Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Do’a seorang hamba akan senantiasa terkabul selama ia tidak berdo’a untuk kemaksyiatan, atau untuk memutuskan silaturrahim, dan tidak tergesa- gesa”. Para Shahabat bertanya, “Wahai Rasululloh, bagaimanakah bentuk ketergesa- gesaan yang dimaksud?” Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam menjawab, “Hamba tadi berkata: ‘Aku telah berdo’a, sungguh aku telah berdo’a, namun Alloh belum juga mengabulkan do’aku. Ia merasa jenuh dan letih, lalu akhirnya meninggalkan do’a”. (Shahiih Muslim, No. 2735)&lt;/span&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al- Hakim meriwayatkan dalam Kitab &lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;al- Mustadrak,&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; dari Ibnu ‘Umar Radhialloohu 'Anhuma, bahwasanya Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Do’a akan memberikan manfaat terhadap apa yang telah terjadi maupun yang belum terjadi. Maka hendaklah kalian berdo’a, Wahai hamba- hamba Alloh”.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Al- Mustadrak (I/ 493).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Imam adz- Dzahabi Rahimahulloh mendha’ifkan hadits ini dalam &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Talkhiish-&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; nya. Hadits ini juga diriwayatkan oleh at- Tirmidzi (No. 3548) dan dia men- dha’if- kannya. Saya (Syaikh ‘Ali Hasan bin ‘Ali al- Halabi al- Atsari_ pentahqiq (peneliti)) katakan, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Hadits ini mempunyai Syahid (penguat) dari hadits sebelumnya”. Syaikh al- Albani meng- Hasan- kannya dalam Shahiihul Jaami’, No. 3409.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih dalam kitab yang sama, yaitu dari Tsauban, Bahwasanya Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Tidak ada yang dapat menolak takdir, kecuali do’a. Tidak ada pula yang dapat menambah usia, kecuali kebajikan. Sesungguhnya seseorang itu benar- benar akan terhalang dari rizqinya karena dosa yang ia kerjakan”&lt;/span&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Al- Mustadrak (I/ 493).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah (X/ 44), Ibnu Majah (No. 4022), Ahmad (V/ 277), al- Baghawi (VI/ 13), Ibnu Hibban (No. 1090), dan al- Qudha’i (831). Silsilah perawi di dalam Sanadnya terputus. Hadits ini mempunyai penguat dari Salman yang diriwayatkan oleh at- Tirmidzi (No. 2139), at- Thahawi dalam &lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Musykilul Aatsaar (IV/ 169)&lt;/span&gt;,&lt;/span&gt; al- Qudha’i dalam &lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Musnad asy- Syihab (II/ 36),&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; serta ath- Thabrani dalam &lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;al- Kabiir (VI/ 308),&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;ad- Du’aa’ (30)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;. Di dalam sanadnya terdapat Abu Maudud, perawi yang Dha’if. Namun, hadits tadi menjadi kuat dengan adanya Syahid ini, insya Alloh. Wallohu A’lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sumber: ‘Addaa’ Wad Dawaa’. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Bab I: Hal- hal Yang Berkaitan Dengan Do’a. Hal.18- 20. Ibnu Qayyim al- Jauziyyah. Tahqiq: Syaikh ‘Ali bin Hasan bin ‘Ali al- Halabi al- Atsari. Pustaka Imam asy- Syafi’i. Jakarta.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2107481068058571539-3461481008912661635?l=buletindarulilmy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buletindarulilmy.blogspot.com/feeds/3461481008912661635/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2107481068058571539&amp;postID=3461481008912661635&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2107481068058571539/posts/default/3461481008912661635'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2107481068058571539/posts/default/3461481008912661635'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buletindarulilmy.blogspot.com/2011/03/obat-penawar-yang-sangat-bermanfaat.html' title='Obat Penawar Yang Sangat Bermanfaat.'/><author><name>khafidl khafidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12391092020879071145</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/__bf6ZucOoBA/TB-b6CilMiI/AAAAAAAAAaU/Sdg2fZ8YQRs/S220/085.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-q53_AJy0OuM/TYcY1tbMFWI/AAAAAAAAAmg/kswoChdTVKc/s72-c/A_page_of_holy_Quran_HQ_by_tiptopland.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2107481068058571539.post-4156764103744262454</id><published>2011-03-21T00:37:00.000-07:00</published><updated>2011-03-21T01:01:07.865-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dienul Islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mu&apos;amalah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='General'/><title type='text'>Hukum Mengganti Nama Setelah Dewasa.</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-5ZrANjOsyVQ/TYcE8UZS8bI/AAAAAAAAAmQ/JbXKUjdXgOg/s1600/%252832%2529.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 125px; padding:3px; border:6px solid #BEBBBB;" src="http://1.bp.blogspot.com/-5ZrANjOsyVQ/TYcE8UZS8bI/AAAAAAAAAmQ/JbXKUjdXgOg/s200/%252832%2529.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5586439297089860018" /&gt;&lt;/a&gt;Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam pernah mengganti nama beberapa Shahabat setelah dewasa. Ada banyak riwayat tentang masalah ini. Berikut kami sampaikan beberapa di antaranya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Hadits Pertama,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Ibnu Umar Radhialloohu 'Anhuma, bahwasanya Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam mengganti nama (seorang wanita) &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Ashiyah (pelaku maksyiat),&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; dan berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Engkau Jamilah (Cantik/ Indah)”.&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits ini &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Shahih&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;Diriwayatkan oleh al- Bukhori dalam &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;al- Adab al- Mufrad&lt;/span&gt;.&lt;/span&gt; Lihat kitab &lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Shahih al- Adab al- Mufrad &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;oleh Syaikh al- Albani No. 630/ 820, hal. 306. Lihat pula &lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;ash- Shahihah,&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; No. 213.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Hadits Kedua,&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dari Muhammad bin ‘Amr bin ‘Atho’ bahwasanya ia pernah menemui Zainab binti Abu Salamah, lalu Zainab bertanya kepada Muhammad tentang Nama saudara perempuannya yang ada berrsamanya. Muhammad berkata, ‘aku menjawabnya, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Namanya adalah Barroh (yang baik/ berbakti)”&lt;/span&gt;.&lt;/span&gt; Zainab berkata, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Gantilah namanya! Karena Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam menikah dengan Zainab binti Jahsy yang nama (sebelumnya) adalah Barroh, lalu beliau menggantinya menjadi Zainab”.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Beliau Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam pernah masuk menemui Ummu Salamah setelah menikah dengannya, dan namaku (dahulu juga) Barroh, kemudian beliau mendengar Ummu Salamah memanggilku, “Barroh”, maka beliau berrsabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Janganlah kalian mengganggap diri kalian Suci, karena Alloh lebih mengetahui siapa di antara kalian yang Barroh (yang baik), dan yang Fajiroh (tidak baik). Beri nama dia ‘Zainab’”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;Ummu Salamah berkata, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Dia (namanya sekarang) ‘Zainab’”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;. Aku (Muhammad bin ‘Amr) bertanya kepadanya (Zainab binti Abu Salamah), &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Lantas aku beri nama apa?” &lt;/span&gt;Zainab menjawab, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Gantilah namanya dengan nama yang telah diberikan Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam, berilah dia nama ‘Zainab’ (juga).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Hadits Shahih&lt;/span&gt;,&lt;/span&gt; Diriwayatkan oleh al- Bukhori dalam &lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;al- Adab al- Mufrad.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Lihat &lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Shahih al- Adab al- Mufrad&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; oleh Syaikh al- Albani Rahimahulloh, No. 631/ 821. Hal. 306- 307. Lihat juga &lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Silsilah al- Ahaadiits ash- Shahiihah,&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; no. 210).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Hadits Ketiga,&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dari Ibnu Abbas Radhialloohu 'Anhu,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Sesungguhnya nama Juwairiyah dahulu adalah ‘Barroh’. Lalu Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam merubah namanya menjadi Juwairiyah”.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits ini &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Shahih,&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Diriwayatkan oleh al- Bukhori dalam &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;al- Adab al- Mufrad.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Lihat &lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Shahih al- Adab al- Mufrad&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al- Albani No. 636/ 831, hal. 309. Lihat pula &lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;ash- Shahihah, no. 212&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Hadits Keempat,&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dari ‘Aisyah Radhialloohu 'Anha, pernah disebutkan seorang laki- laki yang bernama &lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;‘Syihab’&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; di sisi Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam, lalu Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Namamu adalah Hisyam”.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Hadits ini Hasan, Diriwayatkan oleh al- Bukhori dalam &lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;al- Adab al- Mufrad&lt;/span&gt;.&lt;/span&gt; Lihat &lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Shahih al- Adab al- Mufrad&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; oleh Syaikh al- Albani, No. 632/ 825, hal. 307. Lihat pula &lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;ash- Shahihah, No. 215.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Hadits Kelima,&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dari Sa’id bin al- Musayyib, dari ayahnya dari kakeknya, Bahwasanya dia (kakekknya) pernah mendatangi Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam lalu beliau bertanya, “Siapa Namamu?” ia menjawab, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Hazn (Sedih)”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;. Beliau Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam berkata, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Engkau adalah Sahl (mudah)”&lt;/span&gt;.&lt;/span&gt; Ia berkata, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Aku tidak mau mengganti nama yang telah diberikan ayahku!”&lt;/span&gt;.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnul Musayyib berkata, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Sehingga ia terus- menerus merasa sedih setelah itu”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits ini &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Shahih,&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Diriwayatkan oleh al- Bukhori dalam kitab &lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;al- Adab al- Mufrad.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Lihat &lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Shahih al- Adab al- Mufrad, No. 635/ 841, hal. 313, ash- Shahihah, no. 214.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-yqpshigMgxw/TYcFfFLyuHI/AAAAAAAAAmY/gWb5GJq76Os/s1600/%252828%2529.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 125px; padding:3px; border:6px solid #BEBBBB;" src="http://4.bp.blogspot.com/-yqpshigMgxw/TYcFfFLyuHI/AAAAAAAAAmY/gWb5GJq76Os/s200/%252828%2529.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5586439894302111858" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Hadits Keenam,&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dari Laila istri Basyir, ia bercerita tentang Basyir bin al- Khoshoyishah, yang dahulu namanya adalaah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;‘Zahm’&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;, lalu Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam menggantinya menjadi &lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;‘Basyir’&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;Hadits ini&lt;span style="font-weight:bold;"&gt; &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Shahih,&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Diriwayatkan oleh al- Bukhori dalam &lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;al- Adab al- Mufrad.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Lihat &lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Shahih al- Adab al- Mufrad, no. 635/ 830, hal 309. Ash- Shahihah, No. 2945.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Dan disebutkan pula beberapa riwayat yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kesimpulan,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari beberapa riwayat tersebut dapat disimpulkan bahwa mengganti nama seseorang hukumnya adalah &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;BOLEH apabila nama sebelumnya mengandung penyelisihan terhadap Syari'at . Hanya saja, ketika mengganti nama- nama tersebut, mereka (para Shahabat) TIDAK MENYERTAINYA DENGAN ACARA SYUKURAN ATAU RITUAL LAINNYA, sebagaimana yang banyak terjadi di tengah masyarakat dewasa ini. Andai saja acara semacam ini adalah baik, sungguh mereka dahulu pasti sudah mendahului kita dalam mengamalkannya. Dan sebaik- baik petunjuk adalah petunjuk Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Wallohu A’lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sumber: &lt;/span&gt;Majalah adz- Dzaakhiirah. Vol.8 No. 7 Edisi 61. Th. 2010/1431H. Hal.6-7. STAI Ali Bin  Abi Thalib Surabaya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2107481068058571539-4156764103744262454?l=buletindarulilmy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buletindarulilmy.blogspot.com/feeds/4156764103744262454/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2107481068058571539&amp;postID=4156764103744262454&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2107481068058571539/posts/default/4156764103744262454'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2107481068058571539/posts/default/4156764103744262454'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buletindarulilmy.blogspot.com/2011/03/hukum-mengganti-nama-setelah-dewasa.html' title='Hukum Mengganti Nama Setelah Dewasa.'/><author><name>khafidl khafidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12391092020879071145</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/__bf6ZucOoBA/TB-b6CilMiI/AAAAAAAAAaU/Sdg2fZ8YQRs/S220/085.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-5ZrANjOsyVQ/TYcE8UZS8bI/AAAAAAAAAmQ/JbXKUjdXgOg/s72-c/%252832%2529.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2107481068058571539.post-5005329839612924040</id><published>2011-03-21T00:08:00.000-07:00</published><updated>2011-03-21T00:34:29.991-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dienul Islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Admin'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='General'/><title type='text'>Larangan Memiliki (Atau memelihara) Anjing, Kecuali untuk Berburu, dan Menjaga Hewan Ternak.</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-1RTwDNK31Sg/TYb-NjrNgCI/AAAAAAAAAmA/_ukOmKfqtFs/s1600/%25286%2529.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 125px; padding:3px; border:6px solid #BEBBBB;" src="http://4.bp.blogspot.com/-1RTwDNK31Sg/TYb-NjrNgCI/AAAAAAAAAmA/_ukOmKfqtFs/s200/%25286%2529.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5586431896667914274" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;3100- 1: Shahih&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Ibnu Umar Radhialloohu 'Anhuma, dia berkata, ‘Aku telah mendengar Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Barangsiapa yang memelihara anjing kecuali anjing pemburu, atau anjing (penjaga) hewan ternak, maka pahalanya akan berkurang setiap hari sebanyak dua (2) Qirath (maksudnya sangat banyak)”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;.&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan oleh imam Malik, al- Bukhori No. 5481 namun beliau meriwayatkan dengan lafazh ‘Kecuali anjing (penjaga) hewan ternak atau terlatih (berburu)’, Muslim, at- Tirmidzi, dan an- Nasa-i.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam riwayat al- Bukhori, bahwa Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam telah bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Barangsiapa yang memelihara anjing yang bukan untuk (menjaga) hewan ternak, atau terlatih (berburu), maka (pahala) amalannya berkurang setiap hari sebanyak dua qirath”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;.&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam riwayat Muslim,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Keluarga siapa pun yang memelihara anjing kecuali anjing penjaga hewan ternak, atau anjing pemburu, maka (pahala) amalan mereka berkurang setiap hari sebanyak dua Qirath”&lt;/span&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;3101- 2: Shahih&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Hurairoh Radhialloohu 'Anhu dia berkata, Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam telah bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Barangsiapa yang memelihara anjing, maka (pahala) amalannya akan berkurang setiap hari sebanyak satu qirath, kecuali anjing (penjaga) pertanian, atau (penjaga) hewan gembala”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;.&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan oleh al- Bukhori, dan Muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Suatu Riwayat Muslim,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Siapa yang memelihara anjing yang bukan anjing berburu, anjing (penjaga) hewan gembala, dan anjing (penjaga) pertanian, maka pahalanya dikurangi sebanyak dua qirath setiap hari”&lt;/span&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;3103- 4: Shahih&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari ‘Aisyah Radhialloohu 'Anha, dia berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Jibril ‘Alaihis Salam berjanji kepada Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam pada saat tertentu untuk menemui beliau. Lalu waktu yang dijanjikan telah tiba, namun dia belum datang. ‘Aisyah berkata, ‘Waktu itu Rasululloh memegang tongkat, maka beliau melemparnya dari tangannya dalam keadaan berkata, “Alloh tidak melanggar janjinya dan tidak juga para Rasul- Nya”. Kemudian beliau berpaling, ternyata ada anak anjing di bawah ranjangnya, lantas beliau bersabda, “Kapan anjing ini masuk ke sini?” maka aku berkata, “Demi Alloh aku tidak mengetahuinya”. Lantas Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam memerintahkan untk mengusirnya, maka diusirlah anjing tersebut. Lalu Jibril datang, maka Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda, “Engkau telah berjanji kepadaku lalu aku telah lama menunggumu, namun kamu tidak datang- datang”. Maka Jibril menjawab, “Anjing yang ada di dalam rumahmu itu yang menghalangiku, kami tidak masuk rumah yang di dalamnya ada anjing dan gambar di sana”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;.&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan oleh Muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-Nv_jAvSPkAk/TYb-twCKsVI/AAAAAAAAAmI/xYj9rT9oKCE/s1600/%252814%2529.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 125px; padding:3px; border:6px solid #BEBBBB;" src="http://2.bp.blogspot.com/-Nv_jAvSPkAk/TYb-twCKsVI/AAAAAAAAAmI/xYj9rT9oKCE/s200/%252814%2529.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5586432449741238610" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;3104- 5: Shahih&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Buraidah Radhialloohu 'Anhu dia berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Jibril ‘Alaihis Salam tertahan menemui Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam lalu beliau bertanya kepadanya, “Apa yang menahanmu?” Lalu Jibril menjawab, “Kami tidak akan mesuk rumah yang di dalamnya ada anjing”.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan oleh Ahmad, dan para perawinya perawi ash- Shahih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;3105- 6: Shahih&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Hurairoh Radhialloohu 'Anhu dia berkata, Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Jibril mendatangiku lantas berkata, “Aku semalam akan menemuimu, maka tidak ada yang mencegahku untuk menemuimu di rumah kediamanmu kecuali (disebabkan) gambar seorang laki- laki di rumahmu”. Memang di rumah tersebut ada kain tipis penutup yang bergambar makhluk hidup, dan juga ada anjing. Oleh karena itu, hendaknya engkau perintahkan mengambil kepala gambar yang di pintu tersebut lalu dipotong sehingga menjadi seperti bentuk pohon, dan perintahkan kain penutup tersebut untuk dipotong dan dijadikan dua sarung bantal yang dijadikan sandaran dan tempat duduk, serta perintahkan mengusir anjing lalu dikeluarkan (dari rumah)”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Lalu Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam melaksanakannya. Anjing tersebut adalah anak anjing milik al- Hasan atau al- Husain di bawah ranjang beliau, lalu beliau memerintahkan untuk mengeluarkannya, maka ia dikeluarkan”.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan oleh Abu Dawud, at- Tirmidzi, danini lafazh beliau. Dan beliau berkata, &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Hadits Hasan Shahih”&lt;/span&gt;.&lt;/span&gt; Juga Diriwayatkan oleh an- Nasa-i, dan Ibnu Hibban dalam Shahih-nya. Wallohu A’lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sumber: &lt;/span&gt;‘Shahih at- Targhiib Wa at- Tarhiib 5’. Bab. 41. Larangan Memelihara Anjing. Hal. 421- 425. Syaikh Muhammad Nashiruddin al- Albani. Pustaka Shahifa. Jakarta.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2107481068058571539-5005329839612924040?l=buletindarulilmy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buletindarulilmy.blogspot.com/feeds/5005329839612924040/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2107481068058571539&amp;postID=5005329839612924040&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2107481068058571539/posts/default/5005329839612924040'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2107481068058571539/posts/default/5005329839612924040'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buletindarulilmy.blogspot.com/2011/03/larangan-memiliki-atau-memelihara.html' title='Larangan Memiliki (Atau memelihara) Anjing, Kecuali untuk Berburu, dan Menjaga Hewan Ternak.'/><author><name>khafidl khafidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12391092020879071145</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/__bf6ZucOoBA/TB-b6CilMiI/AAAAAAAAAaU/Sdg2fZ8YQRs/S220/085.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-1RTwDNK31Sg/TYb-NjrNgCI/AAAAAAAAAmA/_ukOmKfqtFs/s72-c/%25286%2529.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2107481068058571539.post-8232862131755052635</id><published>2011-02-28T20:43:00.000-08:00</published><updated>2011-02-28T21:05:05.691-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dienul Islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Admin'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='General'/><title type='text'>Batasan Berbohong Kepada Istri</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-XzzLNKgSmjM/TWx9x0GKKaI/AAAAAAAAAl4/oE7unFudC2s/s1600/%252812%2529.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 125px; padding:3px; border:6px solid #BEBBBB;" src="http://4.bp.blogspot.com/-XzzLNKgSmjM/TWx9x0GKKaI/AAAAAAAAAl4/oE7unFudC2s/s200/%252812%2529.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5578972333156739490" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Seorang suami boleh berbohong kepada istrinya dalam rangka menyenangkan perasaan istrinya dan dalam rangka memperdalam rasa kasih sayang antara keduanya.&lt;/span&gt; Hal itu berdasarkan hadits Ummu Kultsum binti ‘Uqbah Radhialloohu 'Anha, ia berkata, “Saya belum pernah mendengar Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam membolehkan dusta sedikitpun kecuali dalam tiga keadaan, beliau mengatakan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Aku tidak menganggap sebuah dusta, (1) Seorang yang mendamaikan antara manusia, ia mengatakan sesuatu yang tujuannyatidak lain adalah memperbaiki hubungan manusia. Begitu pula (2) seorang yang mengatakan sesuatu dalam peperangan. Dan juga (3) Seseorang suami yang mengatakan sesuatu untuk istrinya serta seorang istri yang mengatakan sesuatu untuk suaminya”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Shahih&lt;/span&gt;, Diriwayatkan oleh al- Bukhori dan Muslim, serta Abu Dawud (XIII/ 263), an- Nasa-i dan Ahmad (VI/ 404), Ibnu Jarir dalam &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Tahdzibul Atsar&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;(III/ 131- 132&amp; 133), &lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;al- Khatib dalam al- Kifayah&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; (180- 181), dan selain mereka. Ada penyerta baginya dari Hadits Asma’ binti Yazid Radhialloohu 'Anha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikeluarkan oleh at- Tirmidzi (VI/ 68), Ahmad (VI/ 454, 459, 461), Ibnu Jarir dalam &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Tahdzibul Atsar&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; (III/ 128). At- Tirmidzi berkata, “Hadits Hasan, kami tidak mengetahui hadits Asma’ ini kecuali dari jalur Ibnu Khutseim”. Saya (Abu Ishaq al- Huweini al- Atsary_ penulis.red) katakan, “Ibnu Khutseim ini namanya adalah Abdulloh bin Utsman, &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;seorang perawi Tsiqah insya ALLOH&lt;/span&gt;. Ucapan an- Nasa-i mengesankan ia bukan seorang hafizh sebagaimana yang telah saya jelaskan dalam &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Badzlul Ihsan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun sanad dalam hadits tersebut terdapat Syahr bin Hausyab, ia banyak dikomentari negatif oleh para Imam. Barangkali at- Tirmidzi menghasankannya karena banyaknya penyerta yang menguatkannya. Wallohu a’lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkenaan dengan hadits di atas, Imam an- Nawawi Rahimahulloh berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Adapun masalah berbohongnya suami kepada istrinya, dan berbohongnya istri kepada suaminya maksudnya adalah dalam kaitannya mengungkapkan rasa cinta, janji- janji yang tidak mengikat, dan sejenisnya. Adapun bohong yang berbau tipu muslihat untuk menghalangi hak salah satu dari keduanya, atau dalam rangka merampas yang bukan haknya, maka hal itu HARAM hukumnya menurut kesepakatan kaum muslimin”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;. (Lihat Syarah Muslim, karya Imam an- Nawawi).&lt;/blockquote&gt; Wallohu a’lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: ‘Bekal- bekal menuju pelaminan mengikuti Sunnah”. Hal. 126- 128. Abu Ishaq al- Huwaini al- Atsari. Pustaka at- Tibyan. Solo.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2107481068058571539-8232862131755052635?l=buletindarulilmy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buletindarulilmy.blogspot.com/feeds/8232862131755052635/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2107481068058571539&amp;postID=8232862131755052635&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2107481068058571539/posts/default/8232862131755052635'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2107481068058571539/posts/default/8232862131755052635'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buletindarulilmy.blogspot.com/2011/02/batasan-berbohong-kepada-istri.html' title='Batasan Berbohong Kepada Istri'/><author><name>khafidl khafidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12391092020879071145</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/__bf6ZucOoBA/TB-b6CilMiI/AAAAAAAAAaU/Sdg2fZ8YQRs/S220/085.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-XzzLNKgSmjM/TWx9x0GKKaI/AAAAAAAAAl4/oE7unFudC2s/s72-c/%252812%2529.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2107481068058571539.post-7238173702164030999</id><published>2011-02-24T23:22:00.000-08:00</published><updated>2011-02-24T23:33:53.718-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dienul Islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mu&apos;amalah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='General'/><title type='text'>Seandainya kedua orang tua Menyuruh untuk Bercerai.</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-Y3pDFwbILLo/TWdbOhkKXsI/AAAAAAAAAlw/UZLgkzm9V-4/s1600/ruangan.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px; padding:3px; border:6px solid #BEBBBB;" src="http://2.bp.blogspot.com/-Y3pDFwbILLo/TWdbOhkKXsI/AAAAAAAAAlw/UZLgkzm9V-4/s200/ruangan.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5577526968607989442" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Apabila kedua orang tua menyuruh anak untuk menceraikan istrinya, apakah harus ditaati atau tidak..?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bawah ini dibawakan beberapa hadits Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam, di antaranya hadits yang Diriwayatkan oleh imam at- Tirmidzi dan Abu Dawud dari Ibnu ‘Umar Radhialloohu 'Anhuma, dia berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Aku mempunyai seorang istri dan aku mencintainya, sedangkan ‘Umar tidak suka kepada istriku. ‘Umar berkata kepadaku, ‘Ceraikan istrimu!’. Aku pun enggan, maka ‘Umar datang kepada Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam dan menceritakannya, kemudian Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam berkata kepadaku, ‘Ceraikan istrimu!&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;’&lt;br /&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Hasan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;, HR. Ahmad (II/ 42, 53, 157), Abu Dawud (No. 5138), at- Tirmidzi (No. 1189), Ibnu Majah (No. 2088), ath- Thahawi dalam &lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Syarh Musykiilul aatsaar&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; (No. 1386), Ibnu Hibban (No. 2024, 2025/ &lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;al- Mawaarid&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;), dan (No. 427, 428/ at- Ta’liqaatul Hisaan), dan al- Hakim (II/ 197), at- Tirmidzi berkata, “Hadits Hasan Shahih”. Hadits ini dihasankan oleh Syaikh al- Albani Rahimahulloh dalam &lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Silsilah al- Ahaadiits ash- Shahiihah&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;, No. 919.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Diriwayatkan dari Abud Darda’ Radhialloohu 'Anhu ketika ada seorang yang datang kepadanya dan berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Sesungguhnya aku mempunyai seorang istri dan ibuku  menyuruhku agar menceraikannya”. Maka beliau berkata, “Aku mendengar Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda, ‘Orang tua itu adalah sebaik- baik pintu Surga, Jika engkau sanggup, maka jangan kau sia- siakan pintu itu atau jagalah ia”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Shahih&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;, HR. at- Tirmidzi No. 1900, dan selainnya. Beliau mengatakan, “Hadits ini Hasan Shahih”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits ini dijadikan dalil oleh sebagian ulama bahwa seandainya orang tua kita menyuruh untuk menceraikan istri kita, maka wajid ditaati. (Lihat &lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Nailul Authaar&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;, VII/ 4).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini terjadi bukan hanya para zaman Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam saja tetapi juga pada zaman Nabi Ibrahim ‘alaihis Salaam. Ketika Nabii Ibrahim ‘alaihis Salaam berkunjung ke rumah anaknya, Isma’il ‘alaihis Salaam, dan anaknya saat itu tidak ada di tempat, lalu Nabii Ibrahim ‘Alaihis Salaam berkata kepada istri Isma’il ‘Alaihis Salaam,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Sampaikan pada suamimu hendaklah dia mengganti palang pintu ini”&lt;/span&gt;.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;Ketika Isma’il datang, istrinya mengatakan bahwa ada orang tua yang datang menyuruhnya mengganti palang pintu rumahnya. Isma’il kemudian mengatakan bahwa orang tua yang datang itu adalah ayahnya yang menyuruhnya untuk menceraikan istrinya”. (&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Shahih&lt;/span&gt;,&lt;/span&gt; HR. al- Bukhori, No. 3364).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian ulama yang lain mengatakan bahwa jika orang tua kita menyuruh menceraikan istri, maka tidak harus ditaati. (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Masaa-il Min Fiqhil Kitaab Was Sunnah&lt;/span&gt;,&lt;/span&gt; Hal. 96- 97).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahulloh ketika ditanya tentang seseorang yang sudah memiliki istri dan anak, kemudian ibunya tidak suka kepada istrinya dan mengisyaratkan agar menceraikannya. Beliau rahimahulloh berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Dia tidak boleh menthalaq (menceraikan) istrinya karena mengikuti perintah ibunya. Menceraikan istri tidak termasuk berbakti kepada ibu”.&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;(Majmuu’ Fatawaa, XXXIII/ 112).&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada seseorang bertanya kepada Imam Ahmad Rahimahulloh, “Apakah boleh menceraikan istri karena kedua orang tua menyuruh untuk menceraikannya?” Dikatakan oleh Imam Ahmad,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Engkau tidak boleh menthalaq (menceraikan)nya”.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Orang tersebut bertanya lagi, “Tetapi, bukankah ‘Umar pernah menyuruh anaknya agar menceraikan istrinya?”. Imam Ahmad berkata, &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Engkau boleh mentaati orang tuamu, jika bapakmu sama dengan ‘Umar karena ‘Umar memutuskan sesuatu tidak dengan hawa nafsu”.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Masaa-il Min Fiqhil Kitaab Was Sunnah&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;, Hal. 97).&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permasalahan mentaati perintah orang tua ketika diminta untuk menceraikan istri, sudah berlangsung sejak lama. Oleh karena itu, para imam (a- Immah) sudah menjelaskan penyelesaian dari permasalahan tersebut. Pada zaman Imam Ahmad (abad ke 2H) dan zaman Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (abad ke 7H) rahimahumulloh permasalahan ini sudah terjadi dan sudah dijelaskan bahwa &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;TIDAK BOLEH TAAT KEPADA KEDUA ORANG TUA UNTUK MENCERAIKAN ISTRI KARENA HAWA NAFSU&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;. Kecuali jika istri tidak taat pada suami, berbuat zhalim, berbuat kefasikan, tidak mengurus anaknya, berjalan dengan laki- laki lain, tidak memakai jilbab (tabarruj), jarang sholat, dan suami sudah menasehati serta mengingatkan tetapi istri tetap saja nusyuz (durhaka), maka perintah untuk menceraikan istri wajib ditaati. Walloohu A’lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: ‘Birrul Walidain: Bab 10: Seandainya Orang Tua menyuruh bercerai. Yazid bin Abdul Qadir Jawas. Hal 99- 103. Pustaka at- Taqwa. Bogor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;﻿&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2107481068058571539-7238173702164030999?l=buletindarulilmy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buletindarulilmy.blogspot.com/feeds/7238173702164030999/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2107481068058571539&amp;postID=7238173702164030999&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2107481068058571539/posts/default/7238173702164030999'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2107481068058571539/posts/default/7238173702164030999'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buletindarulilmy.blogspot.com/2011/02/seandainya-kedua-orang-tua-menyuruh.html' title='Seandainya kedua orang tua Menyuruh untuk Bercerai.'/><author><name>khafidl khafidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12391092020879071145</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/__bf6ZucOoBA/TB-b6CilMiI/AAAAAAAAAaU/Sdg2fZ8YQRs/S220/085.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-Y3pDFwbILLo/TWdbOhkKXsI/AAAAAAAAAlw/UZLgkzm9V-4/s72-c/ruangan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2107481068058571539.post-4145958919386502886</id><published>2011-02-24T23:01:00.000-08:00</published><updated>2011-02-24T23:21:18.068-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dienul Islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mu&apos;amalah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='General'/><title type='text'>Tidak boleh sesuatu yang dilarang itu LEBIH BESAR (dosanya) daripada keadaan darurat.</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-UqEcgmLk3hg/TWdV5A-R7HI/AAAAAAAAAlo/KNUWoUVoxNo/s1600/%252829%2529.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 125px; padding:3px; border:6px solid #BEBBBB;" src="http://3.bp.blogspot.com/-UqEcgmLk3hg/TWdV5A-R7HI/AAAAAAAAAlo/KNUWoUVoxNo/s200/%252829%2529.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5577521101523774578" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Hukum meminjam Uang dari bank Ribawi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Tanya Jawab bersama Syaikh Prof. Dr. Sulaiman ar- Ruhaily Hafidzohulloh).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Sulaiman ar- Ruhaily hafidzohulloh pernah ditanya seputar fatwa yang beredar di Eropa, tentang bolehnya seseorang untuk meminjam uang dari Bank Ribawi, bila ia terdesak dalam menggunakannya, misalnya untuk memiliki tempat tinggal, dengan alasan bahwa tempat tinggal merupakan kebutuhan yang sangat mendesak (primer), dan mendekati keadaan darurat. Sedangkan kaidah berkata, “Keadaan darurat itu membolehkan hal- hal yang dilarang”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau menjawab:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Fatwa ini tidaklah benar, akan tetapi yang benar menurutku –Wallohu Ta’ala A’lamu- Bahwa Riba itu tidak bisa dibolehkan dengan alasan keadaan darurat. Karena di antara syarat darurat yang membolehkan hal- hal yang dilarang adalah tidak boleh sesuatu yang dilarang itu LEBIH BESAR (dosanya) daripada keadaan darurat.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh: seandainya ada orang yang kelaparan dan tidak mendapati makanan, kemudian ia menjumpai jasad Nabi yang sudah meninggal, apakah boleh dia memakannya? Demikianlah para ulama membuat contoh untuk memperjelas masalah, meskipun terkadang contoh itu jauh dari kenyataan. Maka tidak boleh bagi orang yang kelaparan itu untuk memakan jasad Nabi, hal itu dikarenakan kehormatan Nabi lebih besar dan lebih mulia dari pada menjaga hidup orang yang kelaparan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dalam hal ini, riba pun demikian dengan beberapa alasan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Alasan Pertama, Sesungguhnya Riba adalah dosa besar yang Alloh ta’ala dan Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam menyatakan perang terhadapnya, yang mana Alloh dan Rasul- Nya tidak pernah menyatakan perang terhadap suatu dosa secara bersamaan kecuali terhadap RIBA.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Ya memang ada hadits yang menyatakan bahwa Alloh ta’ala mengumumkan perang terhadap dosa selain Riba yaitu hadits,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Barangsiapa memusuhi wali- Ku, maka Aku menyatakan perang terhadapnya”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi hadits ini Alloh menyatakan perang terhadap orang yang memusuhi wali- Nya dengan Diri- Nya sendiri, tanpa Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam. Berbeda dengan riba, yang di situ dinyatakan perang dari Alloh dan Rasul- Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini merupakan ancaman besar bagi pelaku Riba, juga menunjukkan bahwa Riba tidak bisa dibolehkan dengan alasan darurat. Di antara hadits- hadits lain yang menunjukkan besarnya ancaman Riba adalah,&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Dirham yang dihasilkan dari Riba itu lebih besar dosanya di sisi Alloh daripada dosa tiga puluh enam (36) wanita pezina”.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; (al- Jami’ al- Kabir Lis Suyuthi 1/ 12433, al- Baihaqi dalam Su’abul Iman, 4/ 393).&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam riwayat yang lain,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Dosa Riba yang paling ringan adalah seperti orang yang berzina dengan Ibunya di depan Ka’bah”&lt;/span&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Riwayat ini dikuatkan oleh syaikh al- Albani dan selainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sini bisa dipetik kesimpulan bahwa sebuah dosa yang sampai pada derajat ini tidak bisa dibolehkan dengan alasan darurat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Alasan kedua, Sesungguhnya meminjam uang dari Bank Ribawi bukanlah satu- satunya solusi dari masalah ini.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Karena seseorang bisa saja memiliki rumah dengan cara lain. Misalnya dengan cara menyewa, karena banyak kita jumpai hamba- hamba Alloh yang tidak memiliki rumah, tapi mereka bisa bertempat tinggal dengan cara mengontrak (sewa) dan mereka terhindar dari kesulitan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi pendapat yang rajih menurutku dalam masalah ini setelah saya teliti dan saya cermati, adalah bahwa:&lt;span style="font-weight:bold;"&gt; &lt;span style="font-style:italic;"&gt;dalam Maasalah Riba, tidak ada dalil yang membolehkannya meskipun dalam kondisi darurat. Bahkan para ulama menetapkan bahwa syarat darurat yang membolehkan hal yang terlarang tidak terpenuhi dalam masalah ini.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;, Wallohu A’lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: ‘Soal Jawab Bersama Syaikh Prof. Dr. Sulaiman ar- Ruhaily’. Majalah Dakwah adz- Dzakhiirah. Vol.8 No. 10 edisi 64. Th 1431H/ 2010. Hal. 5-6. STAI Ali bin Abi Thalib. Surabaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;﻿&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2107481068058571539-4145958919386502886?l=buletindarulilmy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buletindarulilmy.blogspot.com/feeds/4145958919386502886/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2107481068058571539&amp;postID=4145958919386502886&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2107481068058571539/posts/default/4145958919386502886'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2107481068058571539/posts/default/4145958919386502886'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buletindarulilmy.blogspot.com/2011/02/tidak-boleh-sesuatu-yang-dilarang-itu.html' title='Tidak boleh sesuatu yang dilarang itu LEBIH BESAR (dosanya) daripada keadaan darurat.'/><author><name>khafidl khafidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12391092020879071145</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/__bf6ZucOoBA/TB-b6CilMiI/AAAAAAAAAaU/Sdg2fZ8YQRs/S220/085.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-UqEcgmLk3hg/TWdV5A-R7HI/AAAAAAAAAlo/KNUWoUVoxNo/s72-c/%252829%2529.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2107481068058571539.post-8511125174642362039</id><published>2011-02-22T02:42:00.000-08:00</published><updated>2011-02-22T02:58:39.423-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dienul Islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mu&apos;amalah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Admin'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='General'/><title type='text'>Orang- orang yang dibolehkan Meminta- minta</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-yttU8Pm4q-g/TWOV2RhquNI/AAAAAAAAAlg/ja11rcDd0-4/s1600/%25287%2529.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 125px; padding:3px; border:6px solid #BEBBBB;" src="http://1.bp.blogspot.com/-yttU8Pm4q-g/TWOV2RhquNI/AAAAAAAAAlg/ja11rcDd0-4/s200/%25287%2529.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5576465523264895186" /&gt;&lt;/a&gt;Diriwayatkan dari Shahabat Qabishah bin Mukhariq al- Hilali Radhialloohu 'Anhu ia berkata, “Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Wahai Qabishah! Sesungguhnya meminta- minta itu tidak Halal, kecuali bagi salah satu dari tiga (3) orang, &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(1) Seseorang yang menanggung hutang orang lain, ia boleh meminta- minta sampai ia melunasinya, kemudian berhenti, (2) Seseorang yang ditimpa musibah yang menghabiskan hartanya, ia boleh meminta- minta sampai ia mendapatkan sandaran hidup, dan (3) Seseorang yang ditimpa kesengsaraan hidup sehingga ada tiga (3) orang yang berakal dari kaumnya mengatakan, ‘Si Fulan telah ditimpa kesengsaraan hidup’,&lt;/span&gt; ia boleh meminta- minta sampai mendapatkan sandaran hidup. Meminta- minta selain untuk ketiga hal itu, wahai Qabishah! Adalah Haram, dan orang yang memakannya adalah memakan yang haram”&lt;/span&gt;.&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Shahih&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;, HR. Muslim No. 1044, Abu Dawud No. 1640, Ahmad (III/ 477), V/ 60, an- Nasa-i (V/ 89- 90), ad- Darimi (I/ 396), Ibnu Khuzaimah (No. 2359, 2360, 2361, 2375), Ibnu Hibban (No. 3280, 3386, 3387- &lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;at- Ta’liqaatul Hisaan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;), dan Selainnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fawaa-id Hadits:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1)  &lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Hadits ini menunjukkan bahwa meminta- minta adalah haram, tidak dihalalkan, kecuali untuk tiga orang,&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Seseorang yang menanggung hutang dari orang lain, baik karena menanggung diyat orang maupun untuk mendamaikan antara dua kelompok yang saling memerangi. Maka ia boleh meminta- minta meskipun ia orang kaya. Seseorang yang hartanya tertimpa musibah, atau tertimpa paceklik dan gagal panen secara total, maka ia boleh meminta- minta sampai ia mendapatkan sandaran hidup, Seseorang yang menyatakan bahwa dirinya ditimpa kemelaratan, maka apabila ada tiga orang yang berakal dari kaumnya memberi kesaksian atas itu, maka ia boleh meminta- minta sampai ia mendapatkan sandaran hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;2)  Meminta- minta selain dari tiga hal tersebut adalah tidak dihalalkan. Berdasarkan hadits ini, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;sesungguhnya meminta- minta hukumnya haram, dan apa yang ia makan dari hasil meminta- minta itu adalah haram.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3)  Tidak boleh memberikan zakat kepada orang kaya, kecuali orang tersebut memiliki tiga kriteria di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;4)  Seorang imam (pemimpin) berkewajiban memberikan nasihat dan bimbingan kepada rakyat dan bawahannya, serta memerintahkan mereka untuk saling tolong- menolong dalam kebajikan dan ketakwaan serta memenuhi kebutuhan orang- orang yang membutuhkan. (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Taudhiihul Ahkaam&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;, III/ 427- 428) dan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Bahjatun Naazhiriin&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;, I/ 594- 595).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Di antara bentuk minta- minta yang dibolehkan adalah meminta derma atau sumbangan kepada orang- orang kaya untuk kepentingan kaum muslimin, bukan untuk kepentingan pribadi.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Di antaranya untuk membangun pondok pesantren, membangun masjid atau musholla, panti- panti asuhan, sekolah- sekolah, madrasah- madrasah dan lainnya. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Tetapi caranya bukan minta dipinggir- pinggir jalan, karena cara yang demikian tidak dibenarkan, tidak ada contoh dari shalafush Shalih memaksa- maksa orang untuk bersedekah.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Sebenarnya cara- cara seperti ini membuat malu dan merusak nama baik agama Islam serta mengganggu jalan kaum muslimin. Dan terkadang ada yang mencari sumbangan dengan cara- cara yang diharamkan seperti dengan memainkan musik, konser amal, lagu, ikhtilath (campur baur laki- laki dan perempuan), tabarruj (membuka aurat), dan terkadang orang- orang yang meminta sumbangan tersebut tidak sholat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Solusinya: mestinya orang- orang kaya tersebut didatangi, lalu mereka diminta untuk membantu baik dengan mewakafkan tanah dan membangun untuk satu masjid atau pondok pesantren atau dengan memberikan bantuan berupa uang tunai. Wallohu a’lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sumber: Hukum Meminta- minta dan Mengemis dalam Syari’at Islam. Hal. 49- 52. Yazid bin Abdul Qadir Jawas. Pustaka at- Taqwa. Bogor.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2107481068058571539-8511125174642362039?l=buletindarulilmy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buletindarulilmy.blogspot.com/feeds/8511125174642362039/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2107481068058571539&amp;postID=8511125174642362039&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2107481068058571539/posts/default/8511125174642362039'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2107481068058571539/posts/default/8511125174642362039'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buletindarulilmy.blogspot.com/2011/02/orang-orang-yang-dibolehkan-meminta.html' title='Orang- orang yang dibolehkan Meminta- minta'/><author><name>khafidl khafidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12391092020879071145</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/__bf6ZucOoBA/TB-b6CilMiI/AAAAAAAAAaU/Sdg2fZ8YQRs/S220/085.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-yttU8Pm4q-g/TWOV2RhquNI/AAAAAAAAAlg/ja11rcDd0-4/s72-c/%25287%2529.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2107481068058571539.post-5807427016306995780</id><published>2011-02-15T06:01:00.000-08:00</published><updated>2011-02-15T06:10:00.615-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dienul Islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='General'/><title type='text'>Mengusapkan Telapak Tangan ke Wajah Seusai Sholat</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Soal: Apakah disyari’atkan mengusapkan Telapak Tangan ke Wajah Seusai Berdo’a?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawab:&lt;br /&gt;Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahulloh berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;“&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Banyak hadits Shahih yang menceritakan bahwasanya Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam mengangkat tangannya saat berdo’a (Syarat&amp; Ketentuan berlaku_red). Adapun mengenai mengusap wajah dengan telapak tangan seusai berdo’a hanya ada satu atau dua hadits yang lemah (dho’if) sehingga tidak bisa dijadikan hujjah”.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt; (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Majmu’ Fatawa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, 22/ 519)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Abdul Aziz bin Abdulloh bin Baaz Rahimahulloh berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;"Tidak ada satupun hadits yang shahih yang menerangkan tentang mengusap tangan ke wajah. Yang ada hanyalah beberapa hadits yang lemah. Oleh karena itu yang rajih (kuat) adalah agar seseorang itu tidak mengusapkan telapak tangannya ke wajah, hanya saja sebagian ulama mengatakan bahwa hal itu tidak mengapa karena hadits- hadits tersebut walaupun dho’if namun saling menguatkan, maka bisa terangkat menjadi hadits hasan lighoirihi, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Hajar al- ‘Asqalani Rahimahulloh dalam Kitab Bulughul Maram bab terakhir. Kesimpulannya tidak ada satupun hadits shahih yang mensyari’atkan mengusap wajah selesai berdo’a. Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam tidak pernah melakukannya baik saat sholat istisqo’, juga tidak pada saat lainnya misalnya saat berada di bukit Shofa, Marwa, di Padang Arofah, Muzdalifah, melempar Jumroh. Maka lebih baiknya hal itu ditinggalkan”&lt;/span&gt;.&lt;/span&gt; &lt;/blockquote&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(Lihat Fatawa Islamiyyah, 4/ 184, Majmu’ Fatawa Syaikh Bin Baaz 11/ 184)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits yang dimaksud di atas adalah apa yang disebutkan oleh al- Hafidz Ibnu Hajar al- ‘Asqalani Rahimahulloh dalam Bulughul Marom, No. 1466:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari ‘Umar Radhialloohu 'Anhu berkata, “Apabila Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam mengangkat tangannya saat berdo’a, maka beliau tidak menurunkannya sehingga mengusapkan pada wajahnya”. (HR. Abu Dawud, 1485, at- Tirmidzi: 3386, al- hakim: 1/ 719).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits ini Dho’if sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan Syaikh Muhammad Nashiruddin al- Albani Rahimahulloh dalam Dho’if Sunan Abu Dawud, Hal. 112). Lihat Fiqh Ad’ iyah Wal Adzkar 2/ 195, dan Syaikh Abu Bakr Abu Zaid mempunyai sebuah risalah khusus mengenai hal ini  dengan judul Juz Fii Mashil Wajh Bil Yadain Ba’da Rofihima Liddu’a. Wallohu A’lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: ‘Mengangkat Tangan Saat Berdo’a: antara Pembela dan Pencela”. Ahmad Sabiq bin Abdul Lathif Abu Yusuf. Majalah Al- Furqon Edisi 8/ tahun IV. Hal. 36.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;﻿&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2107481068058571539-5807427016306995780?l=buletindarulilmy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buletindarulilmy.blogspot.com/feeds/5807427016306995780/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2107481068058571539&amp;postID=5807427016306995780&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2107481068058571539/posts/default/5807427016306995780'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2107481068058571539/posts/default/5807427016306995780'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buletindarulilmy.blogspot.com/2011/02/mengusapkan-telapak-tangan-ke-wajah.html' title='Mengusapkan Telapak Tangan ke Wajah Seusai Sholat'/><author><name>khafidl khafidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12391092020879071145</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/__bf6ZucOoBA/TB-b6CilMiI/AAAAAAAAAaU/Sdg2fZ8YQRs/S220/085.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2107481068058571539.post-4016065784881989616</id><published>2011-02-15T05:55:00.000-08:00</published><updated>2011-02-15T05:58:00.525-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dienul Islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mu&apos;amalah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='General'/><title type='text'>Keutamaan Pemberi Tempo dan Pembebas Hutang.</title><content type='html'>Pemberi hutang hendaknya memaklumi, orang yang berutang ada yang kaya dan ada yang miskin. Orang miskin boleh jadi belum mampu membayar tepat waktu bahkan mungkin tidak bisa membayar karena kemiskinannya. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sebab itu, barangsiapa yang memberi kelonggaran kepada mereka atau membebaskannya, kelak Alloh Ta’ala akan menggantinya dengan yang lebih banyak dan dia mendapatkan kenikmatan di Akhirat.&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Di bawah ini adalah keutamaan bagi pemberi hutang yang memberi tempo –kepada yang belum mampu membayar- dan yang mampu membebaskannya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Dijamin masuk Surga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hudzaifah Radhialloohu 'Anhu berkata, Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;“Malaikat mencabut ruh orang yang meninggal sebelum kalian, lalu mereka (Malaikat) menanya, “Apakah kamu tahu perbuatanmu yang baik?” Dia (orang itu) menjawab, “Aku tidak tahu”. Mereka berkata, “Ingat- ingatlah kebaikanmu!” Lalu dia menjawab, “Aku menghutangi orang lalu aku menyuruh budakku agar memberi tempo bagi orang yang belum mampu dan membebaskan sebagian hutang”. Maka Alloh berkata, “Bebaskan dia dari Neraka”.&lt;/blockquote&gt; &lt;span style="font-style:italic;"&gt;(HR. Muslim: 2917)&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Dosanya diampuni&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits dari Abu Hurairoh Radhialloohu 'Anhu, Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;“Ada seorang pedagang yang (biasa) menghutangi orang. Jika orang (yang dihutangi) itu belum mampu membayar, dia berkata kepada budaknya, “Maafkan dia, semoga Alloh memaafkan kita”. Maka Alloh mengampuni dosanya”.&lt;/blockquote&gt; (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;HR. al- Bukhori: 1936)&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Meraih Naungan dari Alloh pada hari Kiamat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits dari Abu Hurairoh Radhialloohu 'Anhu, Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;“Barangsiapa yang memberi tempo kepada orang yang belum mampu membayar hutang atau dia membebaskannya, maka Alloh akan menaungi dia pada hari Kiamat di bawah naungan ‘Arys- Nya pada suatu hari yang tidak ada naungan kecuali naungan- Nya”.&lt;/blockquote&gt; &lt;span style="font-style:italic;"&gt;(HR. at- Tirmidzi :1227, dishahihkan oleh Syaikh al- Albani Rahimahulloh dalam Silsilah ash- Shahiihah: 909).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Setiap hariya dicatat seperti orang yang Bersedekah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buraidah Radhialloohu 'Anhu berkata, Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;“Barangsiapa yang memberi tempo kepada orang yang belum mampu membayar hutang, maka dia setiap hari mendapatkan pahala seperti orang yang bersedekah semisal barang yang dihutang”. &lt;/blockquote&gt;(&lt;span style="font-style:italic;"&gt;HR. Ahmad: 21968, dishahihkan oleh Syaikh al- Albani Rahimahulloh dalam Shahih at- Targhib: 1/ 221).&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Berlipat ganda pahala Sedekahnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buraidah Radhialloohu 'Anhu berkata, Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Barangsiapa yang memberi tempo kepada orang yang belum mampu membayar hutang, maka dia dicatat setiap harinya seperti orang yang bersedekah sebesar barang yang dihutang sampai dibayar hutang itu. Jika tiba waktunya membayar pemberi hutang memberi tempo lagi maka setiap harinya ia sepeerti bersedekah dua kali dari harta yang dihutang”. &lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/span&gt;(&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Lihat Musykilul Atsar karya Imam ath- Thohawi Rahimahulloh, 8/ 304, dishahihkan oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al- Albani Rahimahulloh dalam Silsilah ash Shahiihah, 86).&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: ‘Sudahkah Kau Bayar Hutangmu”. Ust. Aunur Rofiq bin Ghufron. Majalah Al- Furqon.07/th8/1430-2009/ hal. 12-13. Ma’had Al- Furqon. Gresik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;﻿&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2107481068058571539-4016065784881989616?l=buletindarulilmy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buletindarulilmy.blogspot.com/feeds/4016065784881989616/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2107481068058571539&amp;postID=4016065784881989616&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2107481068058571539/posts/default/4016065784881989616'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2107481068058571539/posts/default/4016065784881989616'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buletindarulilmy.blogspot.com/2011/02/keutamaan-pemberi-tempo-dan-pembebas_15.html' title='Keutamaan Pemberi Tempo dan Pembebas Hutang.'/><author><name>khafidl khafidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12391092020879071145</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/__bf6ZucOoBA/TB-b6CilMiI/AAAAAAAAAaU/Sdg2fZ8YQRs/S220/085.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2107481068058571539.post-1556571772255058023</id><published>2011-02-15T05:41:00.000-08:00</published><updated>2011-02-15T05:51:58.066-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dienul Islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mu&apos;amalah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='General'/><title type='text'>Seorang Mukmin tidak akan ditambah umurnya kecuali karena memilliki kebaikan</title><content type='html'>Orang tua yang mukmin memiliki kedudukan di sisi Alloh dan tidaklah ditambah umurnya melainkan karena dia memiliki kebaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sangat banyak hadits- hadits yang datang dari Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam yang menyatakan bahwa seorang mukmin tidak akan ditambah umurnya kecuali karena memiliki kebaikan, terlebih lagi seorang mukmin memiliki kedudukan yang khusus, ini terbukti dengan diampuninya kesalahan- kesalahannya, dan bisa memberikan syafa’at bagi keluarganya. Dalam hadits Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Janganlah salah seorang dari kalian berangan- angan untuk mati dan janganlah dia berdo’a meminta kematian sebelum tiba kepadanya karena apabila seorang dari kalian telah mati maka terputuslah amalannya. Sesungguhnya umur seorang mukmin tidak menambahinya kecuali kebaikan”. (Shahih Muslim, Juz 8 Hal. 65).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maukah aku beritahukan kepada kalian orang- orang terbaik di antara kalian?” Mereka menjawab, “Ya, Wahai Rasululloh”. Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam berkata, “Orang yang terbaik di antara kalian adalah orang yang paling panjang umurnya apabila mereka di atas kebenaran”. (Musnad Abu Ya’la al- Mushlihi, Ahmad bin Ali at- Tamimi. Tahqiq Husain Asad, Daar al- Ma’mun Lit- Turots, Juz 6. Hal. 214. Al- Haitsami berkata dalam al- Majmu’ az- Zawaid, Juz. 10 hal. 206, “Sanadnya Hasan”).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Hurairoh Radhialloohu 'Anhu meriwayatkan bahwa Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Orang- orang terbaik di antara kalian adalah orang yang paling panjang umurnya dan baik amalannya”. (Al- Musnad, Juz 2, hal. 310).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam Al- Musnad, Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak ada seorangpun yang lebih utama di sisi Alloh dari seorang mukmin yang berumur panjang di dalam Islam karena Tasbih, Takbir, dan Tahlil- nya”. (Al- Musnad, Juz.1 hal. 20, Pendahuluan hadits ini, “Sesungguhnya sekelompok orang dari Bani ‘Adzrah ...”).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan telah diriwayatkan bahwa Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kebaikan itu bersama dengan orang- orang tua kalian”. (Mukhtashar Zawaid Musnad al- Bazzar, Ibnu Hajar, Muassasah al- Kutub ats- Tsaqafiyah, 1412H, juz. 2 hal 188. Az- Zarqani berkata, “Shahih”. Lihatlah Mukhtashar al- Maqashid al- Hasanah, az- Zarqani. Tahqiq Muhammad ash- Shabbagh, al- Maktabah al- Islami, hal. 82 dan Syaikh al- Albani Rahimahulloh menyebutkannya di dalam Shahih al- Jaami’, No. 2881).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Imam Ahmad Rahimahulloh mengeluarkan di dalam Musnad nya dari Shahabat Anas bin Malik Radhialloohu 'Anhu bahwa Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak ada orang yang berumur panjang di dalam Islam dengan umur empat puluh (40) tahun kecuali Alloh akan menjauhkan darinya tiga musibah, Gila, Kusta, dan Sopak. Apabila mencapai umur lima puluh tahun (50), Alloh akan memudahkan baginya Hisab. Apabila mencapai umur enam puluh (60) tahun, Alloh akan memberikan rezeki Taubat kepadanya dengan apa yang Alloh cintai. Apabila mencapai umur tujuh puluh tahun (70), Alloh akan mencintainya dan mencintainya pula penduduk langit. Apabila mencapai umur delapan puluh tahun (80), akan diterima kebaikan- kebaikannya dan dihapus kesalahan- kesalahannya. Apabila mencapai umur sembilan puluh tahun (90), Alloh akan mengampuni dosa yang telah lalu dari dosa- dosanya dan yang akan datang. Dia dinamakan Tawanan Alloh di Muka Bumi, dan dia bisa memberikan Syafa’at bagi anggota keluarganya”. (Al- Musnad, Juz 3 hal. 275, Lihat Musnad Abi Ya’la Al- Mushlihi, Juz 7 Hal. 241. Syaikh al- Albani Rahimahulloh menyebutkan hadits ini di dalam Dha’if al- jaami’ No. 4047. Dan Syaikh Ahmad Syakir telah membantah Ibnul Jauzi ketika memasukkan hadits ini ke dalam kitabnya, ‘Al- Maudhu’at” dan Syaikh Ahmad Syakir menguatkan hadits ini serta menyebutkan berbagai jalannya. Lihat Jami’ al- Ahaadiits al- Qudsiyah, ash- Shababithi, 1991M, Juz 3. Hal. 435).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dari Abdulloh bin Busrin Radhialloohu 'Anhu berkata, “Dua orang Arab menemui Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam dan salah satunya bertanya kepada Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam, “Siapa manusia yang terbaik itu wahai Muhammad?. Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam menjawab,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Orang yang panjang umurnya dan baik amalannya..”. (Al- Musnad Juz 4, hal. 258, Syaikh al- Albani Rahimahulloh menyebutkan di dalam Shahih al- Jaami’, No. 329).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Hurairoh Radhialloohu 'Anhu berkata, “Ada dua orang dari Bali –sebuah desa suku Qudha’ah- telah masuk Islam bersama Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam. Kemudian salah satu dari keduanya mati syahid sedangkan yang lainnya menyusul setelah satu tahun”. Thalhah bin Ubaidillah Radhialloohu 'Anhu berkata, “Aku (mimpi) melihat Surga dan aku melihat orang yang meninggal belakangan dari dua orang tersebut terlebih dahulu masuk Surga mendahului orang yang mati Syahid sehingga aku merasa heran. Keesokan harinya aku menanyakan hal itu kepada Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam maka Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukankah (orang yang terakhir meninggal) melaksanakan puasa Ramadhan sepeninggal orang yang mati Syahid, dia mengrjakan Sholat sebanyak enam ribu rokaat dan mengerjakan berbagai sholat selama setahun?!”. (Al- Musnad, Juz 2 hal. 439. Al- Haitsami berkata, “Sanadnya Hasan”. Majmu’ az- Zawaid: juz 10 hal. 207).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah hadits Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya Alloh mencintai orang- orang yang berumur tujuh puluh (70) tahun dan malu terhadap orang- orang yang berumur delapan puluh tahun”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al- Munawi Rahimahullloh berkata, “Alloh berhubungan terhadap mereka dengan hubungan orang yang malu, sehingga tidak mengadzab mereka. Dan tidak dimaksudkan dengan ini hakekat malu yang berarti menahan diri dari kehinaan”. (At- taisir Bi Syarh al- Jami’ ash- Shaghir, Juz 1, hal. 272. Pensyarah kitab ini berkata, “Sanadnya Hasan:. Sedangkan Syaikh al- Albani Rahimahulloh menyebutkannya di dalam Dha’if Al- Jaami’, No. 1696. Wallohu A'lamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: ‘OLD is GOLD: Yang Tua yang Istimewa”. Abdulloh bin Nashir bin Abdulloh as- Sadhan. Hal 57- 60. Daar An Naba. Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;﻿&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2107481068058571539-1556571772255058023?l=buletindarulilmy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buletindarulilmy.blogspot.com/feeds/1556571772255058023/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2107481068058571539&amp;postID=1556571772255058023&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2107481068058571539/posts/default/1556571772255058023'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2107481068058571539/posts/default/1556571772255058023'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buletindarulilmy.blogspot.com/2011/02/seorang-mukmin-tidak-akan-ditambah.html' title='Seorang Mukmin tidak akan ditambah umurnya kecuali karena memilliki kebaikan'/><author><name>khafidl khafidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12391092020879071145</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/__bf6ZucOoBA/TB-b6CilMiI/AAAAAAAAAaU/Sdg2fZ8YQRs/S220/085.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2107481068058571539.post-4745143078927598715</id><published>2011-02-15T04:54:00.000-08:00</published><updated>2011-02-15T05:32:03.370-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dienul Islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Admin'/><title type='text'>Mereka Beralasan dengan Takdir untuk Menganggap Baik Apa yang mereka Lakukan dari Kesyirikan.</title><content type='html'>Syubhat yang dilontarkan orang- orang Musyrik Quraisy dan selain mereka yang ada pada zaman ini, yaitu mereka beralasan dengan takdir untuk menganggap baik apa yang mereka lakukan dari Kesyirikan, Alloh Ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Orang- orang yang mempersekutukan Alloh akan mengatakan, “Jika Alloh menghendaki, niscaya kami dan bapak- bapak kami tidak mempersekutukan- Nya dan tidak (pula) kami mengharamkan sesuatupun”. (QS. Al An’am: 148).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alloh juga berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan berkatalah orang- orang musyrik, “Jika Alloh menghendaki niscaya kami tidak akan menyembah sesuatu apa pun selain Dia, baik kami maupun bapak- bapak kami, dan tidak pula kami mengharamkan sesuatu pun tanpa (izin)- Nya”. (QS. An Nahl: 35).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Alloh juga berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan mereka berkata, “Jikalau Alloh Yang Maha Pemurah menghendaki tentulah kami tidak menyembah mereka (Malaikat)". (QS. Az- Zukhruf: 20).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Hafizh Ibnu Katsir Rahimahulloh berkata mengkomentari ayat pada surat Al- An’am tersebut,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini adalah dialog yang disebutkan Alloh dan sebagai syubhat yang dijadikan tempat bergantung oleh kaum musyrikin untuk tetap melakukan kesyirikan dan mengharamkan apa yang mereka haramkan, Alloh akan menampakkan apa yang mereka lakukan, Alloh mampu untuk merubahnya dengan mengaruniakan kepada kita keimanan, dan memisahkan antara kita dan orang- orang kafir, dan kalaupun Alloh tidak merubahnya, hal ini sesuai dengan kehendak dan keinginan Alloh serta ridho- Nya kepada kita”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian beliau melanjutkan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hujjah yang dimiliki oleh orang- orang kafir sangatlah rapuh dan bathil karena kalau hujjah itu benar, niscaya Alloh tidak akan merasakan kepada mereka siksa yang pedih, dan tidak akan membinasakan mereka, dan tidak akan memenangkan Rasul- rasul- Nya yang mulia”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Katakan wahai Muhammad, “Adakah kalian mempunyai sesuatu pengetahuan) yang menyatakan Alloh itu ridho terhadap perbuatan kalian, dan apa saja yang kalian lakukan, (sehingga kelian dapat mengemukakannya kepada Kami?) yakni kalian sanggup untuk mengatakannya, dan menjelaskannya, (kalian tidak mengikuti kecuali persangkaan belaka) yakni anggapan dan khayalan, (dan kalian tidak lain hanya berdusta) berdusta atas Nama Alloh terhadap apa yang kalian meyakininya”. (Tafsir Ibnu Katsir, Juz II, hal. 586- 587).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Katsir juga mengomentari ayat pada surat An- Nahl tersebut sebagai berikut,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan maksud yang terkandung dari ucapan mereka ini adalah kalau seandainya Alloh tidak suka terhadap apa yang kami lakukan, niscaya Alloh akan mengingkarinya dengan mendatangkan siksa kepada kami dan tidak justru memberi kesempatan kepada kami untuk melakukan perbuatan itu”. Alloh telah membantah syubhat semacam ini dengan firman- Nya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maka tidaklah para Rasul itu kecuali orang- orang yang menyampaikan bukti dengan jelas”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Firman- Nya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sungguh Kami telah mengutus dalam setiap ummat seorang Rasul yang menyerukan hendaklah kalian menyembah Alloh dan menjauhi Thaghut, maka di antara ummat itu ada yang Alloh beri petunjuk dan ada di antara orang- orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang- orang yang mendustakan (Rasul- rasul)”. (QS. An- Nahl: 36).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: Perkaranya tidak seperti yang kalian sangka, yaitu Alloh tidak mengingkari kalian (mereka mengira Alloh tidak mengingkari kesyirikan dan mengharamkan yang mereka haramkan_red); bahkan Alloh telah mengingkari kalian dengan pengingkaran yang sangat keras, dan telah melarang kalian dengan tegas pula. Dan Alloh telah mengutus (pada setiap ummat) yakni pada setiap generasi dan kelompok manusia seorang Rasul, yang mana seluruhnya memerintahkan dan menyeru untuk menyembah kepada Alloh dan melarang beribadah kepada selain Alloh, mereka menyeru hendaklah kalian menyembah kepada Alloh, dan hendaklah kalian menjauhi thaghut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alloh Ta’ala terus mengutus para Rasul kepada manusia dengan membawa misi tersebut semenjak terjadinya kesyirikan di kalangan anak Adam ‘Alaihis Salam di masa Kaum Nuh ‘Alaihis Salam. Ketika Alloh mengutus Nabi Nuh ‘Alaihis Salam, dan dia (Nuh) adalah Rasul pertama yang Alloh bangkitkan untuk penduduk Bumi, hingga Alloh menutup para Rasul dengan mengutus Nabi Muhammad Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam yang dakwah beliau telah diserukan kepada manusia dan jin, timur dan barat, sebagaimana firman Alloh Subhanahu Wa Ta’ala,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan Kami tidak mengutus seorang Rasul pun sebelummu, melainkan Kami wahyu kan kepadanya, “Bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi melainkan Aku, maka sembahlah Aku olehmu sekalian”. (QS. Al- Anbiya: 25).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan tanyakanlah kepada Rasul- rasul Kami yang telah Kami utus sebelum kamu, “Adakah Kami menentukan tuhan- tuhan untuk disembah Selain Alloh Yang Maha Pemurah..?” (QS. Az- Zukhruf: 45).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada setiap ummat (untuk menyeru), “Sembahlah Alloh (saja), dan menjauhi thaghut itu”. (QS. An- Nahl: 36).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka bagaimana bisa seorang musyrik –setelah adanya keterangan demikian- berkata, “Jika Alloh berkehendak, niscaya kami hanya menyembah- Nya”. Maka kehendak Alloh yang syar’iyah tidak ada pada mereka, sebab Alloh telah melarang mereka dari hal tersebut melalui lisan- lisan para Rasul- Nya. Adapun mereka seperti itu secara qodar, tidak bisa dijadikan sebagai hujjah. Dia (Ibnu Katsir Rahimahulloh) berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Kemudian Alloh Ta’ala telah mengabarkan bahwa Dia mengingkari perbuatan mereka dengan ancaman hukuman di Dunia setelah adanya peringatan dari para Rasul”. (Selesai Ucapan Ibnu Katsir).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka mereka –dengan ucapan ini- tidak ingin mencari udzur terhadap perbuatan mereka yang jelek, sebab mereka tidak meyakini bahwa perbuatan mereka adalah jelek, bahkan mereka mengira bahwa perbuatannya adalah baik. Mereka menyembah berhala (dengan tujuan) agar mendekatkan diri mereka kepada Alloh. (Sebagaimana firman Alloh Ta’ala),&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Supaya mereka mendekatkan kami kepada Alloh dengan sedekat- dekatnya”. (QS. Az- Zumar: 3).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka tidak menginginkan kecuali beralasan bahwa apa yang mereka lakukan adalah benar disyari’atkan dan diridhoi oleh Alloh. Maka Alloh membantah mereka –bahwa kalau memang keadaannya demikian- tentu Alloh tidak mengutus para Rasul untuk mengingkarinya (mereka), dan tentu Alloh tidak menghukum mereka karena perbuatannya. Wallohu A’lamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: ‘Hakikat Tauhid dan Makna Laa Ilaaha Illallaah”. Hal. 54- 60. Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan al- Fauzan. Pustaka Haura’. Yogyakarta.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2107481068058571539-4745143078927598715?l=buletindarulilmy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buletindarulilmy.blogspot.com/feeds/4745143078927598715/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2107481068058571539&amp;postID=4745143078927598715&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2107481068058571539/posts/default/4745143078927598715'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2107481068058571539/posts/default/4745143078927598715'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buletindarulilmy.blogspot.com/2011/02/mereka-beralasan-dengan-takdir-untuk.html' title='Mereka Beralasan dengan Takdir untuk Menganggap Baik Apa yang mereka Lakukan dari Kesyirikan.'/><author><name>khafidl khafidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12391092020879071145</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/__bf6ZucOoBA/TB-b6CilMiI/AAAAAAAAAaU/Sdg2fZ8YQRs/S220/085.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2107481068058571539.post-5390823150308564871</id><published>2011-02-09T02:59:00.000-08:00</published><updated>2011-02-09T03:04:57.451-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dienul Islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Admin'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='General'/><title type='text'>Sebuah Kaidah Dalam Melangkah: Bertanya Kepada Ahlinya.</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/__bf6ZucOoBA/TVJ0aCuIygI/AAAAAAAAAlY/D3wE8iCTbWQ/s1600/%25285%2529.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 125px; padding:3px; border:6px solid #BEBBBB;" src="http://1.bp.blogspot.com/__bf6ZucOoBA/TVJ0aCuIygI/AAAAAAAAAlY/D3wE8iCTbWQ/s200/%25285%2529.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5571643679766530562" /&gt;&lt;/a&gt;Syaikh Muhammad bin Shalih al- Utsaimin Rahimahulloh pernah bercerita (dalam Ceramahnya_red),&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Disebutkan dari seorang Ulama (Universitas) al- Azhar bahwa ia pernah berada di Eropa. Ketika sedang berada di sebuah restoran, di sisinya terdapat seorang Nasrani. Lalu orang Nasrani itu bertanya, “Sesungguhnya Al- Qur’an telah menjelaskan segala sesuatu, lalu manakah penjelasan tentang tata cara pembuatan aneka ragam makanan seperti Sambosa, Daging, Mafrum, dan makanan- makanan sejenisnya..? Di manakah penjelasannya..?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku (Syaikh Ibnu Utsaimin_red) bertanya kepada kalian wahai para penuntut ilmu (Syaikh mengarahkan pertanyaannya kepada para hadirin_red), “Apakah pengajaran tentang ini dalam Al- Qur’an, Jawabannya ‘Tidak?!’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ulama al- Azhar itu menjawab, “Ini ada dalam Al- Qur’an!”. Orang Nasrani itu menyanggah, “Tidak Ada!”. Lalu Ulama al- Azhar tersebut memanggil pemilik restoran itu, dan mengajukan pertanyaan kepadanya. Ia bertanya, “Bagaimana Engkau membuat Ini Semua..?”. Pemilik restoran menjawab, “Aku membuatnya dengan cara demikian, dan demikian.....”. Lalu dia pun menjelaskan tata Cara pembuatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ulama al- Azhar itu mengatakan, “Demikianlah keterangan yang ada dalam Al- Qur’an! Alloh Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“MAKA BERTANYALAH KEPADA ORANG YANG MEMPUNYAI PENGETAHUAN JIKA KAMU TIDAK MENGETAHUI”.&lt;/span&gt; (QS. An- Nahl: 43).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah Sebuah Kaidah yang hendaknya kita berjalan di atasnya. Hendaklah kita menanyakan segala hal yang tidak kita ketahui kepada ahlinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Apabila aku mendapatkan suatu kesulitan dalam pelajaran Nahwu misalnya, apakah aku pergi kepada Ahli Hadits agar ia mengajariku Nahwu..? Jawabannya, “Tidak!”, akan tetapi aku pergi kepada Orang yang Ahli Nahwu. Apabila aku mendapatkan kesulitan dalam masalah hadits, maka aku pergi kepada Ahli Hadits. Hal ini ada dalam Al- Qur’an, yaitu bimbingan agar bertanya kepada orang yang memiliki Ilmu”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Washaya Wa Taujihat Lithullab al- ‘Ilm, dikumpulkan dan ditakhrij oleh Dr. Sulaiman bin Abdulloh Aba al- Khail, Jilid 1, hal. 150- 153, Cetakan 1, 1425H/ 2004M. Ceramah ini disampaikan oleh Syaikh al- Utsaimin di Asrama Mahasiswa Universitas Imam Ibn Su’ud, Cabang Qashim, Tanggal 25 Jumadil ‘Ula 1417H/1996M).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sumber: 'Adz- Dzakiirah: Majalah Islamiyyah Manhajiyyah' Hal. 57- 58. Vol.8/No.7/edisi 61/1431H/ Abu Ashim Muhtar Arifin. STAI Ali Bin Abi Thalib, Surabaya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2107481068058571539-5390823150308564871?l=buletindarulilmy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buletindarulilmy.blogspot.com/feeds/5390823150308564871/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2107481068058571539&amp;postID=5390823150308564871&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2107481068058571539/posts/default/5390823150308564871'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2107481068058571539/posts/default/5390823150308564871'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buletindarulilmy.blogspot.com/2011/02/sebuah-kaidah-dalam-melangkah-bertanya.html' title='Sebuah Kaidah Dalam Melangkah: Bertanya Kepada Ahlinya.'/><author><name>khafidl khafidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12391092020879071145</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/__bf6ZucOoBA/TB-b6CilMiI/AAAAAAAAAaU/Sdg2fZ8YQRs/S220/085.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/__bf6ZucOoBA/TVJ0aCuIygI/AAAAAAAAAlY/D3wE8iCTbWQ/s72-c/%25285%2529.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2107481068058571539.post-6520512858642826615</id><published>2011-02-09T02:33:00.000-08:00</published><updated>2011-02-09T02:54:54.213-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dienul Islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mu&apos;amalah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='General'/><title type='text'>Ancaman terhadap orang yang diundang Makan lalu menolak tanpa alasan, dan perintah memenuhi undangan serta tentang makanan dua orang yang berlomba.</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/__bf6ZucOoBA/TVJuy7kUqaI/AAAAAAAAAlI/h5ACQrte_s4/s1600/%252837%2529.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 125px; padding:3px; border:6px solid #BEBBBB;" src="http://4.bp.blogspot.com/__bf6ZucOoBA/TVJuy7kUqaI/AAAAAAAAAlI/h5ACQrte_s4/s200/%252837%2529.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5571637510273280418" /&gt;&lt;/a&gt;2152-1: Shahih, Dari Abu Hurairoh Radhialloohu 'Anhu bahwasanya ia pernah berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Seburuk- buruk makanan adalah makanan pesta pernikahan yang diundang kepadanya hanya orang- orang kaya, dan orang- orang miskin diabaikan. Dan barangsiapa yang tidak mendatangi undangan, maka sesungguhnya ia telah mendurhakai Alloh dan Rasul- Nya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan oleh al- Bukhori, Muslim, Abu Dawud, an- Nasa’i, dan Ibnu Majah dengan sanad Mauquf pada Abu Hurairoh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Diriwayatkan oleh Muslim juga dengan sanad Marfu’ kepada Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Seburuk- buruk makanan adalah makanan pesta pernikahan, orang yang seharusnya datang (orang miskin) dicegah (tidak diundang), sedangkan orang yang enggan (orang kaya) diundang kepadanya. Dan barangsiapa yang tidak memenuhi undangan, maka sesungguhnya ia telah mendurhakai Alloh dan Rasul- Nya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2153-2: Shahih, Dari Abdulloh bin Umar Radhialloohu 'Anhuma, bahwasanya Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam telah bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apabila salah seorang di antara kalian diundang kepada pesta pernikahan (walimah), maka hendaknya ia datang”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan oleh al- Bukhori, Muslim, dan Abu Dawud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2154-3: Shahih, Dan darinya (Abdulloh bin Umar Radhialloohu 'Anhuma) ia menuturkan, Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apabila salah seorang dari kalian mengundang saudaranya, maka hendaknya ia memenuhinya, baik undangan pernikahan, ataupun yang semisalnya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan oleh Muslim, dan Abu Dawud. Di dalam riwayat lain milik Muslim disebutkan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apabila kalian diundang kepada (hidangan makan) betis sapi, maka penuhilah”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/__bf6ZucOoBA/TVJvf2w9fSI/AAAAAAAAAlQ/IWnLMlYa320/s1600/%25281%2529.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 125px; padding:3px; border:6px solid #BEBBBB;" src="http://1.bp.blogspot.com/__bf6ZucOoBA/TVJvf2w9fSI/AAAAAAAAAlQ/IWnLMlYa320/s200/%25281%2529.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5571638282078223650" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2155-4: Shahih, Dari Jabir –yaitu bin Abdulloh Radhialloohu 'Anhuma, ia menuturkan, Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apabila salah seorang dari kalian diundang kepada suatu jamuan makanan, maka hendaklah ia memenuhi, kemudian jika ia mau, silahkan makan dan jika tidak, maka silahkan tidak makan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan oleh Muslim, Abu Dawud, an- Nasa’i, dan Ibnu Majah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;2156-5: Shahih, Dari Abu Hurairoh Radhialloohu 'Anhu bahwasanya Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hak seorang muslim atas muslim lainnya ada lima, menjawab salam, menjenguk orang sakit, mengantarkan jenazah, memenuhi undangan, dan bertasymit kepada orang yang bersin”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Diriwayatkan oleh al- Bukhori dan Muslim. Tasymit adalah mendo’akan kerahmatan dengan mengucapkan YARHAMUKALLOH (Semoga Alloh merahmatimu) kepada orang yang bersin, dan mengucapkan HAMDALAH, kemudian orang yang bersin tersebut berkewajiban membalas do’a itu dengan mengucapkan, YAHDIKUMULLOOHU WA YUSHLIHU BAA LAKUM (Semoga Alloh memberi hidayah kepadamu dan memperbaiki urusanmu).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2157-6: Shahih, Abu asy- Syaikh Ibnu Hayyan telah meriwayatkan di dalam Kitab at- Taubikh dan lainnya, dari Abu Ayyub al- Anshari, ia menuturkan, Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam telah bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Ada enam perkara yang wajib bagi muslim atas muslim lainnya, barangsiapa mengabaikan salah satu di antaranya maka sesungguhnya ia telah mengabaikan satu hak yang wajib, ia memenuhi undangannya apabila ia mengundangnya, apabila ia menjumpainya, ia memberi salam kepadanya, apabila ia bersin, maka ia bertasymit untuknya, apabila ia sakit, maka ia menjenguknya, [apabila ia mati, maka ia mengiringi jenazahnya]1, dan apabila ia dimintai nashihat, maka ia memberinya nashihat”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1 Tidak termuat dalam naskah aslinya, dan juga dalam manuskripnya, Saya (Syaikh al- Albani Rahimahulloh_red) mengistadrak nya dalam al- Adab al Mufrad, karya al- Bukhori Rahimahulloh, No. 922, dan dalam al- Mu’jam al- Kabir karya ath- Thabrani Rahimahulloh , 4/ 215- 216, No. 4076. Hadits di atas mempunyai Syahid dari hadits Abu Hurairoh yang diriwayatkan secara marfu’  serupa sanadnya dengan yang diriwayatkan oleh Muslim, 7/ 3, dan selainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2158-7: Shahih Lighairihi, Dari Ikrimah, ia menuturkan Ibnu Abbas Radhialloohu 'Anhuma pernah berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam telah melarang memakan makanan kedua orang yang berlomba”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan oleh Abu Dawud, dan ia berkata, “Kebanyakan orang yang meriwayatkannya dari Jarir tidak menyebutkan Ibnu Abbas di dalamnya”. Yang beliau maksud adalah bahwa kebanyakan para perawi meriwayatkannya dengan sanad Mursal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al- Hafizh Ibnu Hajar al- ‘Asqalani Rahimahulloh berkata, “Yang Shahih adalah bahwasanya ia dari Ikrimah, dari Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam, Mursal”. Saya (Syaikh al- Albani Rahimahulloh_red) mengatakan akan tetapi ia mempunyai Syahid yang kuat, yang telah dimuat dalam ash- Shahiihah, No. 626, dari hadits Abu Hurairoh Radhialloohu 'Anhu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: ‘Shahih at- Targhiib Wa at- Tarhiib 4: Bab 8. Ancaman terhadap orang yang diundang Makan lalu menolak tanpa alasan, dan perintah memenuhi undangan serta tentang makanan dua orang yang berlomba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal. 352- 356. Syaikh Muhammad Nashiruddin al- Albani. Pustaka Shahifa. Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;﻿&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2107481068058571539-6520512858642826615?l=buletindarulilmy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buletindarulilmy.blogspot.com/feeds/6520512858642826615/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2107481068058571539&amp;postID=6520512858642826615&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2107481068058571539/posts/default/6520512858642826615'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2107481068058571539/posts/default/6520512858642826615'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buletindarulilmy.blogspot.com/2011/02/ancaman-terhadap-orang-yang-diundang.html' title='Ancaman terhadap orang yang diundang Makan lalu menolak tanpa alasan, dan perintah memenuhi undangan serta tentang makanan dua orang yang berlomba.'/><author><name>khafidl khafidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12391092020879071145</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/__bf6ZucOoBA/TB-b6CilMiI/AAAAAAAAAaU/Sdg2fZ8YQRs/S220/085.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/__bf6ZucOoBA/TVJuy7kUqaI/AAAAAAAAAlI/h5ACQrte_s4/s72-c/%252837%2529.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2107481068058571539.post-2430226819768299938</id><published>2011-02-09T02:20:00.000-08:00</published><updated>2011-02-09T02:32:14.071-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mu&apos;amalah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Admin'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='General'/><title type='text'>Keutamaan Pemberi Tempo dan Pembebas Hutang.</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/__bf6ZucOoBA/TVJr7WO_H9I/AAAAAAAAAlA/IL95QLal2v4/s1600/%252826%2529.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 125px; padding:3px; border:6px solid #BEBBBB;" src="http://1.bp.blogspot.com/__bf6ZucOoBA/TVJr7WO_H9I/AAAAAAAAAlA/IL95QLal2v4/s200/%252826%2529.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5571634356335615954" /&gt;&lt;/a&gt;Pemberi hutang hendaknya memaklumi, orang yang berutang ada yang kaya dan ada yang miskin. Orang miskin boleh jadi belum mampu membayar tepat waktu bahkan mungkin tidak bisa membayar karena kemiskinannya. Sebab itu, barangsiapa yang memberi kelonggaran kepada mereka atau membebaskannya, kelak Alloh Ta’ala akan menggantinya dengan yang lebih banyak dan dia mendapatkan kenikmatan di Akhirat. Di bawah ini adalah keutamaan bagi pemberi hutang yang memberi tempo –kepada yang belum mampu membayar- dan yang mampu membebaskannya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Dijamin masuk Surga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hudzaifah Radhialloohu 'Anhu berkata, Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Malaikat mencabut ruh orang yang meninggal sebelum kalian, lalu mereka (Malaikat) menanya, “Apakah kamu tahu perbuatanmu yang baik?” Dia (orang itu) menjawab, “Aku tidak tahu”. Mereka berkata, “Ingat- ingatlah kebaikanmu!” Lalu dia menjawab, “Aku menghutangi orang lalu aku menyuruh budakku agar memberi tempo bagi orang yang belum mampu dan membebaskan sebagian hutang”. Maka Alloh berkata, “Bebaskan dia dari Neraka”. (HR. Muslim: 2917).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;2. Dosanya diampuni&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits dari Abu Hurairoh Radhialloohu 'Anhu, Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada seorang pedagang yang (biasa) menghutangi orang. Jika orang (yang dihutangi) itu belum mampu membayar, dia berkata kepada budaknya, “Maafkan dia, semoga Alloh memaafkan kita”. Maka Alloh mengampuni dosanya”. (HR. al- Bukhori: 1936).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Meraih Naungan dari Alloh pada hari Kiamat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits dari Abu Hurairoh Radhialloohu 'Anhu, Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barangsiapa yang memberi tempo kepada orang yang belum mampu membayar hutang atau dia membebaskannya, maka Alloh akan menaungi dia pada hari Kiamat di bawah naungan ‘Arys- Nya pada suatu hari yang tidak ada naungan kecuali naungan- Nya”. (HR. at- Tirmidzi :1227, dishahihkan oleh Syaikh al- Albani Rahimahulloh dalam Silsilah ash- Shahiihah: 909).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Setiap hariya dicatat seperti orang yang Bersedekah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buraidah Radhialloohu 'Anhu berkata, Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barangsiapa yang memberi tempo kepada orang yang belum mampu membayar hutang, maka dia setiap hari mendapatkan pahala seperti orang yang bersedekah semisal barang yang dihutang”. (HR. Ahmad: 21968, dishahihkan oleh Syaikh al- Albani Rahimahulloh dalam Shahih at- Targhib: 1/ 221).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Berlipat ganda pahala Sedekahnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buraidah Radhialloohu 'Anhu berkata, Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barangsiapa yang memberi tempo kepada orang yang belum mampu membayar hutang, maka dia dicatat setiap harinya seperti orang yang bersedekah sebesar barang yang dihutang sampai dibayar hutang itu. Jika tiba waktunya membayar pemberi hutang memberi tempo lagi maka setiap harinya ia sepeerti bersedekah dua kali dari harta yang dihutang”. (Lihat Musykilul Atsar karya Imam ath- Thohawi Rahimahulloh, 8/ 304, dishahihkan oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al- Albani Rahimahulloh dalam Silsilah ash Shahiihah, 86).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: ‘Sudahkah Kau Bayar Hutangmu”. Ust. Aunur Rofiq bin Ghufron. Majalah Al- Furqon.07/th8/1430-2009/ hal. 12-13. Ma’had Al- Furqon. Gresik.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2107481068058571539-2430226819768299938?l=buletindarulilmy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buletindarulilmy.blogspot.com/feeds/2430226819768299938/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2107481068058571539&amp;postID=2430226819768299938&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2107481068058571539/posts/default/2430226819768299938'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2107481068058571539/posts/default/2430226819768299938'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buletindarulilmy.blogspot.com/2011/02/keutamaan-pemberi-tempo-dan-pembebas.html' title='Keutamaan Pemberi Tempo dan Pembebas Hutang.'/><author><name>khafidl khafidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12391092020879071145</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/__bf6ZucOoBA/TB-b6CilMiI/AAAAAAAAAaU/Sdg2fZ8YQRs/S220/085.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/__bf6ZucOoBA/TVJr7WO_H9I/AAAAAAAAAlA/IL95QLal2v4/s72-c/%252826%2529.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2107481068058571539.post-6674667197634033143</id><published>2010-12-11T04:37:00.000-08:00</published><updated>2010-12-11T04:41:21.992-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dienul Islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='General'/><title type='text'>Dalil- dalil Ijma’ Yang Memerintahkan untuk Mengikuti Al Qur’an dan Sunnah Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/__bf6ZucOoBA/TQNxWHg5FwI/AAAAAAAAAkw/VakszZRyHDo/s1600/allah_wz_arabisque_by_masy1.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 176px; padding:3px; border:6px solid #BEBBBB;" src="http://3.bp.blogspot.com/__bf6ZucOoBA/TQNxWHg5FwI/AAAAAAAAAkw/VakszZRyHDo/s200/allah_wz_arabisque_by_masy1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5549403790638651138" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kaum muslimin sejak masa Shahabat Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam, Tabi’in, Tabi’ut Tabi’in, dan generasi- generasi yang sesudahnya sampai hari ini mereka selalu mengembalikan setiap persoalan agama kepada Al- Qur’an dan As- Sunnah, berpegang teguh dengannya dan menjaganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara dalil- dalil yang menunjukkan bahwa para Shahabat dan Tabi’in ini berpegang teguh kepada As- Sunnah adalah sebagai berikut,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, tatkala Abu Bakar Radhialloohu 'Anhu memegang tampuk khilafah, datang Fathimah binti Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam menemuinya menanyakan sebagian warisan dari Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam, kemudian Abu Bakar Radhialloohu 'Anhu berkata kepadanya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya aku mendengar Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda, ‘Sesungguhnya apabila Alloh memberi makan seorang Nabi kemudian ia diwafatkan, maka ia menjadikan warisan bagi orang yang sesudahnya’. Karena itu, aku memandang bagian itu harus dikembalikan kepada kaum Muslimin’. Fathimah Radhialloohu 'Anha berkata, “Engkau lebih mengetahui daripada aku tentang apa- apa yang telah engkau dengar dari Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam”. (Shahih, HR. Ahmad, I/4, Syaikh Ahmad Muhammad Syakir menshahihkan hadits ini dalam Tahqiq Musnad Imam Ahmad, No. 14).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam riwayat lain, Abu Bakar Radhialloohu 'Anhu berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tidak akan meninggalkan sesuatu pun yang diamalkan oleh Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam, karena aku khawatir bila aku meninggalkan perintahnya aku akan tersesat”. (Shahih, HR. al- Bukhori, No. 3093).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, ‘Umar bin al- Khaththab Radhialloohu 'Anhu berdiri di hadapan Hajar Aswad seraya berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya aku tahu bahwa engkau adalah batu, yang tidak membahayakan dan tidak memberi manfaat. Seandainya aku tidak melihat Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam menciummu niscaya aku tidak akan menyentuh dan menciummu”. (Shahih, HR. al- Bukhori No. 1597, 1605, dan Muslim No. 1270).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, ‘Ali bin Abi Thalib Radhialloohu 'Anhu berkata tentang berdirinya orang- orang ketika jenazah lewat,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku pernah melihat Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam berdiri, maka kami pun berdiri, dan ketika beliau duduk, kami pun duduk”. (Shahih, HR. Ahmad (No. 631, 1094, 1167), Tahqiq Ahmad Syakir, Muslim (No. 962 (84)), Ibnu Majah (No. 1544), dan ath- Thayalisy (I/ 127, No. 145).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, ada orang berkata kepada ‘Abdulloh bin ‘Umar, “Kami tidak mendapati dalam Al- Qur’an tentang cara Sholat Safar..?” Ibnu ‘Umar berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya Alloh Ta’ala telah mengutus Nabi Muhammad Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam kepada kita dan tadinya kita tidak mengetahui sesuatu. Karena itu, kita berbuat (beramal) sebagaimana kita melihat apa yang Nabi Muhammad Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam amalkan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam riwayat yang lain ia berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tadinya kita sesat, lalu Alloh menunjukkan kita dengan beliau, karena itu kita wajib mengikuti jejak beliau”. (Shahih, HR. Ahmad, II/ 66 dan 94, atau (No. 5333 dan 5683) tahqiq Ahmad Muhammad Syakir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima, datang seorang wanita kepada ‘Abdulloh bin Mas’ud Radhialloohu 'Anhu ia berkata, “Aku diberi kabar bahwa engkau melarang wanita menyambung rambut?” ‘Abdulloh bin Mas’ud berkata, “Benar”. Wanita itu berkata, “Apakah larangan itu ada salam Kitabulloh, atau engkau dengar langsung dari Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam?” ‘Abdulloh bin Mas’ud Radhialloohu 'Anhu menjawab, “Larangan itu ada dalam Kitabulloh dan sabda Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam!”. Wanita tersebut berkata lagi, “Demi Alloh, aku telah membaca mush-haf Al- Qur’an dari awal hingga akhir tetapi aku tidak mendapatkan larangan itu”. Ibnu Mas’ud berkata, “Bukankah ada di dalam ayat:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“..Apa yang diberikan rasul kepadamu, maka terimalah, dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah, dan bertakwalah kepada Alloh. Sungguh, Alloh sangat keras siksaan- Nya”. (QS. Al- Hasyr: 7).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita itu menjawab, “Ya”. Selanjutnya Ibnu Mas’ud berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya aku mendengar Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam melarang (dalam lafazh lain: melaknat) mencabut bulu dahi, mengikir gigi, menyambung rambut, dan mencacah (mentato) kecuali karena sakit”. (Shahih, HR. al- Bukhori (No. 4886), Muslim (No. 2125 (120)), Ahmad (No. 3945), tahqiq Ahmad Syakir, Abu Dawud (No. 4169), Ibnu Baththah Fil Ibaanah (I/ 236 No. 68), dan al- Ajurri dalam asy- Syari’ah (I/ 420- 422) No. 103- 104, dan ini adalah lafazh Ahmad).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih banyak lagi contoh- contoh berpegangnya para Shahabat dan Tabi’in terhadap Sunnah Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam yang kemudian diikuti oleh orang- orang sesudahnya. Mutharrif bin ‘Abdillah bin Syikhir (salah seorang dari kalangan Tabi’in) pernah ditanya oleh seseorang, “Jangan engkau sampaikan kepada kami melainkan dari Al- Qur’an saja”. Mutharrif berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Demi Alloh, kami tidak menghendaki ganti dari Al- Qur’an, tetapi kami ingin (menyampaikan) penjelasan dari orang yang lebih mengetahui tentang Al- Qur’an daripada kami, yaitu Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam”.(Jaami’ Bayaanil ‘Ilmi Wa Fadhlihi, II/ 1193 No. 2349 oleh Ibnu ‘Abdil Barr Rahimahulloh). Wallohu A'lamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sumber: ‘Kedudukan As- Sunnah dalam Syari’at Islam’. Hal. 74- 80. Yazid bin Abdul Qadir Jawas. Pustaka at- Taqwa. Bogor.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2107481068058571539-6674667197634033143?l=buletindarulilmy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buletindarulilmy.blogspot.com/feeds/6674667197634033143/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2107481068058571539&amp;postID=6674667197634033143&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2107481068058571539/posts/default/6674667197634033143'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2107481068058571539/posts/default/6674667197634033143'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buletindarulilmy.blogspot.com/2010/12/dalil-dalil-ijma-yang-memerintahkan.html' title='Dalil- dalil Ijma’ Yang Memerintahkan untuk Mengikuti Al Qur’an dan Sunnah Nabi Shallallaahu &apos;Alaihi Wa Sallam'/><author><name>khafidl khafidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12391092020879071145</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/__bf6ZucOoBA/TB-b6CilMiI/AAAAAAAAAaU/Sdg2fZ8YQRs/S220/085.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/__bf6ZucOoBA/TQNxWHg5FwI/AAAAAAAAAkw/VakszZRyHDo/s72-c/allah_wz_arabisque_by_masy1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2107481068058571539.post-7154411618269692920</id><published>2010-12-11T04:32:00.000-08:00</published><updated>2010-12-11T04:37:10.889-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dienul Islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mu&apos;amalah'/><title type='text'>Sholat Dalam kendaraan.</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/__bf6ZucOoBA/TQNwDAe9AsI/AAAAAAAAAko/3owmMWtpBXM/s1600/Buah_Kaligrafi_by_51face.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px; padding:3px; border:6px solid #BEBBBB;" src="http://3.bp.blogspot.com/__bf6ZucOoBA/TQNwDAe9AsI/AAAAAAAAAko/3owmMWtpBXM/s200/Buah_Kaligrafi_by_51face.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5549402362822329026" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Muhammad bin Sholih al- Utsaimin Rahimahulloh berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sholat di pesawat wajib dilakukan bila telah masuk waktunya. Tetapi jika kesulitan melakukan sholat di pesawat sebagaimana sholat di Bumi, maka tidak usah melakukan sholat fardhu kecuali jika pesawat telah mendarat, dan waktu sholat masih mencukupi. Atau jika waktu sholat berikutnya masih bisa ditemui untuk melakukan jamak”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Misalnya, jika anda tinggal landas dari Jeddah sebelum matahari terbenam, lalu saat di udara matahari telah terbenam, maka anda tidak usah sholat maghrib sampai pesawat mendarat di bandara, dan anda turun padanya. Jika anda khawatir waktunya habis maka niatkanlah untuk melakukan Jama’ Ta’khir lalu melakukan Jama’ setelah turun. Jika anda khawatir waktu Isya’ akan habis sebelum mendarat, sedang waktu isya’ yakni sampai pertengahan malam maka hendaklah ia sholat maghrib dan Isya’ di pesawat sebelum waktunya habis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tata cara sholat di pesawat yaitu hendaknya orang itu berdiri menghadap kiblat lalu bertakbir, membaca al- Fatihah dan sebelumnya membaca do’a iftitah, sedang sesudahnya membaca surat Al- Qur’an, lalu ruku’, lalu bangkit dari ruku’, lalu bersujud. Bila tidak bisa bersujud cukup dengan duduk seraya menundukkan kepala sebagai pengganti sujud, begitulah yang harus ia perbuat sampai akhir dan kesemuanya menghadap kiblat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk Sholat Sunnah dalam pesawat maka ia Sholat dengan duduk di atas kursinya, dan menganggukkan kepala dalam ruku’ dan sujud dengan anggukan sujudnya lebih rendah”. (Majmu’ Fatawa Syaikh Muhammad bin Sholih al- Utsaimin Rahimahulloh, Bab Ibadah, Hal. 412, Pustaka Arofah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Abdul Aziz bin Abdulloh bin Baaz Rahimahulloh berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yang wajib bagi seorang muslim ketika sedang berada di pesawat, jika tiba waktu sholat, hendaknya ia melaksanakannya sesuai kemampuannya. Jika ia mampu melaksanakannya dengan berdiri, ruku’ dan sujud, maka hendaknya ia melakukan demikian. Tapi jika ia tidak mampu melakukan seperti itu maka hendaknya ia melakukan sambil duduk, mengisyaratkan ruku’ dan sujud (dengan membungkukkan badan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ia menemukan tempat yang memungkinkan untuk sholat di pesawat dengan berdiri dan sujud di lantainya, maka ia wajib melakukannya dengan berdiri, berdasarkan firman Alloh Subhanahu Wa Ta’ala,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maka bertakwalah kamu kepada Alloh menurut kesanggupanmu”. (QS. At- Taghobun [64]: 16).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Sabda Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sholatlah dengan berdiri, jika tidak mampu maka dengan duduk, dan jika tidak mampu maka dengan terbaring”. (Diriwayatkan oleh al- Bukhori dalam Shahih- nya, 1/ 376).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Diriwayatkan pula oleh imam an- Nasa’i dengan sanad yang Shahih, dengan tambahan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jika kamu tidak sanggup, maka dengan berbaring terlentang”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang lebih utama baginya adalah sholat di awal waktu. Tapi jika ia menundanya hingga akhir waktu dan baru melaksanakannya setelah landing (mendarat) maka itu pun boleh. Berdasarkan keumuman dalil- dalil yang ada. Demikian juga hukumnya di Mobil, Kereta, dan Kapal Laut”. (Fatawa Muhimah Tata’allaqu Bish Sholah, Syaikh Abdul Aziz bin Abdulloh Bin Baaz Rahimahulloh. hal. 40- 41).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Muhammad Nashiruddin al- Albani Rahimahulloh berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dibolehkan sholat fardhu di perahu, demikian juga di pesawat. Dibolehkan dholat di dalam pesawat dan perahu dengan duduk jika takut terjatuh”. (‘Talkhis Sifat Sholat Nabi’ oleh Syaikh al- Albani Rahimahulloh, Hal. 8).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: ‘Sudah Benarkah Sholat Kita: Sholat Dalam Kendaraan”. Hal. 73- 74. Arif Fathul Ulum Bin Ahmad Saifulloh. Majelis Ilmu Publisher. Gresik.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2107481068058571539-7154411618269692920?l=buletindarulilmy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buletindarulilmy.blogspot.com/feeds/7154411618269692920/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2107481068058571539&amp;postID=7154411618269692920&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2107481068058571539/posts/default/7154411618269692920'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2107481068058571539/posts/default/7154411618269692920'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buletindarulilmy.blogspot.com/2010/12/sholat-dalam-kendaraan.html' title='Sholat Dalam kendaraan.'/><author><name>khafidl khafidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12391092020879071145</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/__bf6ZucOoBA/TB-b6CilMiI/AAAAAAAAAaU/Sdg2fZ8YQRs/S220/085.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/__bf6ZucOoBA/TQNwDAe9AsI/AAAAAAAAAko/3owmMWtpBXM/s72-c/Buah_Kaligrafi_by_51face.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2107481068058571539.post-595984863063867498</id><published>2010-12-11T04:00:00.000-08:00</published><updated>2010-12-11T04:03:24.654-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dienul Islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mu&apos;amalah'/><title type='text'>Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain.</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/__bf6ZucOoBA/TQNoeZSTHoI/AAAAAAAAAkg/9wTYgTxvkRM/s1600/18979_1154862442952_1569444348_30329617_1341525_n.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 125px; padding:3px; border:6px solid #BEBBBB;" src="http://2.bp.blogspot.com/__bf6ZucOoBA/TQNoeZSTHoI/AAAAAAAAAkg/9wTYgTxvkRM/s200/18979_1154862442952_1569444348_30329617_1341525_n.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5549394037243584130" /&gt;&lt;/a&gt;Hadits Yang Terlihat Bertentangan dengan Al- Qur’an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal: Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya orang yang mati itu diadzab karena tangisan keluarganya”. (Shahih, Diriwayatkan oleh al- Bukhari (al- Jana’iz/ 1290/ Fath), dan Muslim (al- Jana’iz/ 927/ Abdul Baqi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana memadukan hadits ini dengan firman- Nya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain”. (QS. Al- Isra: 15)...?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawab: Ayat yang mulia ini meskipun kenyataan memang seperti itu, hanya saja itu bukanlah ketentuan yang bersifat umum atau hukum yang bersifat mutlak, karena disebutkan juga dalam Al- Qur’an:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan peliharalah dirimu daripada siksaan yang tidak khusus menimpa orang- orang yang zhalim saja di antara kamu”. (QS. Al- Anfal: 25).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan disebutkan dalam hadits:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wahai Rasululloh, apakah kita akan dibinasakan, sedangkan di antara kita masih banyak orang Shalih..?” Beliau Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam menjawab, “Ya, jika keburukan sudah merajalela”. (Shahih, Diriwayatkan oleh al- Bukhori (Ahadits al- Anbiya’ /3346/ Fath), dan Muslim (al- Fitan/ 2880/ Abdul Baqi)).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika keburukan sudah merajalela –dan itu sudah terjadi di zaman kita- maka orang- orang shalih akan binasa bersamaan dengan binasanya orang- orang yang berbuat kerusakan. Kelak mereka akan dibangkitkan sesuai dengan niatnya masing- masing. Dan Alloh akan menghisab amal- amal mereka. Adzab ditimpakan atas orang- orang musyrik, sedangkan di tengah- tengah mereka terdapat anak- anak yang tidak berdosa, tapi ikut binasa bersama dengan orang tua mereka yang musyrik. Demikian pula binatang melata ikut binasa, bersamaan dengan dibinasakannya manusia durjana. Ini semua dalam kategori firman Alloh,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan peliharalah dirimu daripada siksaan yang tidak khusus menimpa orang- orang yang zhalim saja di antara kamu”. (QS. Al- Anfal: 25).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits yang sedang kita bicarakan, “Sesungguhnya mayit itu diadzab karena tangisan keluarganya”. Maknanya sebagai berikut, kata “Mayit” ditafsirkan sebagai orang kafir, seperti pada firman- Nya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan kamu sekali- kali tiada sanggup menjadikan orang yang di dalam kubur dapat mendengar”. (QS. Fathir: 22).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang- orang yang hidup adalah orang- orang yang beriman, dan orang- orang yang mati adalah orang- orang kafir, artinya, orang kafir itu diadzab karena kekafirannya, dan terkadang ditambah adzabnya karena tangisan keluarganya, karena mereka tidak memiliki keimanan yang dapat menghalanginya dari tangisan itu, seperti dikatakan dalam hadits,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada dua perkara di tengah umatku yang termasuk kekufuran, yaitu MENCELA NASAB, dan MERATAPI MAYAT”. (Shahih, Diriwayatkan oleh Muslim (al- Iman/ 67/ Abdul Baqi’).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah keadaan kaum kafir dan kaum jahiliyyah, seperti sabda Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukan golongan kami orang yang menampari pipinya, merobek sakunya dan memanggil dengan panggilan jahiliyyah”. (Shahih, Diriwayatkan oleh al- Bukhari (al- Jana’iz/1294/Fath), dan Muslim (al- Iman/ 927/ Abdul Baqi’).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun kata ‘Mayyit) secara umum, maka ia mencakup Muslim dan kafir. Jika yang dimaksud dengan kata itu adalah seorang Muslim, artinya adalah orang muslim yang mati dan ia ridho dengan tangisan keluarganya, atau ia memerintahkannya dan mewasiatkannya, seperti dilakukan orang- orang jahil sampai zaman kita sekarang ini. Ia mewasiatkan agar diadakan ratapan yang besar sehingga orang- orang mengetahui kedudukannya setelah kematiannya, dan agar diselenggarakan begini dan begitu saat kematiannya. Ini tanpa diragukan lagi bahwa ia akan disiksa atas perbuatannya ini dan keridhoannya terhadap tangisan keluarganya serta mewasiatkan hal itu kepada mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan seorang Muslim yang tidak ridho akan hal ini dan tidak memerintahkannya, bahkan ia memperingatkan dan melarangnya, serta ia menulis dalam wasiatnya bahwa ia berlepas diri dari hal itu, maka orang ini tidak termasuk dalam hadits tersebut. Walaupun termasuk juga, maka itu hanya dari satu sisi saja, yaitu adzab maknawi atau terganggu, seperti perkataan seseorang kepada orang lain, “Tangisanmu menggangguku”. Atau “Tangisanmu menyiksaku”, seperti dikatakan seorang ibu kepada anaknya, ketika seorang anak menangis terus sementara sang ibu tidak mengerti karena apa anaknya menangis, akibatnya ia merasa tersiksa karena derita anaknya, dan ia menangis karena tangisan anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini kemungkinan yang terlalu jauh. Karena hadits ini (hadits di atas_ Red) mengenai orang yang meridhoi tangisan itu, demikian pula ini berlaku untuk orang- orang yang kafir, seperti dipahami oleh ‘Aisyah Radhialloohu 'Anha. Ketika mendengarnya dari ‘Abdulloh bin Umar Radhialloohu 'Anhuma, ‘Aisyah Radhialloohu 'Anha berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Semoga Alloh mengampuni Abu Abdirrahman, ia tidak berbohong, tapi ia lupa atau keliru. Yang benar bahwa Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam pernah melewati seorang wanita Yahudi yang sudah mati sedang ditangisi keluarganya, maka beliau Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda, “Sesungguhnya kalian menangisinya, padahal ia akan diadzab di kuburnya”. Wallohu a’lamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sumber: “Hadits Shahih yang Disalahpahami”. Hal.180- 182. Prof. Dr. Umar bin ‘Abdul Azizi Quraisyi. Pustaka at- Tazkia. Jakarta.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2107481068058571539-595984863063867498?l=buletindarulilmy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buletindarulilmy.blogspot.com/feeds/595984863063867498/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2107481068058571539&amp;postID=595984863063867498&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2107481068058571539/posts/default/595984863063867498'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2107481068058571539/posts/default/595984863063867498'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buletindarulilmy.blogspot.com/2010/12/dan-seorang-yang-berdosa-tidak-dapat.html' title='Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain.'/><author><name>khafidl khafidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12391092020879071145</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/__bf6ZucOoBA/TB-b6CilMiI/AAAAAAAAAaU/Sdg2fZ8YQRs/S220/085.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/__bf6ZucOoBA/TQNoeZSTHoI/AAAAAAAAAkg/9wTYgTxvkRM/s72-c/18979_1154862442952_1569444348_30329617_1341525_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2107481068058571539.post-1903435100717840533</id><published>2010-12-11T03:52:00.000-08:00</published><updated>2010-12-11T03:56:40.903-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dienul Islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mu&apos;amalah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='General'/><title type='text'>Beberapa Kaidah Penting Bagi Pelaku Bisnis</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/__bf6ZucOoBA/TQNm22P9aKI/AAAAAAAAAkY/Crr4QuwzjAA/s1600/Digital_composite_spring_1014.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 125px; padding:3px; border:6px solid #BEBBBB;" src="http://2.bp.blogspot.com/__bf6ZucOoBA/TQNm22P9aKI/AAAAAAAAAkY/Crr4QuwzjAA/s200/Digital_composite_spring_1014.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5549392258312005794" /&gt;&lt;/a&gt;Ada dua (2) kaidah yang sangat penting untuk bisa memahami hampir seluruh permasalahan yang berhubungan dengan hukum Islam, sebagaimana dikatakan oleh Imam Ibnul Qayyim al- Jauziyyah Rahimahulloh,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pada dasarnya semua ibadah hukumnya haram, kecuali kalau ada dalil yang memerintahkannya, sedangkan asal dari hukum transaksi dan mu’amalah adalah halal kecuali kalau ada dalil yang melarangnya”. (Lihat ‘I’lamul Muwaqqi’in, 1/ 344).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalil ibadah adalah sabda Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam, dari ‘Aisyah Radhialloohu 'Anha berkata, Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barangsiapa yang mengamalkan sesuatu yang tidak ada contohnya dari kami, maka akan tertolak”. (HR. Muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun dalil masalah mu’amalah adalah firman Alloh ta’ala,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dia lah Alloh yang telah menjadikan segala yang ada di Bumi untuk kamu”. (QS. Al- Baqoroh: 29). (Lihat Ilmu Ushul al- Bida’ oleh Syaikh Ali Hasan al- Halabi, Al- Qowa’id al- Fiqhiyah, oleh Syaikh Abdurrahman bin Nashir as- Sa’di Rahimahulloh, hal. 58).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, apapun nama dan model bisnis tersebut, pada dasarnya dihukumi halal selagi dilakukan atas dasar suka rela dan tidak mengandung unsur keharaman. Sebagaimana firman Alloh Ta’ala,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan Alloh menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba”. (QS. Al- Baqoroh: 275).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga firman Alloh Subhanahu Wa Ta’ala,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wahai orang- orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang bathil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku atas dasar suka sama suka di antara kamu”. (QS. An- Nisaa’: 29).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun hal- hal yang bisa membuat sebuah transaksi bisnis menjadi haram adalah,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Riba&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari ‘Abdulloh bin Mas’ud Radhialloohu 'Anhu berkata, Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Riba itu memiliki tujuh puluh tiga (73) pintu, yang paling ringan adalah semacam dosa seseorang yang berzina dengan ibunya sendiri”. (HR. Ahmad, 15/ 69/ 230, Lihat Shahiihul Jaami’, no. 3375).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2) Gharah (adanya spekulasi yang tinggi) dan jahalah (adanya sesuatu yang tidak jelas).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Hurairoh Radhialloohu 'Anhu berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam melarang jual beli Gharar”. (HR. Muslim, No. 1513).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(3) Penipuan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Hurairoh Radhialloohu 'Anhu berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam melewati seseorang yang menjual makanan, maka beliau memasukkan tangannya pada makanan tersebut, ternyata beliau tertipu, maka beliau Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda, “Bukan termasuk golongan kami orang yang menipu”. (HR. Muslim, 1/ 99/ 102, Abu Dawud No. 3455, Ibnu Majah, No. 2224).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(4) Perjudian atau Adu Nasib&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Firman Alloh Ta’ala,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai orang- orang yang beriman, sesungguhnya meminum khamr, berjudi, berkorban untuk berhala, mengundi nasib adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syaithon, maka jauhilah”. (QS. Al- Maidah: 90).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(5) Kezhaliman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana firman Alloh Subhanahu Wa Ta’ala,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wahai orang- orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang bathil”. (QS. An- Nisaa’: 29).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(6) Yang dijual adalah barang yang haram&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Ibnu Abbas Radhialloohu 'Anhu berkata, Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya Alloh apabila mengharamkan atas suatu kaum untuk memakan sesuatu, maka Dia pasti mengharamkan harganya”. (HR. Abu Dawud, No. 3477, al- Baihaqi 6/ 13 dengan sanad yang Shahih).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Lihat Majmu’ Fatawa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, Zaadul Ma’ad oleh Imam Ibnul Qayyim al- Jauziyyah, 5/ 746, Taudhihul Ahkam oleh Syaikh Abdulloh Alu Bassam, 2/ 233, Ar Raudlah an- Nadiyah, 2/ 345, dan Al- Wajiz oleh Syaikh Abdul Adlim al- Badawi, Hal. 332).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: ‘Pengusaha Muslim: Sukses Dunia Akhirat”. Edisi VIII/ Volume 1/ 15-08-2010/Hal. 68- 69. Ust. Ahmad Sabiq Abu Yusuf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;﻿&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2107481068058571539-1903435100717840533?l=buletindarulilmy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buletindarulilmy.blogspot.com/feeds/1903435100717840533/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2107481068058571539&amp;postID=1903435100717840533&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2107481068058571539/posts/default/1903435100717840533'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2107481068058571539/posts/default/1903435100717840533'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buletindarulilmy.blogspot.com/2010/12/beberapa-kaidah-penting-bagi-pelaku.html' title='Beberapa Kaidah Penting Bagi Pelaku Bisnis'/><author><name>khafidl khafidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12391092020879071145</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/__bf6ZucOoBA/TB-b6CilMiI/AAAAAAAAAaU/Sdg2fZ8YQRs/S220/085.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/__bf6ZucOoBA/TQNm22P9aKI/AAAAAAAAAkY/Crr4QuwzjAA/s72-c/Digital_composite_spring_1014.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2107481068058571539.post-6059630990112377194</id><published>2010-12-11T03:48:00.000-08:00</published><updated>2010-12-11T03:51:00.107-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dienul Islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Admin'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='General'/><title type='text'>Membacakan Ayat Al- Qur’an Atas Air Zamzam (Bolehkah?)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/__bf6ZucOoBA/TQNlg1WaDRI/AAAAAAAAAkQ/DU56oOyZb9g/s1600/switzerland-mountain-lake.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px; padding:3px; border:6px solid #BEBBBB;" src="http://3.bp.blogspot.com/__bf6ZucOoBA/TQNlg1WaDRI/AAAAAAAAAkQ/DU56oOyZb9g/s200/switzerland-mountain-lake.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5549390780601863442" /&gt;&lt;/a&gt;Diriwayatkan dari Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam bahwasanya beliau minum air Zamzam, membawanya dan menganjurkan untuk meminumnya. Beliau Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Air Zamzam berkhasiat untuk tujuan meminumnya”. (Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dengan No. 3062, dan Ahmad dalam Musnad nya, No. 3/ 357).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan: Saya (Abu Anas Ali bin Husain Abu Luz_penulis. Red) telah mendengar Syaikh Abdul Aziz bin Baaz Rahimahulloh berkata tentang hadits, “Air Zamzam berkhasiat untuk tujuan meminumnya”. Dalam acara ‘Nur Alad Darbi pada hari Jum’at Tanggal 24/2/1420H, beliau berkata “terdapat kelemahan dalam sanad hadits ini”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan dari Ibnu Abbas Radhialloohu 'Anhuma, bahwasanya Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam mendatangi tempat air, dan minta minum darinya. Al- Abbas berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wahai Fadhl, pergilah ke ibumu dan ambilkan air minum untuk Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam”. Rasululloh berkata, “Berilah aku minum”. Ibnu Abbas berkata, “Wahai Rasululloh, orang- orang telah memasukkan tangan- tangan mereka ke dalam air ini”. Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda, “Berilah aku minum”. Maka beliau pun meminum dari air itu. Kemudian beliau mendatangi Zamzam sementara orang- orang sedang memberi minum dan melakukan sesuatu di dalamnya. Beliau bersabda, “Lakukanlah karena kalian berada di atas suatu perbuatan yang baik”. Kemudian beliau meneruskan, “Kalaulah tidak kalian dahului, niscaya aku akan turun dengan mengenakan ikatan”. Maksudnya ikatan di kepalanya, beliau menunjuk kepada kepalanya. (Diriwayatkan oleh al- Bukhori, No. 1635 dalam Kitab al- Hajj, Bab “Memberi Minum Orang yang Berhaji”).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan dari Ibnu Abbas Radhialloohu 'Anhuma, bahwasanya Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Air Zamzam berkhasiat untuk tujuan meminumnya. Jika engkau meminumnya untuk tujuan meminta kesembuhan, maka Alloh akan menyembuhkanmu. Jika engkau meminumnya agar kenyang, maka Alloh akan mengenyangkanmu. Jika engkau meminumnya untuk menghilangkan kehausanmu, maka Alloh akan menghilangkan hausmu. Zamzam adalah galian Jibril dan minuman Isma’il”. (Diriwayatkan oleh al- Hakim 1/ 473, dan ad- Daruquthni, 2/ 279).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan oleh ‘Aisyah Radhialloohu 'Anha bahwasanya beliau membawa air Zamzam dan mengatakan bahwa Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam pernah membawanya. (Diriwayatkan oleh at- Tirmidzi No. 963, dan ia berkata, Hadits ini Shahih Gharib, tidak diketahui selain dari jalur ini. Syaikh al- Albani Rahimahulloh menshahihkannya dalam Kitab as- Silsilaatush Shahiihah, No. 883).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan masih banyak lagi hadits- hadits tentang fadhilah air Zamzam dan kekhususannya. Hadits- hadits ini meski sebagian ada beberapa catatan atasnya, tapi sebagian ulama menshahihkannya dan dilakukan oleh para Shahabat, dan perbuatan ini terus dilakukan hingga saat ini. Hal ini dikuatkan oleh hadits riwayat Muslim dalam Shahih-nya bahwasanya Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda  tentang air Zamzam,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya ia membawa keberkahan dan makanan yang mengenyangkan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Dawud meneruskan dengan sanad yang shahih,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan penyembuh penyakit”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi tidak ada riwayat dari Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam bahwasanya beliau membacakan ayat Al- Qur’an atas air Zamzam untuk kemudian diminumkan kepada salah seorang dari shahabatnya, atau mengusapkannya untuk suatu tujuan atau untuk meringankan suatu penyakit, meskipun keberkahan Zamzam sedemikian tinggi, manfaatnya yang nyata dan keinginan beliau yang kuat untuk memberikan kebaikan utnuk umatnya. Padahal beliau sempat merasa sayang untuk meninggalkan Zamzam sebelum hijrah, dan dalam umrahnya berkali- kali serta haji yang dilakukan beliau setelah hijrah. Meski demikian tidak ada riwayat yang menyebutkan bahwa beliau menyuruh para shahabatnya untuk membacakan sesuatu atas air Zamzam untuk penyembuhan sebagaimana air- air yang lain padahal hal tersebut lebih pantas untuk dilakukan atas air Zamzam dikarenakan adanya keberkahan dan penyembuhan padanya, berdasarkan hadits- hadits yang telah disebutkan di atas. (Fatwa Lajnah Da’imah, No. 1515).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: “Penyimpangan Terhadap Al Qur’an/ Bida’un Naas Fiil Qur’an (Kumpulan Fatwa:Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz, Syaikh Abdullah bin Abdurrahman al- Jibrin, Syaikh Shalih bin Fauzan al- Fauzan, dan Lajnah Da’imah Lil Buhuts al- ‘Ilmiyah”. Hal. 89- 92. Abu Anas Ali bin Husain Abu Luz. Pustaka Darul Haq. Jakarta.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2107481068058571539-6059630990112377194?l=buletindarulilmy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buletindarulilmy.blogspot.com/feeds/6059630990112377194/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2107481068058571539&amp;postID=6059630990112377194&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2107481068058571539/posts/default/6059630990112377194'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2107481068058571539/posts/default/6059630990112377194'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buletindarulilmy.blogspot.com/2010/12/membacakan-ayat-al-quran-atas-air.html' title='Membacakan Ayat Al- Qur’an Atas Air Zamzam (Bolehkah?)'/><author><name>khafidl khafidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12391092020879071145</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/__bf6ZucOoBA/TB-b6CilMiI/AAAAAAAAAaU/Sdg2fZ8YQRs/S220/085.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/__bf6ZucOoBA/TQNlg1WaDRI/AAAAAAAAAkQ/DU56oOyZb9g/s72-c/switzerland-mountain-lake.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2107481068058571539.post-3960514402148023271</id><published>2010-12-11T03:41:00.000-08:00</published><updated>2010-12-11T03:47:18.683-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dienul Islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mu&apos;amalah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='General'/><title type='text'>Suara Wanita Di Dalam Ibadah</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/__bf6ZucOoBA/TQNkpJovpFI/AAAAAAAAAkI/BwFeFwjMWxw/s1600/desen_2_by_hudabi.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 180px; padding:3px; border:6px solid #BEBBBB;" src="http://1.bp.blogspot.com/__bf6ZucOoBA/TQNkpJovpFI/AAAAAAAAAkI/BwFeFwjMWxw/s200/desen_2_by_hudabi.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5549389823974810706" /&gt;&lt;/a&gt;Adakah Adzan Bagi Wanita..?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaum wanita tidak ada kewajiban adzan dan iqomat, bahkan haram bagi mereka mengeraskan suara lalu didengar oleh kaum pria karena hal itu menimbulkan fitnah. Hanya, boleh baginya untuk adzan atau iqomat apabila untuk diri sendiri atau jama’ah khusus wanita saja. (Lihat Jami’ Ahkamin Nisa’, 1/ 302, oleh Syaikh Musthofa al- ‘Adawi. Lihat pula buku, ‘Fiqih Adzan dan Iqomat’, karya Ust. Abu Ubaidah Yusuf as- Sidawi, Darul Ilmi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menegur Imam yang Lupa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila wanita sholat berjama’ah di masjid, lalu imam lupa, maka bagi kaum wanita cukup mengingatkannya dengan menepuk punggung tangan kirinya. Inilah pendapat yang dipilih oleh Imam Ahmad, Imam asy- Syafi’i, dan al- Auza’i (at- Tahmid 7/ 436 oleh Ibnu Abdil Barr, al- Mughni 1/ 267, oleh Ibnu Qudamah Rahimahulloh) berdasarkan hadits yang berbunyi,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apabila kalian mengalami sesuatu dalam sholat kalian, maka hendaklah kaum lelaki mengucapkan ‘Subhanalloh’ dan kaum wanita menepuk tangannya”. (HR. Bukhori, No. 7190, dan Muslim, No. 421).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ibnu Abdil Barr mengatakan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sebagian Ahli Ilmu mengatakan, ‘Alasan dibencinya mengucapkan ‘Subhanalloh’ bagi kaum wanita dan mereka hanya diperbolehkan menepuk tangan karena suara wanita itu umumnya lembut, dan ditakutkan mengganggu pikiran jama’ah sholat”. (at- Tahmid, 7/ 437).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Talbiyah ketika Umroh dan Haji&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita ketika umroh tetap diperintahkan bertalbiyah. Cara bertalbiyahnya tidak dengan suara keras, cukup didengar oleh dirinya sendiri. Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jibril datang menemuiku, dan dia memerintahkan agar aku memerintahkan para shahabatku mengeraskan suara ketika bertalbiyah”. (HR. Abu Dawud, No. 1814, Syaikh al- Albani Rahimahulloh menyatakan hadits ini Shahih dalam Kitab al- Misykah, No. 2549).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perintah mengeraskan suara saat talbiyah dalam hadits ini khusus untuk laki- laki, karena kalimatnya adalah ‘Ashhabi’, maksudnya adalah para shahabat laki- laki. Imam Syaukani Rahimahullloh berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wanita tidak mengeraskan suara ketika bertalbiyah, tetapi cukup bertalbiyah dengan suara yang didengar dirinya sendiri”. (Lihat Nailul Author, 4/ 323).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ibnu Abdil Barr Rahimahulloh berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ulama telah sepakat bahwasanya yang sunnah bagi wanita adalah tidak mengeraskan suara ketika bertalbiyah, tetapi cukuplah ia bertalbiyah dengan suara yang terdengar oleh dirinya sendiri”. (al- Istidzkar, 11/ 122, al- Iqna’ Fi Masa’il al- Ijma’, 1/ 255).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara Wanita bukan Aurat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara wanita bukan aurat. Namun karena suara wanita bisa mengundang fitnah bagi orang lain, dan membahayakan dirinya maka syari’at Islam mengaturnya dengan aturan yang rapi dan Indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ummu Athiyyah Radhialloohu 'Anha berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kami membai’at Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam, lalu beliau membaca ayat, “Mereka tidak akan mempersekutukan sesuatupun dengan Alloh”. Beliau Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam melarang kami berbuat Niyahah (meratapi orang mati_ red), lalu ada seorang wanita di antara kami yang memgang tangannya seraya berkata, “Fulanah telah membuatku bahagia dan aku ingin membalas budi baiknya”. Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam tidak menjawab sedikitpun, lalu wanita tersebut pergi dan kembali...”. (HR. al- Bukhori, No. 6989).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al- Hafizh Ibnu Hajar al- ‘Asqalani Rahimahulloh berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hadits ini menunjukkan suara wanita yang bukan mahrom boleh didengar, dan suaranya bukan aurat”. (Fat- hul Baari, 13/ 203).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah pendapat yang benar dalam masalah ini bahwa suara wanita bukan aurat. Boleh wanita berbicara kepada laki- laki yang bukan mahromnya untuk suatu keperluan. Pendapat ini dikuatkan oleh mayoritas ulama. Para ulama Syafi’iyyah berkata, “Suara wanita bukan aurat”. (Mughnil Muhtaj, 3/ 129). Demikian pula ulama madzhab Hanbali mengatakan, “Suara wanita yang bukan mahrom bukanlah aurat”. Para Ulama Mallikiyyah mengatakan, “Suara wanita bukan aurat”. (Hasyiyah ad- Dasuqi, 1/ 195), Para Ulama Hanafiyyah mengatakan, “Suara wanita bukan aurat menurut pendapat yang terkuat”. (Raddul Mukhtar, 1/ 405).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: ‘Ketika Wanita ingin Berbicara’. Abu Anisah bin Lukman al- Atsari. Majalah Al- Furqon Edisi 107. Edisi 4/th 10/1431H/ Hal. 74-76.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2107481068058571539-3960514402148023271?l=buletindarulilmy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buletindarulilmy.blogspot.com/feeds/3960514402148023271/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2107481068058571539&amp;postID=3960514402148023271&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2107481068058571539/posts/default/3960514402148023271'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2107481068058571539/posts/default/3960514402148023271'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buletindarulilmy.blogspot.com/2010/12/suara-wanita-di-dalam-ibadah.html' title='Suara Wanita Di Dalam Ibadah'/><author><name>khafidl khafidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12391092020879071145</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/__bf6ZucOoBA/TB-b6CilMiI/AAAAAAAAAaU/Sdg2fZ8YQRs/S220/085.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/__bf6ZucOoBA/TQNkpJovpFI/AAAAAAAAAkI/BwFeFwjMWxw/s72-c/desen_2_by_hudabi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2107481068058571539.post-2372015956711684715</id><published>2010-11-21T06:19:00.002-08:00</published><updated>2010-11-21T06:27:26.989-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dienul Islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='General'/><title type='text'>Sholat dengan memejamkan mata, bolehkah..?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/__bf6ZucOoBA/TOkrs5XwDHI/AAAAAAAAAkA/_-G6WDcbdj0/s1600/18979_1154862402951_1569444348_30329616_5086327_n.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 125px; padding:3px; border:6px solid #BEBBBB;" src="http://3.bp.blogspot.com/__bf6ZucOoBA/TOkrs5XwDHI/AAAAAAAAAkA/_-G6WDcbdj0/s200/18979_1154862402951_1569444348_30329616_5086327_n.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5542008866770783346" /&gt;&lt;/a&gt;Soal: Apakah hukumnya seseorang Sholat dengan memejamkan matanya dengan alasan lebih khusyu’ ..?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawab: Tidak boleh sholat dengan memejamkan mata karena hal ini menyelisihi sunnah Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh al- Baihaqi di dalam Sunan al- Kubra, 2/ 283 dan dishahihkan oleh Syaikh al- Albani Rahimahulloh di dalam Sifat Sholat Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam halaman 89, bahwasanya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam ketika sholat menundukkan kepalanya, dan melihat dengan matanya ke tanah”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh al- Albani Rahimahulloh berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Di dalam hadits ini bahwa yang Sunnah hendaknya seseorang mengarahkan pandangannya ke tempat sujudnya di tanah, sedangkan yang dilakukan oleh sebagian orang yang sholat dengan memejamkan mata di dalam sholatnya maka ini adalah sikap yang berlebihan, dan sebaik- baik petunjuk adalah petunjuk Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam”. (Sifat Sholat Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam hal. 89).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;_____________________________________________________________&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal: Apakah plester, perban, dan semisalnya yang menutupi luka menyebabkan wudhu tidak sah..? bagaimana tatacara wudhu/ mandi orang yang kulitnya/ lukanya ditutup plester..?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawab: &lt;br /&gt;Telah datang riwayat dari Ibnu Umar Radhialloohu 'Anhuma yang diriwayatkan oleh al- Baihaqi dalam Sunan al- Kubra, 1/ 228, dan dishahihkan oleh Syaikh al- Albani Rahimahulloh di dalam Tamamul Minnah, Hal. 134 bahwa dia berwudhu dalam keadaan telapak tangannya diperban, maka dia mengusap anggota tubuh yang diperban, dan membasuh yang lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;___________________________________________________________________&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal: Bagaimana hukum mengangkat tangan untuk berdo’a setiap kali selesai sholat fardhu..? Bagaimana jika dilakukan setiap selesai sholat sunnah..?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawab: Tidak disyari’atkan mengangkat tangan untuk berdo’a setiap kali selesai sholat fardhu karena Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam tidak pernah melakukannya. Adapun setiap selesai sholat sunnah maka dibolehkan meskipun yang lebih afdhol tidak melakukannya secara terus- menerus, karena yang terus- menerus tidak diriwayatkan dari Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam. (Lihat Tanya Jawab Tentang Rukun Islam, oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baaz, hal. 118).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;____________________________________________________________________&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal: Jika seorang Wanita Suci dari Haidnya pada waktu Ashar, apakah wajib baginya melakukan Sholat Dzuhur..?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawab: Jika seorang wanita suci dari haidnya pada waktu ashar, maka wajib baginya melakukan sholat dzuhur, menurut pendapat yang rojih. Karena waktu kedua sholat tersebut adlah satu bagi orang yang mendapat halangan seperti wanita yang haid. (Lihat Tanya Jawab Tentang Rukun Islam oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baaz, Hal. 90).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;____________________________________________________________________&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal: Apakah mengantuk membatalkan wudhu.? Sah kah Sholat orang yang mengantuk..?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawab: Mengantuk tidak membatalkan wudhu dan sholat. (Lihat Fatawa Wa Maqolat Syaikh Bin Baaz, Jilid 10, Bab ‘Nawaqidul Wudhu’).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;____________________________________________________________________&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal: Apa yang seharusnya dilakukan jika seseorang sedang sholat sunnah di masjid, kemudian muadzin mengumandangkan iqomah..?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawab: Jika seseorang sedang sholat sunnah di masjid kemudian muadzin mengumandangkan iqomah maka hendaknya dibatalkan sholatnya dan mengikuti sholat wajib dengan dalil sabda Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam yang diriwayatkan oleh Muslim di dalam Shahihnya, 2/ 153:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jika Sudah dikumandangkan iqomah, maka tidak boleh sholat kecuali yang wajib” (Lihat Fatwa Lajnah Da’imah: 5107).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;_____________________________________________________________________&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal: Apakah Seoang makmum tetap wajib membaca surat al- Fatihah  pada sholat Jahriyyah..?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawab: Makmum tidak wajib membaca surat Al- Fatihah pada sholat jahriyyah sebagaimana riwayat dari Abu Hurairoh Radhialloohu 'Anhu bahwa para shahabat tidak membaca surat al- Fatihah ketika sholat jahriyyah bersama Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam (Diriwayatkan oleh Imam Malik dalam al- Muwaththo’ 1/ 86, dan Humaidi di dalam Musnad nya, 2/ 423, dan Ahmad di dalam Musnadnya, 2/ 240, Abu Dawud di dalam Sunan nya, 1/ 218, dan dishahihkan oleh Abu Hatim dan Ibnul Qayyim al- Jauziyyah, Lihat Sifat Sholat Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam, hal. 99).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;_________________________________________________________________&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal: Sebagian wanita ketika sholat kelihatan lengan tangannya (karena menggunakan mukena yang tidak syar’i) apakah sholatnya sah..?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban: Jika seseorang wanita ketika sholat kelihatan lengan tangannya (karena menggunakan mukena yang tidak Syar’i) maka sholatnya tidak sah, dan hendaknya mengulang sholatnya. (Lihat Qoulul Mubin Fii Akhtho’il Mushollin, hal. 27).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: ‘Sudah Benarkan Sholat Kita: dirangkum dari Kitab- kitab Ulama Ahli Hadits dan Ahli Fiqih”. Hal. 145, 147, 151, 153, 154. Arif Fathul Ulum bin Ahmad Saifullah. Majelis Ilmu Publishing. Gresik.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2107481068058571539-2372015956711684715?l=buletindarulilmy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buletindarulilmy.blogspot.com/feeds/2372015956711684715/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2107481068058571539&amp;postID=2372015956711684715&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2107481068058571539/posts/default/2372015956711684715'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2107481068058571539/posts/default/2372015956711684715'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buletindarulilmy.blogspot.com/2010/11/sholat-dengan-memejamkan-mata-bolehkah.html' title='Sholat dengan memejamkan mata, bolehkah..?'/><author><name>khafidl khafidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12391092020879071145</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/__bf6ZucOoBA/TB-b6CilMiI/AAAAAAAAAaU/Sdg2fZ8YQRs/S220/085.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/__bf6ZucOoBA/TOkrs5XwDHI/AAAAAAAAAkA/_-G6WDcbdj0/s72-c/18979_1154862402951_1569444348_30329616_5086327_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2107481068058571539.post-4242182313937823960</id><published>2010-11-21T06:16:00.001-08:00</published><updated>2010-11-21T06:18:36.304-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dienul Islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mu&apos;amalah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='General'/><title type='text'>Penyajian Hidangan Makanan Oleh Keluarga Mayit</title><content type='html'>Tentang penyajian makanan untuk tamu, sepintas memang perkara yang terpuji. Namun manakala penyajian hidangan tersebut dilakukan oleh keluarga si mayit –baik untuk sajian tamu undangan tahlilan atau lainnya- maka memiliki hukum tersendiri. Bukan hanya saja tidak pernah dicontohkan oleh Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam bahkan perbuatan ini telah melanggar sunnah para shahabatnya Radhialloohu 'Anhum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shahabat Jarir –salah seorang shahabat Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam- menemui Umar bin Khaththab Radhialloohu 'Anhu. Umar berkata, ‘Apakah kalian sering meratapi mayit..?’ Jarir menjawab, “Oh, tidak..!”. Umar Radhialloohu 'Anhu bertanya lagi, “Apakah ada di antara kaum wanita kalian punya kebiasaan berkumpul di rumah keluarga mayit dan memakan hidangannya?”. Jarir menjawab, “Ya!”. Umar Radhialloohu 'Anhu berkata, “ITU SAMA SAJA DENGAN MERATAPI MAYIT”. (Mushanaf Ibni Abi Syaibah, 3/ 291, No. 11467).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itulah dalam beberapa riwayat, disebutkan Jarir bin Abdillah al- Bajali Radhialloohu 'Anhu berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kami memandang kegiatan berkumpul di rumah keluarga mayit dan penghidangan makanan oleh keluarga mayit merupakan bagian dari Niyahah (meratapi mayit)”. (Sunan Ibnu Majah, 1/ 514, No. 1612, dan dishahihkan oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al- Albani Rahimahulloh).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula Abu Bakhtari berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hidangan kematian dari keluarga mayit adalah  perkara jahiliyah, menginapnya para wanita yang bukan keluarga mayit di rumah keluarga mayit juga perkara jahiliyah, begitu pula meratapi mayit termasuk perkara jahilyah”. (Mushanaf Ibni Abi Syaibah, 3/ 559, No. 6689).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga jelas, berdasarkan Ijma’ para Shahabat Radhialloohu 'Anhum –yang belajar Islam langsung kepada Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam- bahwa acara berkumpul di rumah keluarga mayit dan penjamuan hidangan dari keluarga mayit termasuk perbuatan yang dilarang oleh agama. Wallohu A’lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;﻿Sumber: 'Fatawa: Majalah khusus berisi fatwa ulama Dunia'. Vol. VI/ No. 09. Hal. 5. Pustaka at- Turots. Islamic Centre Bin Baaz. Yogyakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;﻿&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2107481068058571539-4242182313937823960?l=buletindarulilmy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buletindarulilmy.blogspot.com/feeds/4242182313937823960/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2107481068058571539&amp;postID=4242182313937823960&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2107481068058571539/posts/default/4242182313937823960'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2107481068058571539/posts/default/4242182313937823960'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buletindarulilmy.blogspot.com/2010/11/penyajian-hidangan-makanan-oleh.html' title='Penyajian Hidangan Makanan Oleh Keluarga Mayit'/><author><name>khafidl khafidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12391092020879071145</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/__bf6ZucOoBA/TB-b6CilMiI/AAAAAAAAAaU/Sdg2fZ8YQRs/S220/085.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2107481068058571539.post-8870363429764374255</id><published>2010-11-21T06:09:00.002-08:00</published><updated>2010-11-21T06:13:58.628-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dienul Islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mu&apos;amalah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='General'/><title type='text'>Betulkah Imam asy- Syafi’i Rahimahulloh mengirim Pahala Bacaan..?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/__bf6ZucOoBA/TOkpAp__MaI/AAAAAAAAAj4/letZuiowN8k/s1600/ahad.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px; padding:3px; border:6px solid #BEBBBB;" src="http://1.bp.blogspot.com/__bf6ZucOoBA/TOkpAp__MaI/AAAAAAAAAj4/letZuiowN8k/s200/ahad.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5542005907707081122" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat yang mempunyai kebiasaan melakukan kenduri/ tahlilan/ yasinan biasanya mengaku sebagai pengikut madzhab Imam asy- Syafi’i Rahimahulloh. Bahkan, mereka mengklaim kenduri/ tahlilan/ yasinan adalah ciri khas ajaran madzhab Syafi’i yang harus dilestarikan di bumi madzhab Syafi’i –sebutan mereka terhadap Indonesia- ini. Bagaimana sebenarnya imam asy- Syafi’i dan ulama- ulama besar dari kalangan madzhab Syafi’i berpandangan tentang kenduri/ tahlilan/ yasinan..?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam asy- Syafi’i Rahimahulloh, dalam kitabnya berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku membenci acara berkumpulnya orang di rumah keluarga mayit (ma- tam) meskipun tidak disertai dengan tangisan. Karena hal itu akan menambah kesedihan dan memberatkan urusan mereka”. (Al- Um, Juz. 1 hal. 279).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Nawawi Rahimahulloh, seorang imam besar madzhab Syafi’i setelah mengutip perkataan Syafi’i tersebut di dalam kitabnya berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini adalah lafazh beliau dalam kitab Al- Um. Inilah yang diikuti oleh murid- murid beliau. Adapun pengarang kitab ini (al- Muhadzdzab, asy- Syirazi) dan lainnya berargumentasi dengan argumen laiin yaitu bahwa perbuatan tersebut merupakan perkara yang diada- adakan dalam agama (muhdats)”. (Majmu’ Syarh al- Muhadzdzab, Juz. 5 hal. 306).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya Imam Nawawi Rahimahulloh juga berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pengarang ‘asy- Syamil’ dan lainnya berkata, “Adapun penghidangan makanan oleh keluarga mayit berikut berkumpulnya masyarakat dalam acara tersebut adalah tidak ada dalil naqli- nya dan hal tersebut merupakan perbuatan bid’ah bukan suatu yang disukai”. (al- Majmu’, Juz.5 hal. 320).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kitab fikih madzhab Syafi’iyah, dikutip bahwa Imam Syafi’i Rahimahulloh berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan, dibenci menyediakan makanan pada hari pertama kematian, hari ketiga, dan seterusnya setelah sepekan. Dilarang juga membawa makanan ke kuburan secara musiman (seperti haul dan sadranan)”. (I’anatut Thalibin, Juz. 2 hal. 146).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam baris sebelumnya dikutip,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dibenci pertamuan dengan penyajian makanan yang disediakan oleh keluarga mayit, karena hal ini hanya dilakukan dalam suasana gembira, kebiasaan itu adalah bid’ah”. (I’anatut Thalibin, Juz.2 Hal. 146).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makruh dalam konteks ucapan Imam Syafi’i Rahimahulloh dan murid- murid nya tersebut di atas adalah bermakna haram. Tentu, sebagian pembela kenduri./ yasinan/tahlilan membantah pernyataan itu. Tetapi dalam kitab yang sama disebutkan bahwa imam Syafi’i Rahimahulloh menegaskan keharamannya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan antara bid’ah yang mungkar ialah kebiasaan orang yang melahirkan rasa kesedihannya sambil berkumpul beramai- ramai pada hari ke empat puluh, padahal semua itu adalah haram”. (I’anatut Thalibin, juz. 2 Hal. 146- 147).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi Imam Syafi’i sendiri yang menegaskan perbuatan makruh tersebut adalah kebiasaan yang diharamkan. Yang disukai beliau Rahimahulloh adalah sebaliknya, MENYEDIAKAN MAKANAN UNTUK KELUARGA MAYIT. Mungkin kerabat atau tetangganya bisa meringankan kesedihan dan kesibukan keluarga mayit dengan membantu memberikan bantuan berupa makanan yang siap santap. Imam Syafi’i Rahimahulloh berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku suka kalau tetangga si mayit atau kerabat si mayit menyediakan makanan untuk keluarga si mayit pada hari kematian dan malamnya sehingga mengenyangkan mereka. Sesungguhnya inilah amalan yang Sunnah dan perbuatan ahli kebaikan”. (Al- Hawi Fi Fiqhisy Syafi’i, Juz 3, Hal. 66 dan al- Majmu’ Syarh al- Muhadzdzab, Juz. 5 hal. 319).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat imam Syafi’i Rahimahulloh dan para muridnya tersebut sesuai dengan larangan yang disebutkan dalam atsar –baik dipandang sebagai ijma’ shahabat atau bahkan taqrir dari Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam- dan perintah Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam ketika kaum Muslimin menghadapi kematian tetangganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada dasarnya, pihak yang membolehkan acara tahlilan/ yasinan tidak memiliki argumentasi/dalih melainkan hanya satu dalih saja yaitu istihsan, yaitu menganggap baiknya suatu amalan, dengan dalil- dalil yang bersifat umum. Dalil yang dipegang adalah keumuman ayat atau hadits yang menganjurkan untuk membaca Al- Qur’an, berdzikir, ataupun berdo’a, dan anjuran memuliakan tamu sajian hidangan yang diniati sebagai sedekah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana dijelaskan dalam Kitab Ushul Fiqhisy Syafi’iyyah dikatakan bahwa istihsan yang diartikan dengan berpindahnya hukum dari ketentuan dalil (Al- Qur’an dan As- Sunnah) kepada ketentuan budaya adalah ditolak. Karena itu imam Syafi’i Rahimahulloh berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barangsiapa yang menganggap baik suatu amalan (tanpa dicontohkan oleh Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam) berarti telah menciptakan hukum syari’at sendiri”. Wallohu A’lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;﻿Sumber: 'Fatawa: Majalah khusus berisi fatwa ulama Dunia'. Vol. VI/ No. 09. Hal. 5-6. Pustaka at- Turots. Islamic Centre Bin Baaz. Yogyakarta.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2107481068058571539-8870363429764374255?l=buletindarulilmy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buletindarulilmy.blogspot.com/feeds/8870363429764374255/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2107481068058571539&amp;postID=8870363429764374255&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2107481068058571539/posts/default/8870363429764374255'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2107481068058571539/posts/default/8870363429764374255'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buletindarulilmy.blogspot.com/2010/11/betulkah-imam-asy-syafii-rahimahulloh.html' title='Betulkah Imam asy- Syafi’i Rahimahulloh mengirim Pahala Bacaan..?'/><author><name>khafidl khafidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12391092020879071145</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/__bf6ZucOoBA/TB-b6CilMiI/AAAAAAAAAaU/Sdg2fZ8YQRs/S220/085.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/__bf6ZucOoBA/TOkpAp__MaI/AAAAAAAAAj4/letZuiowN8k/s72-c/ahad.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2107481068058571539.post-8947311384228344418</id><published>2010-11-21T05:54:00.002-08:00</published><updated>2010-11-21T05:59:21.709-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dienul Islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='General'/><title type='text'>Jin dan Urusan Ghaib.</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/__bf6ZucOoBA/TOklet-J96I/AAAAAAAAAjw/V8YeFlD3Z6c/s1600/allah_wz_arabisque_by_masy1.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 176px; padding:3px; border:6px solid #BEBBBB;" src="http://3.bp.blogspot.com/__bf6ZucOoBA/TOklet-J96I/AAAAAAAAAjw/V8YeFlD3Z6c/s200/allah_wz_arabisque_by_masy1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5542002026122704802" /&gt;&lt;/a&gt;Jin dan Urusan Ghaib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan: Apakah Jin mengetahui perkara yang Ghaib..?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban: Jin tidak mengetahui perkara Ghaib. Tidak ada yang mengetahui perkara ghaib baik makhluk Alloh yang ada di langit maupun yang ada di Bumi. Yang mengetahui persoalan ghaib hanyalah Alloh Subhanahu Wa Ta’ala semata. Coba perhatikan firman Alloh Ta’ala berikut,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maka tatkala Kami telah tetapkan kematian Sulaiman, tidak ada yang menunjukkan kepada mereka kematiannya itu kecuali rayap yang memakan tongkatnya. Maka tatkala ia telah tersungkur, tahulah jin itu bahwa kalau sekiranya mereka mengetahui yang ghaib tentulah mereka tidak akan tetap dalam siksa yang menghinakan”. (QS. Saba: 14).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangsiapa yang menyatakan dirinya mengetahui perkara ghaib berarti telah kafir. Barangsiapa yang membenarkan orang yang menyatakan dirinya tahu yang ghaib berarti juga kafir. Hal ini berdasarkan firman Alloh Ta’ala,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Katakanlah, “Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi  yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Alloh”, dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan”. (QS. An- Naml: 65).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh, tidak ada yang mengetahui perkara ghaib di langit dan di bumi kecuali hanyalah Alloh saja. Yang mengaku- ngaku dirinya tahu perkara yang ghaib atau perkara yang akan terjadi, adalah termasuk perdukunan. Ada sebuah riwayat hadits Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam bahwasanya barangsiapa mendatangi seorang dukun lalu bertanya kepada dukun, maka sholatnya tidak diterima selama empat puluh hari. Hadits riwayat Muslim,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barangsiapa mendatangi tukang ramal (dukun atau paranormal) lantas bertanya tentang sesuatu, maka sholatnya tidak diterima selama empat puluh malam”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HR. Muslim dalam Kitab as- Salaam (No. 3230) dan Ahmad dalam Kitab ‘Musnad Madaniyyin, No. 16202, dan kitab “Baqi Musnad Anshar” No. 22711.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau seseorang sampai membenarkannya, berarti dirinya telah kafir. Karena telah membenarkan ucapan dukun, yang menyatakan dirinya tahu perkara yang ghaib, dan berarti telah mendustakan firman Alloh Ta’ala dalam surat An- Naml ayat 65 di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Abdurrahman bin Nashir as- Sa’di Rahimahulloh dalam kitabnya ‘Taisiru al- Karimi ar- Rahman Fii Tafsiri Kalami al- Manan, (Birut: Muasasah al- Risalah. 1421H/ 2000M hal. 946) menjelaskan tafsir ayat 14 Surat Saba di atas tersebut,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Setan senantiasa bekerja membangun berbagai macam bentuk bangunan untuk Nabi Sulaiman ‘Alaihis Salam. Sebelumnya mereka selalu menipu manusia dan menyebarkan berita bahwasanya mereka mengetahui perkara ghaib dan malihat hal yang tersembunyi. Alloh Ta’ala berkehendak untuk menampakkan kedustaan mereka kepada manusia. Setan terus menerus mengerjakan pekerjaannya, sementara Alloh telah menetapkan kematian Nabi Sulaiman ‘Alaihis Salam. Beliau meninggal tetap dalam posisi bersandar pada tongkatnya, setan selalu menyangka beliau masih hidup, sehingga bila setan melewatinya selalu menghormati dan mengagungkannya. Hal itu berjalan selama setahun penuh (berdasarkan satu keterangan) hingga Nabi Sulaiman jatuh tersungkur karena tongkatnya habis dimakan rayap. Setan pun akhirnya bubar. Jelaslah bagi manusia bahwasanya jim itu (kalau sekiranya mereka mengetahui yang ghaib, tentulah mereka tidak akan tetap dalam siksa yang menghinakan) berupa pekerjaan yang berat itu. Kalau seandainya mereka tahu yang ghaib, pastilah bisa mengetahui kematian Nabi Sulaiman ‘Alaihis Salam. Yang mana mereka ingin segera lepas dari beban pekerjaan yang berat yang diawasi oleh Nabi Sulaiman ‘Alaihis Salam".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Fatawa Arkanu al- Islam, Soal. No. 44, hal. 98, Syaikh Ibnu Utsaimin Rahimahulloh).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;﻿Sumber: 'Fatawa: Majalah khusus berisi fatwa ulama Dunia'. Vol. VI/ No. 09. Hal. 9. Pustaka at- Turots. Islamic Centre Bin Baaz. Yogyakarta.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2107481068058571539-8947311384228344418?l=buletindarulilmy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buletindarulilmy.blogspot.com/feeds/8947311384228344418/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2107481068058571539&amp;postID=8947311384228344418&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2107481068058571539/posts/default/8947311384228344418'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2107481068058571539/posts/default/8947311384228344418'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buletindarulilmy.blogspot.com/2010/11/jin-dan-urusan-ghaib.html' title='Jin dan Urusan Ghaib.'/><author><name>khafidl khafidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12391092020879071145</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/__bf6ZucOoBA/TB-b6CilMiI/AAAAAAAAAaU/Sdg2fZ8YQRs/S220/085.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/__bf6ZucOoBA/TOklet-J96I/AAAAAAAAAjw/V8YeFlD3Z6c/s72-c/allah_wz_arabisque_by_masy1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2107481068058571539.post-8007783367313351312</id><published>2010-11-21T05:31:00.000-08:00</published><updated>2010-11-21T05:36:48.691-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dienul Islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='General'/><title type='text'>Setiap ayat dan Surat dalam Al- Qur’an merupakan penyembuh hati, rahmat, dan petunjuk bagi orang- orang yang beriman.</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/__bf6ZucOoBA/TOkgBfIlTRI/AAAAAAAAAjo/gL5Dxv_Td5A/s1600/desen_2_by_hudabi.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 180px; padding:3px; border:6px solid #BEBBBB;" src="http://2.bp.blogspot.com/__bf6ZucOoBA/TOkgBfIlTRI/AAAAAAAAAjo/gL5Dxv_Td5A/s200/desen_2_by_hudabi.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5541996026365562130" /&gt;&lt;/a&gt;Mengkhususkan Surat- Surat Al- Kahfi, As- Sajdah, Yasin, Fushshilat, Ad- Dukhan, Al- Waqi’ah, Al- Hasyr, dan Al- Mulk sebagai Ayat- ayat Penyelamat. (Bolehkah..??)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Fatawa Lajnah Da’imah Lil Buhuuts al ‘Ilmiyyah, No. 1260).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap ayat dan Surat dalam Al- Qur’an merupakan penyembuh hati, rahmat, dan petunjuk bagi orang- orang yang beriman serta penyelamat bagi orang yang berpegang teguh dengannya, dan mengambil petunjuknya dari kekufuran, kesesatan, dan adzab yang pedih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam telah menerangkan dengan ucapan, perbuatan dan persetujuannya terhadap diperbolehkannya ruqyah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan oleh Anas bin Malik Radhialloohu 'Anhu bahwa ia berkata, “Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam memberi keringanan untuk membolehkan ruqyah dari mata jahat (sawan), sengatan dan (gigitan) semut”. Diriwayatkan oleh Muslim No. 2196, dalam Kitab as- Salaam, Bab. “Disunnahkannya Ruqyah dari mata jahat (sawan)”..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Auf bin Malik Radhialloohu 'Anhu ia berkata, “Kami pernah melakukan ruqyah pada zaman Jahiliyyah, kemudian kami bertanya, “Wahai Rasululloh, bagaimana hukum ruqyah kami tersebut?” Beliau menjawab, “Tunjukkan padaku Ruqyah kalian tersebut, tidak mengapa menggunakan ruqyah selama tidak mengandung kesyirikan”. (HR. Muslim, No. 2200, dalam Kitab as- Salaam, Bab “Diperbolehkan ruqyah selama tidak mengandung kesyirikan”.).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tetapi TIDAK ADA RIWAYAT dari beliau Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam yang mengkhususkan Delapan (8) Surat dalam Al- Qur’an ini sebagai surat- surat penyelamat. Yang ada justru bahwa beliau Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam memohonkan perlindungan untuk dirinya sendiri dengan surat Al- Ikhlas, Al Falaq, dan An- Naas yang beliau baca tiga (3) kali kemudian beliau tiupkan ke kedua telapak tangan setiap kali selesai, lalu mengusapkannya ke seluruh tubuh yang bisa dijangkau”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan dari ‘Aisyah Radhialloohu 'Anha, ia berkata, “Bahwasanya Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam apabila berkehendak untuk tidur setiap malam, beliau menggabungkan kedua telapak tangannya, dan meniupkan kepadanya dengan membaca, “Qul Huwallohu Ahad”, “Qul ‘Auudzu Birobbil Falaq”, dan Surat “Qul ‘Auudzu birobbin Naas” kemudian beliau mengusapkan ke seluruh tubuh yang bisa dijangkau, dimulai dari tubuh bagian depan, dilakukan sebanyak tiga (3) kali”. (HR. al- Bukhori, No. 5017, dalam Kitab ‘Fadho’ilul Qur’an”, Bab “Keutamaan tiga Surat Mu’awwidzaat”).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Sa’id pernah meruqyah dengan Al- Fatihah kepada suku kaum kafir yang disengat binatang berbisa, hingga ia sembuh dengan izin Alloh Ta’ala, dan Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam membolehkan hal tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah tentang Abu Sa’id yang meruqyah salah seorang kepala suku kaum kafir yang disengat binatang berbisa, kemudian sembuh karenanya dengan seizin Alloh Ta’ala, dikisahkan oleh al- Bukhori dalam haditsnya No. 2276 dalam Kitab Ijarah, Bab. “Upah atas Ruqyah dengan Al- Fatihah terhadap suatu kaum Arab”. Dan diriwayatkan pula oleh Muslim, No. 2201, dalam Kitab as- Salaam, Bab “Diperbolehkannya mengambil upah atas ruqyah dengan ayat Al- Qur’an dan Dzikir- dzikir”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam juga membolehkan ruqyah dengan bacaan ayat Kursi ketika hendak tidur, dan bahwa yang membacanya tidak akan didekati setan pada malam tersebut. Yaitu pada kisah seorang pencuri yang tertangkap saat datang kepada Abu Hurairoh Radhialloohu 'Anhu untuk mencuri harta zakat. Kemudian Abu Hurairoh Radhialloohu 'Anhu menceritakan pengakuan pencuri tersebut kepada Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam maka beliau mengatakan bahwa dia adalah setan, dan beliau membenarkan apa yang disebutkan oleh setan tersebut kepada Abu Hurairoh Radhialloohu 'Anhu tentang Fadhilah Ayat Kursi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Jika engkau berkehendak tidur, maka bacalah ayat Kusi, maka niscaya engkau akan selaluu dijaga oleh Alloh dan engkau tidak akan didekati setan hingga menjelang pagi”. Diriwayatkan oleh al- Bukhori No. 2311, dalam Kitab ‘Wakalah”, Bab “Jika seseorang mewakilkan kepada orang lain”, dan diriwayatkan pula No. 3275, dan 5010.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MAKA BARANGSIAPA YANG MENGKHUSUSKAN SURAT- SURAT YANG TELAH TERSEBUT DI ATAS SEBAGAI SURAT- SURAT PENYELAMAT, MAKA BERARTI IA TELAH BERBUAT BID’AH. Barangsiapa mengurutkan Surat- surat ini dan memisahkan dari surat- surat lainnya dalam Al- Qur’an dengan tujuan mencari keselamatan, penjagaan diri, dan mencari berkah, maka ia telah bermaksyiat karena telah mengingkari urutan mushaf Utsmani yang telah disepakati oleh para Shahabat Radhialloohu 'Anhum, dan telah meninggalkan sebagian besar Al- Qur’an dengan mengkhususkan sebagian kecil, yang tidak pernah dikhususkan oleh Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam atau salah seorang dari Shahabatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian maka wajib hukumnya untuk melarang perbuatan ini dan mencegah pencetakan model ini, sebagai pengingkaran terhadap kemungkaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: ‘Penyimpangan Terhadap Al- Qur’an, Kumpulan Fatwa Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz, Syaikh Abbullah bin Abdurrahman al- Jibrin, Syaikh Shalih bin Fauzan al- Fauzan, dan Lajnah Da'imah Lil Buhuts al- 'ilmiyyah” Hal. 87- 89. Abu Anas Ali bin Husain Abu Luz. Darul Haq. Jakarta.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2107481068058571539-80077833673
