Senin, 30 November 2009

NUR MUHAMMAD SHALLALLAHU "ALAIHI WASALLAM

NUR MUHAMMAD SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM

Assalamu’alaikum Warohmatullah. Apakah dibenarkan kita mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam itu adalah manusia biasa seperti kita, dia makan, dan minum seperti kita, dia tidur seperti kita, untuk menepis anggapan bahwa Rasullullah adalah nur yang mana segala sesuatu diciptakan karena nur-nya? Terima kasih atas penjelasannya. (H.A. Sidoarjo).

Jawab:
Wa’alaikumussalam warohmatullah wabarokatuh. Perkataan di atas bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah manusia biasa adalah masih global., di dalamnya masih mengandung makna yang benar dan makna yag bathil. Oleh karena itu, sebaiknya perkataan di atas dilengkapi supaya tidak mengandung makna bathil dengan semisal perkataan bahwa ‘Rasulullah adalah manusia biasa seperti kita, beliau makan, minum, tidur, sehat, sakit, akan mengalami kematian seperti kita, akan tetapi beliau dikhususkan oleh Alloh ta’ala dengan kenabian, wahyu dan risalah. Beliau diutus untuk semua manusia sebagai Rohmatan Lil ‘Alamin, pemberi peringatan dan kabar gembira bagi manusia, demikianlah yang diwahyukan oleh Alloh ta’ala sebagaimana firmannya:



“Katakanlah: Sesungguhnya Aku ini manusia biasa seperti kalian, yang diwahyukan kepadaku bahwa sesungguhnya Rabb kamu itu adalah Rabb yang Esa. Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabb-nya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shaleh, dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Rabb-nya”. (QS.al-Kahfi [18]: 110).
Adapun anggapan bahwa Rasulullah adalah Nur, maka inipun perlu diperinci. Jika Rasulullah


dianggap sebagai nur dalam artian cahaya petunjuk yang menerangi dan menunjukkan kepada jalan Alloh, dan membedakan antara yang haq dengan yang bathil, maka ini adalah benar. Sebagaimana firman Alloh:



“Hai ahli kitab, sesungguhnya telah datang kepadamu banyak dari isi al Kitab yang kamu sembunyikan, dan banyak (pula yang) dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepadamu nur/ cahaya dari Alloh, dan kitab yang menerangkan. Dengan kitab itulah Alloh menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhoan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Alloh mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjukkan mereka ke jalan yang lurus”. (QS. al-Maidah [5]: 15-16).

Tetapi jika dianggap bahwa badan Nabi adalah nur (cahaya) atau Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah nur yang merupakan sifat Alloh ta’ala (bukan makhluk-Nya), maka ini adalah bathil. Karena jasad Nabi adalah sama dengan manusia biasa, terbentuk dari daging, tulang dan semisalnya. Beliau diciptakan dari air ayah dan ibunya seperti hal nya kita. Beliau makan, minum, dan melakukan segala aktivitas yang kita laukan , bahkan beliau mempunyai bayangan seperti kita jika berada di bawah matahari (berbeda dengan orang yang menganggap jasadnya adalah nur yang tidak mempunyai bayangan). Hal ini didasari oleh hadits:



“Malaikat diciptakan dari cahaya, iblis diciptakan dari bara api, sedangkan Adam diciptakan dari apa yang telah disebutkan buat kalian”. (HR. Muslim dan lainnya).
Syaikh al-Albaniy Rahimahullah berkata: Hadits ini memberi isyarat tentang bathil-nya hadits yang terkenal (yang sering) diucapkan orang, seperti hadits:
“Pertama kali yang diciptakan Alloh adalah nur Nabimu wahai Jabir”

Beliau menambahkan bahwa demikian pula hadits-hadits semisal yang di dalamnya ada ucapan bahwa Nabi Muhammad diciptakan dari Nur, Maka sungguh (hadits di atas, tentang penciptaan Malaikat) menjadi dalil yang sangat gamblang bahwasanya hanya para Malaikat yang diciptakan dari nur. Sedangkan Nabi Adam ‘Alaihissalam beserta anak cucunya tidak (diciptakan dari Nur). (Silsilah Ahadits Shohiihah: 1/820).

Sumber: Majalah Alfurqon Edisi 4 tahun ke 9/ Dzulqo’dah 1430H (Oktober/ November 2009) Hal 4-5.


Selasa, 10 November 2009

Dapatkah Do’a Merubah Takdir..?

Dapatkah Do’a Merubah Takdir..?
Soal:
Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokaatuh. Apakah benar bahwa takdir bisa dirubah dengan do’a?, mohon penjelasannya. (Rohmat –Lamongan).

Jawab:
Wa’alaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh. Benar, takdir bisa dirubah dengan do’a, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam: “Tidak ada yang dapat mencegah takdir kecuali do’a”. (HR. Al-Hakim dalam al-Mustadrok: 1/ 493, dari hadits Tsauban, dan dihasankan oleh al-Albaniy dalam Shohih at-Targhib wat-Tarhib: 2/ 129).

Makna hadits ini ialah bahwa do’a itu adalah sebab/ jalan untuk mendapatkan kebaikan. Hal ini menunjukkan bahwa ada perkara-perkara yang telah ditentukan/ ditakdirkan tetapi diikat dengan sebab tertentu. Jika dipenuhi sebabnya maka terwujudlah apa yang ditakdirkan, namun jika tidak dipenuhi sebabnya maka tidak akan terwujud (sebagaimana yang diharapkan). Apabila

seorang muslim berdo’a kepada Robb-nya, maka dia akan mendapatkan kebaikan, dan jika tidak berdo’a akan terjadi hal yang buruk baginya. Sebagaimana Allah ta’ala menjadikan silaturrahmi sebagai sebab panjangnya umur, dan sebaliknya, memutuskan silaturrahmi sebagai sebab pendeknya umur. Wallohu a’lamu.

(Oleh: Ust. Abu Ibrohim Muhammad Ali AM. Jawaban dinukil dari al-Muntaqo min Fatawa al-Fauzan: 1/ 37).

SUmber= Majalah al-Furqon edisi 4 tahun IX/ Dzulqo'dah 1430H/ OKtober-November 2009 Hal.4

Senin, 02 November 2009

SYUBHAT-SYUBHAT ORANG YANG MENGAKUI BID’AH HASANAH BESERTA BANTAHANNNYA (2)- Lanjutan

Berikut ini kami nukilkan perkataan beberapa Imam sebagai bukti dari atas apa yang telah kami sebutkan:

1. Ibnu Taimiyyah berkata: “Paling jauh dalam hal bahwa Umar menyebutkan sebagai bid’ah yang dianggap baik, namun merupakan penamaan menurut tinjauan bahasa saja, bukan menurut syara’. Karena bid’ah dalam pengertian bahasa meliputi segala apa yang dikerjakan pertama kali tanpa mempunyai contoh sebelumnya. Adapun bid’ah menurut syara’ adalah segala sesuatu yang tidak ada dalilnya dalam syara’. (Tafsiiru Ibni Katsiir, terhadap surat al-Baqarah ayat 117).

2. Ibnu Katsir berkata: “Bid’ah itu ada dua macam: (1) terkadang bid’ah tersebut adalah bid’ah menurut syara’, seperti sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam:
“Karena sesungguhnya setiap perkara yang dibuat-buat (dalam agama) itu adalah bid’ah dan setiap bid’ah itu sesat”. (2) terkadang bid’ah tersebut adalah bid’ah menrut bahasa, sebagaimana perkataan Amirul Mukminin Umar bin Al-Khattab mengenai perbuatannya ketika mengumpulkan orang-orang untuk sholat tarawih dan secara kontinyu: “Inilah sebaik-baiknya bid’ah”. (Jaami’ul ‘Uluum Wal Hikam,. No. 28 dengan sedikit perubahan).



3. Ibnu Rajab berkata: “Adapun apa yang terdapat pada perkataan para ulama salaf mengenai adanya anggapan baik terhadap sebagian bid’ah maka yang dimaksud adalah bid’ah lughawiyyah (bid’ah menurut bahasa), bukan

syar’iyyah (menurut agama). Di antaranya adalah perkataan Umar: “Inilah sebaik-baik bid’ah”.
Maksudnya adalah bahwa perbuatan tersebut belum ada dengan cara demikian pada saat itu, namun sebelumnya ia mempunyai asal dari syariat yang dijadikan rujukan. (Tafsiirul Manaar (9/660) melalui Ilmu Ushulul Bida’ oleh Ali Hasan, hal. 95).



4. Muhammad Rasyid Ridha berkata: “Sesungguhnya kata bid’ah itu digunakan dalam dua makna: (1) Penggunaan secara bahasa: maknanya adalah sesuatu yang baru yang belum ada contoh sebelumnya. Menurut makna ini, maka benarlah perkataan mereka yang menyatakan bahwa bid’ah itu bisa dihukumi dengan lima hukum syari’at (wajib, sunnah, dst). (2) Diantaranya adalah perkataan Umar saat mengumpulkan orang-orang untuk bermakmum kepada satu imam dalam sholat tarawih: ‘Inilah sebaik-baik bid’ah’. (3) Dalam pengertian syar’i (agama), maknanya adalah: segala sesuatu dari urusan agama yang belum pernah diajarkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam pada masa beliau dalam masalah-masalah aqidah, ibadah, dan pengharaman sesuatu secara syar’i. Inilah yang terdapat dalam hadits: ‘Fainna Kulla Muhdatsatin Bid’ah, Wa Kulla Bid’atin Dholaalah’.



Dan Bid’ah menurut syara’ ini yang ada hanyalah kesesatan belaka, sebab Allah Ta’ala telah menyempurnakan agama-Nya dan telah mencukupkan dengan (agama)tersebut nikmat-Nya terhadap Makhluk-nya. Maka tak seorangpun setelah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam yang berhak menambah-nambah sesuatu terhadap agama ini, baik terhadap masalah aqidah, ibadah, maupun syi’ar-syi’ar agama. Begitu pula tidak boleh mengurangi sesuatupun dari agama ini maupun merubah tata caranya, seperti mengubah sholat-sholat jahriyyah (yang dikeraskan suara di dalamnya) menjadi sholat sirriyyah (yang tidak dikeraskan suara di dalamnya) atau sebaliknya. Demikian pula tidak boleh mengubah ibadah yang bersifat mutlak (umum) menjadi sesuatu yang dibatasi dengan waktu atau tempat tertentu, atau mesti dilakukan secara kolektif atau perorangan tanpa ada dasarnya dari agama. (Ditakhrij oleh Ahmad dalam Al-Musnad 1/ 379).

Bersambung,..

Sabtu, 31 Oktober 2009

SYUBHAT-SYUBHAT ORANG YANG MENGAKUI BID’AH HASANAH BESERTA BANTAHANNNYA (2)

Syubhat Kedua:
Pemahaman mereka terhadap perkataan Umar bin Khattab Radhiallahu ‘anhu:
“Inilah sebaik-baik bid’ah”. (I’laamul Muwaqqi’iin (2/282)

Bantahan:
1. Jika kita menerima, bahwa yang dimaksud oleh perkataan Umar adalah sebagaimana mereka inginkan dalam menganggap baik perbuatan bid’ah- sekalipun hal ini tidak bisa diterima- maka sesungguhnya tidak dibenarkan mengkonfrontasikan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan perkataan seorangpun dari manusia, siapapun dia, baik itu perkataan Abu Bakar sebagai orang terbaik di antara umat sesudah Nabi-Nya, dan tidak pula perkataan Umar, sebagai orang terbaik kedua pada ummat ini setelah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, juga tidak bisa dikonfrontasikan dengan ucapan siapapun.

Abdullah bin Abbas Radhiallahu ‘anhu berkata:
“Hampir-hampir batu-batu berjatuhan dari langit menimpa kalian, aku katakan bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, kalian justru mengatakan berkata Abu Bakar dan Umar”.



Berkata Umar bin Abdul Aziz:
“Tidaklah diterima pendapat seseorang jika telah ada suatu sunnah yang ditetapkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam”. (Ibid)

Berkata Imam As-Syafi’i:
“Telah sepakat (ulama) kaum muslimin bahwa barangsiapa yang telah jelas baginya sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, maka tidak halal baginya untuk meninggalkan sunnah tersebut karena ada perkataan orang lain”. (Habaqaatul Hanaabilah (2/15) dan al-Ibaanah (1/260).



Berkata Imam Ahmad bin Hanbal:
“Barangsiapa yang menolak hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, maka berarti dia telah berada di pinggir jurang kehancuran”. (Ditakhrij oleh al-Bukhari No. 1129).

2. Bahwasanya Umar mengeluarkan perkataan tersebut ketika

beliau mengumpulkan orang-orang untuk sholat tarawih., dan Sholat tarawih itu bukanlah suatu bid’ah bahkan merupakan sunnah. Dalilnya adalah riwayat dari ‘Aisyah Radhiallahu ‘anha bahwasanya suatu malam Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sholat di masjid, lalu orang-orang mengikuti beliau, kemudian beliau sholat pada malam berikutnya maka banyak orang mengikuti beliau, kemudian mereka berkumpul pada malam ke-3 atau ke-4 tapi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak keluar untuk sholat bersama mereka. Tatkala datang waktu pagi, beliau bersabda:
“Sungguh aku telah melihat apa yang kalian perbuat (tadi malam), dan tidak ada yang menghalangiku untuk keluar kepada kalian melainkan aku khawatir jangan sampai ia akan diwajibkan kepada kalian”. Dan hal ini terjadi pada bulan Ramadhan (kata ‘Aisyah). (al-I’tishaam (1/250).



3. Apabila telah terbukti bahwa apa yang dilakukan oleh Umar itu bukanlah merupakan suatu bid’ah, lalu apa yang dimaksudkan dengan bid’ah dalam ucapan beliau tersebut? Sesungguhnya kata ‘Bid’ah’ dalam ucapan beliau tersebut maksudnya adalah bid’ah dalam pengertian bahasa, bukan makna menurut syara’ (agama).

Bid’ah menurut bahasa adalah ‘Maa Faila ‘alaa ghoiri mitsaalin saabiqinn’ (apa saja yang dilakukan yang tidak ada contoh sebelumnya). Maka tatkala sholat (tarawih) tersebut tidak dilakukan pada masa Abu Bakar dan pada awal masa kekhalifahan Umar, berarti bahwa ia merupakan suatu bid’ah menurut tinjauan bahasa, yakni ‘tidak ada contoh sebelumnya’. Adapun menurut tinjauan syara’ (agama) tidaklah demikian, sebab perbuatan itu mempunyai dasar dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Berkata Asy-Syaathiby:
“Maka barangsiapa yang menamakannya sebagai bid’ah dalam pengertian semacam itu, maka tidak ada perbedaan pendapat dalam segi penamaan (istilah). Dan dengan demikian tidak boleh berdalil (dengan pengertian dari segi bahasa tersebut) untuk memperbolehkan melakukan perbuatan bid’ah, sebab hal tersebut merupakan salah satu dari bentuk pemutarbalikan fakta dari yang sebenarnya”. (Iqtidhaa Shiraathil Mustaqiim,.hal. 276).

Bersambung,.

Jumat, 30 Oktober 2009

SYUBHAT-SYUBHAT ORANG YANG MENGAKUI BID’AH HASANAH BESERTA BANTAHANNNYA (1)

SYUBHAT-SYUBHAT ORANG YANG MENGAKUI BID’AH HASANAH BESERTA BANTAHANNNYA.

Syubhat Pertama:

Pemahaman mereka terhadap hadits:
“Barang siapa yang melakukan suatu perbuatan yang hasanah(baik) dalam Islam, maka baginya pahala dari perbuatannya itu dan pahala dari orang yang melakukannya sesudahnya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Dan barangsiapa yang melakukan suatu perbuatan yang sayyi’ah (buruk), maka baginya dosanya dan dosa dari orang yang melakukannya sesudahnya, tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun”. (Ditakhrij oleh Muslim No. 1017).

Bantahan:
1. Bahwasanya makna ‘Man Sanna’, adalah “barangsiapa yang melakukan suatu amalan sebagai penerapan dari ajaran syari’at yang ada, BUKAN orang yang melakukan suatu amalan sebagai penetapan suatu syari’at yang baru”. Karena itu maka yang dimaksud oleh hadits tersebut adalah beramal shaleh sesuai ajaran sunnah nabawiyyah yang ada.



Yang menunjukkan hal ini adalah faktor penyebab disabdakannya hadits itu, yakni sedekah yang disyari’atkan. Sebab disebutkannya hadits tersebut adalah sebagai berikut: Dari Jabir bin Abdullah berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berkhutbah kepada kami, lalu beliau memberi semangat kepada manusia untuk bersedekah, akan tetapi mereka berlambat-lambat untuk bersedekah sampai-sampai nampak kemarahan di wajah beliau kemudian datanglah seorang Anshar dengan sekantong (sedekah) lalu orang-orang (bersedekah) mengikutinya sehingga nampak keceriaan di wajah beliau, maka beliaupun bersabda: “Barangsiapa yang .... dst “ Lafadz hadits ini diriwayatkan ad-Daarimiy, No. 514 (1/ 141) dan dalam riwayat Muslim lebih panjang dari ini.

2. Bahwasanya orang yang mengatakan ‘Man Sanna Fil Islaam Khasanah..’ beliau juga yang mengatakan ‘Kulla Bid’ah Dholaalah..’.


Tidak mungkin akan muncul dari mulut orang yang benar lagi dipercaya suatu perkataan yang mendustakan perkataan yang lain dari beliau sendiri, dan selamanya tidak mungkin perkataan Rasulullah Shallallahu ‘alahi wasallam saling bertentangan. (al-Ibdaa’ Fii Kamaalis Syar’i Wakhatharil Ibtidaa’ oleh Ibnu ‘Utsaimin, Hal. 19).



Oleh karena itu, kita tidak dibenarkan mengamalkan suatu hadits lalu berpaling dari hadits yang lain, sebab hal yang demikian merupakan ciri orang-orang yang beriman terhadap sebagian dari Al-Kitab dan mengingkari sebagian yang lain.

3. Bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan ‘Man Sanna..’ (barangsiapa yang yang menerapkan sunnah pertama kali). Dan beliau tidak mengatakan ‘Man ibtida’...’ (barangsiapa yang mengadakan suatu yang baru dalam agama), dan beliau mengatakan ‘Fil Islaam’ (dalam Islam), sedangkan bid’ah itu bukan dari islam. Beliau mengatakan ‘Hasanah.’ (yang baik), sedangkan bid’ah bukan merupakan sesuatu yang baik. (Ibid, Hal. 20).

Dan jelas sekali perbedaan antara sunnah dan bid’ah, sebab sunnah merupakan suatu jalan yang diikuti dan bid’ah itu merupakan suatu yang dibuat-buat dalam agama.

4. Tidak pernah dinukilkan dari seorangpun dari ulama salaf yang menafsirkan kata “Sunnatun Hasanah..’ dengan arti bid’ah diada-adakan oleh manusia dari diri mereka sendiri.

5. Bahwasanya makna ‘Man Sanna..’ adalah barangsiapa yang menghidupkan suatu sunnah yang pernah ada kemudian hilang lalu dihidupkan kembali. Oleh karena itu, maka jadilah kata “Sunnah” itu disandarkan kepada orang yang menghidupkan sunnah tersebut setelah sunnah ditinggalkan orang.

Dalilnya adalah hadits: “Barangsiapa yang menghidupkan salah satu sunnahku lalu orang-orang ikut mengamalkannya, maka ia mendapatkan pahala dari orang yang ikut mengamalkannya tanpa mengurangi pahala-pahala mereka sedikitpun. Dan barangsiapa yang mengadakan suatu bid’ah lalu mengamalkannya, maka ia akan mendapatkan dosa dari orang yang ikut melakukannya, tanpa mengurangi dosa-dosa mereka sedikitpun”. (Sunan Ibnu Majah, No. 209 dan dishahihkan oleh al-Albaniy).



6. Bahwasanya perkataan beliau ‘Man Sanna Sunnatun Khasanah..” dan “Man Sanna Sunnatun Sayyi’ah..” tidak mungkin kita tafsirkan “menciptakan sesuatu yang baru..”, sebab keberadaannya sebagai suatu yang baik atau buruk itu tidak mungkin diketahui kecuali melalui syari’at agama. Karena itulah maka yang dimaksud dengan sunnah dalam hadits tersebut haruslah baik menurut syara’ atau sebaliknya buruk menurut syara’.

Maka pengertian itu hanya berlaku bagi bentuk sedekah yang telah disebutkan, adapun sedekah yang serupa dengannya merupakan bagian dari sunnah-sunnah yang telah disyari’atkan, sehingga tinggallah kedudukan ‘Sunnah Sayyi’ah (yang buruk)’ itu ditafsirkan sebagai perbuatan maksiyat yang keberadaanya menurut syara’ jelas-jelas maksiyat, seperti membunuh, sebagaimana yang diperingatkan (oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam kepada kita) dalam hadits mengenai anak Adam, dimana beliau bersabda: “Sebab dialah yang pertama-tama melakukan sunnah membunuh”. (Lihat al-I’tishaam, oleh as-Syaatibhy, 1/236).

Dan begitu pula bid’ah itu (dikatakan sebagai suatu hal yang buruk), sebab telah ada celaan dan larangan terhadapnya dari syara’. (dikeluarkan oleh al-Bukhari, No.2010).

Bersambung.

Sumber=
Al-Luma’ Fil-Rudd ‘Alaa Muhassiny Al-Bida’ karya Abdul Qayyum bin Muhammad bin Nashir As-Shahibany Hal. 31-36.


Selasa, 27 Oktober 2009

Ringan di Lisan Berat di Timbangan

Ringan di Lisan Berat di Timbangan


Dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada dua buah kalimat yang ringan di lisan namun berat di dalam timbangan, dan keduanya dicintai oleh ar-Rahman, yaitu ‘Subhanallahi wabihamdihi, subhanallahil ‘azhim’.” (HR. Bukhari [7573] dan Muslim [2694])

Syaikh al-Utsaimin rahimahullah menerangkan, “Kedua kalimat ini merupakan penyebab kecintaan Allah kepada seorang hamba.” Beliau juga berpesan, “Wahai hamba Allah, sering-seringlah mengucapkan dua kalimat ini. Ucapkanlah keduanya secara kontinyu, karena kedua kalimat ini berat di dalam timbangan (amal) dan dicintai oleh ar-Rahman, sedangkan keduanya sama sekali tidak merugikanmu sedikitpun sementara keduanya sangat ringan diucapkan oleh lisan, ‘Subhanallahi wabihamdih, subhanallahil ‘azhim’. Maka sudah semestinya setiap insan mengucapkan dzikir itu dan memperbanyaknya.” (Syarh Riyadh as-Shalihin, 3/446).

Di dalam hadits ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut Allah dengan nama-Nya ar-Rahman –Yang Maha pemurah-. Hikmahnya adalah –wallahu a’lam- karena untuk menunjukkan keluasan kasih sayang Allah ta’ala. Sebagai contohnya, di dalam hadits ini diberitakan bahwa Allah berkenan memberikan balasan pahala yang banyak walaupun amal yang dilakukan hanya sedikit (lihat Taudhih al-Ahkam, 4/883)

Subhanallahi Wabihamdih
Makna ucapan subhanallah –Maha suci Allah- adalah;


anda menyucikan Allah ta’ala dari segala aib dan kekurangan dan anda menyatakan bahwa Allah Maha sempurna dari segala sisi. Hal itu diiringi dengan pujian kepada Allah –wabihamdih- yang menunjukkan kesempurnaan karunia dan kebaikan yang dilimpahkan-Nya kepada makhluk serta kesempurnaan hikmah dan ilmu-Nya (lihat Syarh Riyadh as-Shalihin li Ibni Utsaimin, 3/446)



Apabila telah terpatri dalam diri seorang hamba mengenai pengakuan dan keyakinan terhadap kesucian pada diri Allah dari segala kekurangan dan aib, maka secara otomatis akan terpatri pula di dalam jiwanya bahwa Allah adalah Sang pemilik berbagai kesempurnaan sehingga yakinlah dirinya bahwa Allah adalah Rabb bagi seluruh makhluk-Nya. Sedangkan keesaan Allah dalam hal rububiyah tersebut merupakan hujjah/argumen yang mewajibkan manusia untuk mentauhidkan Allah dalam hal ibadah –tauhid uluhiyah-. Dengan demikian maka kalimat ini mengandung penetapan kedua macam tauhid tersebut –rububiyah dan uluhiyah- (lihat Taudhih al-Ahkam, 4/885)

Makna pujian kepada Allah
Al-Hamdu atau pujian adalah sanjungan kepada Allah dikarenakan sifat-sifat-Nya yang sempurna, nikmat-nikmat-Nya yang melimpah ruah, kedermawanan-Nya kepada hamba-Nya, dan keelokan hikmah-Nya. Allah ta’ala memiliki nama, sifat dan perbuatan yang sempurna. Semua nama Allah adalah nama yang terindah dan mulia, tidak ada nama Allah yang tercela. Demikian pula dalam hal sifat-sifat-Nya tidak ada sifat yang tercela, bahkan sifat-sifat-Nya adalah sifat yang sempurna dari segala sisi. Perbuatan Allah juga senantiasa terpuji, karena perbuatan-Nya berkisar antara menegakkan keadilan dan memberikan keutamaan. Maka bagaimana pun keadaannya Allah senantiasa terpuji (lihat al-Qawa’id al-Fiqhiyah karya Syaikh as-Sa’di, hal. 7)

Syaikh al-Utsaimin rahimahullah berkata, “al-hamdu adalah mensifati sesuatu yang dipuji dengan sifat-sifat sempurna yang diiringi oleh kecintaan dan pengagungan -dari yang memuji-, kesempurnaan dalam hal dzat, sifat, dan perbuatan. Maka Allah itu Maha sempurna dalam hal dzat, sifat, maupun perbuatan-perbuatan-Nya.” (Tafsir Juz ‘Amma, hal. 10)



Subhanallahil ‘Azhim
Makna ucapan ini adalah tidak ada sesuatu yang lebih agung dan berkuasa melebihi kekuasaan Allah ta’ala dan tidak ada yang lebih tinggi kedudukannya daripada-Nya, tidak ada yang lebih dalam ilmunya daripada-Nya. Maka Allah ta’ala itu Maha agung dengan dzat dan sifat-sifat-Nya (lihat Syarh Riyadh as-Shalihin li Ibni Utsaimin, 3/446).

Hal itu menunjukkan keagungan, kemuliaan, dan kekuasaan Allah ta’ala, inilah sifat-sifat yang dimiliki oleh-Nya. Di dalam bacaan dzikir ini tergabung antara pujian dan pengagungan yang mengandung perasaan harap dan takut kepada Allah ta’ala (lihat Taudhih al-Ahkam, 4/884-885).

sumber= http://muslim.or.id/doa-dan-wirid/ringan-di-lisan-berat-di-timbangan.html

semoga bermanfaat.,

Rabu, 30 September 2009

MALAM DAN SIANG HANYALAH SEBUAH PERJALANAN

MALAM DAN SIANG HANYALAH SEBUAH PERJALANAN

Oleh Abdul Malik bin Muhammad al-Qasim
Selasa, 29 September 2009 15:57:29 WIB

Saudaraku semuslim…
Malam dan siang hanyalah sebuah perjalanan yang selalu dilalui oleh setiap insan, dia melewatinya selangkah demi selangkah sehingga sampai pada akhir sebuah perjalanan. Jika Anda bisa mempersembahkan sebuah perbekalan pada setiap langkah tersebut, maka lakukanlah, karena tidak lama lagi perjalanan ini akan berakhir, bahkan dia berlari dengan lebih cepat dari yang engkau bayangkan. Maka bekalilah dirimu dalam perjalanan ini dan lakukanlah kewajibanmu, seakan-akan engkau sedang ada dalam perjalanan yang banyak mengandung bahaya para perampok.



Seorang Salaf menulis surat kepada saudaranya (yang isinya), “Wahai saudaraku, engkau berkhayal bahwa engkau selamanya berada di dunia, akan tetapi sebenarnya engkau ada dalam sebuah perjalanan. Engkau digiring dengan cepat, kematian datang menghadangmu, sedangkan dunia telah menggulung tikarnya di belakangmu, umurmu yang telah berlalu sama sekali tidak akan kembali.”[1]

Kita semua berjalan pada kelompok orang-orang yang zuhud, sedangkan kafilah (rombongan) orang-orang yang shalih telah berlalu… bagaimana kita melihat dunia menyatu dengan akhirat… antara zuhud dengan qana’ah. ‘Ali bin Fudhail berkata, “Aku mendengar ayahku berbicara kepada Ibnul Mubarak, ‘Engkau memerintahkan kami untuk hidup dengan zuhud dan kesederhanaan, akan tetapi aku melihat dirimu yang selalu membawa barang dagangan, bagaimana hal ini bisa terjadi?’ Beliau menjawab, ‘Wahai Abu ‘Ali, aku melakukannya hanya untuk menjaga wajah dan kehormatanku, dan dengannya aku melakukan ketaatan kepada Rabb-ku.’ Lalu dia berkata, ‘Wahai Ibnul Mubarak! Sungguh indahnya hal ini jika ini dilakukan dengan sempurna!!’”



Saudaraku tercinta…
Bagaimana engkau memandang dunia ini? Sungguh indahnya dunia jika ia datang dari pintu yang halal dan digunakan di jalan yang halal. Sesungguhnya pintu-pintu kebaikan sangat banyak dan tidak dapat dihitung: shadaqah, membantu orang yang sangat membutuhkan, menolong orang yang tertimpa musibah, membantu para janda, dan menanggung hidup anak-anak yatim.

Saudaraku…Sufyan pernah berkata, “Jagalah dirimu dari kemarahan Allah dalam tiga hal:

(1) Jagalah dirimu agar tidak lalai pada perintah-Nya,
(2) Jagalah dirimu dari sikap tidak rela akan keputusan-Nya sedangkan Dia melihatmu, dan
(3) Jagalah dirimu dari sikap membenci Rabb-mu ketika engkau meminta kepada-Nya, tetapi engkau tidak mendapatkannya.”

Sesungguhnya yang membagi-bagikan rizki di dunia ini adalah Allah,


karena itu engkau harus rela terhadap pembagian-Nya, sedikit ataupun banyak, datang atau pergi, dunia itu memihakmu ataupun meninggalkanmu, engkau harus rela terhadap apa yang engkau dapatkan. Janganlah hatimu risau karenanya, janganlah engkau membenci apa yang telah Allah tentukan untukmu, dan janganlah engkau melihat orang yang lebih tinggi darimu dalam hal keduniaan. Akan tetapi lihatlah kepada orang-orang shalih dan orang-orang pilihan.

Siapa saja yang ingin hidup lapang
di dalam naungan agama dengan meraih dunia,
maka lihatlah orang yang lebih wara’ (takwa) daripadanya
dan perhatikanlah orang yang lebih miskin dari-nya.[2]



Yang lebih indah lagi dari ungkapan tersebut adalah firman Allah di dalam Kitab-Nya yang mulia:

"Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan di dunia untuk Kami cobai mereka dengannya… ." [Thahaa: 131]

Ibrahim al-Asy’ats rahimahullah berkata, “Aku mendengar Fudhail berkata, ‘Rasa takut seorang hamba terhadap Allah sesuai dengan keilmuannya kepada-Nya. Kezuhudan seorang hamba terhadap dunia sesuai dengan keinginannya atas kebahagiaan akhirat. Siapa saja yang beramal dengan ilmu yang ia ketahui, maka dia akan merasa cukup terhadap apa-apa yang tidak ia ketahui. Dan siapa saja yang mengamalkan sesuatu yang ia ketahui, maka Allah akan memberikan ilmu yang tidak ia ketahui. Siapa saja memiliki prilaku yang jelek, maka jelek pulalah agama, keturunan, dan kehormatannya.”[3]

Sebagian dari orang-orang zuhud berkata, “Aku tidak pernah mengetahui seseorang yang mendengar Surga dan Neraka, kemudian didatangkan kematian kepadanya. Sedangkan ia dalam keadaan tidak melakukan ketaatan kepada Allah sesaat pun, baik dengan berdzikir, shalat, membaca al-Qur-an atau dengan berbuat baik.” Lalu seseorang berkata kepadanya, “Sesungguhnya aku banyak menangis.” Lalu beliau berkata, “Jika engkau tertawa dengan mengakui kesalahan, itu lebih baik daripada engkau menangis tetapi selalu menampakkan amal. Jika seseorang me-nampakkan amalnya, niscaya amal tersebut tidak akan naik melebihi kepalanya.”

Orang tadi berkata, “Nasihatilah aku!” Beliau pun berkata,
“Tinggalkanlah dunia untuk orang yang tamak kepadanya sebagaimana mereka meninggalkan akhirat. Dan jadilah di dunia ini bagaikan seekor lebah, dia tidak akan makan kecuali yang baik-baik. Dan jika terjatuh, maka dia tidak akan memecahkan atau merobek-robek sesuatu.”[4]



Saudaraku tercinta…
Tidak ada seorang pun yang mengingat kematian melainkan dunia akan menjadi hina dalam pandangannya, akhirnya semua penutup di hadapannya akan terbuka. Sesungguhnya dunia adalah beberapa tahun yang bisa dihitung, sebanyak apa pun materi yang dikumpulkan oleh seseorang dan sebanyak apa pun harta simpanan yang ia miliki, karena di belakang semua itu adalah kematian yang akan menghancurkan semua kelezatan dan memisahkan seseorang dari semua kawannya.

Al-Hasan rahimahullah berkata, “Sesungguhnya kematian itu selalu membuka aib dunia, dia tidak akan membiarkan seseorang yang berakal mendapatkan kebahagiaan di dalamnya.” [5]

Kebahagiaan apakah wahai saudaraku, sedangkan dunia begitu adanya?

Dunia telah berseru kepada dirinya,
seandainya di alam ini ada orang yang mendengarnya.
Berapa banyak sang pengumpul harta yang telah aku hancurkan,
harta yang dikumpulkannya.[6]

[Disalin dari kitab Ad-Dun-yaa Zhillun Zaa-il, Penulis ‘Abdul Malik bin Muhammad al-Qasim, Edisi Indonesia Menyikapi Kehidupan Dunia Negeri Ujian Penuh Cobaan, Penerjemah Beni Sarbeni, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir]
__________
Footnotes
[1]. Jaami’ul ‘Uluum wal Hikam, hal. 381.
[2]. As-Siyar (VIII/426).
[3]. Al-Ihyaa’ (IV/131).
[4]. As-Siyar (VIII/426).
[5]. Taariikh Baghdaad (XIV/444).
[6]. Thabaqaatusy Syaafi’iyyah (VI/78).

Sumber= http://www.almanhaj.or.id/content/2528/slash/0

Bersama dengan ini Admin ingin menyampaikan turut berduka cita kepada saudara2 / teman/ keluarga yg berada di daerah Sumatera khususnya Padang Jambi dan sekitarnya atas musibah bencana yang dialami. Semoga diberikan keikhlasan dan kesabaran oleh Allah ta'ala dalam menghadapi ujian ini. SMangaTT!!