Tuesday, March 27, 2012

Tidak Meremehkan Risalah, Walaupun tampak Kecil.

Beberapa Faedah di balik ‘Sedikit’
Oleh Ust. Muhtar Arifin, Lc.

Tidak Meremehkan Risalah, Walaupun tampak Kecil.

Kitab- kitab yang disusun oleh para ulama dan peneliti ada yang besar sampai puluhan jilid, bahkan ada pula yang beberapa lembar saja. Dalam kitab Kutub fi as-Saahah al- Islamiyyah, disebutkan:

“Ketahuilah bahwa tidak ada kitab yang kosong dari faedah. Maka janganlah engkau meremehkan kitab apapun milik seorang muslim,….Berapa banyak masalah yang telah tertahqiq dalam sebuah kitab kecil, sedangkan engkau tidak menemukannya dalam kitab yang terdiri dari berjilid- jilid”.

(Hal. 23, Dar ash- Shumai’I, Cet. 1, 1992M).


Satu Demi Satu Faedah Akan menjadi Melimpah

Ada yang mengatakan:



Pada Hari ini sedikit, demikian juga keesokan harinya sedikit,

Dari Nukhbah- nukhbah orang yang alim yang dapat diambil,

Dengannya, seseorang akan mendapatkan sebuah hikmah,

Sesungguhnya Banjir itu adalah kumpulan Tetesan Air




(Bughyah al- Wu’at, as- Suyuti (I/ 14) al- Maktabah al- Ashariyyah, 1424H, Beirut, tahqiq Muhammad Abul Fadhl Ibrahim).

Syaikh Bakr bin ‘Abdullah Abu Zaid berpesan, “Kerahkanlah Kesungguhanmu untuk menjaga ilmu dengan menulisnya. Hal itu karena mencatat ilmu dengan tulisan adalah merupakan:

(1) Keamanan dari lenyapnya

(2) Meringkas waktu untuk meneliti ketika dibutuhkan, terutama berkaitan dengan masalah- masalah ilmu yang berada pada tempat- tempat yang tidak disangka- sangka.

(2) Di antara fawa’id- Nya yang paling besar adalah ketika telah lanjut usia dan kekuatan telah melemah, maka engkau memiliki materi yang dapat engkau ambil suatu permasalahannya yang akan engkau tulis darinya tanpa bersusah payah dalam mencarinya.

Oleh karena itu, hendaklah engkau memiliki kumpulan atau catatan untuk menulis fawa’id dan faroo’id (faedah- faedah istimewa) serta pembahasan- pembahasan yang bercerai- berai dan berada bukan pada tempat yang disangka- sangka”.
(Al- Majmu’ah al- ‘Ilmiyyah, hal. 175)).



Belajar Agama Dimulai Dari Perkara yang ‘Tampak’ Sederhana

Allah telah memerintahkan hamba- Nya untuk menjadi hamba- hamba yang Rabbani sebagaimana firman- Nya:

“Akan tetapi (dia berkata), ‘Hendaklah kamu menjadi orang- orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan al- Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya”. (QS. Ali Imran: 79).


Imam al- Bukhari Rahimahullah menjelaskan bahwa ada yang mengatakan tentang makna Rabbani, yaitu:

“Rabbani adalah orang yang mendidik manusia dari ilmu yang kecil sebelum ilmu yan besar”.

(Shahiih al- Bukhari, dalam Bab ke-10, Kitab al- ‘Ilm)).


Imam Ibnu Hajar Rahimahullah mengatakan:

“Ilmu- ilmu yang kecil maksudnya adalah masalah- masalah yang tampak jelas, sedangkan ilmu- ilmu yang besar adalah masalah- masalah yang pelik”.

Ada yang mengatakan: (maksudnya adalah) mengajar juz’iyyah (parsial) ilmu sebelum kulliyah-nya (global), atau furu’- nya (cabang) sebelum ‘ushul- nya (intinya), atau muqaddimah- nya sebelum maksud- maksudnya”.


(Fat-hul Baari, I/ 213)).


Oleh karena itu, para ulama menjelaskan bahwa penuntut ilmu, sebelum masuk ke dalam kitab- kitab yang pembahasannya panjang, terlebih dahulu hendaknya memulai dengan kitab- kitab yang ringkas dan pendek”. (Lihat Kitab al- ‘Ilm, Syaikh ‘Utsaimin, Hilyah Thalib al- ‘Ilm, dll)).

Syaikh ‘Muhammad bin SHalih al- Utsaimin Rahimahullah berkata,

“Sudah sepantasnya bagi seseorang ketika menyebarkan ilmu untuk menjadi orang yang bijak dalam mengajar, di mana dia menyampaikan kepada para penuntut ilmu masalah- masalah yang mampu dicerna oleh akal- akal mereka, sehingga dia tidak membawa masalah- masalah yang mu’dholat, akan tetapi mendidik mereka sedikit – demi sedikit

Oleh karena itu, sebagian di antara mereka mengatakan tentang alim rabbani yaitu rabbani adalah orang yang mendidik manusia dari ilmu yang kecil sebelum ilmu yang besar.

Kita semua telah mengetahui bahwa bangunan itu tidak didatangkan secara utuh kemudian diletakkan di permukaan tanah, lalu menjadi sebuah istana yang berdiri tegak, akan tetapi dibangun satu bata demi satu bata, sampai bangunan itu menjadi sempurna”.


(Fatawa Syaikh Shalih al- ‘Utsaimin, Jilid 1, hal. 389- 390, dikumpulkan oleh Asyraf ‘Abdul Maqshud, Cet. 2. Riyadh. Dar ‘Alam al- Kutub)).

Menghafal Sedikit demi Sedikit

Imam at- Tibrizi Rahimahullah berpesan,

“Hendaknya menghafalkan hadits sedikit demi sedikit bersama berlalunya hari- hari dan malam- malam”. (Al- Kafi, hal. 669)).


Imam az- Zuhri Rahimahullah berkata,

“Barangsiapa yang mencari ilmu secara sekaligus, maka akan hilang secara sekaligus juga. Ilmu itu diperoleh dari satu hadits, dua hadits”.

(Dikeluarkan oleh Mubarok bin ‘Abdul Jabbar dalam ath- Thoyyuriyat, (no 1336- pilihan Thahir Salafi), dan al- Khathib dalam al- Jami’ (I/ 232) no. 450. Demikian penjelasan Syaikh Masyhur dalam tahqiq al- Kafi, hal. 671)).


Sumber: Majalah adz- Dzaakhiirah. Hal. 580 60. Rubrik Fawa’id. Edisi 72. Vol 09 no. 06. 1432H/ 2011.

No comments: