Jumat, 27 Agustus 2010

LAILATUL QODAR [1]

LAILATUL QODAR [1]

DEFINISI:
[Syarhun Nawawi ‘Alaa Muslim, Bab: Fadhlu Lailatil Qadr wal Hatstsi ‘Alaa Thalabiha..” (IV/ 187)].

Para Ulama berkata: “Dinamai Lailatul Qodar Karena pada malam itu Malaikat diperintahkan untuk menulis takdir- takdir, rizqy, dan ajal yang ada pada tahun itu”. Sebagaimana diterangkan dalam Firman Alloh Ta’ala:

“Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah”. (QS. Ad-Dukhaan: 4)

[Yang dimaksud dengan urusan yang penuh hikmah adalah perkara- perkara yang ditetapkan, karena Alloh Ta’ala pada malam tersebut menetapkan apa yang akan terjadi di tahun itu, hal-hal yang berkaitan dengan hidup, mati, kelapangan, kesempitan, kebaikan, keburukan, dan lain- lain. Inilah pendapat mujahid, Qatadah, al- Hasan dan selain mereka. Lihat Tafsir Fat-hul Qadiir karya asy-Syaukani].

Dan Firman Alloh Ta’ala:

“Pada malam itu turun Malaikat-Malaikat dan Malaikat Jibril dengan izin Rabb-nya untuk mengatur segala urusan”. (QS. Al-Qadar: 4).

Ada juga yang mengatakan bahwa dinamai Lailatul Qodar karena kadar, derajat, atau kemuliaannya yang Agung.

KEUTAMAANNYA:
Malam Lailatul Qodar adalah malam yang paling utama dalam setahun, berdasarkan firman Alloh Ta’ala:



“Sesungguhnya kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan, dan tahukah kamu, apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun Malaikat-Malaikat dan Malaikat Jibril dengan izin Rabb-nya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar”. (QS. Al-Qodar: 1-5)

[Malam kemuliaan dikenal dengan malam Lailatul Qodar, artinya suatu malam yang penuh kemuliaan dan kebesaran. Inilah pendapat az-Zuhri. Ada juga yang mengatakan karena ketaatan pada malam itu demikian mulia dan agung, serta mendapatkan pahala yang besar. Lihat Tafsir Fat-hul Qadiir karya asy-Syaukani].

Ibnu Abbas Radhialloohu 'Anhuma mengatakan bahwa Alloh Ta’ala pada malam itu menurunkan Al-Qur’an secara global dari Lauhul Mahfuzh ke Baitul ‘Izzah di langit dunia. Kemudian turun secara berangsur-angsur sesuai dengan keperluan selama 23 tahun kepada Rasululloh Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam. Apa yang anda ketahui tentang keutamaan malam Lailatul Qodar dan ketinggiannya, maka yang demikian itu hanya Alloh saja yang tahu. Lailatul Qodar adalah malam yang penuh berkah. Pada malam itulah Al-Qur’an pertama kali diturunkan, untuk memulai periode kenabian, cahaya dan petunjuk. Malam itu lebih baik dari seribu bulan di bulan- bulan semasa jahiliyah, yang ketika itu manusia sedang bergelimang gelapnya kemusyrikan dan paganisme. Di malam itulah para Malaikat turun kepada Rasululloh Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam. Jibril menyerupakan dirinya di hadapan Rasululloh Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam untuk menyampaikan wahyu. Dan penyerupaan ini dengan izin Alloh Ta’ala. Malam itu seluruhnya adalah keselamatan, keamanan, dan kebaikan bagi para kekasih Alloh dan ahli ketaatan. Begitulah sejak awal malam hingga terbit fajar. [Aisarut Tafaasiir (I/ 603)].

WAKTU

Al-Qadhi berkata: “Para ulama berbeda pendapat mengenai waktunya. Sekelompok mengatakan bahwa waktunya berbeda- beda dari tahun ke tahun, dan dengan pemahaman seperti ini, maka hadits- hadits yang menerangkan waktunya dapat dipertemukan. Setiap hadits membawakan salah satu dari waktu- waktu tersebut, sehingga tidak saling bertentangan antara hadits yang satu dengan hadits lainnya. Seperti inilah pendapat Malik, ats-Tsauri, Ahmad, Ishaq, Abu Tsaur, dan yang Lainnya.Mereka mengatakan bahwa waktu tersebut berpindah-pindah pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan. Ada juga yang berpendapat bahwa setiap tahun Lailatul Qodar itu tetap pada malam tertentu tidak berubah-ubah...” [Syarhun Nawawi ‘Alaa Muslim, Bab Fadhlu Lailatil Qadr Wal Hatstsi ‘Alaa Thalabiha..(IV/ 187)].



An-Nawawi Rahimahulloh mengemukakan pendapat yang sangat banyak. Yang dalam hal ini memperkuat kesimpulan bahwa waktu Lailatul Qodar itu dirahasiakan oleh Alloh. Banyaknya dalil-dalil yang menunjukkan waktu tertentu, dan tidak menetapkan salah satunya saja, menunjukkan bahwa tujuan utama adalah agar kaum muslimin senantiasa bersungguh- sungguh untuk beribadah di setiap waktu. Di antara dalil- dalil tersebut adalah sabda Rasululloh Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam:

“Carilah Lailatul Qodar pada sepuluh hari terakhir”. (HR. Muslim).

TANDA-TANDANYA
Ubay bin Ka’ab Radhialloohu 'Anhu berkata:
“Demi Alloh, saya sungguh mengetahui malam yang mana itu. Yakni malam Lailatul Qodar yang Rasululloh Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam memerintahkan kita untuk berdiri shalat padanya. Yakni malam keduapuluh tujuh. Adapun tandanya, matahari terbit pada esok harinya berwarna putih, tidak ada pancarannya”. (HR. Muslim).

DZIKIR YANG DIBACA
‘Aisyah Radhialloohu 'Anha berkata, “Aku bertanya, ‘Wahai Rasululloh, bagaimana pendapatmu, jika saya mengetahui malam yang mana Lailatul Qodar tersebut, apa yang harus aku ucapkan?’ Maka Beliau Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda, “Katakanlah:

ALLOOHUMMA INNAKA ‘AFUWWUN TUHIBBUL ‘AFWA FA’FU ‘ANNIIY
“Ya Alloh, Sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, dan menyukai memaafkan, Maka maafkanlah aku”.
[Muttafaqun ‘Alaih].

HIKMAH DIRAHASIAKANNYA LAILATUL QODAR
Hikmah terpenting dirahasiakannya Lailatul Qodar adalah agar seorang muslim senantiasa tetap bersemangat untuk mencarinya dengan menghidupkan seluruh malam bulan Ramadhan, terutama di sepuluh malam terakhir.

Diriwayatkan dari ‘Aisyah Radhialloohu 'Anha, ia berkata: “Rasululloh Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam apabila memasuki sepuluh hari terakhir bukan Ramadhan, beliau menghidupkan malam, membangunkan keluarganya dan mengencangkan ikat pinggangnya”. [Muslim, No. 2844].

Diriwayatkan pula dari ‘Aisyah Radhialloohu 'Anha, ia berkata: “Rasululloh Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersungguh-sungguh di sepuluh hari terakhir, melebihi dari biasanya di hari-hari yang lain”. [Muslim, No. 2845].

Dalam hadits Abu Hurairoh Radhialloohu 'Anhu dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, beliau bersabda:
“Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadhan dengan iman dan mengharapkan pahala-Nya, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Dan barangsiapa berdiri (ibadah) di malam Lailatul Qodar dengan iman dan mengharapkan pahala-Nya, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”. [Muttafaqun ‘Alaih].

Sumber: ‘Panduan Praktis Puasa, I’tikaf, Lailatul Qodar, Zakat Fitrah, ‘Idul Fithri, ‘Idul Adh-ha & Kurban berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah yang Shahih: Kompilasi 4 Ulama: Syaikh Abu Bakar Jabir Al-Jaza-iri, Syaikh Masyhur bin Hasan Alu Salman, Abu Malik Kamal bin as-Sayyid Salim, DR. Sa’id bin ‘Ali bin Wahf al-Qahthani’. Hal. 39-45. Pustaka Ibnu Umar, Bogor.

Tidak ada komentar: