Monday, March 21, 2011

Obat Penawar Yang Sangat Bermanfaat.

TERUS- MENERUS DALAM BERDO'A/.

Sikap Terus- menerus dalam berdo’a termasuk obat penawar yang sangat bermanfaat. Ibnu Majah dalam Sunan- nya meriwayatkan sebuah hadits dari Abu Hurairoh Radhialloohu 'Anhu, beliau mengatakan bahwa Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda,
“Barangsiapa yang tidak meminta kepada Alloh niscaya Alloh akan murka kepadanya”.


Sunan Ibni Majah (No. 3827). Hadits ini juga Diriwayatkan oleh at- Tirmidzi (No. 3370), al- Bukhari dalam al- Adabul Mufrad (No. 658), Ahmad (II/ 442 dan 477), al- Hakim (I/ 491), dan al- Baihaqi dalam ad- Da’awaatul Kabiirah (Hal. 22). Dalam sanadnya terdapat Abu Shalih al- Khuzi. Abu Zur’ah berkomentar tentangnya, “Laa Ba’sa Bihi” (Tidak mengapa dengannya)”. Hal ini tercantum dalam Kitab, “al- Jarh Wat Ta’diil (IX/ 393).
Disebutkan pula dalam Shahiih al- Hakim dari Anas Radhialloohu 'Anhu, bahwasanya Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda,
“Janganlah kalian lemah dalam berdo’a karena sesungguhnya tidak ada orang yang binasa dikarenakan do’a”.


Al- Mustadrak (I/ 493). Hadits ini Diriwayatkan pula oleh adh- Dhiya’ dalam al- Ahaadiitsul Mukhtaarah (1760 dan 1761), al- ‘Uqaili dalam adh- Dhu’afaa’ (III/ 188), Ibnu ‘Adi dalam al- Kaamil (V/ 1674), Ibnu Hibban (No. 871), dan Abu Nu’aim dalam Dzikr akhbaar Ashbahaan (II/ 232). Di dalam sanadnya terdapat ‘Umar bin Muhammad bin Shuhban. Ia adalah perawi yang matruk (haditsnya ditinggalkan). Merupakan sebuah kesalahan apabila menyangka bahwa ia adalah ‘Umar bin Muhammad bin Zaid, seperti halnya pendapat al- Hakim, Ibnu Hibban, dan adh- Dhiya’. Lihat Silsilatul Ahaadiits ash- Shahiihah, No. 843 karya Syaikh Muhammad Nashiruddin al- Albani.

Al- Auza’i menyebutkan dari az- Zuhri, dari ‘Urwah, dari ‘Aisyah Radhialloohu 'Anha, ia (‘Aisyah) mengatakan bahwa Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda,

“Sesungguhnya Alloh menyukai orang- orang yang terus- menerus mengulang- ulang ketika berdo’a”.


HR. ath- Thabrani dalam ad- Du’aa’ (Hal. 20), al- ‘Uqaili dalam adh- Dhu’afaa’ (IV/ 452), dan Ibnu ‘Adi (VII/ 2621). Ibnu Hajar al- Asqalani berkomentar dalam at- Talkhiishul Habiir (II/ 95): “Yusuf bin Sifr bin al- Auza’i meriwayatkan hadits ini sendirian, padahal ia perawi matruk, dan bisa jadi Baqiyyah telah men-tadlis hadits ini”.



Di dalam kitab az- Zuhd karya Imam Ahmad Rahimahulloh disebutkan bahwa Qatadah bercerita, “Muwarriq berkata,

“Saya tidak pernah mendapatkan suatu perumpamaan bagi orang mukmin (dalam hal berdo’a) melainkan seperti seseorang di atas kayu yang tengah mengapung di lautan, kemudian ia berdo’a :’Wahai Rabb- ku, Wahai Rabb- ku”. Ia berharap semoga Alloh menyelamatkannya”.

Az- Zuhd (II/ 273). Hadits ini diriwayatkan juga oleh Abu Nu’aim dalam al- Hilyah (II/ 235).
Dalam Shahiih al- Bukhari terdapat sebuah riwayat dari Abu Hurairoh Radhialloohu 'Anhu bahwasanya Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda,

“Do’a masing- masing kalian akan dikabulkan selama ia tidak tergesa- gesa, yaitu dengan berkata, “Saya sudah berdo’a tetapi belum juga dikabulkan”. (Shahiih Bukhari, No. 5981).


Di dalam Shahiih Muslim, masih dari Abu Hurairoh Radhialloohu 'Anhu, Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda,

“Do’a seorang hamba akan senantiasa terkabul selama ia tidak berdo’a untuk kemaksyiatan, atau untuk memutuskan silaturrahim, dan tidak tergesa- gesa”. Para Shahabat bertanya, “Wahai Rasululloh, bagaimanakah bentuk ketergesa- gesaan yang dimaksud?” Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam menjawab, “Hamba tadi berkata: ‘Aku telah berdo’a, sungguh aku telah berdo’a, namun Alloh belum juga mengabulkan do’aku. Ia merasa jenuh dan letih, lalu akhirnya meninggalkan do’a”. (Shahiih Muslim, No. 2735).


Al- Hakim meriwayatkan dalam Kitab al- Mustadrak, dari Ibnu ‘Umar Radhialloohu 'Anhuma, bahwasanya Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda,

“Do’a akan memberikan manfaat terhadap apa yang telah terjadi maupun yang belum terjadi. Maka hendaklah kalian berdo’a, Wahai hamba- hamba Alloh”.


Al- Mustadrak (I/ 493). Imam adz- Dzahabi Rahimahulloh mendha’ifkan hadits ini dalam Talkhiish- nya. Hadits ini juga diriwayatkan oleh at- Tirmidzi (No. 3548) dan dia men- dha’if- kannya. Saya (Syaikh ‘Ali Hasan bin ‘Ali al- Halabi al- Atsari_ pentahqiq (peneliti)) katakan, “Hadits ini mempunyai Syahid (penguat) dari hadits sebelumnya”. Syaikh al- Albani meng- Hasan- kannya dalam Shahiihul Jaami’, No. 3409.

Masih dalam kitab yang sama, yaitu dari Tsauban, Bahwasanya Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda,

“Tidak ada yang dapat menolak takdir, kecuali do’a. Tidak ada pula yang dapat menambah usia, kecuali kebajikan. Sesungguhnya seseorang itu benar- benar akan terhalang dari rizqinya karena dosa yang ia kerjakan”.


Al- Mustadrak (I/ 493). Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah (X/ 44), Ibnu Majah (No. 4022), Ahmad (V/ 277), al- Baghawi (VI/ 13), Ibnu Hibban (No. 1090), dan al- Qudha’i (831). Silsilah perawi di dalam Sanadnya terputus. Hadits ini mempunyai penguat dari Salman yang diriwayatkan oleh at- Tirmidzi (No. 2139), at- Thahawi dalam Musykilul Aatsaar (IV/ 169), al- Qudha’i dalam Musnad asy- Syihab (II/ 36), serta ath- Thabrani dalam al- Kabiir (VI/ 308), dan ad- Du’aa’ (30). Di dalam sanadnya terdapat Abu Maudud, perawi yang Dha’if. Namun, hadits tadi menjadi kuat dengan adanya Syahid ini, insya Alloh. Wallohu A’lam.

Sumber: ‘Addaa’ Wad Dawaa’. Bab I: Hal- hal Yang Berkaitan Dengan Do’a. Hal.18- 20. Ibnu Qayyim al- Jauziyyah. Tahqiq: Syaikh ‘Ali bin Hasan bin ‘Ali al- Halabi al- Atsari. Pustaka Imam asy- Syafi’i. Jakarta.

No comments: