Rabu, 15 September 2010

48). Ahlus Sunnah Wal Jama’ah mengikuti Sunnah Rasululloh Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam secara lahir dan bathin (At- Tanbiihaatul Lathiifah hal. 101-

48). Ahlus Sunnah Wal Jama’ah mengikuti Sunnah Rasululloh Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam secara lahir dan bathin (At- Tanbiihaatul Lathiifah hal. 101- 103).

Termasuk Jalan Ahlus Sunnah wal Jama'ah yaitu mengikuti Sunnah Rasululloh Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam secara lahir dan bathin dan mengikuti jalannya orang- orang yang terdahulu dari kaum Muhajirin dan Anshar.

Alloh Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

“Orang- orang yang terdahulu lagi yang pertama- tama (masuk Islam) di antara orang- orang Muhajirin dan Anshar serta orang- orang yang mengikuti mereka dengan baik, Alloh ridho terhadap mereka dan mereka ridho kepada Alloh. Alloh menyediakan bagi mereka Surga- surga yang mengalir sungai- sungai di bawahnya; mereka kekal di dalamnya selama- lamanya. Itulah kemenangan yang besar”. (QS. At- Taubah: 100). Lihat juga QS. Al- Baqoroh: 143 dan QS. An- Nisaa’: 115.

MEREKA MENDAHULUKAN FIRMAN ALLOH SUBHANAHU WA TA’ALA DARI SEMUA PERKATAAN MANUSIA YANG ADA. MENDAHULUKAN PETUNJUK RASULULLOH SHALLALLAHU 'ALAIHI WA SALLAM DARIPADA PETUNJUK SEMUA ORANG. MAKA YANG DEMIKIAN INILAH, MEREKA DISEBUT ATAU DIKATAKAN ALHUL QUR’AN DAN SUNNAH.

Alloh Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:



“Hai orang- orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Alloh dan Rasul- Nya dan bertaqwalah kepada Alloh. Sesungguhnya Alloh Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. QS. Al- Hujurat: 1

Alloh Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

“Sesungguhnya jawaban orang- orang mukmin, bila ia dipanggil kepada Alloh dan Rasul- Nya agar Rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan: “Kami mendengar, dan kami patuhi”. Dan mereka itulah orang- orang yang beruntung. Dan basangsiapa yang taat kepada Alloh dan Rasul- Nya dan takut kepada Alloh dan bertaqwa kepada- Nya, maka mereka adalah orang- orang yang mendapatkan kemenangan”. QS. An- Nuur: 51- 51.

Rasululloh Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda:

“Sungguh aku telah tinggalkan kepadamu dua perkara yang kalian tidak akan tersesat apabila (berpegang teguh) kepada keduanya, yaitu Kitabulloh dan Sunnahku. Keduanya tidak akan berpisah hingga keduanya datang kepadaku di Telaga (al- Haudh)”

HR. Al- Hakim (I/ 93) dan al- Baihaqi (X/ 114) dari Abu Hurairoh Radhialloohu 'Anhu, dan Malik dalam al- Muwaththa’ pada bab an- Nahyu ‘anil Qaul bil Qodar (hal. 686). Ini adalah lafadz al- Hakim, sanad Hadits ini ‘Hasan’.

Rasululloh Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam juga bersabda:

“...Sungguh, orang yang masih hidup di antara kalian sepeninggalku kelak akan melihat perselisihan yang banyak, maka wajib atasmu memegang teguh Sunnahku dan Sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk. Gigitlah ia dengan gigi gerahammu. Dan jauhilah oleh kalian perkara- perkara yang baru, karena sesungguhnya setiap perkara yang baru itu bid’ah. Dan setiap bid’ah itu sesat”

HR. Ahmad (IV/ 126- 127), Abu Dawud (No. 4607) dan at- Tirmidzi (No. 2676), ad- Darimi (I/ 44), al- Baghawi dalam kitab Syarhus Sunnah (I/ 205), al- Hakim (I/ 95) dan lainnya. Dishahihkan dan disepakati oleh Imam adz- Dzahabi dan dishahihkan juga oleh Syaikh al- Albani dalam Irwaa-ul Ghaliil (No. 2455), dari Shahabat ‘Irbadh bin Sariyah Radhialloohu 'Anhu.

AL- QUR’AN, AS- SUNNAH, DAN IJMA’ SHAHABAT adalah tiga prinsip utama yang Ahlus Sunnah berpegang dengannya dalam ilmu dan agama. Mereka menimbang dengan tiga pokok ini semua yang dikatakan dan dikerjakan oleh manusia secara lahir dan bathin dari apa- apa yang berkaitan dengan masalah agama.

ADAPUN IJMA’ YANG BERLAKU YAITU, APA YANG TELAH DIIJMA’KAN OLEH SALAFUSH SHALIH, KARENA ORANG- ORANG SESUDAH MEREKA TELAH BANYAK IKHTILAF DAN UMAT INI SUDAH BERPENCAR KE SELURUH PENJURU DUNIA. Sebagaimana perkataan Imam Ahmad bin Hanbal Rahimahulloh:

“Barangsiapa yang mengklaim (menyatakan) adanya Ijma’ setelah masa Salafush Shalih, maka ia telah berdusta”. (Lihat I’laamul Muwaqqi’iin (II/ 54) oleh Ibnu Qayyim al- Jauziyyah, Tahqiq Syaikh Masyhur Hasan Salman. Cet. I- Daar Ibnil Jauzi, th. 1423H).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahulloh, ketika menjelaskan Manhaj Ahlus Sunnah wal Jama'ah dalam masalah- masalah prinsip tertentu, beliau menyebutkan manhaj yang menyeluruh dalam agama ini, baik masalah ushul (pokok) maupun furu’ (cabang), bahwa mereka (Ahlus Sunnah) itu menempuh jalan yang lurus dan pegangan yang bermanfaat dari Al- Kitab dan As- Sunnah, mereka yang mengikuti orang yang paling tahu tentang Islam dan paling dalam ilmunya, serta paling ittiba’ kepada Al- Qur’an dan As- Sunnah, yaitu para Shahabat Radhialloohu 'Anhum. Mereka mengikuti Khulafaur Rasyidin secara khusus, serta mereka berjalan di jalan Alloh dengan diiringi prinsip- prinsip yang mulia ini.

APAPUN YANG DIKATAKAN MANUSIA ATAU MERUPAKAN PENDAPAT- PENDAPAT MADZHAB DI MANA ORANG MENGIKUTINYA, MAKA AHLUS SUNNAH MENIMBANG DENGAN TOLOK UKUR AL- QUR’AN DAN AS- SUNNAH DAN IJMA’ SHAHABAT DARI GENERASI TERBAIK UMAT INI, MAKA LURUSLAH JALAN MEREKA.

Ahlus Sunnah selamat dari bid’ah- bid’ah perkataan yang menyalahi apa yang dikatakan Rasululloh Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam dan para shahabat dalam masalah I’tiqad, sebagaimana mereka selamat dari bid’ah- bid’ah amaliyah, mereka tidak beribadah dan tidak mengadakan syari’at melainkan dengan apa yang disyari’atkan oleh Alloh Subhanahu Wa Ta’ala dan Rasululloh Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam. (Lihat at- Tanbiihat al- Lathiifah Hal. 103).

Kesimpulannya, AHLUS SUNNAH WAL JAMA'AH ADALAH
MEREKA YANG BERPEGANG TEGUH KEPADA AL- QUR’AN DAN AS- SUNNAH YANG SHAHIH MENURUT PEMAHAMAN SALAFUSH SHALIH,

MEREKA MELAKSANAKAN TAUHID KEPADA ALLOH DAN MENDAKWAHKAN KEPADA MANUSIA UNTUK BERTAUHID DAN MENGIKHLASKAN IBADAH SEMATA- MATA KARENA ALLOH,

MEREKA MENJAUHKAN SEGALA BENTUK KEMUSYRIKAN DAN PENGHAMBAAN KEPADA SELAIN ALLOH.
AHLUS SUNNAH MELAKSANAKAN SUNNAH- SUNNAH RASULULLOH SHALLALLAHU 'ALAIHI WA SALLAM,

MENGHIDUPKANNYA DAN MENGAJAK KAUM MUSLIMIN UNTUK BERPEGANG TEGUH KEPADA SUNNAH SERTA

MEREKA MENJAUHKAN SEGALA MACAM BENTUK BID’AH BAIK DALAM MASALAH I’TIQAD MAUPUN AMALIAH. KARENA SETIAP BID’AH ADALAH KESESATAN DAN SETIAP KESESATAN TEMPATNYA DI NERAKA. WALLOHU A’LAMU.

Sumber: ‘Syarah Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah” hal.402- 406. Ust. Yazid bin Abdul Qadir Jawas. Pustaka Imam Asy- Syafi’i. Bogor.


Selasa, 07 September 2010

Berbuat Baik Kepada Kedua Orang Tua

1. Firman Alloh Subhanahu wa Ta’ala “Kami perintahkan manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya”. -1

1/1. Dari Abu Amr Asy- Syaibahani, dia berkata, “Pemilik rumah ini meriwayatkan kepadaku –sambil memberikan isyarat dengan tangannya ke rumah Abdullah- dia berkata,

“Saya bertanya kepada Rasululloh Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam, ‘Apakah perbuatan yang paling dicintai Alloh Azza Wa Jalla?’ Rasululloh Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam menjawab, “Shalat pada waktunya”. Kemudian saya bertanya lagi, ‘Lalu apa?’ Rasululloh Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam menjawab, “Kemudian Berbuat baik kepada kedua orang tua”. Lalu saya kembali bertanya, “Lalu apa?” Rasululloh Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam menjawab, “Kemudian Jihad di Jalan Alloh”. Abdullah berkata, Rasululloh Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam menerangkan perkara tersebut kepadaku. Sekiranya aku meminta tambahan kepadanya, maka niscaya beliau akan menambah untukku”’.

Shahih, disebutkan di dalam kitab Al Irwa’ (1197), (Bukhori, 9. Kitab Muwaqitush-Sholat, 5- Bab Fadhlus-Shalati Li Waqtiha. Muslim, 1- Kitab Al Iman, Hadits 137, 138, 139 dan 140).

2/2. Dari Abdullah bin Umar, dia berkata, “Ridho Tuhan terletak pada ridho kedua orang tua dan kemurkaan Tuhan terletak pada kemurkaan kedua orang tua”.

Hasan Mauquf, dan Shahih Marfu’ di dalam kitab Ash- Shahihah (515).

2. Berbuat baik kepada Ibu -2.
3/3. Dari Bahaz bin Hakim, dari bapaknya, dari kakeknya, aku berkata,

“Wahai Rasululloh, siapa yang harus saya perlakukan dengan baik?” Rasululloh Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam menjawab, “Ibumu”. Saya bertanya lagi, “Siapa yang harus saya perlakukan dengan baik?” Rasululloh Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam menjawab, “Ibumu”. Lalu saya bertanya, “Siapa yang harus saya perlakukan dengan baik?” Rasululloh Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam menjawab, “Ibumu”. Saya bertanya, “Siapa yang harus saya perlakukan dengan baik?” Rasululloh Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam menjawab, “Bapakmu, kemudian kerabat yang terdekat, lalu kerabat yang terdekat”.

Hasan, di dalam Kitab Al Irwa’ (2232, 829), dan di dalam (Sunan Tirmidzi, 25- Kitab Al Birru wa Ash- Shilat, 1- Bab Ma Ja’a Fii Birril Walidain).

4/4. Dari Ibnu Abbas, Bahwasanya seseorang mendatanginya lalu berkata, “Sesungguhnya aku telah meminang seorang wanita, lalu dia enggan untuk menikah denganku. Kemudian dia dipinang oleh orang lain dan dia menikah dengannya. Akhirnya saya cemburu dengan wanita itu, lalu aku membunuhnya. Apakah (masih) ada taubat bagiku?” Ibnu Abbas bertanya, “Ibumu masih hidup?” Dia menjawab, “Tidak”. Ibnu Abbas berkata, “Bertaubatlah kepada Alloh Azza Wa Jalla, dan mendekatlah kepada-Nya semampu kamu”. [Atha’ bin Yasar berkata] “Kemudian saya menjumpai Ibnu Abbas dan bertanya kepadanya, “Mengapa engkau bertanya tentang ibunya?” Ibnu Abbas menjawab, “Sesungguhnya aku tidak mengetahui suatu amalan yang lebih dekat kepada Alloh Azza Wa Jalla dari pada berbuat baik kepada Ibu”.

Shahih, dalam Kitab Ash- Shahihah (2799)

Sumber: Shahih Adabul Mufrad. Hal. 31- 33. Syaikh Muhammad Nashiruddin al- Albani. Pustaka Azzam. Jakarta Selatan.


Senin, 06 September 2010

(39) Jangan Berputus Asa

(39) Jangan Berputus Asa

Diriwayatkan dari Abu Hurairoh Radhialloohu 'anhu bahwa Rasululloh Shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Ada seorang lelaki yang berlebih- lebihan dalam memperlakukan dirinya sendiri. Kemudian tatkala kematian menghampirinya, ia berpesan kepada anak- anaknya, 'Jika nyawaku nanti telah dicabut, bakarlah jasadku, jadikan seperti tepung, kemudian biarkan angin menerbangkan abu jasadku itu. Demi Alloh, sekiranya Alloh berkenan menyiksaku, tentulah aku akan disiksa dengan siksaan yang tidak pernah ditimpakan kepada selainku'.

Sepeninggalnya, anak- anaknya melaksanakan apa yang dipesankannya. Kemudian Alloh memerintahkan kepada Bumi "Kumpulkanlah seluruh abu yang telah berhamburan di tanah". Lalu Bumi melaksanakan apa yang diperintahkan Alloh. Tiba- tiba jasad lelaki itu berdiri tegak. Dan Alloh bertanya, "Apa yang menyebabkan kamu melakukan hal itu?" Lelaki itu menjawab, "Karena rasa takutku kepada Mu wahai Rabb ku", atau dengan lafadz, "Karena aku takut kepada Mu!" Kemudian Alloh mengampuni dosa orang itu".

HR. Bukhori No. 3478, Muslim No. 2757.

Pelajaran yang dipetik:

1. Keluasan Rahmat Alloh terhadap hamba- Nya.
2. Larangan berputus asa dari memperoleh rahmat dan ampunan Alloh.
3. Adanya udzur/ pemberian maaf disebabkan karena tidak mengerti.
4. Keutamaan takut kepada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala
5. Anjuran untuk berwasiat menjelang kematian.
6. Alloh Maha Mulia lagi Maha Kuasa berbuat segala sesuatu
7. Sebenarnya anak- anak orang tua itu tidak wajib melaksanakan pesan orang tuanya tersebut, sebab TIDAK ADA KETAATAN DALAM HAL BERMAKSYIAT KEPADA ALLOH.

Sumber: 61 Kisah Pengantar Tidur. Diriwayatkan secara Shahih dari Rasululloh Shallallaahu 'alaihi wa sallam dan Para Shahabat Radhialloohu 'anhum. Hal. 116- 117. Muhammad bin Hamid Abdul Wahab. Darul Haq. Jakarta

Wasiat 20: Larangan Mengharapkan Kematian

Wasiat 20: Larangan Mengharapkan Kematian

Diriwayatkan dari Anas bin Malik Radhialloohu 'anhu, ia berkata Rasululloh Shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Janganlah salah seorang dari kamu mengharapkan kematian karena musibah yang menimpanya. Jika terpaksa ia mengharapkannya hendaklah ia mengatakan:

ALLOOHUMMA AHYINII MAA KAANATIL HAYAATU KHOIRON LII, WA TAWAFFANII IDZAA KAANATIL WAFAATU KHOIRON LII

"Yaa Alloh panjangkanlah hidupku bila kehidupan itu lebih baik bagiku, Atau wafatkanlah aku bila kematian itu lebih baik bagiku"

Shahih, HR. Muslim No. 2680, at- Tirmidzi No. 970, an- Nasa'I No. III/ 4, Ibnu Majah No. 4265, Ahmad No. III/ 103, Ibnu Abi Syaibah No. X/ 265, Ibnu Sunni No. 544, al- Baihaqi No. III/ 377, Ibnu Adi No. VII/ 2077.


Dalam wasiat ini Rasululloh Shallallaahu 'alaihi wa sallam mengisyaratkan kepada sebuah perkara yang sangat pernting yakni bagaimana caranya kita membimbing diri agar ridho menerima takdir dan ketetapan Alloh Ta'ala. Menyerahkan segala urusan kepada- Nya dalam urusan hidup maupun mati kita. Bagaimana caranya beradab terhadap Alloh Ta'ala dalam seluruh urusan kita, serta memperingatkan diri kita agar tidak bersikap kelewat batas terhadap-Nya. Kita dituntut agar tidak berputus asa terhadap Rahmat- Nya, begitu juga terhadap musibah- musibah lain yang kerap kita alami.

Oleh karena itu, Rasululloh Shallallaahu 'alaihi wa sallam mewasiatkan dan mengajak kepada kita untuk bersabar dan menyabarkan diri serta tidak membiarkan diri berputus asa dan berkeluh kesah, tidak membiarkannya lemah, malas dan menganggur.

Sungguh Indah perkataan Ibnul Jauzi Rahimahulloh berikut ini:

"Hai orang yang lalai terhadap diri sendiri, sungguh aneh urusanmu ini. Hai korban hawa nafsu, penyakitmu sangat asing. Hai orang yang panjang angan- angan, engkau bakal dipanggil dan memenuhi panggilan itu. Semua itu sebentar lagi akan segera datang.

"Tidakkah engkau mengingat liang lahatmu, bagaimana nanti engkau bermalam seorang diri. Pipimu lengket dengan tanah dan cacing- cacing akan memakan kulitmu. Sementara orang- orang yang engkau cintai tertawa- tawa melupakan dirimu".

Sumber: 58 Wasiat Nabi Kepada Setiap Muslim. Hal. 72- 74. Syaikh Usamah Na'im Musthafa. Daar An- Naba'. Surakarta.


Kamis, 02 September 2010

Tiga Pokok Kebahagiaan [Re-Post]

Tiga Pokok Kebahagiaan [Re-Post]

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,

“Ada tiga pokok yang menjadi pondasi kebahagiaan seorang hamba, dan masing-masingnya memiliki lawan. Barangsiapa yang kehilangan pokok tersebut maka dia akan terjerumus ke dalam lawannya. [1] Tauhid, lawannya syirik. [2] Sunnah, lawannya bid’ah. Dan [3] ketaatan, lawannya adalah maksiat. Sedangkan ketiga hal ini memiliki satu musuh yang sama yaitu kekosongan hati dari rasa harap di jalan [ketaatan kepada] Allah dan keinginan untuk mencapai balasan yang ada di sisi-Nya serta ketiadaan rasa takut terhadap-Nya dan hukuman yang dijanjikan di sisi-Nya.” (al-Fawa’id, hal. 104)

Tauhid Mengantarkan Menuju Bahagia

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuri iman mereka dengan kezaliman/syirik, mereka itulah yang akan mendapatkan keamanan dan mereka itulah orang-orang yang diberikan petunjuk.” (QS. al-An’aam: 82). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah mengharamkan neraka atas orang yang mengucapkan la ilaha illallah dengan ikhlas mengharapkan wajah Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim). Abdullah Ibnu Mubarak rahimahullah berkata, “Betapa banyak amalan kecil menjadi besar karena niat (yang ikhlas), dan betapa banyak amalan besar menjadi kecil karena niat (yang tidak ikhlas).”

Syirik Mengantarkan Menuju Sengsara

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya barangsiapa yang mempersekutukan Allah maka sungguh Allah haramkan atasnya surga dan tempat tinggalnya adalah neraka, dan tiada seorang penolongpun bagi orang-orang yang zalim itu.” (QS. al-Maa’idah: 72). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang berjumpa dengan Allah dalam keadaan mempersekutukan Allah dengan sesuatu apapun maka dia pasti masuk neraka.” (HR. Muslim).

Sunnah Mengantarkan Menuju Bahagia

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Katakanlah (Muhammad); Jika kalian mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian.” (QS. Ali Imran: 31). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Islam itu datang dalam keadaan asing dan akan kembali menjadi asing sebagaimana datangnya, maka beruntunglah orang-orang yang asing.” (HR. Muslim). Imam Malik rahimahullah berkata, “Sunnah adalah [laksana] bahtera Nabi Nuh, barangsiapa yang menaikinya akan selamat, dan barangsiapa yang tertinggal akan tenggelam.”

Bid’ah Mengantarkan Menuju Sengsara


Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Barangsiapa yang menentang rasul setelah jelas baginya petunjuk dan dia justru mengikuti selain jalan orang-orang beriman, niscaya akan Kami biarkan dia terombang-ambing dalam kesesatannya dan Kami pun akan memasukkannya ke dalam Jahannam, dan sesungguhnya Jahannam itu adalah seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. an-Nisaa’: 115). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sejelek-jelek urusan adalah yang diada-adakan -dalam agama-, [dan setiap yang diada-adakan itu adalah bid'ah] dan setiap bid’ah pasti sesat [dan setiap kesesatan di neraka].” (HR. Muslim, tambahan dalam kurung dalam riwayat Nasa’i)

Ketaatan Mengantarkan Menuju Bahagia

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Barangsiapa yang taat kepada Allah dan rasul-Nya sungguh dia akan mendapatkan keberuntungan yang sangat besar.” (QS. al-Ahzab: 71). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Semua umatku pasti masuk surga, kecuali yang enggan.” Para sahabat pun bertanya, “Siapakah orang yang enggan itu wahai Rasulullah?”. Beliau menjawab, “Barangsiapa mentaatiku masuk surga dan barangsiapa yang mendurhakaiku maka dialah orang yang enggan itu.” (HR. Bukhari). Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma berkata, “Allah menjamin bagi siapa saja yang membaca al-Qur’an dan mengamalkan ajaran yang ada di dalamnya bahwa dia tidak akan sesat di dunia dan tidak akan celaka di akherat.”

Kemaksiatan Mengantarkan Menuju Sengsara

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Barangsiapa yang durhaka kepada Allah dan rasul-Nya sungguh dia telah tersesat dengan kesesatan yang amat nyata.” (QS. al-Ahzab: 36). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Surga diliputi dengan perkara-perkara yang tidak disenangi nafsu (ketaatan) sedangkan neraka diliputi dengan perkara-perkara yang disenangi nafsu (kemaksiatan).” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hilangnya Harapan dan Rasa Takut

Sementara ketiga hal di atas -tauhid, sunnah, dan ketaatan- memiliki satu musuh yang sama yaitu ketiadaan rasa harap dan rasa takut. Yaitu ketika seorang hamba tidak lagi menaruh harapan atas apa yang Allah janjikan dan tidak menyimpan rasa takut terhadap ancaman yang Allah berikan. Akibat ketiadaan harap dan takut ini maka timbul berbagai dampak yang membahayakan. Di antara dampaknya adalah; [1] terlena dengan curahan nikmat sehingga lalai dari mensyukurinya, [2] sibuk mengumpulkan ilmu namun lalai dari mengamalkannya, [3] cepat terseret dalam dosa namun lambat dalam bertaubat, [4] terlena dengan persahabatan dengan orang-orang saleh namun lalai dari meneladani mereka, [5] dunia pergi meninggalkan mereka namun mereka justru senantiasa mengejarnya, [6] akherat datang menghampiri mereka namun mereka justru tidak bersiap-siap untuk menyambutnya. Ibnul Qayyim rahimahullah menerangkan bahwa ketiadaan rasa harap dan takut ini bersumber dari lemahnya keyakinan. Lemahnya keyakinan itu timbul akibat lemahnya bashirah/pemahaman. Dan lemahnya bashirah itu sendiri timbul karena jiwa yang kerdil dan rendah (lihat al-Fawa’id, hal. 170).

Bersihkan Jiwamu!

Jiwa yang kerdil dan rendah akan merasa puas dengan perkara-perkara yang hina, sementara jiwa yang besar dan mulia tentu hanya akan puas dengan perkara-perkara yang mulia (lihat al-Fawa’id, hal. 170). Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sungguh berbahagia orang yang menyucikan jiwanya dan sungguh merugi orang yang mengotorinya.” (QS. asy-Syams: 9-10). Syaikh as-Sa’di rahimahullah berkata, “Yaitu orang yang menyucikan jiwanya dari dosa-dosa dan membersihkannya dari aib-aib, lalu dia meninggikannnya dengan ketaatan kepada Allah serta memuliakannya dengan ilmu yang bermanfaat dan amal saleh.” (Taisir al-Karim ar-Rahman, hal. 926). Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata, “Yang dimaksud penyucian di sini ialah dia menyucikan dirinya dengan cara membebaskannya dari syirik dan noda-noda maksiat, sehingga jiwanya menjadi suci dan bersih.” (Tafsir Juz ‘Amma, hal. 165)

Dari sinilah, kita menyadari betapa besar peran ilmu yang diamalkan. Oleh sebab itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kepada kita untuk senantiasa berdoa seusai sholat Subuh dengan doa yang sangat indah, Allahumma inni as’aluka ‘ilman nafi’an wa rizqan thayyiban wa ‘amalan mutaqabbalan. Yang artinya; “Ya Allah, aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezki yang baik, dan amalan yang diterima.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Barangsiapa yang dikehendaki baik oleh Allah niscaya akan dipahamkan dalam urusan agamanya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Sedangkan ilmu dan pemahaman seorang hamba tentang agamanya diukur dengan rasa takutnya kepada Allah. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya yang merasa takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah orang-orang yang berilmu.” (QS. Fathir: 28). Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu berkata, “Cukuplah rasa takut kepada Allah sebagai bukti ilmu -seseorang-.”

Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi
Artikel www.muslim.or.id

Sumber: http://muslim.or.id/tazkiyatun-nufus/tiga-pokok-kebahagiaan.html/comment-page-1#comment-59689


Selasa, 31 Agustus 2010

LAILATUR QODAR [3]End

LAILATUR QODAR [3]End

Kedua, Kesalahan dalam perbuatan dan tingkah laku:
Kesalahan – kesalahan yang dilakukan sebagian orang pada Lailatul Qodar itu banyak sekali. Hampir tidak ada yang selamat , kecuali dijaga oleh Alloh. Di antara kesalahan- kesalahan tersebut:

1. Mencari- cari dan mengamati keberadaannya sehingga sibuk mengintai tanda- tanda Lailatul Qodar, sementara ibadah dan ketaatan terlalaikan.

Kita lihat di antara mereka ada yang sholat, banyak sekali mereka yang lupa membaca Al-Qur’an, dzikir, dan lupa mencari ilmu karena urusan ini. Anda dapati salah seorang yang shalih di antara mereka- menjelang terbitnya matahari- ia memperhatikan matahari, apakah siangnya terik atau tidak? Seharusnya orang- orang ini memperhatikan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam:

“Semoga (dengan dirahasiakannya waktu Lailatul Qodar ) menjadi lebih baik bagi kalian”.

Dalam hadits ini terdapat isyarat bahwa malam itu tetap dirahasiakan.

Para ahli ilmu berkata, menarik kesimpulan dari sabda Nabi bahwa dirahasiakannya waktu Lailatul Qodar itu lebih utama.: “Hikmahnya adalah agar seorang hamba senantiasa bersungguh- sungguh dan memperbanyak amal pada tiap- tiap malam, dengan harapan agar bertepatan dengan Lailatul Qodar. Lain halnya jika Lailatul Qodar itu ditentukan, maka amal- amal itu hanya akan dilakukan pada satu malam itu saja, sehingga ia luput dari beribadah pada malam- malam lainnya, atau berkurang amalnya”.

Bahkan sebagian mereka menyimpulkan: Orang yang mengetahui (bahwa malam itu adalah) Lailatul Qodar, maka sebaiknya ia menyembuyikannya. Hal ini –berdasarkan dalil- bahwa Alloh pun telah mentakdirkan kepada Nabi- Nya untuk tidak memberitakan ketepatan waktunya. Padahal semua kebaikan terletak pada segala sesuatu yang telah ditakdirkan pada Nabi. Maka, disunnahkan untuk mengikuti beliau dalam hal ini, (yakni tidak memberitahukan tepatnya Lailatul Qodar tersebut).

Dari uraian tadi, dapat diketahui kekeliruan banyak orang yang giatnya mereka dalam sholat hanya dikhususkan pada malam ke dua puluh tujuh saja dengan memastikan atau seakan- akan memastikan, bahwa malam kedua puluh tujuh itulah malam Lailatul Qodar (!) kemudian mereka meninggalkan sholat dan tidak bersungguh- sungguh untuk berbuat taat pada malam- malam yang lainnya. Mereka menyangka bahwa hanya dengan menghidupkan malam kedua puluh tujuh ini maka mereka akan mendapatkan ganjaran ibadah lebih dari seribu bulan!!.



Kesalahan ini menjadikan banyak orang yang melampaui batas dalam berbuat ketaatan pada malam tersebut. Anda bisa lihat, sebagian dari mereka ada yang tidak tidur, bahkan mereka tidak bosan- bosannya sholat dengan memaksakan dirinya tidak tidur. Bahkan terkadang ada sebagian dari mereka yang memperlama berdiri dalam sholatnya, sambil berjuang keras melawan rasa kantuknya, Dan sungguh, kami pernah melihat sebagian dari mereka ada yang tidur ketika sujud!!.

Satu sisi, hal ini menyalahi petunjuk Rasululloh Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam yang memerintahkan kita untuk tidak melakukan ibadah seperti itu. Di sisi lain, memaksakan diri tersebut merupakan beban dan belenggu yang sebenarnya telah diangkat dari kita –dengan karunia dan Nikmat-Nya.

2. Sebagian kesalahan mereka pada malam ini (Lailatul Qodar ),yaitu sibuk mengatur acara seremonial.

Mereka sibuk berpidato, dan memberikan kata sambutan. Sebagian lagi disibukkan dengan lantunan nasyid- nasyid dan puisi, meninggalkan ketaatan dan mendekatkan diri kepada Alloh ta’ala. Anda saksikan, ada orang yang dengan semangatnya bekeliling ke masjid- masjid menyampaikan berita- berita aktual, serta bagaimana pemecahannya..! kegiatan itu membuat malam yang seharusnya digunakan sesuai dengan apa yang dimaksudkan syari’at, telah keluar dari keharusan yang semestinya.

3. Sebagian dari kesalahan mereka adalah melakukan ibadah yang dikhususkan han ya di malam itu saja. Seperti sholat yang dinamakan sholat Lailatul Qodar.

Sebagian lagi terus- menerus mengerjakan sholat tasbih berjamaah tanpa dalil, sebagian lagi melaksanakan sholat hifdzul Qur’an di malam itu- dengan sangkaan mengambil berkah malam itu padahal tidak ditetapkan dalam Syari’at.

Kesalahan- kesalahan dan kekeliruan yang berkaitan dengan Lailatul Qodar –yang terjadi pada banyak orang- sangat beragam dan banyak sekali. Seandainya kita hitung dan kita bahas, tentu akan menjadi pembicaraan yang panjang.
Apa yang kami kemukakan di sini, hanya secuil saja. Semoga bermanfaat bagi para penuntut ilmu, mereka yang meginginkan kebenaran dan para penliti amal- amal yang tepat sesuai dengan dalil. Wallohu A’lamu.

Sumber: ‘Panduan Praktis Puasa, I’tikaf, Lailatul Qodar, Zakat Fitrah, ‘Idul Fithri, ‘Idul Adh-ha & Kurban berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah yang Shahih: Kompilasi 4 Ulama: Syaikh Abu Bakar Jabir Al-Jaza-iri, Syaikh Masyhur bin Hasan Alu Salman, Abu Malik Kamal bin as-Sayyid Salim, DR. Sa’id bin ‘Ali bin Wahf al-Qahthani’. Hal. 51-54 Pustaka Ibnu Umar, Bogor



Senin, 30 Agustus 2010

Lailatul Qodar [2]

BEBERAPA KESALAHAN KAUM MUSLIMIN SEPUTAR LAILATUL QODAR

Kesalahan- kesalahan dan kekeliruan- kekeliruan yang dilakukan oleh sebagian orang dalam hal puasa dan sholat tarawih sangat banyak, baik dalam hal keyakinan, hukum, maupun prakteknya. Di antara mereka ada yang mengira –bahkan meyakini- beberapa perkara yang bukan dari Islam, dianggap sebagai rukun Islam. Mereka mengganti sesuatu yang rendah (dalam pandangan mereka) dengan sesuatu yang lebih baik (menurut pandangan mereka), seperti sifat orang- orang yahudi [Ketika mereka meminta bawang merah, bawang putih, dan lain- lain yang menurut prasangka mereka lebih baik sebagai pengganti dari Manna dan Salwaa yang menurut pandangan mereka rendah]. Padahal Nabi melarang kaum muslimin untuk menyerupai mereka. Bahkan beliau menekankan agar kaum muslimin senantiasa menyelisihi mereka (dalam segala hal).

Sebagian kesalahan itu terjadi seputar Lailatul Qodar. Ada dua macam kesalahan:
Pertama, kesalahan dalam pola pikir dan keyakinan. Di antaranya:
1.Sebagian orang berkeyakinan bahwa Lailatul Qodar itu memiliki tanda- tanda yang terjadi pada sebagian orang.

Lalu orang- orang ini menyusun khurafat dan fantasi, seakan- akan mereka melihat cahaya dari langit, atau dibukakan bagi mereka satu celah dari langit, dan seterusnya.

Semoga Alloh merahmati Ibnu Hajar, karena beliau menyebutkan dalam Fat-hul Baari (IV/ 266), bahwa hikmah disembunyikannya Lailatul Qodar adalah agar bersungguh-sungguhan dalam meraihnya. Lain halnya jika malam Qodar tersebut telah ditentukan, maka mereka hanya akan bersungguh- sungguh pada malam itu saja.

Kemudian Ia (Ibnu Hajar Rahimahulloh) mencuplik dari ath-Thabari, bahwa beliau memilih pendapat yang menyatakan bahwa tanda- tanda itu bukan syarat mutlak. Seseorang yang meraih keutamaan Lailatul Qodar itu tidak harus melihat tanda atau mendengar sesuatu.



Ath-Thabari berkata: “Dengan dirahasiakannya Lailatul Qodar maka terbuktilah kebohongan orang yang menetapkan bahwa pada malam tertentu akan terlihat apa yang tidak terlihat di malam- malam yang lainnya di tahun itu. Jika benar bahwa Lailatul Qodar itu memiliki tanda- tanda yang terjadi pada sebagian orang, tentu Lailatul Qodar itu akan nampak bagi setiap orang yang menghidupkan malam- malam selama setahun, terutama pada malam Ramadhan”.

2. Sebagian orang mengatakan bahwa Lailatul Qodar itu sudah tidak ada lagi.
Al-Mutawalli, seorang ulama madzhab Syafi’i menghikayatkan dalam kitab at-Tamimah bahwapernyataan itu berasal dari kaum Rafidhah (Syi’ah), sedangkan al-Fakihani dalam Syarhul ‘Umdah menceritakan bahwa faham itu berasal dari madzhab Hanafi.

Pemahaman ini merupakan satu pemahaman yang rusak dan kekeliruan yang busuk, yang berasal dari kesalahpahaman terhadap sabda Rasululloh Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam ketika ada dua orang yang saling mengutuk di malam Lailatul Qodar, di mana beliau bersabda:

“Sesungguhnya Lailatul Qodar itu sudah terangkat”.

Pengambilan kesimpulan dari dalil di atas tertolak dari dua sisi:
Pertama, para ulama mengatakan bahwa maksud ‘terangkat’ di sini adalah dari hati. Beliau lupa karena perhatiannya dialihkan oleh dua orang yang bertengkar. Pendapat lain mengatakan bahwa maksudnya adalah barokahnya pada tahun itu terangkat, bukan Lailatul Qodar itu sendiri yang diangkat.

Hal itu ditunjukkan oleh hadits yang dikeluarkan Imam ‘Abdurrazaq dalam Mushannaf-nya (IV/ 252), dari ‘Abdulloh bin Yuhnus, dia berkata, “Aku berkata kepada Abu Hurairoh Radhialloohu 'Anhu, “Mereka mengira bahwa Lailatul Qodar itu sudah tidak ada lagi”, Maka Abu Hurairoh Radhialloohu 'Anhu berkata, “Orang yang mengatakan hal itu telah berbohong”.

Kedua, Kumuman hadits yang berisi motivasi untuk menghidupkan Lailatul Qodar dan penjelasan mengenai keutamaannya. Misalnya hadits yang dikeluarkan oleh Imam al-Bukhori dan lainnya, Rasululloh Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda:

“Barangsiapa berdiri (ibadah) di malam Lailatul Qodar dengan iman dan mengharapkan pahala-Nya, maka diampuni dosa- dosanya yang telah lalu. [Muttafaqun ‘Alaih].

Imam an-Nawawi Rahimahulloh berkata, “Ketahuilah, bahwa Lailatul Qodar itu ada. Lailatul Qodar itu terlihat dan dapat dibuktikan oleh siapapun yang dikehendaki dari keturunn Adam. Hal ini terjadi setiap tahun di bulan Ramadhan, sebagaimana telah dijelaskan oleh hadits- hadits tentang hal ini. Apa yang dilihat oleh orang- orang shalih tersebut mengenai Lailatul Qodar sangat banyak”.

Saya (Syaikh Masyhur) katakan: “Memang, kemungkinan diketahuinya Lailatul Qodar itu ada. Banyak tanda- tanda yang telah diberitahukan oleh Nabi, bahwa Lailatul Qodar adalah satu malam di antara malam- malam Ramadhan, dan mungkin inilah yang dimaksud oleh ‘Aisyah pada hadits yang diriwayatkan oleh at-Tirmidzi yang dishahihkan oleh beliau.

‘Aisyah Radhialloohu 'Anha berkata: “Aku katakan, ‘Wahai Rasululloh, jika aku mengetahui malam Lailatul Qodar, maka apa yang harus saya ucapkan pada malam itu?’

Dalam hadits ini [sebagaimana dikatakan oleh imam asy-Syaukani dalam Nailul Authar (III/ 303) terdapat dalil bahwa Lailatul Qodar mungkin diketahui dan dapat dibuktikan keberadaannya”.

Az- Zurqani dalam Syarhul Muwaththa’ (II/ 491) berkata: “Barangsiapa yang menyangka bahwa makna ‘Sudah Terangkat’- yang terdapat dalam hadits di atas, yakni sudah tidak ada lagi, maka dia salah. Karena jika demikian, maka kaum muslimin tidak akan diperintahkan untuk mencarinya”.

Pengertian ini diperkuat oleh pernyataan dalam kelanjutan hadits tersebut, yakni, “...dan barangkali itu akan menjadi lebih baik bagi kalian”. Karena dirahasiakannya waktu Lailatul Qodar itu membawa orang untuk terus menerus melaksanakan Qiyamul Lail sebulan penuh. Berbeda jika pengetahuan tentang waktunya dapat diketahui secara pasti”. Maka Lailatul Qodar tetap ada sampai hari Kiamat, sekalipun mengenai kapan tepatnya, maka hal ini tetap dirahasiakan. Artinya, keberadaannya tidak dapat menghilangkan kesamaran dan ketidakjelasan tentang kapan waktunya.

Meskipun ada pendapat yang kuat bahwa Lailatul Qodar ada pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan, dan adapula dalil- dalil yang kuat bahwa malam tersebut adalah malam kedua puluh tujuh, akan tetapi memastikannya sampai pada derajat yakin adalah sulit. Wallohu A’lam.

Sumber: ‘Panduan Praktis Puasa, I’tikaf, Lailatul Qodar, Zakat Fitrah, ‘Idul Fithri, ‘Idul Adh-ha & Kurban berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah yang Shahih: Kompilasi 4 Ulama: Syaikh Abu Bakar Jabir Al-Jaza-iri, Syaikh Masyhur bin Hasan Alu Salman, Abu Malik Kamal bin as-Sayyid Salim, DR. Sa’id bin ‘Ali bin Wahf al-Qahthani’. Hal. 45-51 Pustaka Ibnu Umar, Bogor.