Sabtu, 15 Desember 2012

Wasiat Emas Syaikh Abdul Qadir al-Jilani (Wafat Th. 561H)

Dalam Kitabnya al- Fathur Rabbani Wal Faidhur Rahmani hal. 207 beliau Rahimahullah mengatakan,
“Dasar Kebaikan itu adalah dengan mengikuti (ittiba’) Nabi Shallallaahu 'alaihi Wa Sallam, baik dalam ucapan, maupun perbuatan beliau” (Syaikh Abdul Qadir al Jilani hal. 419)
Beliau juga menyatakan di dalam kitabnya, al- Ghunyah hal. 103:
“Yang paling utama bagi seorang mukmin yang berakal/ cerdik adalah mengikuti Sunnah, Tidak berbuat Bid’ah (Perkara baru dalam agama), Tidak berbuat hal yang melewati batas (Ghuluw), berdalam- dalam (dalam perkara yang dilarang) dan tidak pula membebani diri sendiri di luar kemampuan (Takalluf), semua itu agar dia tidak tersesat, tergelincir, dan binasa. Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu 'Anhu telah mengatakan,
“Cukuplah bagimu untuk mengikuti saja (ittiba’), dan tidak perlu kamu berbuat bid’ah (mengadakan ajaran yang baru), karena Sesungguhnya (Ajaran Islam ini) telah sempurna (Sehingga tidak perlul penambahan)”.
(Atsar Shahih, Diriwayatkan oleh ath- Thabarani dalam al- Mu’jamul Kabir (IX/ 168) No. 8770, al- Haitsami mengatakan di dalam Majma’uz Zawaa-id (I/ 181): “Para Perawinya adalah Para Perawi Kitab Shahiih”, dan diriwayatkan juga oleh ad- Darimi (I/ 69), al- ‘Ajluni dalam Kitabnya Kasyful Khafa’ (I/ 36) No. 63 mengatakan, “An- Najm yakni Syaikh Najmuddin al- Ghazi) mengatakan, “Sanadnya Shahiih”.
Kemudian Imam Ahmad telah meriwaayatkannya juga dalam Kitab Az-Zuhd Hal. 202, Waki’ juga dalam Kitab Az-Zuhd Hal 315, ad-Darimi dalam Muqaddimah Sunan-nya (I/ 69), al- Baihaqi dalam Kitab al- Madkhal Ilas Sunan Hal. 204 dengan tambahan yang Shahiih, “Karena Sesungguhnya Setiap Bid’ah itu Sesat”. Sebagaimana Hal itu dikatakan oleh Syaikh Salim bin ‘Ied al- Hilali dalam Risalah-nya Min Washayas Salaf).
Dalam Kitabnya al- Fathur Rabbani Wal Faidhur Rahmani hal. 35 (majlis ke-10) beliau Rahimahullah mengatakan,
“Hendaklah kamu ber-ittiba’ dan janganlah kamu berbuat bid’ah, dan hendaklah kamu juga mengikuti madzhab Salafush Shalih, Berjalanlah kamu di Jalan yang Lurus”. (Syaikh Abdul Qadir al- Jilani hal, 76)
Imam adz-Dzahabi dalam Kitab-nya Siyaar A’laamin Nubala’ (XX: 442) menyebutkan bahwa Syaikh Abdul Qadir al- Jilani Seringkali mengatakan,
“Aqidah (keyakinan) kami adalah ‘Aqidah (kaum) Salafush Shalih dan ‘Aqidah Para Shahabat”
Dalam Kitab Futuhul Ghaib Hal. 21 disebutkan bahwa Syaikh ‘Abdul Qadir al- Jilani mengatakan,
“Sirnakanlah kegelapan (kezhaliman) dengan Cahaya Lentera, Yakni (Cahaya) Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallaahu 'alaihi Wa Sallam, Bila Terbesit di dalam hatimu sesuatu atau datang kepadamu suatu Ilham, maka timbanglah semua itu dengan Al Qur’an dan Sunnah. Bila kamu mendapati di dalam Al Qur’an dan Sunnah bahwa perkara tersebut telah diharamkan, Seperti Zina, Riya’, Bergaul dengan Orang- orang yang Fasik dan Zhalim, dan yang semisal dengan itu dari perbuatan Dosa dan Maksyiat, maka janganlah kamu menerima hal itu dan jangan pula kamu kerjakan, dan pastikanlah bahwa hal itu datangnya dari setan yang terlaknat”.
Beliau Rahimahullah juga mengatakan di Kitab Futuhul Ghaib Hal. 65:
“Perhatikanlah keadaanmu dengan penuh kasih dan sayang, dan Jadikanlah Al-Qur’an dan Sunnah Sebagai Imam yang berada di hadapanmu, Pelajarilah kandungan Al- Qur’an dan Sunnah itu, Kemudian Amalkanlah. Dan Janganlah kamu terpengaruh dengan apa yang dibicarakan oleh orag- orang dan dari perkataan yang Gila dan membingungkan. Allah Subhaanahu Wa Ta'ala berfirman,
“Apa yang diperintahkan Rasul kepadamu, maka kerjakanlah perintah tersebut. Dan apa yang dilarang olehnya atasmu, maka Tinggalkanlah”. (QS. Al-Hasyr: 7).
Dan janganlah kamu menyelisihi Rasulullah Shallallaahu 'alaihi Wa Sallam Sehingga akhirnya kamu akan meninggalkan amal ibadah yang telah ditetapkan oleh beliau, dan justru kamu membuat- buat cara amal ibadah sendiri dengan tanpa mengikuti contoh beliau, sebagaimana yang telah Allah sebutkan tentang keadaan kaum Nashara yang telah tersesat dari Jalan- Nya, di mana Dia berfirman,
“Dan mereka mengada- adakan rabbaniyyah padahal Kami tidak mewajibkannya kepada mereka, tetapi (mereka sendirilah yang mengada- adakannya)” (QS.Al- Hadiid: 27)” (Syaikh Abdul Qadir al- Jilani Hal 507- 508)).
Beliau adalah Abdul Qadir bin Abi Shalih, Abu Muhammad, Muhyiddiin, Syaikh Abdul Qadir al- Jilani (471- 561H atau 1078- 1166M). Beliau disebut sebagai seorang Imam atau Syaikhul Islam. Madzhab beliau dalam Fikih adalah Madzhab Hanbali (Nisbat kepada al Imam Ahmad bin Hanbal (Wafat 241H/ 855M). Imam Ibnu Qudamah mengatakan,
“Syaikh Abdul Qadir, termasuk Seorang Pemimpin ulama di Baghdad dalam hal ilmu dan amal, … “ (Dzail Thabaqat Hanabilah (I/ 293- 294))
Syaikhul Islam Ibni Taimiyyah mengatakan dalam Kitab Majmuu’ Fatawa (X/ 488):
“Dan Syaikh Abdul Qadir dan yang semisalnya termasuk para ulama yang diagungkan pada zaman-nya, dan beliau juga termasuk seorang yang paling keras dalam memerintahkan kaum muslimin untuk berpegang teguh kepada Ajaran Agama (Al- Qur’an dan As-Sunnah)…”
Rujukan mengenai Biografi Syaikh Abdul Qadir al- Jilani dapat dilihat pada Kitab al- Muntazham (X/ 219) oleh Ibnul Jauzi, Dzail Thabaqat Hanabilah (I/ 290) karya Ibnu Rojab, Siyaar A’laamin Nubala’ (XX/ 439- 451) oleh Imam Adz- Dzahabi, al- Bidayah Wan Nihayah (XII/ 252) karya Ibnu Katsir dan lainnya. Wallahu a’lam. Sumber: “Wasiat Emas & Aqidah SYAIKH ABDUL QADIR JAELANI Rahimahullahu Ta’ala” Hal. 25- 44. Ibnu Saini bin Muhammad bin Musa. Maktabah Mu’awiyah bin Abi Sufyan. Jakarta.

Rabu, 12 Desember 2012

Do'a Nabi Yunus 'Alaihis Salam

Rasulullah Shallallahu 'alaihi Wa Sallam bersabda,
"Dzunnun Sewaktu berada di perut ikan berdo'a, Laa Ilaaha Illaa Anta Subhaanaka innii kuntu minadz-dzhoolimiin (Tiada Tuhan yang berhak disembah Selain Engkau, Maha Suci Engkau, Sesungguhnya aku dahulu termasuk Orang- orang yang Zhalim) Setiap muslim yang berdo'a dengan do'a ini pasti akan Allah kabulkan"
(HSR. Ahmad, at-Tirmidzi, an-Nasaa-i, al-Hakim, dan al-Baihaqi. Lihat Shahiih Jami'us Shaghir No. 3383) #Sms-T#

Sabtu, 24 November 2012

Ilmu Adalah Imamnya Amal.

Sebagian Ulama Salaf berkata, "Barangsiapa beribadah [beramal] kepada Allah tanpa Ilmu, maka apa yang dia rusak lebih banyak dari pada apa yang dia perbaiki".
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, "Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, Siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya..." (QS. Al- Mulk: 2)
Imam Fudhail bin 'Iyadh Rahimahullah (wafat th. 187H) mengatakan,
"Maksudnya supaya Allah menguji kalian siapa diantara kalian yang paling Ikhlas amalnya dan paling benar. Sesungguhnya Suatu amal jika Ikhlas namun tidak benar, maka tidak diterima. Dan jika benar namun tidak Ikhlas juga tidak diterima hingga ia Ikhlas dan Benar. Ikhlas yaitu dilakukan karena Allah, dan Benar yaitu Harus Sesuai dengan Sunnah" [Majmuu' Fataawaa Syaikhul Islam Ibni Taimiyyah (I/ 333)]
Ikhlas dan Sesuai Sunnah Rasulullah Shallallaahu 'alaihi Wa Sallam adalah dua Syarat diterimanya Amal. Seseorang tidak mungkin bisa mengerjakan suatu amal yang menghimpun kedua syarat tersebut kecuali dengan Ilmu. Tanpa Ilmu, amal tidak mungkin diterima oleh Allah 'Azza Wa Jalla. Jadi Ilmu adalah Petunjuk Jalan kepada Ikhlas dan Petunjuk jalan kepada mengikuti Sunnah Rasulillah Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam. [Lihat al-'Ilmu Fadhluhu wa Syarafuhu (hal. 92-93)] #bbm- T#

Jumat, 09 November 2012

Amalan yang Pahalanya tetap MENGALIR kepada Seorang Hamba setelah Mati.

Amalan yang Pahalanya tetap MENGALIR kepada Seorang Hamba setelah Mati. Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda,
“Tujuh (7) perkara yang pahalanya mengalir kepada seorang hamba sementara dia di dalam kubur setelah mati: Orang yang mengajarkan ilmu, atau mengalirkan sungai, atau menggali sumur, atau menanam pohon kurma, atau membangun masjid, atau mewariskan mushaf, atau dia meninggalkan anak yang memohonkan ampun untuknya setelah kematiannya”.
Hasan, Diriwayatkan oleh al- Bazzar dan Samawaih dari Anas, dan dihasankan oleh Syaikh al- Albani dalam Shahiih al- Jaami’, No. 3596, dan Shahiih at- Targhiib, 1/ 55. Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda,
“Empat (4) perkara yang pahalanya mengalir kepada mereka setelah mati: Orang yang mati dalam keadaan Ribath (berjaga- jaga) di jalan Alloh, Orang yang mengajarkan Ilmunya, pahalanya mengalir selama ilmunya diamalkan, orang yang bersedekah, maka pahalanya mengalir untuknya selama masih ada, dan orang yang meninggalkan anak Shalih, yang berdo’a untuknya”.
Hasan, Diriwayatkan oleh Ahmad, dan ath- Thabrani dalam al- Mu’jam al- Kabir dari Abu Umamah dan dihasankan oleh Syaikh al- Albani Rahimahulloh dalam Shahiih al- Jaami’, No. 890. Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda,
“Empat (4) amalan orang hidup yang pahalanya mengalir untuk orang mati: Seorang laki- laki yang meninggalkan seorang anak yang Shalih yang berdo’a untuknya, do’anya berguna baginya. Seorang laki- laki yang bersedekah jariyah setelahnya, pahalanya untuknya selama ia mengalir setelahnya. Seorang laki- laki yang mengajarkan ilmu lalu ia diamalkan setelahnya, dia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengamalkannya tanpa mengurangi pahala orang yang mengamalkannya sedikitpun”.
Hasan, Diriwayatkan oleh ath- Thabrani dalam al- Mu’jam al- Kabir dari Salman, dan dihasankan oleh Syaikh al- Albani dalam Shahiih al- Jaami’, No. 901. Syaikh al- Albani di komentarnya dalam Shahiih al- Jaami’/ 1/ 30 berkata, “Ketika diperhatikan yang keempat tidak disebutkan, dan bisa jadi ia adalah orang yang Ribath (bersiap- siaga) di jalan Alloh, sebagaimana ia telah berlalu di hadits 890, kemudian aku tidak melihat hadits ini dinisbatkan kepada ath- Thabrani atau lainnya dari hadits Salman”. Dari hadits- hadits ini kita petik beberapa sebab lain yang dapat membuahkan ampunan selain yang telah disebutkan: Orang yang membuat Irigasi Pengairan, Orang yang Menggali Sumur, Orang yang Meninggalkan Sedekah Jariyah Sesudahnya, Orang yang Mewariskan Mushaf, Orang yang Mati dalam Keadaan Bersiap- siaga di jalan Alloh, Orang yang Meninggalkan Anak yang Memohonkan Ampun untuknya. Wallohu A’lam.

Selasa, 06 November 2012

Keutamaan Hari Jum'at

Rasulullah Shallallaahu 'alaihi Wa Sallam Bersabda,
“Sesungguhnya di antara hari- hari kalian yang paling baik adalah hari Jum’at. Pada hari itu Adam ‘Alaihis Salam diciptakan, pada hari itu juga dia diwafatkan, pada hari itu ditiup Sangkakala, dan pada hari itu pula semua makhluk hidup akan mati. Karena itu, Perbanyaklah membaca Shalawat kepadaku karena bacaan Shalawat kalian akan disampaikan kepadaku”.
Para Shahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana Shalawat kami akan disampaikan kepadamu Sedangkan (jasad) engkau telah hancur?” Rasulullah menjawab, “Sesungguhnya Allah Subhaanahu Wa Ta'ala melarang Bumi untuk memakan jasad para Nabi”.
(Diriwayatkan oleh Abu Dawud No. 1047, 1531, an- Nasa-i III/91-92, Ibnu Majah No. 1636, Ahmad IV/ 8, Ibnu Hibban No. 550, dan al- Hakim I/ 278 di dalam Shahiih- nya. Syaikh al- Albani Rahimahullah men- Shahiih kan hadits ini dalam Shahiih at- Targhiib wat Tarhiib (No.696))#sms-t#

Sabtu, 27 Oktober 2012

Jaminan bagi Orang- orang yang memperbaiki Akhlaknya

Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda, "Saya menjamin sebuah rumah di Surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan kendati mengandung kebenaran, rumah di tengah Surga bagi orang yang meninggalkan kebohongan kendati hanya bercanda, dan rumah di lantai atas Surga bagi orang yang memperbaiki akhlaknya (sampai menjadi akhlak hasanah). (HR. Abu Daud dinilai Shahih oleh Syaikh al-Albani dalam shahih sunan Abi dawud no. 4015)#sms-T#

Selasa, 23 Oktober 2012

Kisah Seorang Wanita Beserta Ibunya

Kisah Seorang Wanita Beserta Ibunya Dari Yahya bin Katsir dia berkata, “Suatu ketika Abu Musa al- Asy’ari dan Abu Amir datang menemui Rasulullah Shallallaahu 'alaihi Wa Sallam untuk berbaiat kepada beliau dan masuk Islam. Ketika itu beliau Shallallaahu 'alaihi Wa Sallam bertanya,
“Apa yang kamu lakukan terhadap istrimu yang kamu tuduh demikian dan demikian?”
Keduanya menjawab,
“Dia kami tinggalkan pada keluarganya”
Beliau menjawab,
“Sesungguhnya mereka telah diampuni”
Mereka menjawab,
“Mengapa, Wahai Rasulullah?”
Beliau menjawab,
“Karena dia berbuat baik kepada Ibunya”
Kemudian beliau Shallallaahu 'alaihi Wa Sallam berkata melanjutkan,
“Dia memiliki seorang ibu yang sangat tua. Suatu ketika ada seseorang yang berseru, “Wahai manusia, ada musuh yang hendak memporak- porandakan kalian..!” . Lalu dia menggendong ibunya yang telah tua itu. Bila ia lelah, dia turunkan ibunya, kemudian dia pindah ke depan. Digendonglah ibunya dari arah depan. Dia taruh telapak kaki ibunya di atas kakinya untuk menghindarkan ibunya dari sengatan panas. Begitu terus sehingga akhirnya dia Selamat dari Sergapan musuh”. (Hadits ini diriwayatkan oleh Abdurrazzaq dalam kitab al- Mushannaf –nya).
Berbakti kepada kedua orang tua memiliki keutamaan dan pahala yang besar di Sisi Allah Subhaanahu Wa Ta'ala, dan merupakan Salah Satu amal perbuatan yang paling utama. Allah Ta'ala berfirman,
“Dan Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah Semakin lemah dan menyapihnya setelah berumur dua tahun. Bersyukurlah kepada- Ku dan kepada kedua orang tuamu” .(QS. Luqman: 14)
Shahabat Abu ‘Abdirrahman ‘Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu 'Anhu berkata,
“Aku bertanya kepada Nabi Shallallaahu 'alaihi Wa Sallam, “Amal Apakah yang paling utama?” Nabi Shallallaahu 'alaihi Wa Sallam menjawab, “Shalat pada waktunya” (dalam riwayat lain disebutkan, “Shalat di awal waktunya" ). Ia berkata, “Aku bertanya, “Kemudian apa?’ Beliau menjawab, “Berbakti kepada kedua Orang tua”. Ia berkata, “Aku bertanya, Kemudian apa?” Beliau menjawab, “Jihad di Jalan Allah”’. (Shahiih, HR. al- Bukhari (no. 527), Muslim (no. 85), an- Nasa-I (I/ 292- 293), at- Tirmidzi (no. 173), dan Ahmad (I/ 409- 410, 439 dan 451), dan lafazh ini milik Muslim).
Rasulullah Shallallaahu 'alaihi Wa Sallam bersabda,
“Celakalah, Celakalah, dan Sekali lagi Celakalah!” Lalu ada yang bertanya. “Siapa wahai Rasulullah?” Rasulullah berkata, “Orang yang mendapati kedua orang tuanya berusia lanjut, salah satunya atau kedua- duanya, tetapi (dengan itu) dia tidak masuk Surga (karena sikapnya kepada kedua orang tuanya itu)”. (Shahiih, HR. Muslim (no. 2551) dan Ahmad (II/ 254, 346). Wallahu a’lam.
Semoga kita semua dimudahkan oleh Allah Subhaanahu Wa Ta'ala untuk menjadi anak2 yang berbakti kepada kedua orang tua kita. Aamiin. Sumber : ‘Kisah- kisah teladan Bakti Anak kepada Ibu Bapak’ Hal. 56- 57. Syaikh Ibrahim bin Abdullah Musa al Hazimi. Media Hidayah. & ‘Birrul Walidain: Berbakti kepada Kedua Orang tua”. Hal. 42, 54. Ust. Yazid bin Abdul Qadir Jawas. Pustaka at- Taqwa. #bbm- T#