Tampilkan postingan dengan label Kisah-kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah-kisah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 26 Maret 2011

Kisah Nabi Dzulkifli ‘Alaihis Salaam

Sifat Nabi Dzulkifli ‘Alaihis Salaam.

Dialah seorang Nabi yang tidak dijelaskan secara gamblang tentang zaman kenabiannya, dan di kaum apa beliau berdakwah. Semua cerita tentang Nabi Dzulkifi hanya sebatas pendapat- pendapat, tidak berdasarkan dalil yang qoth’i. Alloh Subhaanahu Wa Ta'ala telah mencatat beliau ‘Alaihis Salaam sebagai jajaran orang- orang yang sabar dan menjadi hamba pilihan.

“Dan ingatlah Nabi Isma’il, Nabi Idris, dan Nabi Dzulkifli, semuanya termasuk orang- orang yang sabar. (QS. Al- Anbiya’ [21]: 85).

“Dan ingatlah Nabi Isma’il, Nabi Yasa’, dan Nabi Dzulkifli, semuanya termasuk orang- orang pilihan”. (QS. Shod [38]: 48).

Dzulkifli adalah julukan untuk beliau. Nama beliau sebenarnya tidak diketahui secara pasti. Sebab musabbabnya juga beragam. Al- Kifli maknanya MENJAMIN TANGGUNGAN. Telah terjadi silang pendapat tentang di masa apa Nabi Dzulkifli ‘Alaihis Salaam hidup.

Pendapat yang pertama menyatakan bahwa Nabi Dzulkifli ‘Alaihis Salaam adalah anak Nabi Ayyub ‘Alaihis Salaam yang mana nama lengkapnya adalah Bisyr bin Ayyub. Beliau berdakwah di daerah Syam. Pendapat ini mengatakan bahwa Nabi Dzulkifli ‘Alaihis Salaam adalah seorang Nabi bukan dari Kalangan Bani Isro’il.

Pendapat yang kedua menyebutkan bahwa Nabi Dzulkifli adalah seorang Nabi dari kalangan Bani Isro’il. Beliau hidup di masa Nabi Yasa’ 'Alaihis Salaam. Seorang Nabi yang hidup setelah Nabi Ilyas ‘Alaihis Salaam. Alasan mereka, karena ada riwayat yang disebutkan dengan jelas perihal nama Nabi Yasa’ sebagaimana diriwayatkan Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim dari Jalan Mujahid. Dan Ibnu Katsir Rahimahulloh menukilnya dalam kitab Qoshosh al- Anbiya’ 217 dan beliau tidak berkomentar tentang derajat kisah ini.

Mujahid berkata: Ketika Nabi Yasa’ telah berusia tua, beliau ingin memberikan mandat kepada seseorang untuk mengurusi kaumnya saat dirinya masih hidup agar dia tahu bagaimana cara kerjanya. Maka Nabi Yasa’ mengumumkan pada kaumnya, “Siapa yang bisa menerima tiga (3) kewajiban dariku, yaitu berpuasa di Siang Hari, Sholat Tahajjud di malam hari, dan sekali- kali tidak akan marah, maka aku berikan mandat padanya”.

Maka majulah seorang laki- laki yang rendahan di antara mereka, sambil menjawab, “Saya”.

Nabi Yasa’ bertanya, “Apakah engkau sanggup?”, Ia menjawab, “Ya”. Maka sejak saat itulah Nabi Dzulkifli diberikan mandat untuk menggantikan tugas nabi tersebut untuk memutuskan segala urusan pada kaumnya waktu itu. Beliau terbukti mampu menunaikan tugasnya dan sanggup melaksanakan tiga (3) kewajiban yang dibebankan kepadanya.

Sejak saat itu setan ingin mengodanya. Setan menjelma sebagai seorang yang tua renta lagi kelihatan miskin papa. Sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan Nabi Dzulkifli karena terlalu sibuknya, dalam kesehariannya beliau tidak ada waktu untuk tidur kecuali sesaat di waktu siang. Maka datanglah setan yang menjelma sebagai lelaki tua itu ketika Nabi Dzulkifli ‘Alaihis Salaam hendak tidur siang. Tujuannya adalah agar Nabi Dzulkifli ‘Alaihis Salaam menjadi marah karenanya.

Mula- mula lelaki tua itu mengetuk rumah Nabi Dzulkifli ‘Alaihis Salaam padahal beliau sudah berbaring untuk istirahat. Begitu pintu diketuk, menyahutlah Nabi Dzulkifli dari dalam, “Siapa.?”

“Saya lelaki tua yang teraniaya”. Jawab lelaki tua itu. Setelah pintu terbuka, mengadulah lelaki itu pada Nabi Dzulkifli ‘Alaihis Salaam. Dia berkata, “Saya seorang tua yang teraniaya, telah terjadi pertikaian antara diriku dan kaumku, lalu mereka berbuat dzolim kepadaku, dan mereka juga berbuat begini dan begitu”. Lelaki itu terus bercerita dan menambah ceritanya hingga datanglah waktu sore. Hingga pada akhirnya hilanglah kesempatan tidur siang Nabi Dzulkifli ‘Alaihis Salaam. Beliau berkata, “Wahai tuan, hendaklah engkau datang di majelisku sore ini. Nanti akan aku selesaikan hakmu dari kaummu”. Maka pulanglah lelaki tua itu dan Nabi Dzulkifli ‘Alaihis Salaam tidak jadi beristirahat karenanya.

Selanjutnya, sore itu Nabi Dzulkifli ‘Alaihis Salaam duduk di majelisnya untuk menyelesaikan urusan- urusan kaumnya. Beliau menunggu lelaki tua yang datang barusan tadi untuk diselesaikan urusannya. Namun lelaki tua itu tidak muncul- muncul. Keesokan harinya ketika Nabi Dzulkifli ‘Alaihis Salaam kembali duduk di majelisnya untuk menyelesaikan berbagai urusan kaumnya. Beliaupun tidak mendapati lelaki tua itu. Baru ketika datang siang dan Nabi Dzulkifli beranjak untuk istirahat, kembali pintu rumahnya terketuk. Selanjutnya Nabi Dzulkifli membukakan pintu dan ternyata lelaki tua itulah yang muncul. Nabi Dzulkifli lalu berkata, “Wahai tuan bukankah sudah aku katakan, jika aku di majelis, datanglah padaku lalu aku akan menyelesaikan urusanmu”. Lelaki itu pun beralasan, “Wahai Nabi Alloh, sesungguhnya kaumku sejelek- jelek manusia, ketika mereka tahu bahwa engkau duduk di majelis untuk menampung berbagai aduan rakyatmu, mereka bersegera memberikan hakku. Namun ketika mereka tahu bahwa dirimu tidak ada di majelis, mereka kembali merampas hakku”.

Begitulah lelaki itu di hari kedua terus bercerita dan menambah ceritanya hingga datanglah waktu sore. Hingga pada akhirnya, hilanglah kesempatan tidur siang bagi Nabi Dzulkifli untuk kedua kalinya. Namun Nabi Dzulkifli tidak marah karenanya. Dan sore harinya,kembalilah Nabi Dzulkifli ‘Alaihis Salaam duduk di majelisnya untuk menyelesaikan urusan- urusan kaumnya. Namun lagi- lagi lelaki tua itu tidak muncul batang hidungnya. Maka di siang harinya pada hari ketiganya, ketika Nabi Dzulkifli ‘Alaihis Salaam tertimpa rasa kantuk yang luar biasa, beliau berpesan kepada sebagian keluarganya, “Sekali- kali jangan biarkan seorang pun untuk mendekati pintu kamarku ini sampai diriku bangun tidur. Sungguh rasa kantuk yang sangat telah menimpaku”.

Beberapa saat kemudian, datanglah kembali lelaki tua itu. Penjaga pintu langsung menghalanginya, “Pergilah tuan,.! Nabi Dzulkifli sedang beristirahat, beliau tidak bisa diganggu”..!”

Namun lelaki tua itu tetap bersikeras, “Sungguh aku telah datang di hari kemarin, dan aku telah bercerita padanya akan masalahku. Sekarang aku betul- betul mendesak bertemu dengan beliau”

Penjaga pintu tetap bersikukuh, “Tidak, sekali- kali kami tidak memperbolehkan seorangpun untuk mendekati pintu itu”.

Maka ketika menemui jalan buntu dalam perdebatan itu, lelaki itu melihat ada suatu lubang angin di rumah Nabi Dzulkifli ‘Alaihis Salaam, lalu dengan sigap ia pun menyusup ke rumah Nabi Dzulkifli ‘Alaihis Salaam lewat lubang itu. Hal itu mudah baginya karena memang dirinya adalah setan. Ketika sampai di dalam, lelaki itu mengetuk pintu dari dalam. Mendengar pintu terketuk, bangunlah Nabi Dzulkifli ‘Alaihis Salaam dan tercenganglah beliau karena ternyata di dalam kamarnya ada orang. Beliau pun bangun lalu memeriksa pintu rumahnya, dan didapatinya pintu rumah masih terkunci rapat. Nabi Dzulkifli ‘Alaihis Salaam selanjutnya tahu siapa lelaki tua itu, “Apakah dirimu musuh Alloh, yakni setan..?”

Lelaki itu menjawab, “Ya, Sungguh kau telah membuatku payah. Aku telah melakukan berbagai cara, sebagaimana kaui lihat supaya bia membuatmu marah, namun ternyata usahaku itu sia- sia”.

Maka begitulah Alloh Subhaanahu Wa Ta'ala memberi nama pada beliau Dzulkifli, karena apabila beliau menjamin atau menanggung sesuatu, maka beliau bisa menuntaskannya”. Walloohu a’lam.

Sumber: Kisah Para Nabi: Sifat Nabi Dzulkifli ‘Alaihis Salaam. Penulis: Ust. Abu Adibah ash- Shoqoli. Majalah al- Mawaddah. Hal. 43-44. Shofar 1432H. Vol. 37. Januari – Februari 2011.



Note Tambahan: Keutamaan Menahan Marah.

2753- 9: Hasan Lighairihi. Dari Mu’adz bin Anas Radhialloohu 'Anhu, bahwasanya Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda,
“Siapa yang menahan kemarahannya padahal ia mampu menumpahkannya, niscaya ALLOH memanggilnya di hadapan seluruh makhluk di Hari Kiamat sehingga Dia menyuruhnya untuk memilih dari bidadari Surga yang dikehendakinya”.

[HR. Abu Dawud, at- Tirmidzi, dan Ibnu Majah: Sunan Abu Dawud No. 4777, Sunan at- Tirmidzi No. 2022, 2495, Sunan Ibnu Majah No. 4186].

2752- 8: Shahih Lighairihi: Dari Ibnu ‘Umar Radhialloohu 'Anhuma, dia berkata, Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda,

“Tidak ada seteguk minuman yang lebih besar pahalanya di sisi ALLOH daripada seteguk minum kemarahan yang ditahan seorang hamba karena mencari wajah ALLOH".

[Diriwayatkan oleh Ibnu Majah, dan para perawinya dijadikan Hujjah dalam ash- Shahih].

2479- 5: Shahih Lighairihi: Dari Abu ad- Darda’ Radhialloohu 'Anhu dia berkata,

“Seorang laki- laki berkata kepada Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam, “Tunjukkanlah kepadaku suatu amalan yang dapat memasukkan aku ke dalam Surga?” Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam menjawab, “Jangan Marah, Maka kamu mendapatkan Surga”.

[Diriwayatkan oleh ath- Thabrani dengan dua sanad, salah satunya Shahih].

Sumber: ‘Shahih at- Targhib Wa at- Tarhib V’ Bab. Ancaman Tentang Sifat marah dan anjuran menolak& menahannya dan Sesuatu yang dilakukan ketika marah. Hal 197-200. Syaikh al- Albani Rahimahulloh. Pustaka Shahifa. Jakarta.

217: Meninggalkan Amarah. Dari Abu ad- Darda’ Radhialloohu 'Anhu ia berkata,

‘Seorang laki- laki berkata kepada Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam, “Tunjukkan kepadaku suatu amalan yang memasukkanku ke Surga?” Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam menjawab, “Jangan marah, dan bagimu Surga”.

[Shahih, Diriwayatkan oleh ath- Thabrani dalam >al- Mu’jam al- Kabir dan Ibnu Abi ad- Dunya, dan dishahihkan oleh Syaikh al- Albani Rahimahulloh dalam Shahih al- Jami’ No. 2179].

216: Menahan Amarah. Dari Ibnu ‘Umar Radhialloohu 'Anhuma, Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda,

“Manusia yang paling dicintai Alloh adalah yang paling bermanfaat bagi manusia, dan amalan yang paling dicintai Alloh adalah kebahagiaan yang kamu berikan kepada seorang muslim, atau meringankan kesulitannya, atu melunasi hutangnya, atau mengusir kelaparannya. Aku berjalan bersama saudaraku yang muslim salam satu keperluan lebih aku sukai daripada beri’tikaf di masjid selama satu bulan. Barangsiapa menahan amarahnya niscaya Alloh menutup auratnya. Barangsiapa menahan amarahnya –kalau dia mau, dia bisa melampiaskannya- nicaya Alloh memenuhi hatinya dengan keridhoan pada hari Kiamat. Barangsiapa berjalan bersama saudaranya yang muslim dalam rangka memenhui suatu kebutuhannya sehingga dia mendapatkannya untuknya, niscaya Alloh meneguhkan kakinya pada hari di mana kaki- kaki terpeleset. Sesungguhnya keburukan akhlak merusak amal, sebagaimana cuka merusak madu”.

[Hasan, Diriwayatkan oleh Ibnu Abi ad- Dunya dalam Qadha al- Hawa’ij, ath- Thabrani dalam al- Mu’jam al- Kabir, di- Hasan- kan oleh Syaikh al- Albani Rahimahulloh dalam Shahih al- jami’ No. 174 dan as- Silsilah ash- Shahiihah, No. 903].

Sumber: ‘Sesungguhnya DIA Maha Pengampun: 286 Sebab Meraih Ampunan Alloh Subhaanahu Wa Ta'ala”. Hal 259- 261. Dr. Sayyid Husain al- Affani. Pustaka Darul haq. Jakarta.

Selasa, 17 Februari 2009

NABI MUHAMMAD SHALLALLAAHU ‘ALAIHI WASALLAM MENYEMBUHKAN ORANG SAKIT [2-End]

Dalam kejadian lain, Yazid bin Abu Ubaid berkata : “Saya melihat bekas pukulan di betis Salamah, lalu saya berkata kepadanya, ‘Wahai Abu Muslim, ini bekas pukulan apa?’ Ia menjawab : “Ini bekas pukulan yang menimpaku di peperangan Khaibar’, maka orang-orang berkata : “Salamah telah terluka”, lalu aku mendatangi Rasulullah, maka beliau meludahi padanya 3 kali lalu akupun tidak pernah merasakan sakit sampai sekarang”. (HR. Bukhari no. 4206).

Dalam kitab al-Maghazi, bab perang Khaibar.




Sesungguhnya orang-orang melihat betis Salamah berlumuran darah, akan tetapi mereka melihatnya tidak merasakan sakit dan nyeri atas berkah dari Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam dengan meludahi lukanya. Sungguh, banyak orang tidak akan mampu berkata di hadapan mu’jizat yang hebat melainkan mereka akan bersaksi dengan kenabian Rasulullah dan risalahnya, yang seperti itu tidak akan mampu dilakukan oleh manusia. Maka sesungguhnya ini merupakan bukti atas kenabian Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam.

Di dalam peristiwa lain, Rasulullah mengutus ‘Abdullah bin Atiq dan sekelompok orang dari kalangan Anshar untuk membunuh Salam bin Abu Huqaiq. Tatkala ia hendak pulang, di perjalanan ia terjatuh dan betisnya retak, kemudian ia membalut dengan sorbannya, lalu menceritakan : “Saya menemui Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam, lalu beliau bersabda “Hamparkanlah kakimu”, kemudian aku menghamparkan kakiku, lalu beliau mengusapnya. “Sungguh, aku tidak merasakan sakit sedikitpun”. (Dari Bara’ bin Aziib. HR. Bukhari, no. 4039 dalam kitab Maghazi, bab : Qatlu Abi Rafi’ ‘Abdullah bin Abi Huqaiq wa Yuqal Salam bin Abi Huqaiq).

Kejadian-kejadian ini disaksikan oleh para shahabat dan berlangsung berkali-kali. Buraidah Radhiyalllahu ‘anhu berkata, “Sungguh, Rasulullah meludahi kaki ‘Amr bin Mu’adz tatkala kakinya patah, lalu sembuh”. (HR. Ibnu Hibban no. 2146, dishahihkan oleh Syaikh al-Albaniy dalam ash-Shaahihah, no.2940).

____________________________________________________________________________________
Sumber :
Asy-Syifa’ bi Ta’riifil Huquuqil-Musthofa, Karya Qadhi Iyadh, dan kitab-kitab lainnya.

NABI MUHAMMAD SHALLALLAAHU ‘ALAIHI WASALLAM MENYEMBUHKAN ORANG SAKIT [1]

NABI MUHAMMAD SHALLALLAAHU ‘ALAIHI WASALLAM MENYEMBUHKAN ORANG SAKIT

Allah Ta’ala memberikan kepada Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bukti kenabiannya. Yaitu, beliau Shallallaahu ‘alaihi wasallam menyembuhkan orang sakit. Ini terjadi tatkala menyembuhkan sebahagian para Shahabatnya.

Disebutkan dari Sahl bin Sa’ad Radhiyallaahu ‘anhu, bahwa ia telah mendengar Rasulullah bersabda saat hari peperangan Khaibar :
“Sesungguhnya, Saya akan menyerahkan bendera ini besok hari kepada seseorang yang mencintai Allah serta Rasul-Nya, dan dicintai Allah serta Rasul-Nya; yang di tangannya, Allah memberikan kemenangan”.



Maka semalam suntuk orang-orangpun memperbincangkan, siapakah diantara mereka yang akan diserahi bendera tersebut. Pagi harinya, mereka mendatangi Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam. Masing-masing berharap untuk diserahi bendera tersbut. Lalu Rasulullah bersabda : “Di manakah Ali bin Abi Thalib?”. Mereka menjawab : “Dia sakit kedua belah matanya”. Mereka pun mengutus seseorang kepadanya dan didatangkanlah ia, lantas Rasulullah meludahi kedua belah matanya dan berdo’a untuknya; seketika itu ia sembuh, seakan-akan tidak pernah terkena penyakit, lalu beliau Shallallaahu ‘alaihi wasallam menyerahkan bendera itu. (HR. Bukhari dari Sahl bin Sa’ad no. 3701 dan Muslim dari Salamah bin al-Akwa no. 2407).

Dalam riwayat Ibnu Majah, bahwasanya beliau Shallallaahu ‘alaihi wasallam meludahi kedua belah matanya dan bersabda : “Ya Allah, hilangkanlah darinya panas dan dingin”. Ali Radhiyallaahu ‘anhu berkata, ‘Aku tidak mendapatkan rasa panas dan dingin setelahnya’, dan para shahabat beliau melihatnya mengenakan pakaian musim panas saat musim dingin dan pakaian musim dingin saat musim panas. (HR. Ibnu Majah no. 117, dan dihasankan oleh Syaikh al-Albaniy dalam Shahih Ibnu Majah no. 114).

Imam asy-Syaukani Rahimahullah berkata : “Dalam hadits ini terdapat mukjizat yang nyata atas kebenaran risalah beliau Shallallaahu ‘alaihi wasallam”. (Nailul Authar, 8/55).

To be continued...

Sabtu, 17 Januari 2009

KEHANCURAN KAUM TSAMUD [2]

Kamis, hari pertama dari masa tenggang yang diancamkan, terlihat wajah-wajah kaum Tsamud mulai menguning, tak jelas apa sebabnya. Kemudian datanglah hari kedua, Jum’at, wajah-wajah mereka berubah menjadi merah. Lalu datanglah hari ketiga, Sabtu, wajah-wajah mereka berubah menjadi hitam. Maka tibalah saatnya waktu yang telah diancamkan, hari Ahad.

Mereka semua duduk tertegun menanti apa yang akan terjadi pada mereka. Mereka tak tahu bagaimana bentuk adzab yang diancamkan dan dari mana datangnya. Maka, ketika matahari terbit di hari itu, terdengarlah suara yang sangat keras bak halilintar dari langit. Disusul gempa hebat yang menggetarkan semua yang ada di bumi. Akhirnya, tak satupun nyawa kaum Tsamud yang tak beriman yang tersisa, semua dicabut secara mengenaskan; tak kenal dewasa, anak-anak, laki-laki, dan perempuan semuanya menjadi mayat-mayat yang bergelimpangan.

Allah ta’ala berfirman menggambarkan keadaan mereka

“Adapun kaum Tsamud, maka mereka telah dibinasakan dengan suara petir yang amat keras”. (QS. Al-Haqqoh [69]: 5).

“Lalu datanglah gempa menimpa mereka dan mereka pun mati bergelimpangan di dalam reruntuhan rumah mereka”.
(QS. Al-A’rof [7]: 78).

Nabi Sholih ‘alaihissalam dan orang-orang yang beriman diselamatkan oleh Allah ta’ala :

“Dan kami selamatkan orang-orang yang beriman dan orang-orang yang bertaqwa”. (QS. Fushshilat [41]: 18).

Pasca kehancuran kaum Tsamud, Nabi Sholih ‘alaihissalam meninggalkan tempat tinggal mereka dan menetap di tanah haram. Wallohu A’lam. Allah ta’ala mengisahkan :

“Maka berpalinglah Nabi Sholih meninggalkan kaumnya. Dia berkata, ‘Wahai kaumku, sungguh aku telah sampaikan risalah Rabb-ku kepada kalian dan aku telah menasihati kalian. Tetapi kalian tidak menyukai orang yang memberi nasihat’”. (QS. Al-A’rof [7]: 79).

to be continued...

Kamis, 15 Januari 2009

KEHANCURAN KAUM TSAMUD [1]

‘Si Unta Mukjizat’ yang menjadi tanda dan bukti nyata akan kebenaran kerasulan Nabi Sholihalaihissalam benar-benar telah terbunuh olah tangan-tangan kaum Tsamud yang durhaka. Tubuh yang panjang itu telah tersayat dan terpotong-potong oleh kebengisan pedang-pedang mereka.

Setelah puas melakukan perbuatan sadis itu, mereka menantang Nabi Sholih ‘alaihissalam agar apa yang diancamkan oleh Allah ta’ala kepada mereka berupa adzab sebab pembunuhan unta itu segera didatangkan. Perkataan mereka ini telah diabadikan dalam al-qur’an :

“Maka mereka menyembelih unta itu dan mereka telah menyelisihi perintah Rabb mereka. Mereka berkata, “Wahai Sholih, datangkanlah kepada kami apa yang kamu ancamkan kepada kami (adzab) jika kamu termasuk orang-orang yang diutus”.
(QS. Al-A’rof [7]: 77).

Saat diberi kabar tentang kematian unta itu, Nabi Sholih ‘alaihissalam bergegas pergi ke tempat kejadian. Beliau menangis ketika melihat bangkai unta telah terkapar tak berdaya. Beliau sedih kenapa kaumnya begitu tega dan berani melanggar wahyu Allah ta’ala tersebut. Tak takutkah mereka akan kepedihan adzab Allah ta’ala yang diancamkan kepada mereka?!

Maka, atas wahyu dari Allah ta’ala, Nabi Sholih ‘alaihissalam memberikan tempo kepada kaum Tsamud selama tiga hari dari hari penyembelihan unta, yakni hari Rabu. Hal ini sesuai dengan jumlah teriakan anak unta itu, yaitu sebanyak tiga kali juga, ketika lari ke gunung untuk menyelamatkan diri. Firman Allah ta’ala :

“Maka kaum Tsamud menyembelih unta itu, lalu Nabi Sholih berkata pada mereka, ‘Bersenang-senanglah kalian selama tiga hari. Itu adalah suatu janji ancaman yang tidak dusta’”.
(QS. Hud [11]: 65).

Menanggapi ancaman Nabi Sholih ‘alaihissalam itu, kaum Tsamud malah mencemooh dan mendustakannya, bahkan di sore harinya mereka berencana membunuh Nabi Sholih beserta keluarganya. Menurut mereka, jika Nabi Sholih memang benar-benar berada di atas kebenaran, biarlah dia mati sebelum adzab menimpa mereka. Namun jika ia seorang pendusta, biarlah menyusul kematian untanya. Mereka pun berencana bila berhasil membunuh Nabi Sholih ‘alaihissalam, mereka akan mengingkari pembunuhan tersebut bila ahli warisnya menuntut. Begitulah keinginan keji mereka.

Akan tetapi Allah ta’ala berkehendak lain. Ketika sebagian rombongan kaum Tsamud bergerak menuju rumah Nabi Sholih ‘alaihissalam untuk membunuhnya, Allah ta’ala mengirim batu untuk menghadang perjalanan mereka. Batu itu menimpa mereka dan memecahkan kepala-kepala mereka. Mereka pun tewas seketika mendahului kaum Tsamud yang lainnya.

to be continued...