Wednesday, February 1, 2012

Menuntut Ilmu : Jalan Menuju SURGA

Menuntut Ilmu Syar’i Wajib Bagi Setiap Muslim dan Muslimah.

Rasulullah Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda,

“Menuntut Ilmu itu Wajib atas Setiap Muslim”.


(Shahih, Diriwayatkan oleh Ibnu Majah (No. 224) dari Shahabat Anas bin Malik Radhiallohu 'Anhu. Lihat Shahiih al- Jaami’ish Shaghiir (No. 3913). Diriwayatkan pula oleh imam- imam ahli Hadits yang lainnya dari beberapa Shahabat Seperti ‘Ali, Ibnu ‘Abbas, Ibnu ‘Umar, Ibnu Mas’ud, Abu Sa’id al- Khudri, dan al- Husain bin ‘Ali Radhiallohu 'Anhum).

Imam al- Qurthubi (Wafat th. 671 H) Rahimahullah menjelaskan bahwa hukum menuntut ilmu terbagi dua:

Pertama, hukumnya Wajib; seperti menuntut ilmu tentang Sholat, Zakat, dan Puasa. Inilah yang dimaksud dalam Riwayat yang menyatakan bahwa menuntut ilmu itu (hukumnya) Wajib.

Kedua, hukumnya fardhu Kifayah; seperti menuntut ilmu tentang pembagian berbagai hak, tentang pelaksanaan hukum hadd (Qishas, Cambuk, Potong Tangan dan lainnya), cara mendamaikan orang yang bersengketa, dan semisalnya. Sebab tidak mungkin semua orang dapat mempelajarinya, dan apabila diwajibkan bagi setiap orang, tidak akan mungkin semua orang bisa melakukannya, atau bahkan mungkin dapat menghambat jalan hidup mereka. Karenanya, hanya beberapa orang tertentu sajalah yang diberikan kemudahan oleh Allah dengan Rahmat dan Hikmah- Nya.

Ketahuilah, menuntut ilmu adalah Suatu kemuliaan yang sangat besar dan menempati kedudukan tinggi yang tidak Sebanding dengan amal apapun.


(Lihat Tafsiir al- Qurthubi (VIII/ 187), dengan diringkas. Tentang pembagian hukum menuntut ilmu dapat juga dilihat dalam Jaami’ Bayaanil ‘Ilmi wa Fadhlihi (I/ 56- 62) karya Imam Ibnu ‘Abdil Barr Rahimahullah).




Menuntut Ilmu Syar’i Memudahkan Jalan Menuju Surga

Setiap Muslim dan Muslimah ingin Masuk Surga. Maka, jalan untuk masuk Surga adalah dengan menuntut Ilmu Syar’i. Rasulullah Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda,

“Barangsiapa yang melapangkan satu kesusahan dunia dari seorang mukmin, maka Allah melapangkan darinya satu kesusahan di hari Kiamat. Barangsiapa memudahkan (urusan) orang yang kesulitan (dalam masalah hutang), maka Allah memudahkan baginya (dari kesulitan) di dunia dan akhirat. Barangsiapa menutupi (aib) seorang muslim, maka Allah akan menutup (aib)nya di dunia dan akhirat. Allah senantiasa menolong hamba selama hamba tersebut senantiasa menolong saudaranya. Barangsiapa menempuh jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah mudahkan baginya jalan menuju Surga. Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah (masjid) untuk membaca Kitabullah dan mempelajarinya di antara mereka, melainkan ketentraman turun atas mereka, rahmat meliputi mereka, Malaikat mengelilingi mereka, dan Allah menyanjung mereka di tengah para Malaikat yang berada di sisi- Nya. Barangsiapa yang lambat amalnya, maka tidak dapat dikejar dengan Nasabnya”.

(Shahiih, Diriwayatkan oleh Muslim (No. 2699), Ahmad (II/ 252, 325), Abu Dawud (No. 3643), At- Tirmidzi (No. 2646), Ibnu Majah (No. 225), dan Ibnu Hibban (No. 78- Mawaarid), dari Shahabat Abu Hurairah Radhiallohu 'Anhu. Lafazh ini milik Muslim).

Dalam hadits ini terdapat janji Allah ‘Azza Wa Jalla bahwa bagi orang- orang yang berjalan dalam rangka menuntut ilmu Syar’i, maka Allah akan memudahkan jalan baginya menuju Surga.

“Menempuh Jalan untuk menuntut Ilmu” mempunyai dua makna, Pertama, menempuh jalan dengan artian yang sebenarnya, yaitu berjalan kaki menuju majelis- majelis para ulama. Kedua, menempuh jalan (cara) yang mengantarkan seseorang untuk mendapatkan ilmu seperti menghafal, belajar (sungguh- sungguh), membaca, menela’ah kitab- kitab (para ulama), menulis dan berusaha untuk memahami (apa- apa yang dipelajari). Dan cara- cara lain yang dapat mengantarkan seseorang untuk mendapatkan ilmu Syar’i.

“Allah memudahkan baginya jalan menuju Surga” mempunyai dua makna. Pertama, Allah akan memudahkan memasuki Surga bagi orang yang menuntut ilmu yang tujuannya untuk mencari Wajah Allah, untuk mendapatkan ilmu, mengambil manfaat dari ilmu Syar’i dan mengamalkan konsekuensinya. Kedua, Allah akan memudahkan baginya Jalan ke Surga pada hari Kiamat ketika melewati ‘Shirath’ dan dimudahkan dari berbagai ketakutan yang ada sebelum dan sesudahnya. Wallaahu a’lam.

(Lihat Jaami’ul ‘Uluum wal Hikam (II/ 297), dan Qawaa’id wa Fawaa-id minal Arba’iin an- Nawawiyyah (Hal. 316- 317)).

Juga dalam sebuah hadits yang panjang yang berkaitan tentang ilmu, Rasulullah Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda,

“Barangsiapa yang berjalan menuntut ilmu, maka Allah mudahkan jalannya menuju Surga. Sesungguhnya Malaikat akan meletakkan sayapnya kepada orang yang menuntut ilmu karena ridha dengan apa yang mereka lakukan. Dan sesungguhnya seorang yang mengajarkan kebaikan akan dimohonkan ampun oleh makhluk yang ada di langit maupun di bumi hingga ikan yang berada di air. Sesungguhnya keutamaan orang ‘alim atas ahli ibadah seperti keutamaan bulan atas seluruh bintang. Sesungguhnya para ulama itu pewaris para Nabi. Dan sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan dinar dan juga dirham, yang mereka wariskan hanyalah ilmu. Dan barangsiapa yang mengambil ilmu itu, maka Sungguh, ia telah mendapatkan bagian yang paling banyak”.


(Shahiih, Diriwayatkan oleh Ahmad (V/ 196), Abu Dawud (No. 3641), at- Tirmidzi (No. 2682), Ibnu Majah (No. 223), dan Ibnu Hibban (No. 80- al- Mawaarid), lafazh ini milik Ahmad, dari Shahabat Abu Darda’ Radhiallohu 'Anhu).

Laki- laki dan wanita diwajibkan menuntut ilmu, yaitu ilmu yang bersumber dari Al- Qur’an dan As- Sunnah karena dengan ilmu yang dipelajari, ia akan dapat mengerjakan amal- amal shalih, yang dengan itu akan mengantarkan mereka ke Surga.

Imam al- Auza’i (wafat th. 157 H) Rahimahullah mengatakan,

“Ilmu adalah apa yang berasal dari para Shahabat Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam. Adapun yang datang bukan dari seseorang dari mereka, maka itu bukan ilmu”. (Jaami’ Bayaanil ‘ilmi wa Fadhlihi (I/ 618, no. 1067).


Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (wafat th. 728 H) Rahimahullah mengatakan,

“Ilmu adalah apa yang dibangun di atas dalil, dan ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang dibawa oleh Rasulullah Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam... “ (Majmuu’ al- Fataawaa’ (VI/ 388, XIII/ 136) dan Madaarijus Saalikiin (II/ 488).


Imam Ibnu Rajab (wafat th. 795 H) Rahimahullah berkata,

“Ilmu yang paling utama adalah ilmu tafsir Al- Qur’an, penjelasan makna hadits- hadits Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam, dan pembahasan tentang masalah halal dan haram yang diriwayatkan dari para Shahabat, Tabi’in, Tabi’ut Tabi’in, dan para imam terkemuka yang mengikuti jejak mereka..” (Fadhlu ‘Ilmi Salaf ‘alal Khalaf (Hal. 41, dan Hal. 45- 46).


Imam Ibnul Qayyim dalam I’lamul Muwaqqi’iin (II/ 149) mengatakan,

“Telah berkata sebagian ahli ilmu: ‘Ilmu adalah firman Allah, sabda Rasulullah Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam, dan Perkataan para Shahabat. Semuanya tidak bertentangan..”.


Imam Muhammad bin Idris asy- Syafi’i (wafat th. 204 H) Rahimahullah mengatakan,

“Seluruh ilmu selain Al- Qur’an hanyalah menyibukkan, kecuali ilmu hadits dan fiqih dalam rangka mendalami ilmu agama. Ilmu adalah yang tercantum di dalamnya: ‘Qaalaa, Haddatsanaa (telah menyampaikan hadits kepada kami)’. Adapun selain itu hanyalah waswas (bisikan) syaitan”. (Diiwaan Imam asy- Syafi’i (Hal.. 388 no. 206), dikumpulkan dan disyarah oleh Muhammad ‘Abdurrahim, Cet. Daarul Fikr, th. 1415 H).


Seorang Muslim tidak akan bisa melaksanakan agamanya dengan benar, kecuali dengan belajar Islam yang benar berdasarkan Al- Qur’an dan As- Sunnah menurut pemahaman Salafush Shalih. Minimal setiap muslim harus dapat meluangkan waktunya satu jam saja setiap hari untuk mempelajari ilmu pengetahuan tentang agama Islam. Jika iman kita lebih berharga dari segalanya, maka tidak sulit bagi kita untuk menyediakan waktu satu jam (Enam puluh menit) untuk belajar tentang Islam setiap hari dari waktu 24 jam (Seribu empat ratus empat puluh menit). Wallaahu a’lam.

Semoga Allah Subhanahu Wa Ta'ala memudahkan kita untuk menuntut ilmu syar’i dan memudahkan jalan bagi kita menuju Surga- Nya. Aamin.

Sumber:
‘Menuntut Ilmu Jalan Menuju Surga’ Hal. 4, 6- 11, 16 & 22. Ust. Yazid bin Abdul Qadir Jawas. Pustaka at- Taqwa. Bogor.

‘Prinsip Dasar Islam Menurut Al Qur’an dan As- Sunnah yang Shahih’. Hal. 10- 11. Ust. Yazid bin Abdul Qadir Jawas. Pustaka at- Taqwa. Bogor.

No comments: