Tuesday, September 7, 2010

Berbuat Baik Kepada Kedua Orang Tua

1. Firman Alloh Subhanahu wa Ta’ala “Kami perintahkan manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya”. -1

1/1. Dari Abu Amr Asy- Syaibahani, dia berkata, “Pemilik rumah ini meriwayatkan kepadaku –sambil memberikan isyarat dengan tangannya ke rumah Abdullah- dia berkata,

“Saya bertanya kepada Rasululloh Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam, ‘Apakah perbuatan yang paling dicintai Alloh Azza Wa Jalla?’ Rasululloh Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam menjawab, “Shalat pada waktunya”. Kemudian saya bertanya lagi, ‘Lalu apa?’ Rasululloh Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam menjawab, “Kemudian Berbuat baik kepada kedua orang tua”. Lalu saya kembali bertanya, “Lalu apa?” Rasululloh Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam menjawab, “Kemudian Jihad di Jalan Alloh”. Abdullah berkata, Rasululloh Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam menerangkan perkara tersebut kepadaku. Sekiranya aku meminta tambahan kepadanya, maka niscaya beliau akan menambah untukku”’.

Shahih, disebutkan di dalam kitab Al Irwa’ (1197), (Bukhori, 9. Kitab Muwaqitush-Sholat, 5- Bab Fadhlus-Shalati Li Waqtiha. Muslim, 1- Kitab Al Iman, Hadits 137, 138, 139 dan 140).

2/2. Dari Abdullah bin Umar, dia berkata, “Ridho Tuhan terletak pada ridho kedua orang tua dan kemurkaan Tuhan terletak pada kemurkaan kedua orang tua”.

Hasan Mauquf, dan Shahih Marfu’ di dalam kitab Ash- Shahihah (515).

2. Berbuat baik kepada Ibu -2.
3/3. Dari Bahaz bin Hakim, dari bapaknya, dari kakeknya, aku berkata,

“Wahai Rasululloh, siapa yang harus saya perlakukan dengan baik?” Rasululloh Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam menjawab, “Ibumu”. Saya bertanya lagi, “Siapa yang harus saya perlakukan dengan baik?” Rasululloh Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam menjawab, “Ibumu”. Lalu saya bertanya, “Siapa yang harus saya perlakukan dengan baik?” Rasululloh Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam menjawab, “Ibumu”. Saya bertanya, “Siapa yang harus saya perlakukan dengan baik?” Rasululloh Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam menjawab, “Bapakmu, kemudian kerabat yang terdekat, lalu kerabat yang terdekat”.

Hasan, di dalam Kitab Al Irwa’ (2232, 829), dan di dalam (Sunan Tirmidzi, 25- Kitab Al Birru wa Ash- Shilat, 1- Bab Ma Ja’a Fii Birril Walidain).

4/4. Dari Ibnu Abbas, Bahwasanya seseorang mendatanginya lalu berkata, “Sesungguhnya aku telah meminang seorang wanita, lalu dia enggan untuk menikah denganku. Kemudian dia dipinang oleh orang lain dan dia menikah dengannya. Akhirnya saya cemburu dengan wanita itu, lalu aku membunuhnya. Apakah (masih) ada taubat bagiku?” Ibnu Abbas bertanya, “Ibumu masih hidup?” Dia menjawab, “Tidak”. Ibnu Abbas berkata, “Bertaubatlah kepada Alloh Azza Wa Jalla, dan mendekatlah kepada-Nya semampu kamu”. [Atha’ bin Yasar berkata] “Kemudian saya menjumpai Ibnu Abbas dan bertanya kepadanya, “Mengapa engkau bertanya tentang ibunya?” Ibnu Abbas menjawab, “Sesungguhnya aku tidak mengetahui suatu amalan yang lebih dekat kepada Alloh Azza Wa Jalla dari pada berbuat baik kepada Ibu”.

Shahih, dalam Kitab Ash- Shahihah (2799)

Sumber: Shahih Adabul Mufrad. Hal. 31- 33. Syaikh Muhammad Nashiruddin al- Albani. Pustaka Azzam. Jakarta Selatan.


No comments: