Selasa, 20 Agustus 2013

Kejujuran Imam asy-Syafi rahimahullah yang luar biasa.

Kejujuran Imam asy-Syafi rahimahullah yang luar biasa.
Imam asy-Syafi rahimahullah sebelum berangkat belajar ke Madinah belajar kepada Imam Malik rahimahullah, beliau berkata Ibu nya : "Wahai ibu, berilah saya nasehat.!"
Ibunya berkata : "Wahai anak ku, berjanjilah kepada ku untuk tidak berdusta."
Imam asy-Syafi'i rahimahullah berkata : "Saya berjanji kepada Allah lalu kepada mu untuk tidak berdusta."
Beliau waktu usia nya masih kecil, dibekali oleh ibu nya uang 400 dirham. Beliau menaiki hewan tunggangan nya dan keluar bersama rombongan menuju Madinah, Imam asy-Syafi menyimpan uang itu didalam sebuah kantong yang ia jahit disela - sela bajunya.
Ditengah - tengah perjalanan ada rampok yang merampas seluruh harta rombongan tersebut, tatkala sampai dihadapan Imam asy-Syafi'i yang masih kecil, para perampok itu bertanya : "Apakah kamu membawa uang?" Imam asy-Syafi'i yang masih kecil ini menjawab : "IYA" Perampok : "Berapa?" Asy-Syafi'i : "Saya membawa uang 400 dirham."
Para perampok tersebut tertawa sambil mengejek beliau dan berkata :
"Pergilah, apakah kamu hendak mengolok - olok kami?" Pergilah sana. Apakah orang seperti mu membawa uang sebanyak empat ratus dirham?" (kata para perampok dengan tidak percaya). Kemudian asy-Syafi'i berhenti disamping rombongan kafilah yang dirampok. para pemimpin rampok berkata kepada anak buah nya : "Apakah kalian telah mengambil semuanya?" Mereka menjawab : "Ya"
Pemimpin rampok : "Apakah kalian tidak meninggalkan seorang pun?"
Mereka (anak buah) menjawab :
"Tidak, kecuali seorang anak kecil yang mengaku telah membawa uang sebanyak 400 dirham, namun anak tersebut gila atau hanya ingin mengolok - olok kita, sehingga kami pun menyuruhnya pergi."
Pemimpin rampok berkata : "Bawa anak itu kemari." Mereka pun membawa Syafi'i kecil. Kemudian pemimpin rampok itu bertanya kepada beliau : "Apakah kamu membawa uang, wahai anak kecil?" Syafi'i kecil menjawab : "Ya" Pemimpin Rampok berkata : "Berapa uang yang kamu bawa?" Syafi'i kecil "Empat ratus dirham." Pemimpin perampok itu bertanya lagi, "Dimana uang itu?" Lalu Syafi'i kecil mengeluarkan uang tersebut dari balik pakian nya dan menyerahkan nya kepada pemimpin kawanan perampok tersebut. Pemimpin rampok itu menuangkan uang - uang tersebut kepangkuan nya, lalu ia memandangi syafi'i kecil dengan keheranan dan berkata : "Kenapa kamu jujur kepada ku ketika aku tadi bertanya kepada mu, dan kamu tidak berdusta kepadaku, padahal kamu tahu bahwa uang mu akan hilang?" Syafi'i pun menjawab : "Saya jujur kepada mu karena saya telah berjanji kepada ibu ku untuk tidak berdusta kepada siapa pun." Mendengar penuturan Syafi'i kecil itu, tiba - tiba tangan pemimpin rampok itu berhenti memain - mainkan uang 400 dirham tersebut, karena hatinya telah bergetar karena hidayah dari Allah.
Lalu pemimpin rampok itu berkata sambil mengembalikan uang tersebut kepada Syafi'i kecil :
"Ambillah uang mu, kamu takut untuk mengkhianati janji mu kepada ibu mu, sedangkan aku tidak takut berkhianat kepada janji Allah Subhanhu wa ta'ala? Pergilah, wahai anak kecil dalam keadaan aman dan tenang, karena aku telah bertaubat kepada Zat yang Maha menerima taubat lagi Maha Penyayang melalui kedua tangan mu dengan taubat ini dan aku tidak akan pernah mendurhakai-Nya lagi selamanya."
Kemudian pemimpin kawanan perampok itu memandang anak buahnya dan berkata :
إنّ الله يامركم أن تؤدّوا الأمانات إلى أهلها "Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada orang yang berhak menerima nya..." [An-Nisa ayat 58] Lalu anak buahnya berkata sambil membawa harta dan berbagai perhiasan rombongan kafilah yang mereka rampok tadi dan mengembalikan nya, dan mereka berkata kepada pemimpin mereka "Wahai tuan kami, anda telah bertaubat dengan Zat Yang Maha Menerima taubat lagi Maha Penyayang, sedangkan anda adalah pemimpin kami. Oleh karena itu kami lebih pantas untuk bertaubat daripada anda."
Akhirnya mereka semua bertaubat kepada Allah, lewat kejujuran Imam asy-Syafi'i kecil. [Diringkas dan disadur dari buku Biografi Imam Syafi'i hal 17-20, Abdul Aziz asy-Syinawi. Judul aslinya Al-Aimmah Al-Arba'ah Hayatuhum Mawaqifuhum Ara'ahum Qadhiyusy Syariah al-Imam asy-Syafi'i] Sumber: https://www.facebook.com/khafidl.khafidi.3/posts/641283002548481

Minggu, 21 Juli 2013

Antara Adzan dan Iqamah

Berdo'a di antara Adzan dan Iqomah Rasulullah Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda,
“Do’a di waktu antara Adzan dan Iqomah tidak ditolak”.
HSR. Ahmad dari Anas bin Malik Radhialloohu 'Anhu (Shahih al-Jami’ ash-Shaghir wa Ziyadatuhu/ al-Fath al-Kabir No. 3408, hadits ini juga diriwayatkan oleh Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasa’i, al- Hakim, dan Ibnu Hibban).
“Do’a di waktu antara adzan dan iqomah akan dikabulkan. Oleh karena itu berdo’alah kalian”.
HSR. Abu Ya’la dari Anas bin Malik Radhiallahu 'Anhu (Shahih al-Jami’ ash-Shaghir wa Ziyadatuhu/ al-Fath al-Kabir No. 3405). ‪#‎bbm‬-T#

Syarat diterimanya Amal Ibadah Manusia kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala

Rasulullah Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda,
“Barangsiapa yang beramal tanpa adanya tuntunan dari kami, maka amalan tersebut tertolak”. HR. al- Bukhari No. 2697, Muslim No. 1718 (18), dan Ahmad (VI/ 146; 180; 256), dari Hadits ‘Aisyah Radhiallaahu 'Anha.
Agar bisa diterima, ibadah di-syarat-kan harus BENAR. Dan ibadah itu tidak bisa benar: kecuali dengan adanya dua syarat,
1. IKHLAS karena Allah SUbhanahu Wa Ta'ala semata, BEBAS DARI SYIRIK Besar dan kecil. 2. ITTIBA’, Sesuai dengan tuntunan Rasulullah Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam.
Syarat yang pertama merupakan konsekuensi dari Syahadat Laa Ilaaha Illallaah, karena ia mengharuskan ikhlas dalam beribadah hanya untuk Allah dan jauh dari syirik kepada- Nya. Sedangkan syarat yang kedua adalah konsekuensi dari syahadat Muhammad Rasulullah, karena ia menuntut wajibnya taat kepada Rasul, mengikuti syari’atnya dan meninggalkan bid’ah (Perkara- perkara baru dalam Agama) atau ibadah- ibadah yang diada- adakan. ‪#‎bbm‬-T#

Jumat, 05 Juli 2013

Beriman dan Beramal Shaleh

Allah Subhaanahu wa Ta'ala berfirman,
"Barangsiapa yg mengerjakan AMAL SHALEH, baik laki2 ataupun perempuan dalam keadaan BERIMAN, maka Sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya Kehidupan yang Baik, dan sesungguhnya akan kami beri Balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih Baik dari apa yang telah mereka Kerjakan" (QS.An-Nahl [16] ayat 97) ‎#bbm-T#

Sebuah Pohon di Surga

Dari Jabir Radhiyallaahu 'anhu, ia berkata bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda,
'Barangsiapa membaca, 'SUBHAANALLAAHIL 'AZHIIM WA BIHAMDIHI' maka akan ditanamkan untuknya Sebuah Pohon Kurma di Surga' (HR. at-Tirmidzi dalam Jaami'-nya (V/476 no.3462) lihat Shahiih Sunan at-Tirmidzi (III/ 163)) ‎#sms-T#

Sabtu, 29 Juni 2013

Barangsiapa Yang Lambat Amalnya, Maka tidak dapat dikejar dengan Nasabnya

Rasulullah Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda,
“Barangsiapa yang melapangkan satu kesusahan dunia dari seorang mukmin, maka Allah melapangkan darinya satu kesusahan di hari Kiamat.
Barangsiapa memudahkan (urusan) orang yang kesulitan (dalam masalah hutang), maka Allah memudahkan baginya (dari kesulitan) di dunia dan akhirat.
Barangsiapa menutupi (aib) seorang muslim, maka Allah akan menutup (aib)nya di dunia dan akhirat.
Allah senantiasa menolong hamba selama hamba tersebut senantiasa menolong saudaranya.
Barangsiapa menempuh jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah mudahkan baginya jalan menuju Surga.
Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah (masjid) untuk membaca Kitabullah dan mempelajarinya di antara mereka, melainkan ketentraman turun atas mereka, rahmat meliputi mereka, Malaikat mengelilingi mereka, dan Allah menyanjung mereka di tengah para Malaikat yang berada di sisi- Nya.
Barangsiapa yang lambat amalnya, maka tidak dapat dikejar dengan Nasabnya”.
(Shahiih, Diriwayatkan oleh Muslim (No. 2699), Ahmad (II/ 252, 325), Abu Dawud (No. 3643), At- Tirmidzi (No. 2646), Ibnu Majah (No. 225), dan Ibnu Hibban (No. 78- Mawaarid), dari Shahabat Abu Hurairah Radhiallaahu 'Anhu. Lafazh ini milik Muslim). #bbm-T#

Jumat, 21 Juni 2013

Bahaya Perbuatan Syirik [Sebuah Renungan]

Allah Subhaanahu wa Ta'ala menjelaskan di dalam Al-Qur'an bahwa Orang- orang yang paling Sesat adalah orang- orang yang berdo'a (memohon) kepada Selain Allah 'Azza Wa Jalla...menjadikan orang-orang yang telah meninggal sebagai perantara dalam berdo'a kepada Allah termasuk perbuatan Syirik.
Allah berfirman di dalam Surat Al-Ahqaf [46] ayat 5-6 (yang artinya), "Dan Siapakah yang lebih sesat daripada orang- orang yang menyembah selain Allah, (Sembahan) yang tidak dapat memperkenankan (do'a) nya sampai hari Kiamat dan mereka lalai dari (memperhatikan) do'a mereka. Dan apabila manusia dikumpulkan (pada hari Kiamat), sesembahan itu menjadi musuh mereka, dan mengingkari pemujaan- pemujaan yang mereka lakukan kepadanya".
Orang-orang yang telah meninggal [yang mereka berdo'a kepadanya] di kubur2 mereka tidak memiliki sesuatupun walaupun setipis kulit ari, Allah Subhaanahu wa Ta'ala berfirman dalam Surat Faathir [35] ayat 13-14:
"...Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah tidak mempunyai apa- apa walaupun setipis kulit ari. Jika kami menyeru mereka, mereka tidak mendengar seruanmu, dan sekiranya mereka mendengar, mereka juga tidak memperkenankan permintaanmu. Dan pada hari Kiamat mereka akan mengingkari KEMUSYRIKAN mu dan tidak ada yang dapat memberikan keterangan kepadamu seperti yang diberikan oleh (Allah) Yang Maha Teliti " #sms-T#
Sumber: http://www.youtube.com/watch?v=44QFnropVnY