Jumat, 22 Oktober 2010

12. Ahlus Sunnah Wal Jama'ah Menetapkan Sifat al- ‘Uluw (Ketinggian) bagi Alloh ‘Azza Wa Jalla.

12. Ahlus Sunnah Wal Jama'ah Menetapkan Sifat al- ‘Uluw (Ketinggian) bagi Alloh ‘Azza Wa Jalla.

Sifat al- ‘Uluw merupakan salah satu dari sifat- sifat Dzatiyah Alloh ‘Azza Wa Jalla yang tidak terpisah dari- Nya. Sifat Alloh Subhanahu Wa Ta’ala ini –sebagai- mana sifat Alloh Subhanahu Wa Ta’ala lainnya- diterima dengan penuh keimanan dan pembenaran oleh Ahlus Sunnah Wal Jama'ah.

Sifat Alloh ini ditunjukkan oleh Sama’ (Al- Qur’an dan As- Sunnah), akal, dan fitrah. Telah mutawatir dalil- dalil yang bersumber dari Al- Qur’an dan As- Sunnah tentang penetapan ketinggian Alloh Subhanahu Wa Ta’ala di atas seluruh makhluk- Nya.

Di antara dalil- dalil Al- Qur’an dan As- Sunnah tentang Sifat al- ‘Uluw adalah,

1. Firman Alloh ‘Azza Wa Jalla,

“Apakah kamu merasa aman terhadap Alloh yang di langit bahwa Dia akan menjungkirbalikkan Bumi bersamamu, sehingga dengan tiba- tiba Bumi itu tergoncang”. (QS. Al- Mulk: 16).

2. Firman Alloh ‘Azza Wa Jalla,

“Mereka takut kepada Rabb mereka yang berada di atas mereka dan mereka melaksanakan apa yang diperintahkan (kepada mereka)”. (QS. An- Nahl: 50).

3. Firman Alloh Ta’ala,

“Sucikanlah Nama Rabb- mu Yang Maha Tinggi”. (QS. Al- A’laa: 1).

4. Firman Alloh Subhanahu Wa Ta’ala,

“Barangsiapa yang menghendaki kemuliaaan, maka bagi Alloh kemuliaan itu semuanya. Kepada- Nya lah naik perkataan- perkataan yang baik dan amal yang shalih dinaikkan- Nya. Dan orang- orang yang merencanakan kejahatan, bagi mereka adzab yang keras dan rencana jahat mereka akan hancur”. (QS. Faathir: 10).


‎5. Pertanyaan Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam kepada seorang budak wanita,

“Di mana Alloh?” Ia menjawab, “Alloh itu ada di atas langit”. Lalu Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda, “Siapa aku?” “Engkau adalah Rasululloh”, jawabnya. Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda, “Merdekakan lah ia, karena sesungguhnya ia seorang Mukminah”.

Shahih, HR. Muslim (No. 537), Abu ‘Awanah (II/ 141- 142), Abu Dawud (No. 930), an- Nasa’i (III/ 14-16), ad- Darimi (I/ 353- 354), Ibnul Jarud dalam al- Muntaqaa’ (No. 212), al- Baihaqi (II/ 249- 250), dan Ahmad (V/ 447- 448), dari Shahabat Mu’awiyah bin Hakam as- Sulami Radhialloohu 'Anhu.

Terdapat dua permasalahan yang terkandung di dalam hadits ini:
Pertama, disyari’atkan untuk bertanya kepada seorang muslim, “Di mana Alloh?”. Kedua, jawaban yang ditanya adalah, “Di (atas) Langit”.
Maka barangsiapa yang memungkiri dua masalah ini berarti ia memungkiri al- Musthafa (Nabi Muhammad Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam). (Lihat Mukhtasharul ‘Uluw Hal. 81, oleh Imam adz- Dzahabi, tahqiq Syaikh Muhammad Nashiruddin al- Albani).

6. Hadits tentang Kisah Isra’ dan Mi’raj

Yaitu sebuah hadits yang mutawatir, sebagaimana disebutkan oleh sejumlah ulama antara lain Syaikhul Islam Ibnul Qayyim Rahimahulloh, beliau berkata, (lihat Ijtimaa’ul Juyuusy al- Islamiyyah Hal. 55 oleh Imam Ibnul Qayyim al- Jauziyyah, tahqiq Basyir Muhammad ‘Uyun) “Di dalam beberapa redaksi hadits menunjukkan kepada ketinggian Alloh di atas ‘Arsy- Nya, di antaranya ungkapan,

“Lalu aku dinaikkan ke atasnya, maka berangkatlah Jibril bersamaku hingga sampai ke langit yang terendah (langit Dunia), ia pun mohon ijin agar dibukakan (pintu langit)”.

HR. al- Bukhori (No. 3887) dan Muslim (No. 164 (264)) dari Shahabat Malik bin Sha’ sha’ah Radhialloohu 'Anhu; Lihat lafazh hadits ini selengkapnya pada pembahasan ke- 25: Isra’ dan Mi’raj di halaman 272).

7. Jawaban Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam kepada Dzul Khuwaishirah:

“Apakah kalian tidak mempercayaiku, sedangkan aku dipercaya oleh Alloh yang ada di atas Langit..?”

HR. al- Bukhori (No. 4351), Muslim (No. 1064) dari Shahabat Abu Sa’id al- Khudri Radhialloohu 'Anhu.

Ibnu Abil ‘Izz Rahimahulloh berkata, “Ketinggian Alloh di samping ditetapkan melalui Al- Qur’an dan As- Sunnah ditetapkan pula melalui akal dan fithrah. Adapun tetapnya ketinggian Alloh melalui akal dapat ditunjukkan dari sifat kesempurnaan- Nya, sedangkan tetapnya ketinggian Alloh secara fithrah, maka perhatikanlah setiap orang yang berdo’a kepada Alloh ‘Azza Wa Jalla, pastilah hatinya mengarah ke atas dan kedua tangannya menengadah, bahkan barangkali pandangannya tertuju ke arah yang tinggi. Perkara ini terjadi pada siapa saja yang besar maupun yang kecil , orang yang berilmu maupun orang yang bodoh, sampai- sampai di dalam sujud pun seorang mendapat kecenderungan hatinya ke arah itu. Tidak seorangpun dapat memungkiri hal ini, dengan mengatakan bahwa hatinya itu berpaling ke arah kiri dan kanan atau ke bawah”.

(Diringkas dari Syarhul ‘Aqidah ath- Thahawiyyah Hal. 389- 390, takhrij dan ta’liq Syu’aib al- Arnauth dan ‘Abdulloh bin ‘Abdul Muhsin at- Turki, lihat juga kitab ‘Minhajul Imaam asy- Syafi’i Fii Itsbaatil ‘Aqiidah (II/ 347).

Sumber: ‘Syarah ‘Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah’ Hal. 197- 200. Yazid bin Abdul Qadir Jawas. Pustaka Imam asy- Syafi’i. Bogor.

Tidak ada komentar: