Monday, March 5, 2012

Imam Baqi’ bin Makhlad Rahimahullah “Berjalan kaki dari Spanyol Menuju Baghdad untuk Belajar dengan Imam Ahmad bin Hanbal Rahimahullah”


Imam Baqi’ bin Makhlad (wafat th. 276H) Rahimahullah melakukan perjalanan pada tahun 221H dengan berjalan kaki dari Andalusia (Spanyol) ke kota Baghdad hanya untuk bertemu Imam Ahmad dan mengambil ilmu darinya.

Imam Baqi’ menuturkan, “Ketika mendekati Baghdad, Sampailah kepadaku tentang ujian Imam Ahmad (yaitu firnah perkataan Al-Qur’an adalah makhluk) dan beliau dikekang (dilarang untuk mengajarkan hadits). Aku sangat sedih, lalu aku menetap di Baghdad dan memilih sebuah rumah rumah sebagai tempat bermalam. Kemudian aku pergi ke Masjid untuk duduk bersama orang lain. Lalu, aku terdorong untuk menghadiri sebuah halaqah yang mulia, dan aku melihat seseorang berbicara tentang ilmu Rijalul Hadits. Ada yang berkata kepadaku, ‘Ini adalah Yahya bin Ma’in’.

Lalu mereka melowongkan tempat untukku dan aku berdiri di hadapannya seraya berkata, “Wahai Abu Zakaria, semoga Allah merahmati anda. Seseorang yang asing telah meninggalkan kampong halamannya, wajib diberikan kesempatan untuk bertanya dan jangan anda menganggap lancang”.

Dia (Imam Yahya) berkata, ‘Katakanlah!’ maka aku menanyakan tentang orang- orang yang kutemui, sebagian ia merekomendasikan dan sebagian lagi ia sebutkan kekurangannya.

Aku bertanya tentang Hisyam bin ‘Ammar (wafat th. 245H). Dia berkata kepadaku, ‘Abu Walid pengarang kitab Shalat dari Damaskus. Dia Tsiqah, bahkan lebih dari tsiqah. Walaupun ia sedikit angkuh, tetapi hal itu tidak berpengaruh kepada kebaikan dan keutamaannya’.

Orang yang hadir di halaqah berteriak, ‘Cukup! Semoga Allah merahmati anda, berikan kesempatan kepada yang lain untuk bertanya”. Aku berkata sambil berdiri di depan, “Ungkapkanlah tentang satu orang, Ahmad bin Hanbal?’ Dia (Imam Yahya bin Ma’in) menatapku penuh keheranan, lalu berkata, “Orang seperti kita mengungkapkan tentang Ahmad bin Hanbal? Dia adalah Imamnya kaum Muslimin, yang terbaik dan paling utama”.

Kemudian aku pergi dan meminta mereka menunjukkan kepadaku di mana rumah Imam Ahmad, mereka memberitahuku, lau aku mengetuk pintu rumahnya. Dia keluar dan aku bertanya, “Wahai Abu ‘Abdillah, Seseorang yang asing telah meninggalkan kampung halamannya. Ini adalah kali pertama aku datang ke tempat ini, aku ingin belajar hadits dan menguasai sunnah, dan tidak ada yang ku tuju dari perjalananku ini selain Anda”.

Dia berkata, “Masuklah ke dekat tiang ini agar engkau tidak terlihat”. Kemudian aku masuk dan dia berkata kepadaku, “Dari mana asalmu?” ‘Jauh ke Sebelah Barat”, jawabku. Dia kembali bertanya, “Afrika?”, Kujawab, “Lebih jauh dari Afrika. Aku harus mengarungi lautan bila ingin pergi dari daerahku ke Afrika, negeriku Andalusia”. Dia berkata, “Tempatmu sangat jauh, tidak ada yang lebih aku sukai daripada menjamu orang sepertimu. Akan tetapi aku berada dalam keadaan diuji, mungkin engkau sudah mengetahui hal itu”.

Aku menjawab,

“Ya, aku sudah mengetahuinya sejak pertama kali sampai ke tempat ini. Di sini tidak ada orang yang mengenalku. Jika anda mengizinkan, aku akan datang setiap hari dengan penampilan seorang pengemis. Ketika sampai di depan pintu aku akan berkata seperti apa yang dikatakan seorang pengemis kemudian Anda keluar. Kalaulah anda tidak mengajarkan kepadaku, kecuali hadits saja setiap harinya, sudah cukup rasanya bagiku”.


“Ya Baiklah. Dengan syarat engkau tidak menceritakannya kepada siapa pun tidak juga kepada Ahli Hadits”. Kukatakan, “Aku memegang Syarat Anda”.

Kemudian aku mengambil sebuah tongkat dan membuat kepalaku dengan sehelai kain yang telah lusuh, lalu aku mendatangi rumahnya sambil berteriak, “Kasihanilah Aku! Semoga Allah merahmati Anda”. Kemudian dia keluar aku pun masuk. Dia menutup pintu dan mengajarkanku dua atau tiga hadits, bahkan terkadang lebih. Itulah yang kulakukan terus hingga meninggal penguasa yang memfitnahnya dan digantikan oleh seorang yang berpemahaman Ahlus Sunnah.

Kemudian imam Ahmad bebas kembali dan dia diberi hadiah beberapa unta. Dia telah melihat kesabaranku. Jika aku mendatangi majelisnya, aku disediakan tempat dan dia menceritakan tentang kisahku dengannya kepada ahli hadits. Dia mengajarkanku hadits dan aku membacakan hadits di hadapannya. Ketika aku sakit, dia pun menjengukku bersama murid- muridnya”. (Siyar A’laamin Nubalaa (XIII/ 291- 294), karya Imam adz- Dzahabi Rahimahullah)).

Sumber: ‘Menuntut Ilmu Jalan Menuju Surga: Bab.11- Sekilas Perjalanan Ulama Dalam Menuntut Ilmu. Hal 255- 258. Ust. Yazid bin Abdul Qadir Jawas. Pustaka at- Taqwa. Bogor.

No comments: