Monday, April 4, 2011

Sekadar Niat Baik Saja Tidak Cukup


[Teks Atsar]: Dari Sa’id bin Musayyib, ia melihat seorang laki- laki menunaikan sholat setelah fajar lebih dari dua roka’at, ia memanjangkan ruku’ dan sujudnya. Maka Sa’id bin Musayyib pun melarangnya. Orang itu bertanya, “Wahai Abu Muhammad, apakah Alloh akan menyiksaku dengan sebab sholat?”, Beliau menjawab, “Tidak, tetapi Alloh akan menyiksamu karena menyelisihi Sunnah”.

[Takhrij Atsar]: Shahih. Dikeluarkan oleh ad- Darimi dalam Musnad- nya, 1/ 404/ 450, al- Baihaqi dalam Sunan Kubra: 2/ 466, dan Abdurrozzaq dalam al- Mushonnaf no. 4755 dari jalur Sufyan dari Abu Robah dari Sa’id. Sanad Atsar ini dishahihkan oleh Syaikh al- Albani Rahimahulloh dalam Irwa’ul Ghalil: 2/ 236. Dan diriwayatkan juga oleh al- Khothib al- Baghdadi dalam Faqih wal Mutafaqqih: 1/ 381 dari jalur Makhlad bin Malik dari Athof bin Kholid dari Abdurrahman bin Harmalah dari Sa’id dengan sanad hasan. (Dinukil dari Silsilah Atsar ash- Shahiihah, karya Abu Abdillah ad- Dani, 1/ 58, cetakan Daar Atsariyyah).

[Fiqih Atsar]: Syaikh Muhammad Nashiruddin al- Albani Rahimahulloh mengomentari atsar ini dalam kitabnya, Irwa’ul Ghalil (2/ 236),

“Ini adalah jawaban Sa’id bin Musayyib yang sangat indah. Dan merupakan senjata pamungkas terhadap ahlul bid’ah yang menganggap baik kebanyakan bid’ah dengan alasan dzikir dan sholat, kemudian membantai Ahlus Sunnah dan menuduh bahwa mereka (Ahlus Sunnah) mengingkari dzikir dan sholat,.! Padahal sebenarnya yang mereka ingkari adalah penyelewengan ahlul bid’ah dari tuntunan Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam dalam dzikir, sholat, dan lain- lainnya"

(berkata al- Fasii dalam ‘Aqdu Tsamin tentang nama Sa’id Radhialloohu 'Anhu, “Yang masyhur adalah dengan memfathah huruf ya’ (baca: Musayyab), namun penduduk madinah berpendapat dengan mengkasroh huruf ya’ (baca: Musayyib). Dan adalah Sa’id membenci bila dibaca fathah (Musayyab)”. (Dinukil dari Dhobtu al- A’lam, hal. 191 karya Ahmad Taimur Basya)

Jadi agar amal ibadah kita diterima oleh Alloh, bukan hanya dengan modal niat yang baik dan keikhlasan, melainkan juga harus sesuai dengan tuntunan Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam. Maka sudah semestinya bagi kita untuk menggali ilmu agar amalan ibadah yang kita lakukan betul- betul sesuai dengan tuntunan Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam. Semoga Alloh menerima amal ibadah kita semua. Amin.

Sumber: “Majalah al- Furqon: hal. 17. ‘Sekedar niat Baik Saja Tidak Cukup: Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar as- Sidawi Hafizhahulloh. Edisi 07, Tahun X, Shofar 1432H, Januari- Februari 2011.



Note Tambahan:

Dalam Sebuah Hadits Shahih yang Diriwayatkan oleh ‘Aisyah Radhialloohu 'Anha disebutkan bahwa Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda,

“Barangsiapa yang mengada- adakan sesuatu yang baru (bid’ah) dalam urusan (agama) kami, maka hal itu tertolak”. (HR. Bukhori No. 2697), dan Muslim (No. 1718).

Dalam Riwayat Muslim,

“Barangsiapa mengerjakan suatu amalan yang tidak ada dasarnya dalam urusan (agama) kami, maka ia tertolak”. (HR. Muslim, No. 1718).

Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda,

“Barangsiapa mengada- dakan sesuatu yang baru (bid’ah) atau mendukung pelaku bid’ah, maka akan mendapatkan laknat Alloh, para Malaikat, dan manusia semuanya”.

(Diriwayatkan oleh al- Bukhori (hadits No. 1870, 3179), dan Muslim (hadits No. 1370), dan ‘Ali bin Abi Thalib Radhialloohu 'Anhu. Hadits di atas meerupakan penggalan dari hadits tentang ash- Shahifah yang masyhur. Imam Muslim juga meriwayatkan hadits ini dari Anas bin Malik Radhialloohu 'Anhu (hadits No. 1366), dan dari Abu Hurairoh Radhialloohu 'Anhu (hadits No. 1371).

Sumber: “Ringkasan al- I’tisham Imam asy- Syathibi Rahimahulloh”. 48-49& 63. Alawi bin Abdul Qadir as- Saqqaf. Media Hidayah. Yogyakarta.

Bagaimana Perkataan Para Shahabat, Tabi’in, dan Salafush Shalih mengenai Bid’ah (Perkara Baru Dalam Agama)..??

Ibnu Sa’ad menyebutkan dengan sanadnya sendiri dari Abu Bakar ash- Shiddiq Radhialloohu 'Anhu bahwa beliau pernah berkata,

“Wahai Kaum Muslimin, Aku hanyalah orang yang mengikuti jejak Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam, bukan orang yang membuat kebid’ahan. Kalau aku berbuat baik, tolonglah diriku!, dan kalau aku menyimpang, luruskan diriku,!”. (ath- Thabaqat al- Kubra, 3/ 136).

Dari ‘Umar bin al- Khaththab Radhialloohu 'Anhu beliau berkata,

“Hati- hatilah terhadap kaum rasionalis (ahlurra’yi), karena mereka adalah musuh- musuh Sunnah. Mereka tidak mampu menghafal hadits- hadits, maka mereka pun menggunakan akal sehingga mereka menjadi sesat dan menyesatkan..”

Dikeluarkan oleh al- Laalika’i dalam Syarah Ushul as- Sunnah wal Jama’ah, 1/ 139, No. 201, dan ad- Darimi dalam Sunan- nya1/ 47, No.121, juga oleh Ibnu Abdil Barr dalam Jami’ul Ilmi Wa Fadhlihi, 2/ 1040, No. 2001, 2005).

Abdulloh bin Mas’ud Radhialloohu 'Anhu berkata,

“Ikutilah ajaran Sunnah dan janganlah berbuat bid’ah, dengan itu kalian akan dicukupkan, karena setiap bid’ah itu adalah sesat..” (Dikeluarkan oleh Ibnu Wadhdhah dalam Fii Maa Jaa’aFil Bida’ hal. 43, No. 12, 14. Diriwayatkan juga oleh ath- Thabrani dalam al- Mu’jam al- Kabir, 9/ 154, No. 8770. Al- Haitsami menyebutkan dalam Majma’uz Zawaaid, 1/ 181, “Para perawinya adalah perawi yang Shahih”. Dikeluarkan juga oleh al- Laalika’i dalam Syarah Ushul I’tiqad Ahlus Sunnah Wal Jama'ah 1/ 96, No. 102).

Surat- Surat ‘Umar bin ‘Abdul Aziz kepada Seorang lelaki, beliau menyebutkan,

“Amma Ba’du, aku wasiatkan kepada anda agar bertakwa kepada Alloh, bersikap sederhana dalam segala urusan, mengikuti ajaran Rasululloh dan meninggalkan segala bid’ah yang diciptakan oleh kalangan ahlul bid’ah, setelah melaksanakan Sunnah Nabi yang selayaknya..”.

(Sunan Abi Dawud dalam as- Sunnah, bab “Berpegang pada Sunnah”, 4/ 203, No. 4612. Lihat Shahih Sunan Abi Dawud oleh Syaikh al- Albani Rahimahulloh, 3/ 873).

al- Hasan al- Bashri Rahimahulloh mengungkapkan,

“Ucapan hanya dibenarkan bila diamalkan, ucapan dan amal itu sendiri hanya sah apabila disertai dengan niat. Sementara ucapan, amal, dan niat itu hanya sah bila disertai dengan Sunnah”.

(Dikeluarkan oleh al- Laalila’i dalam Syarah Ushul I’tiqad Ahlis Sunnah Wal Jama’ah, 1/ 63, No. 18).

Imam asy- Syafi’i Rahimahulloh menegaskan,

“Keputusan kami terhadap ahlulkalam adalah agar mereka dipukul dengan pelepah, digotong di atas unta lalu diarak keliling kampung dan suku- suku. Lalu dikatakan kepada mereka, “Inilah ganjaran bagi orang yang meninggalkan Kitabulloh dan Sunnah Rasul lalu mengambil ilmu kalam sebagai landasan..”

(Dikeluarkan oleh Abu Nu’aim dalam al- Hilyah, 9/ 116).

Imam Malik Rahimahulloh menyebutkan,

“Barangsiapa melakukan perbuatan bid’ah dalam Islam lalu menganggap bid’ah itu sebagai kebaikan, berarti ia telah beranggapan bahwa Nabi Muhammad itu telah mengkhianati kerasulannya. Karena Alloh berfirman,

“Hari ini telah Aku sempurnakan agamamu..” (QS. Al- Maidah: 3),,

Yang bukan merupakan agama pada masa hidup beliau (Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam), maka pada hari ini juga bukan merupakan agama..”. (Al- I’tisham oleh asy- Syathibi, 1/ 65).

Imam Ahmad Rahimahulloh menyatakan,

“Pondasi Ahlussunnah menurut kami adalah berpegang pada jalan hidup para Shahabat Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam, dan meninggalkan bid’ah. Setiap bid’ah adalah sesat, meninggalkan pertikaian, meninggalkan belajar bersama ahlulbid’ah serta meninggalkan perdebatan dan adu argumentasi serta pertikaian dalam agama”.

(Dikeluarkan oleh al- Laalika’i dalam Syarah Ushul I’tiqad Ahlissunnah Wal Jama’ah, 1/ 176).

Sumber: “Putihnya Sunnah- Hitamnya Bid’ah”. Hal. 58- 60. Said bin Wahf al- Qahthani. Wafa Press. Klaten.

NB: Imam Abul Qasim al- Laalika’i Rahimahulloh (wafat tahun 418H) dan Imam Utsman bin Sa’id ad- Darimi Rahimahulloh (wafat tahun 282H), adalah dua dari sekian banyak ulama Syafi’iyyah yang setia mengikuti manhaj dan madzhab imam as- Syafi’i Rahimahulloh dalam hal akidah dan Fiqih. Wallohu a’lam.

Sumber: “Ulama Syafi’iyyah dalam Memperjuangkan Sunnah dan Mengingkari Bid’ah I”. Dr. Muhammad Nur Ihsan, MA Hafizhahulloh. Majalah Al Furqon edisi 05/ X/ Dzulhijjah 1431H/ November- Desember 2011, hal. 56- 57.

No comments: