Rabu, 15 September 2010

48). Ahlus Sunnah Wal Jama’ah mengikuti Sunnah Rasululloh Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam secara lahir dan bathin (At- Tanbiihaatul Lathiifah hal. 101-

48). Ahlus Sunnah Wal Jama’ah mengikuti Sunnah Rasululloh Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam secara lahir dan bathin (At- Tanbiihaatul Lathiifah hal. 101- 103).

Termasuk Jalan Ahlus Sunnah wal Jama'ah yaitu mengikuti Sunnah Rasululloh Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam secara lahir dan bathin dan mengikuti jalannya orang- orang yang terdahulu dari kaum Muhajirin dan Anshar.

Alloh Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

“Orang- orang yang terdahulu lagi yang pertama- tama (masuk Islam) di antara orang- orang Muhajirin dan Anshar serta orang- orang yang mengikuti mereka dengan baik, Alloh ridho terhadap mereka dan mereka ridho kepada Alloh. Alloh menyediakan bagi mereka Surga- surga yang mengalir sungai- sungai di bawahnya; mereka kekal di dalamnya selama- lamanya. Itulah kemenangan yang besar”. (QS. At- Taubah: 100). Lihat juga QS. Al- Baqoroh: 143 dan QS. An- Nisaa’: 115.

MEREKA MENDAHULUKAN FIRMAN ALLOH SUBHANAHU WA TA’ALA DARI SEMUA PERKATAAN MANUSIA YANG ADA. MENDAHULUKAN PETUNJUK RASULULLOH SHALLALLAHU 'ALAIHI WA SALLAM DARIPADA PETUNJUK SEMUA ORANG. MAKA YANG DEMIKIAN INILAH, MEREKA DISEBUT ATAU DIKATAKAN ALHUL QUR’AN DAN SUNNAH.

Alloh Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:



“Hai orang- orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Alloh dan Rasul- Nya dan bertaqwalah kepada Alloh. Sesungguhnya Alloh Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. QS. Al- Hujurat: 1

Alloh Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

“Sesungguhnya jawaban orang- orang mukmin, bila ia dipanggil kepada Alloh dan Rasul- Nya agar Rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan: “Kami mendengar, dan kami patuhi”. Dan mereka itulah orang- orang yang beruntung. Dan basangsiapa yang taat kepada Alloh dan Rasul- Nya dan takut kepada Alloh dan bertaqwa kepada- Nya, maka mereka adalah orang- orang yang mendapatkan kemenangan”. QS. An- Nuur: 51- 51.

Rasululloh Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda:

“Sungguh aku telah tinggalkan kepadamu dua perkara yang kalian tidak akan tersesat apabila (berpegang teguh) kepada keduanya, yaitu Kitabulloh dan Sunnahku. Keduanya tidak akan berpisah hingga keduanya datang kepadaku di Telaga (al- Haudh)”

HR. Al- Hakim (I/ 93) dan al- Baihaqi (X/ 114) dari Abu Hurairoh Radhialloohu 'Anhu, dan Malik dalam al- Muwaththa’ pada bab an- Nahyu ‘anil Qaul bil Qodar (hal. 686). Ini adalah lafadz al- Hakim, sanad Hadits ini ‘Hasan’.

Rasululloh Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam juga bersabda:

“...Sungguh, orang yang masih hidup di antara kalian sepeninggalku kelak akan melihat perselisihan yang banyak, maka wajib atasmu memegang teguh Sunnahku dan Sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk. Gigitlah ia dengan gigi gerahammu. Dan jauhilah oleh kalian perkara- perkara yang baru, karena sesungguhnya setiap perkara yang baru itu bid’ah. Dan setiap bid’ah itu sesat”

HR. Ahmad (IV/ 126- 127), Abu Dawud (No. 4607) dan at- Tirmidzi (No. 2676), ad- Darimi (I/ 44), al- Baghawi dalam kitab Syarhus Sunnah (I/ 205), al- Hakim (I/ 95) dan lainnya. Dishahihkan dan disepakati oleh Imam adz- Dzahabi dan dishahihkan juga oleh Syaikh al- Albani dalam Irwaa-ul Ghaliil (No. 2455), dari Shahabat ‘Irbadh bin Sariyah Radhialloohu 'Anhu.

AL- QUR’AN, AS- SUNNAH, DAN IJMA’ SHAHABAT adalah tiga prinsip utama yang Ahlus Sunnah berpegang dengannya dalam ilmu dan agama. Mereka menimbang dengan tiga pokok ini semua yang dikatakan dan dikerjakan oleh manusia secara lahir dan bathin dari apa- apa yang berkaitan dengan masalah agama.

ADAPUN IJMA’ YANG BERLAKU YAITU, APA YANG TELAH DIIJMA’KAN OLEH SALAFUSH SHALIH, KARENA ORANG- ORANG SESUDAH MEREKA TELAH BANYAK IKHTILAF DAN UMAT INI SUDAH BERPENCAR KE SELURUH PENJURU DUNIA. Sebagaimana perkataan Imam Ahmad bin Hanbal Rahimahulloh:

“Barangsiapa yang mengklaim (menyatakan) adanya Ijma’ setelah masa Salafush Shalih, maka ia telah berdusta”. (Lihat I’laamul Muwaqqi’iin (II/ 54) oleh Ibnu Qayyim al- Jauziyyah, Tahqiq Syaikh Masyhur Hasan Salman. Cet. I- Daar Ibnil Jauzi, th. 1423H).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahulloh, ketika menjelaskan Manhaj Ahlus Sunnah wal Jama'ah dalam masalah- masalah prinsip tertentu, beliau menyebutkan manhaj yang menyeluruh dalam agama ini, baik masalah ushul (pokok) maupun furu’ (cabang), bahwa mereka (Ahlus Sunnah) itu menempuh jalan yang lurus dan pegangan yang bermanfaat dari Al- Kitab dan As- Sunnah, mereka yang mengikuti orang yang paling tahu tentang Islam dan paling dalam ilmunya, serta paling ittiba’ kepada Al- Qur’an dan As- Sunnah, yaitu para Shahabat Radhialloohu 'Anhum. Mereka mengikuti Khulafaur Rasyidin secara khusus, serta mereka berjalan di jalan Alloh dengan diiringi prinsip- prinsip yang mulia ini.

APAPUN YANG DIKATAKAN MANUSIA ATAU MERUPAKAN PENDAPAT- PENDAPAT MADZHAB DI MANA ORANG MENGIKUTINYA, MAKA AHLUS SUNNAH MENIMBANG DENGAN TOLOK UKUR AL- QUR’AN DAN AS- SUNNAH DAN IJMA’ SHAHABAT DARI GENERASI TERBAIK UMAT INI, MAKA LURUSLAH JALAN MEREKA.

Ahlus Sunnah selamat dari bid’ah- bid’ah perkataan yang menyalahi apa yang dikatakan Rasululloh Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam dan para shahabat dalam masalah I’tiqad, sebagaimana mereka selamat dari bid’ah- bid’ah amaliyah, mereka tidak beribadah dan tidak mengadakan syari’at melainkan dengan apa yang disyari’atkan oleh Alloh Subhanahu Wa Ta’ala dan Rasululloh Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam. (Lihat at- Tanbiihat al- Lathiifah Hal. 103).

Kesimpulannya, AHLUS SUNNAH WAL JAMA'AH ADALAH
MEREKA YANG BERPEGANG TEGUH KEPADA AL- QUR’AN DAN AS- SUNNAH YANG SHAHIH MENURUT PEMAHAMAN SALAFUSH SHALIH,

MEREKA MELAKSANAKAN TAUHID KEPADA ALLOH DAN MENDAKWAHKAN KEPADA MANUSIA UNTUK BERTAUHID DAN MENGIKHLASKAN IBADAH SEMATA- MATA KARENA ALLOH,

MEREKA MENJAUHKAN SEGALA BENTUK KEMUSYRIKAN DAN PENGHAMBAAN KEPADA SELAIN ALLOH.
AHLUS SUNNAH MELAKSANAKAN SUNNAH- SUNNAH RASULULLOH SHALLALLAHU 'ALAIHI WA SALLAM,

MENGHIDUPKANNYA DAN MENGAJAK KAUM MUSLIMIN UNTUK BERPEGANG TEGUH KEPADA SUNNAH SERTA

MEREKA MENJAUHKAN SEGALA MACAM BENTUK BID’AH BAIK DALAM MASALAH I’TIQAD MAUPUN AMALIAH. KARENA SETIAP BID’AH ADALAH KESESATAN DAN SETIAP KESESATAN TEMPATNYA DI NERAKA. WALLOHU A’LAMU.

Sumber: ‘Syarah Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah” hal.402- 406. Ust. Yazid bin Abdul Qadir Jawas. Pustaka Imam Asy- Syafi’i. Bogor.


Tidak ada komentar: