Saturday, April 2, 2011

Kebersihan Hati Dari Kecurangan Dan Hasad [231]


Kebersihan Hati Dari Kecurangan Dan Hasad [231]

Dari Anas bin Malik Radhialloohu 'Anhu ia berkata, “Kami sedang duduk bersama Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam, beliau bersabda,

“Seorang laki- laki penghuni Surga muncul kepada kalian sekarang”,

Maka muncullah seorang laki- laki Anshar, air wudhunya menetes dari jenggotnya, menenteng kedua sandalnya di tangan kirinya. Esok harinya Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam mengatakan ucapan yang sama dan orang yang sama pun muncul. Di hari ketiga Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam mengatakan ucapan yang sama dan orang yang sama pun muncul.

Ketika Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam berdiri, Abdulloh bin Amru bin Ash mengikuti orang tersebut. Abdulloh berkata, “Aku telah bertengkar dengan bapakku, aku bersumpah tidak bermalam dengannya selama tiga malam, kalau engkau mengizinkanku bermalam bersamamu sampai perkaranya selesai, maka aku akan senang”, Laki- laki tersebut menjawab, “Boleh”,

Anas berkata, “Abdulloh bercerita bahwa dia bermalam dengan laki- laki tersebut selama tiga malam itu. Abdulloh tidak melihatnya sedikitpun berqiyamul lail, hanya saja apabila dia terjaga dan berguling di tempat tidurnya dia berdzikir kepada Alloh dan bertakbir sampai dia bangun untuk Sholat Shubuh”.

Abdulloh berkata, “Hanya saja aku tidak mendengar darinya kecuali kebaikan". Manakala tiga malam tersebut berlalu, dan aku hampir- hampir meremehkan amalnya, maka aku berkata kepadanya, “Wahai Abdulloh, antara diriku dengan bapakku tidak ada rasa marah dan saling mendiamkan, hanya saja aku mendengar Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda untukmu tiga kali, “Seorang laki- laki penghuni Surga muncul kepada kalian sekarang”, lalu yang muncul adalah engkau, maka aku ingin bermalam kepadamu untuk melihat amalmu lalu aku teladani tetapi aku tidak melihatmu banyak beramal. Lalu apakah yang membuatmu sampai pada derajat seperti yang dikatakan oleh Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam ..?”,

Dia menjawab, “Tidak ada kecuali apa yang kamu lihat”, Abdulloh berkata, “Manakala aku hendak beranjak, dia memanggilku, dia berkata, “Tidak ada kecuali apa yang kamu lihat, hanya saja hatiku bersih dari kecurangan kepada setiap muslim dan aku pun tidak hasad kepada siapapun atas nikmat yang Alloh berikan kepadanya”

Abdulloh menjawab, “Inilah derajat yang kamu capai, dan itu yang kami tidak mampu”.

(Hasan, diriwayatkan oleh Imam Ahmad dengan sanad berdasarkan syarat al- Bukhori dan Muslim).

Al- Mundziri berkata, “Diriwayatkan oleh Ahmad berdasarkan syarat Bukhori dan Muslim”.

Abu Ya’la dan al- Bazzar meriwayatkan hadits senada dan dia menamakan laki- laki tersebut Sa’ad, Dia berkata di Akhir hadits, Sa’ad berkata,

“Tidak ada kecuali apa yang kamu lihat wahai keponakanku, hanya saja aku tidak bermalam dalam keadaan mendengki kepada seorang muslim”, atau kata yang senada dengannya".

Diriwayatkan oleh imam an- Nasa’i, al- baihaqi, dan al- Ashbahani, lalu Abdulloh berkata,

“Inilah yang menyampaikanmu dan inilah yang kami tidak mampu”.

Diriwayatkan oleh al- Baihaqi juga dari Salim bin Abdulloh bin Umar dari bapaknya, berkata,

“Kami sedang duduk bersama Rasulullloh lalu beliau bersabda, “Sungguh akan muncul dari pintu ini seorang laki- laki penghuni Surga”, lalu muncullah Sa’ad bin Malik dari pintu itu. Al- Baihaqi berkata, “Lalu dia menyebutkan hadits selengkapnya”.


Abdulloh bin Umar berkata, “Aku belum puas kalau aku belum bisa menginap dengan laki- laki itu untuk melihat amalnya”. Lalu Abdulloh bin Umar menyebutkan hadits selengkapnya tentang kehadirannya kepada laki- laki tersebut. Abdulloh berkata,

“Dia memberiku sepotong kain, lalu aku berbaring di atasnya tidak jauh darinya. Semalaman aku memperhatikannya dengan mataku. Setiap kali dia terjaga dia bertasbih, bertakbir, bertahlil, dan bertahmid. Sampai ketika waktu sahur tiba, dia bangun lalu berwudhu kemudian masuk masjid, lalu sholat dua belas roka’at dengan membaca dua belas surat dari surat- surat Mufashshal, bukan dari yang panjang, bukan pula dari yang pendeknya, di setiap dua roka’at setelah tasyahud dia mengucapkan tiga do’a:

“Ya Alloh, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan di akhirat. Jagalah kami dari api Neraka. Ya Alloh, cukupkanlah kami dari perkara dunia dan akhirat yang menyibukkan kami. Ya Alloh, Sesungguhnya kami memohon kepada- Mu seluruh kebaikan dan kami berlindung kepada- Mu dari seluruh keburukan”.

Sampai ketika dia selesai, dia berkata... lalu dia menyebutkan hadits tentang amalnya yang menurutnya sedikit, dan kembali kepadanya tiga kali sampai dia berkata,

“Aku berangkat tidur sementara di hatiku tidak terdapat kedengkian kepada siapa pun”,

Selesai Ucapan al- Mundziri Rahimahulloh. Wallohu a'lam

Sumber: “Sesungguhnya Dia Maha Pengampun- 286 Sebab Meraih Ampunan Alloh Subhaanahu Wa Ta'ala”, Hal 268- 270. Dr. Sayyid Husain al- Affani. Pustaka Darul haq. Jakarta.

NB: Imam al- Mundziri Rahimahulloh (Wafat 656H), Beliau adalah Abdul Azhim bin Abul Waqi bin Abdulloh bin Salamah bin Sa’ad al- Mundziri. Beliau adalah seorang ahli hadits (al- Hafizh) & ahli fikih dalam Madzhab asy- Syafi’i. Penulis Kitab >at- Targhiib wat- Tarhiib, Mukhtashar Shahih Muslim, Mukhtashar Sunan Abu Dawud, Syarah at- Tanbih, al- Mu’jam, al- Muwafaqat dan masih banyak yang lainnya. Lihat Siyar A’lam an- Nubala, karya al- Hafizh adz- Dzahabi Rahimahulloh.

Sumber: Shahih at- Targhiib Wat Tarhiib IV. Hal 15+18.
Syaikh al- Albani. Pustaka Shahifa. Jakarta.

No comments: