Minggu, 26 September 2010

‎>> Anjuran Puasa Enam Hari Di Bulan Syawal

‎>> Anjuran Puasa Enam Hari Di Bulan Syawal

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِِ

[4] Anjuran Puasa Enam Hari Di Bulan Syawal

1006- 1 [Shahiih]
Dari Abu Ayyub Radhialloohu 'Anhu bahwa Rasululloh Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda,

“Barangsiapa berpuasa Ramadhan kemudian mengiringinya dengan (puasa) enam hari di bulan Syawal, maka itu bagaikan puasa satu tahun”.

Diriwayatkan oleh: Muslim, Bu Dawud, at- Tirmidzi, an- Nasa’i dan Ibnu Majah. Di sini, di kitab asli, “Dan ath- Tabhrani, dia menambahkan, “Dia berkata, Aku berkata, Sepuluh hari dengan satu hari?’ Dia menjawab, ‘Ya’. Dan rawi- rawinya adalah rawi- rawi yang ash- Shahih”, Saya berkata, akan tetapi ia adalah tambahan yang syadz karena ia menyelisihi seluruh riwayat tsiqah di Muslim, as- Sunan dan lain- lain. Ia ditakhrij dalam al- Irwa’ (4/ 106), diriwayatkan seluruhnya oleh ath- Thabrani dalam al- Mu’jam al- Kabir 4/ 3903- 3916. Adapun tiga pemberi komentar itu maka mereka menshahihkannya bersama pokok haditsnya.

1007- 2-a [Shahiih]
Dari Tsauban, mantan hamba sahaya Rasululloh Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam, dari Rasululloh Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam beliau bersabda,

“Barangsiapa berpuasa enam hari setelah Idul Fitri, maka itu adalah satu tahun yang lengkap. ‘Barangsiapa mengamalkan satu kebaikan, maka untuknya adalah sepuluh kebaikan sebagai balasannya’”.

Diriwayatkan oleh: Ibnu Majah.



2- b [Shahiih]
Dan Diriwayatkan pula oleh an- Nasa’i dan lafadznya,

“Alloh membalas satu kebaikan dengan sepuluh kali lipatnya. Satu bulan sama dengan sepuluh bulan, dan berpuasa enam hari setelah Idul Fitri adalah genap satu tahun”.

‎2- c [Shahiih]
Diriwayatkan pula oleh Ibnu Khuzaimah dalam Shahiih nya dan lafadznya – dan ini juga salah satu riwayat an- Nasa’i- dan dia bersabda,

“Puasa bulan Ramadhan sama dengan sepuluh bulan, puasa enam hari sama dengan dua bulan, maka itulah puasa satu tahun”.

2- d [Shahiih]
Diriwayatkan juga oleh: Ibnu Hibban dalam Shaiih nya, dan lafadznya,

“Barangsiapa berpuasa Ramadhan dan enam hari bulan Syawal, maka dia telah berpuasa satu tahun”.

1008- 3 [Shahiih Lighairihi]
Diriwayatkan pula oleh Ahmad, al- Bazzar, dan ath- Thabrani, dari hadits Jabir bin Abdullah Radhialloohu 'Anhuma.

1009- 4 [Shahiih]
Dari Abu Hurairoh Radhialloohu 'Anhu, dari Nabi Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam, beliau bersabda,

“Barangsiapa berpuasa Ramadhan, dan melanjutkannya dengan enam hari di bulan Syawal, maka seolah- olah dia berpuasa satu tahun”.

Diriwayatkan oleh: al- Bazzar, dan salah satu jalannya adalah Shahiih.

Sumber: ‘Shahih at- Targhib Wa at- Tarhib (II): Hadits- hadits Shahih tentang Anjuran & Janji Pahala, Ancaman & Dosa: Sholat Sunnah, Jum’at, Sedekah, Puasa, Hari Raya & Kurban’, Hal 367- 369, Kitab Puasa [4]. Syaikh Muhammad Nashiruddin al- Albani. Pustaka Sahifa. Jakarta.

‎>> Hadits Shahiih Yang Disalahpahami. [Resume]

>> Hadits Shahiih Yang Disalahpahami. [Resume]

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِِ

Pembahasan Hadits kedua:

“Seseorang dari kalian tidak akan masuk Surga dengan amalnya”.

Diriwayatkan dari Abu Hurairoh Radhialloohu 'Anhu, Rasululloh Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda,

“Amal seorang hamba dari kalian tidak akan memasukkannya ke Surga”.

Atau beliau bersabda,

“Seseorang dari kalian tidak akan masuk ke Surga dengan amalnya”, Para Shahabat bertanya, “Tidak juga engkau, Wahai Rasululloh?” Beliau menjawab, “Tidak juga aku, kecuali bila Alloh melimpahkan rahmat dan karunia- Nya kepadaku”.

Shahiih, Diriwayatkan oleh: al- Bukhori (al- Mardha/ 5673/ Fath) dan Muslim (Shifah al- Qiyamah/ 2816/ Abdul Baqi).

SEBAGIAN ORANG MEMAHAMI HADITS INI SECARA TERBALIK, KARENA MEREKA MENINGGALKAN AMAL DAN MEREMEHKAN IBADAH, HINGGA MENYEBABKAN MEREKA TIDAK DAPAT MASUK SURGA!!”.

Jika engkau mengajaknya kepada kebaikan dan melarangnya dari kemungkaran, maka ia berkata, “Masalahnya bukan masalah amal, dan tidak ada seorangpun yang masuk Surga dengan amalnya. Seperti agama ini tidak dinilai dari zhahirnya, bahkan tidak pula dengan sholat, puasa dan selainnya. Sesungguhnya kita semua adalah umat Nabi Muhammad. Kita akan masuk Surga dengan karunia dan rahmat- Nya, kemudian dengan syafaat Nabi- Nya. Bukan dengan amal perbuatan!”.

Penulis berkata:
Bagaimana Jadinya jika memahami hadits ini dengan pemahaman yang rusak, terbalik, dan ilmu dusta ini?! Lalu untuk apa ketaatan dan untuk apa beramal?! Jika memang demikian, lalu apa makna dari firman Alloh Subhanahu Wa Ta’ala,

“Dan orang- orang yang beriman dan mengerjakan amal- amal yang shalih, Kami tidak memikulkan kewajiban kepada diri seseorang melainkan sekadar kesanggupannya, mereka itulah penghuni- penghuni Surga, mereka kekal di dalamnya. Dan Kami cabut segala macam dendam yang berada di dalam dada mereka, mengalir di bawah mereka sungai- sungai dan mereka berkata, “Segala puji bagi Alloh yang telah menunjuki kami kepada (Surga) ini. Dan kami sekali- kali tidak akan mendapat petunjuk jika Alloh tidak memberi kami petunjuk. Sesungguhnya telah datang rasul- rasul Rabb kami, membawa kebenaran”. Dan diserukan kepada mereka, “Itulah Surga yang diwariskan kepadamu, disebabkan apa yang dahulu kamu kerjakan”.” (QS. Al- A’raf: 42- 43).

DENGAN APAKAH MEREKA MASUK SURGA? “..DENGAN APA YANG KALIAN KERJAKAN”.

Apakah ada pertentangan antara ayat Al- Qur’an dengan Hadits? Di mana ayat menjelaskan bahwa masuk Surga itu berdasarkan amal, sementara hadits menafikan hal itu. Jawabannya: Tidak, bagi siapa yang memahami duduk permasalahannya.

Ayat ini berbicara tentang sebab, sedangkan hadits berbicara tentang masalah setelah sebab sehingga tidak boleh dijadikan sebagai sandaran, bahkan keduanya saling melengkapi. ENGKAU HARUS BERPEGANG PADA SEBAB, DAN BERSANDAR PADA RABB PEMILIK SEBAB. JIKA SEBAB DITINGGALKAN, MAKA ENGKAU BERMAKSIYAT. JIKA ENGKAU ENGKAU BERSANDAR PADA SEBAB, ENGKAU JATUH DALAM KEMUSYRIKAN. KARENANYA, ULAMA MENGATAKAN, “BERPEGANG PADA SEBAB HUKUMNYA WAJIB DAN MENINGGALKANNYA ADALAH KEMAKSYIATAN , SEDANGKAN BERSANDAR PADANYA ADALAH KEMUSYRIKAN”.

Ayat itu menyebutkan tentang sebab, sedangkan hadits mengajak anda untuk yakin kepada Alloh Subhanahu Wa Ta’ala, bukan kepada sebab. Karena sebab tidak bermanfaat dengan sendirinya. Anda minum obat, tapi mengharap kesembuhan dari Alloh. Atau anda makan dan minum, maka bukan air yang menghilangkan dahaga, bukan pula makanan yang mengenyangkan, dan bukan pula obat yang dengan sendirinya menyembuhkan. Semua itu hanyalah sebab, dan di balik sebab, ada Rabb Pemilik sebab yang mencegah api membakar Ibrahim ‘Alaihis Salam. Jika tidak, maka api membakarnya. Dia mencegah pisau menyembelih Ismail ‘Alaihis Salam, Jika tidak maka pisau itu akan menyembelihnya. Demikian pula Dia mencegah air mengalir dan membawa Musa ‘Alaihis Salam, jika tidak, maka tabiat air adalah mengalir.

Sebab semata tidak dapat berfungsi sedikitpun. Segala urusan itu hanyalah milik Alloh Ta’ala. Dia memerintahkan kita agar berpegang pada sebab sebagai Sunnatulloh yang terus berjalan, yang berbeda dengan perkara- perkara luar biasa seperti mukjizat dan karomah. Di samping berpegang pada sebab, kita bersandar pada Rabb Pemilik sebab.



Sebab- sebab itu tidak dapat mengantarkan kepada tujuan dengan sendirinya, tapi dengan karunia Rabb-nya. Karena itu ayat ini datang untuk menyebutkan aspek sebab:

“Dan diserukan kepada mereka, ‘Itulah Surga yang diwariskan kepadamu, disebabkan APA YANG DAHULU KAMU KERJAKAN”.” (QS. Al- A’raf: 43).

Kemudian datang hadits yang memberikan nilai keimanan agar yakin kepada Alloh Ta’ala semata, bukan kepada sebab, lewat Sabda Nabi,

“Seseorang dari kalian tidak akan masuk Surga dengan amalnya”. Para Shahabat bertanya, “Tidak juga engkau, Wahai Rasululloh?” Rasululloh Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam menjawab, “Tidak juga aku”.

Beliau mengatakan demikian walaupun tinggi kedudukannya, sangat besar ibadah dan amalnya, bahkan selurulh umat dari awal hingga akhir berada dalam timbangan kebajikannya. Kendati demikian, beliau bersabda,

“Tidak juga aku, kecuali Alloh melimpahkan rahmat dan karunia- Nya kepadaku”.

INI ADALAH PELAJARAN MENGENAI KEYAKINAN, KITA WAJIB MEMPELAJARI BAHWA SELURUH URUSAN ITU MILIK ALLOH, ENGKAU TIDAK MEMILIKI KEKUATAN SEDIKITPUN DALAM URUSAN ITU, DAN BAHWA MASUK SURGA ITU, MESKIPUN KARENA KARUNIA ALLOH, TAPI DERAJAT MANUSIA DI SURGA BERBEDA- BEDA, TIDAK DIRAGUKAN LAGI PERBEDAAN INI TERKAIT DENGAN AMALAN.

Di antara mereka ada yang lebih dahulu masuk Surga dan ada yang menyusul, ada yang berada pada tingkat derajat tinggi dan ada yang di bawahnya. Karena Surga itu bertingkat- tingkat, seperti halnya Neraka bertingkat- tingkat.

Jika manusia masuk Surga dengan karuni Alloh, maka kedudukan manusia ditentukan dengan keadilan. Inilah salah satu sisi dari makna hadits, karena masih ada sisi dan makna lain yang tidak bisa dilupakan.

Wahai anak Adam, Anda memiliki amalan- amalan tetapi Alloh Ta’ala memiliki berbagai kenikmatan yang telah dianugerahkan kepada anda. Anda adalah hamba yang memiliki kewajiban, tapi Alloh adalah Rabb yang memiliki banyak anugerah. Maka seber...apa banyak amal ibadah anda bila dibandingkan dengan nikmat Alloh yang diberikan- Nya kepadamu? Bukankah amal- amal yang telah anda lakukan telah diberi balasan dengan berbagai kenikmatan di dunia? Kemudian anda masuk Surga berkat karunia Alloh semata. Wahai manusia, seandainya anda melaksanakan puasa di siang hari, melakukan Sholat malam, dan bertasbih sebagaimana layaknya bernafas.

Apakah semua itu sebanding dengan satu dari sekian banyak nikmat Alloh Ta’ala yang diberikan padamu, seperti nikmat sehat atau nikmat melihat.? Demi Alloh, tidak sebanding.!

Lantas bagaimana dengan nikmat- nikmat yang lain? Kemudian bagaimana dengan Surga yang kenikmatannya di atas semua itu?! Apakah anda tidak mengambil pelajaran dari kisah seorang Bani Israil yang ingin masuk Surga dengan amalnya? Di mana seluruh amal shalihnya ditimbang tapi tidak sebanding dengan kenikmatan satu mata, apalagi nikmat- nikmat lainnya!!.

Ya, Seseorang tidak akan masuk Surga dengan amalnya. Karena amal sebagai penukar Surga- dengan tanpa menghiraukan kenikmatan dunia- adalah seperti orang yang ingin membeli sebuah istana dengan uang recehan. Apakah uang recehan tersebut sebanding dengan harga istana? Apakah uang recehan itu patut menjadi harganya?!
Adapun jika pemilik istana berbuat baik dan memberikan istana itu kepada anda, dengan uang yang anda miliki meskipun sedikit, karena telah berusaha keras dan memberikan segala yang dimiliki, maka istana itu menjadi milik anda.

Inilah Karunia Alloh dan Rahmat- Nya, setelah anda melaksanakan sebab- sebab menurut kadar kesanggupan. Alloh Ta’ala berfirman,
“Maka bertaqwalah kepada Alloh menurut kesanggupanmu”. (QS. At- Taghobun: 16)



JADI ANDA, HARUS MELAKSANAKAN APA YANG MENJADI KEWAJIBAN ANDA DAN BERTAWAKKAL KEPADA ALLOH SUBHANAHU WA TA’ALA.
Adapun bila anda tidur (bermalas- malasan), dan mengatakan, “Wahai Rabb, masukkanlah aku ke Surga dengan Karunia- Mu!” Tidak,..ini tidak benar. Bahkan, ini adalah pemahaman yang terbalik, pemahaman iblis, dan sesat lagi menyesatkan.

Wahai Hamba Alloh! Anda tidak menginginkan apartemen, dan tidak memiliki uang sewa, tidak menginginkan istana, dan tidak punya uang, serta menginginkan pengantin tapi tidak punya maharnya.

Sesungguhnya anda menginginkan Surga, “Ingatlah sesungguhnya barang perniagaan Alloh adalah Surga? Tidak adakah orang yang berusaha mendapatkannya? Tidak adakah orang yang menyerahkan mahar untuk pengantinnya di Surga? Tidak adakah di antara kalian orang yang menyiapkan harga untuk barang mahal tersebut?

Karena itu, BER-AMAL-LAH dan JANGAN MELIHAT AMAL ANDA. Tapi YAKINLAH PADA RABB- MU, YAKINLAH BAHWA ANDA TIDAK AKAN MASUK SURGA DENGAN AMAL ANDA, MELAINKAN KARENA KARUNIA DAN RAHMAT ALLOH. Lihatlah nikmat- nikmat yang Alloh berikan kepada an...da, dan bersungguh- sungguhlah, karena urusan ini harus dilakukan dengan kesungguhan bukan senda gurau. Tinggalkanlah kemalasan, dan jangan terlena dengan angan- angan. Jangan katakan: Kami berbaik Sangka kepada Alloh tapi tidak beramal dan terus- terusan malas. Sebab ada suatu kaum yang terlena dengan angan- angan dan mereka berkata, “Kami berbaik sangka pada Alloh”. Jika mereka berbaik sangka kepada Alloh, niscaya mereka memperbagus amal mereka.

Jauh sekali, jauh sekali! Iman itu tidak diraih dengan angan- angan dan berpangku tangan, sebagaimana halnya Surga tidak dapat dicapai dengan angan- angan. Sungguh mengherankan orang yang mencari Surga dengan tidur- tiduran, dan mengherankan pula orang yang tidak ingin masuk Neraka malah bergegas menuju padanya. Demi Alloh, ini adalah agama, dan ini adalah perkataan penutup para Nabi, dan imam para Rasul. Karenanya, pahamilah dengan baik. Jangan memahaminya dengan sesuka hati, yang akibatnya Alloh Ta’ala akan mencampakkan kalian ke dalam Neraka. Alloh Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

“Maka hendaklah orang- orang yang menyalahi perintah- Nya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa adzab yang pedih”. (QS. An- Nuur: 63). Wallohu A’lamu.

Sumber: Hadits Shahih yang Disalahpahami: Buku ini meluruskan hadits2 Shahiih yang disalahartikan dan hadits Maudhu dan Dhaif yang tersebar di Masyarakat. Hal 14- 19. Prof. Dr. Umar bin Abdul Aziz Quraisyi. Pengatar: Dr. Sa’id bin Mushfir al- Qahthani. Pustaka At- Tazkia. Jakarta.

Note: Buku ini insya Alloh bagus. Sumber referensi di dalamnya (kitab2 rujukannya) diambilkan dari kitab2 Ahlus Sunnah yang relevan dengan point2 yang dibahas.

Menjaga Hubungan dengan Pemimpin ‎>> Nasehat Syaikh ‘Abdullah Al Jibrin:

Menjaga Hubungan dengan Pemimpin ‎>> Nasehat Syaikh ‘Abdullah Al Jibrin

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِِ

Segala puji bagi Allah Ta’ala semata, dan kepadaNya kami minta pertolongan. Shalawat kepada Nabi yang diutus, Muhammad bin ‘Abdillah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan kepada keluarganya, para sahabatnya serta orang-orang yang mengikuti beliau hingga hari kiamat.

Sesungguhnya Islam menjelaskan dengan terang akan perkara “semangat di atas ikatan keimanan di antara kaum muslimin”. Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu bersaudara, maka perbaikilah (damaikanlah) hubungan antara kedua saudaramu (yang berselisih), dan bertaqwalah kepada Allah agar kalian diberi rahmat“. (QS. Al-Hujurat: 10)

Dari sini berarti memutus hubungan (di antara kaum muslimin) adalah dosa besar di antara dosa-dosa besar yang ada. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dibukakan pintu-pintu surga pada hari senin dan kamis, maka diampuni setiap hamba yang muslim selama tidak berbuat syirik kepada Allah, kecuali seseorang yang terdapat kebencian pada saudaranya, lalu dikatakan: Perhatikanlah oleh kalian sampai mereka berdua berdamai. Perhatikanlah oleh kalian sampai mereka berdua berdamai.” (HR. Muslim).

Sesungguhnya seorang muslim yang muwahhid (bertauhid) lagi jujur ketauhidannya, tidak akan membenci dan hasad (dengki) kepada saudaranya. Jika saudaranya merasakan sakit, maka ia pun merasa hal yang sama. Bahkan ia pun akan merasakan bahagia jika saudaranya bahagia. Ia akan berusaha menjaga dirinya dari sekecil mungkin berbuat salah kepada saudaranya.

Dalam hadits dari ‘Aisyah radiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Yang paling dibenci oleh Allah adalah seseorang yang suka menentang lagi suka membantah.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Tiada lain yang dimaksud adalah orang yang menjerumuskan dirinya ke dalam dosa dengan permusuhan dan perdebatan.

Dan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian saling mencela (yaitu berbicara dengan perkataan jelek), saling bermusuhan, saling memata-matai, dan melakukan jual beli najsy (menawar harga tinggi untuk menipu pengunjung lainnya). Jadilah hamba Allah yang bersaudara.” (HR. Muslim).

Dari Abi Ayub Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah halal bagi seseorang mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari, jika bertemu maka (yang satu) berpaling ke sini dan (yang lain) menghindar ke sana. Sebaik-baik di antara keduanya adalah yang memulai mengucapkan salam.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dari Abu Khurasy As-Sulamiy radhiyallahu ‘anhu, sesungguhnya dia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang mendiamkan saudaranya selama 1 tahun, maka ia seakan-akan telah menumpahkan darahnya.” (HR. Abu Daud, dishahihkan oleh Al-Albani). Dalam hadits lain disebutkan, “Dan tidak ada kebaikan bagi orang yang tidak mau bersahabat dan bersaudara.” (HR. Ahmad. Al-Albani berkata bahwa hadits ini shahih sesuai syarat Muslim)

Manusia yang memiliki hati dan akal yang sehat lagi menginginkan kebaikan merupakan manusia yang mulia lagi terpuji. Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ (102) وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آَيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ (103)

“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa kepadaNya, dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim. Dan berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu berceraiberai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliyah) bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu sehingga dengan karuniaNya kamu menjadi bersaudara, sedangkan (pada saat itu) kamu berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu darinya.” (QS. Ali ‘Imran: 102-103)

فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَصْلِحُوا ذَاتَ بَيْنِكُمْ

“Maka bertaqwalah kepada Allah dan perbaikilah hubungan di antara sesamamu.” (QS. Al-Anfal: 1)

وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nuur: 22)

فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاصْفَحْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“Maka maafkanlah mereka dan biarkanlah mereka. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Maidah: 13)

وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ

“Dan janganlah kamu berselisih yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan kekuatanmu menjadi hilang.” (QS. Al-Anfal: 46)

وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ

“Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih setelah sampai kepada mereka keterangan yang jelas.” (QS. Ali ‘Imran: 105)

لَا خَيْرَ فِي كَثِيرٍ مِنْ نَجْوَاهُمْ إِلَّا مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلَاحٍ بَيْنَ النَّاسِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ مَرْضَاةِ اللَّهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا

“Tidak ada kebaikan dari banyak pembicaraan rahasia mereka, kecuali pembicaraan rahasia dari orang yang menyuruh (orang) bersedekah, atau berbuat kebaikan, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Barangsiapa berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami akan memberinya pahala yang besar.” (QS. An-Nisa’: 114)



Wahai saudaraku yang menginginkan perbaikan. Aku berikan kabar gembira berupa pahala yang besar lagi terpuji dari Allah Yang Maha Mulia. Asalkan engkau memperbaiki niatmu, mengikhlaskan amalmu kepada Allah Ta’ala semata, mengikuti petunjuk... Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat beliau radhiyallahu ‘anhum serta para salafush sholih. Diwajibkan atas kalian menjadi perantara dalam menyampaikan petunjuk dan perbaikan, serta mencintai kebaikan atas manusia, memerintahkan kepada yang ma’ruf, melarang dari perkara yang mungkar dengan cara yang baik dan dengan didasari ilmu (bashiroh). Melakukan hal-hal tadi dengan penuh kesabaran, kelembutan, serta berhati-hati dari sikap ekstrim dan terburu-buru. Kewajiban kita hanyalah menyampaikan saja, adapun hidayah serta perubahan dan perbaikan adalah di Tangan Allah ‘azza wa jalla.

Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

“Sesungguhnya kamu tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu cintai, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk kepada orang yang Dia kehendaki, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (QS. Al-Qashash: 56)

Kita harus ingat bahwa menentang dan memberontak para pemimpin adalah dosa besar di antara dosa-dosa besar yang ada. Sebagaimana yang telah disebutkan di atas menggambarkan dengan jelas tentang larangan saling bertikai.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَطَاعَنِى فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ ، وَمَنْ عَصَانِى فَقَدْ عَصَى اللَّهَ ، وَمَنْ أَطَاعَ أَمِيرِى فَقَدْ أَطَاعَنِى ، وَمَنْ عَصَى أَمِيرِى فَقَدْ عَصَانِى

“Barangsiapa yang mentaatiku maka dia telah mentaati Allah. Barangsiapa yang bermaksiat kepadaku maka ia telah bermaksiat kepada Allah. Barangsiapa yang mentaati pemimpin maka ia telah mentaatiku. Barangsiapa yang bermaksiat (enggan taat) kepada pemimpin maka ia telah bermaksiat kepadaku.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari ‘Auf bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ketahuilah, barangsiapa yang di bawah seorang pemimpin dan ia melihat padanya ada kemaksiatan kepada Allah, maka hendaklah ia membenci kemaksiatannya. Akan tetapi, janganlah (menjadikannya) melepaskan ketaatan kepada pemimpin tersebut.” (HR. Muslim)

Adapun semangat di atas sebab yang menghantarkan kepada persatuan dan saling memahami, maka balasannya di dunia dan di akhirat, dan Allah Ta’ala yang Maha Mengetahui.

Dari Ubaidah bin Shamit radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang beribadah kepada Allah dengan tidak menyekutukanNya dengan sesuatupun, mendirikan shalat, menunaikan zakat, mendengar dan taat kepada pemimpinnya, maka ia akan masuk surga dari pintu mana saja yang ia inginkan dari delapan pintu surga.” (HR. Ahmad, Ibnu Abi Ashim dan At-Thobroni)

Aku memohon kepada Allah Yang Maha Mulia dan Maha Penyayang agar memberi kepada kita semua petunjuk di atas jalan yang lurus. Semoga Allah memperbaiki niat, amal, perkataan, keyakinan, keadaan, dan akhlaq kita beserta keluarga, keturunan, cucu-cucu kita dengan penuh ampunan. Demikian juga saya memohon kepadaNya agar kita mendapatkan manfaat dan faedah dari apa yang telah kita dengar dan kita bicarakan (nasihat di atas), dan juga memberikan kita ilmu yang bermanfaat dan memberikan kita rasa saling memaafkan dengan penuh kelembutan, rasa persatuan, tolong menolong, saling bahu-membahu, dan rasa kebersamaan, dan juga menghindarkan kita dari kemarahan dan kebodohan.

Aku memohon kepada Allah Ta’ala agar menjaga ulama-ulama kita dan para pemimpin muslimin kita. Aamiiin.

Segala puji bagi Allah Ta’ala dan shalawat serta salam kepada nabi Muhammad yang tiada nabi sesudahnya, dan kepada keluarganya serta sahabatnya.

Maraji’: Nasihat singkat Syaikh Abdullah bin Abdirrahman Al-Jibrin rahimahullah.

Penerjemah: Abu Ahmad (Meilana Dharma Putra*) & Ummu Ahmad

Artikel www.muslim.or.id

* Beliau adalah lulusan Ma’had Al ‘Ilmi Yogyakarta dan sekarang sedang melanjutkan studi di King Saud University, Riyadh.

Sumber: http://muslim.or.id/manhaj/nasehat-syaikh-%E2%80%98abdullah-al-jibrin-menjaga-hubungan-dengan-pemimpin.html/comment-page-1#comment-60546

Sabtu, 25 September 2010

Sesungguhnya Alloh tidak melihat kepada rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat kepada hati dan amal kalian.

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِِ

DI MANA LETAK TAQWA..?

Telah datang dalil- dalil dari Al- Qur’an dan As- Sunnah bahwa takwa itu terletak di hati. Alloh Ta’ala berfirman,

“Demikianlah (perintah Alloh). Dan barangsiapa mengagungkan syari’at Alloh , maka sesungguhnya hal itu timbul dari ketakwaan hati”. (QS. Al- Hajj: 32)

Dari Abu Hurairoh Radhialloohu 'Anhu, ia berkata, “Rasululloh Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda,

“... Seorang muslim itu saudara muslim yang lainnya. Ia tidak boleh menzhaliminya, tidak boleh meremehkannya, dan tidak boleh mengejeknya. Takwa itu ada di sini- beliau berisyarat ke dadanya tiga kali-. Cukuplah dikatakan kejahatan bagi seseorang yang meremehkan saudaranya semuslim. Setiap muslim adalah haram atas muslim lainnya: Darahnya, Hartanya, dan Kehormatannya”.

Shahiih, HR. Ahmad (II/ 277) dan Muslim (No. 2564 (32)).

Dalam hadits Qudsi yang panjang, yang diriwayatkan oleh Shahabat Abu Dzarr Radhialloohu 'Anhu, di dalamnya disebutkan bahwa Alloh Ta’ala berfirman,

“..Wahai hamba- Ku! Seandainya orang yang pertama dan terakhir kalian, manusia dan jin dari kalangan kalian berada pada satu hati seseorang dari kalian yang paling bertakwa, maka hal itu tidak menambah sedikit pun atas Kerajaan- Ku..”

Shahiih, HR. Muslim (No. 2577)

Dari Abu Hurairoh Radhialloohu 'Anhu, ia berkata, “Rasululloh Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda,

“Sesungguhnya Alloh tidak melihat kepada rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat kepada hati dan amal kalian”.

Shahiih, HR. Muslim (No. 2564 (34)).

Tentang hadits Qudsi,

“..Wahai hamba- Ku! Seandainya orang yang pertama dan terakhir kalian, manusia dan jin dari kalangan kalian berada pada satu hati seseorang dari kalian yang paling bertakwa..”

al- Hafizh Ibnu Rajab Rahimahulloh mengatakan bahwa di dalamnya terdapat dalil bahwa yang menjadi asal (sumber) dari ketakwaan dan perbuatan fajir (maksiat) adalah hati. Apabila hati itu baik dan bertakwa maka baik pula anggota tubuhnya. Namun apabila hati itu berbuat durhaka maka anggota badannya pun ikut berbuat durhaka, sebagaimana sabda Nabi, “Takwa itu di sini”. (Lihat Jaami’ul Uluum wal Hikam (II/ 47)).

Kemudian Ibnu Rajab melanjutkan bahwa apabila asal takwa adalah di hati maka tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui hakikatnya selain Alloh Subhanahu Wa Ta’ala..”. (Lihat Jaami’ul Uluum wal Hikam (II/ 276)).

OLEH KARENA ITU, SEORANG MUSLIM WAJIB MEMPERBAIKI HATINYA, MENJAUHKANNYA DARI SEGALA APA YANG MEMBAHAYAKANNYA BERUPA SEBAB- SEBAB KEDURHAKAANNYA, SENANTIASA BERDZIKIR KEPADA ALLOH, BERSYUKUR KEPADA- NYA, TETAP TAAT KEPADA- NYA, DAN MEMOHON ...KETEGUHAN DI ATAS KEBENARAN KARENA SESUNGGUHNYA HATI ITU BERADA DI ANTARA JARI- JEMARI ALLOH YANG MAHA PENGASIH, DIA MEMBOLAK- BALIKKANNYA SESUAI DENGAN KEHENDAK- NYA.

TETAPI, MAKNA BAHWA TAKWA BERADA DI HATI ITU TIDAK BERARTI IA SENANTIASA TERSEMBUNYI DAN TIDAK MEMILIKI PENGARUH SAMA SEKALI TERHADAP ANGGOTA BADAN. BAHKAN IA AKAN NAMPAK PADA ANGGOTA BADAN, dalilnya adalah hadits an- Nu’man bin Basyir Radhialloohu 'Anhuma, Rasululloh Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda,

“...Ketahuilah bahwa di dalam jasad manusia terdapat segumpal daging. Jika ia baik maka baik pula seluruh jasadnya dan jika ia rusak maka rusak pula seluruh jasadnya. Ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati”.

Shahiih, HR. al- Bukhori (No. 52, 2051), Muslim (No. 1599 (107)), Ahmad (IV/ 267), Abu Dawud (No. 3329, 3330), at- Tirmidzi (No. 1205), an- Nasa-i (VII/ 241), dan Ibnu Majah (No. 3984).



DARI SINI KITA MENGETAHUI KESALAHAN DAN KESESATAN ORANG YANG MENYANGKA BAHWA TAKWA ITU TEMPATNYA DI HATI, TETAPI TIDAK MEMILIKI PENGARUH TERHADAP BADAN DAN ANGGOTA TUBUHNYA.

Di antara orang yang menganggap remeh dan bermalas- malasan dalam agamanya –semoga Alloh memberikan hidayah serta memperbaiki keadaan mereka- apabila perbuatan maksyiat yang nampak- yang mereka kerjakan berkaitan dengan badan dan wajah maupun selain keduanya, seperti berpakaian isbal (pakaian laki- laki yang melewati mata kaki), mencukur jenggot, atau wanita yang tidak berjilbab bahkan bersolek, ketika perbuatan itu diingkari niscaya mereka berkata kepadamu, “Takwa Itu Di Hati”, atau dengan ucapan, “Yang penting hatinya!”. Kita jawab: Benar, perkataan ini benar tetapi yang diinginkan adalah kebathilan. Perkataannya tersebut dapat kita bantah dari beberapa sisi:

Pertama, Sesungguhnya engkau telah melakukan perbuatan yang dilarang yang telah dijelaskan oleh dalil yang shahiih dan jelas.

Kedua, Sesungguhnya engkau telah menceburkan dirimu sendiri ke dalam ancaman Alloh yang sangat keras yang diancamkan oleh Rasululloh Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam.

Ketiga, bahwa hadits- hadits yang engkau bawakan adalah mujmal (global), dan telah ditafsirkan oleh hadits an- Nu’man bin Basyir yaitu sabda beliau,

“Ketahuilah bahwa di dalam jasad manusia terdapat segumpal daging. Jika ia baik maka baik pula seluruh jasadnya dan jika ia rusak maka rusak pula seluruh jasadnya. Ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati”. (Lihat al- Ma’aashii Wa Aatsaaruhaa ‘Alal Fard Wal Mujtama’ (hal. 241- 243) dengan sedikit diringkas dan ditambah).

Sumber: ‘TAKWA: Jalan Menuju Sukses Abadi “Surga Disediakan bagi Orang Bertakwa”. Hal 53- 58. Yazid bin Abdul Qadir Jawas. Pustaka at- Taqwa. Bogor.

Akhlak yang Baik.

Akhlak Yang Baik.

204/270. Dari Abu ad- Darda', dari Nabi Shallallaahu 'alaihi Wa Sallam bersabda,

"Tidak ada sesuatu yang lebih berat dalam timbangan daripada Akhlak yang Baik".

Shahiih, di dalam kitab ash- Shahiihah 876.


205/271. Dari Abdulloh Ibnu Amru berkata, "Rasululloh Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bukanlah orang yang keji dan bukan pula orang yang memerintahkan perbuatan keji, dan beliau pernah bersabda,

"Sebaik- baiknya di antara kamu adalah yang terbaik akhlaknya".

Shahiih, di dalam kitab ash- Shahiihah 286. (HR. Bukhori, 78- Kitab al- Adab, 39- Bab Husnul Khuluqi was-sakha'i wa ma yakrohu Minal- Bukhli. Muslim, 4- Kitab Fadho'il, 16- Katsratu- Hayatihi shallallaahu 'alaihi wa Sallam, Hadits 68).

206/272. Dari Amru Ibnu Syu'aib, dari bapaknya, dari kakeknya, bahwasanya dia mendengar Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda,

"Saya memberitahu kalian tentang hal yang paling saya cintai dan yang paling dekat di antara kalian tempatnya dengan saya pada hari Kiamat?" Lalu kaum (muslimin) terdiam, kemudian Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam mengulangi kalimat itu dua atau tiga kali, maka kaum (muslimin) berkata, 'betul, wahai Rasululloh!' Rasululloh menerangkan, "Mereka yang paling baik akhlaknya".

Shahiih, di dalam kitab ash- Shahiihah No. 792

207/273. Dari Abu Hurairoh radhiallohu 'anhu, bahwa Rasululloh shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda,

"Sesungguhnya saya diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik".

Shahiih, di dalam kitab ash- Shahiihah No. 45.




209/275. Dari Abdulloh Ibnu Mas'ud berkata,

"Sesungguhnya Alloh membagi akhlak di antara kalian sebagaimana Alloh membagi rezeki di antara kalian,

dan sesungguhnya Alloh Ta'ala memberi rezeki kepada orang yang dicintai dan orang yang tidak dicintai.

Alloh juga tidak memberikan iman kecuali kepada orang yang dicintai.

Barangsiapa yang menjaga hartanya, takut diperangi musuh dan takut menderita karena (angin) malam, maka hendaknya memperbanyak ucapan:

LAA ILAAHA ILLALLAAH (Tiada Tuhan (*yang berhak disembah) kecuali Alloh),

SUBHANALLAH (Maha Suci Alloh),

ALHAMDULILLAH (Segala Puji bagi Alloh),

dan ALLOOHU AKBAR (Alloh Maha Besar)".

Shahiih Mauquf dan hukumnya Marfu', di dalam kitab ash- Shahiihah No. 2714

217/284. Dari Abu Hurairoh radhiallohu 'anhu berkata, Rasululloh shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda,

"Sesungguhnya seorang yang berakhlak baik akan mencapai derajat orang yang sholat malam (Qiyamul Lail)".

Shahiih, di dalam kitab ash- Shahiihah No. 794- 795,. hadits ini diriwayatkan oleh 'Aisyah yang terdapat dalam riwayat Abu Dawud, 40- Kitab al- Adab, 7- Bab Fi Husnil- Khuluqi.

Sumber: Shahih Adabul Mufrad. Hal. 162-164, 169. Syaikh al- Albani. Pustaka Azzam. Jakarta.



Orang Yang Paling Dicintai Alloh dan Amal Yang Paling Dicintai Alloh

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِِ

Orang yang Paling Dicintai Alloh dan Amal yang Paling Dicintai Alloh.

Diriwayatkan dari Abdulloh Radhialloohu 'Anhu bahwa seorang lelaki datang menemui Rasululloh Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam dan berkata,

“Wahai Rasululloh, siapakah orang yang paling dicintai Alloh? Dan amal apakah yang paling dicintai Alloh?”

Maka Rasululloh Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam menjawab,

“ORANG YANG PALING DICINTAI ALLOH ADALAH ORANG YANG PALING BERMANFAAT BAGI ORANG LAIN.

AMAL YANG PALING DICINTAI ALLOH ADALAH KEGEMBIRAAN YANG DIBERIKANNYA KEPADA SEORANG MUSLIM,

ATAU MELEPASKANNYA DARI KESULITAN,

ATAU MELUNASKAN HUTANG- HUTANGNYA,

ATAU MEMBEBASKANNYA DARI RASA LAPAR.

SUNGGUH ANDAIKATA AKU (BERKESEMPATAN) UNTUK BERJALAN MENEMANI SESEORANG UNTUK MENUNAIKAN KEBUTUHANNYA LEBIH AKU SUKAI DARIPADA I’TIKAF DI MASJID INI (YAKNI MASJID AN- NABAWI) SELAMA SEBULAN.

BARANGSIAPA MENAHAN AMARAHNYA NISCAYA ALLOH AKAN MENUTUPI AIBNYA.

BARANGSIAPA MENGEKANG AMARAHNYA YANG IA MAMPU UNTUK MELAMPIASKANNYA NISCAYA ALLOH AKAN MEMENUHI HATINYA DENGAN PENGHARAPAN PADA HARI KIAMAT.

BARANGSIAPA BERJALAN MENEMANI SAUDARANYA UNTUK MENUNAIKAN KEBUTUHANNYA HINGGA SELESAI NISCAYA ALLOH AKAN MENEGUHKAN TAPAK KAKINYA PADA HARI TAPAK- TAPAK KAKI BANYAK YANG TERGELINCIR.

SESUNGGUHNYA AKHLAK YANG BURUK DAPAT MERUSAK AMAL, SEBAGAIMANA CUKA DAPAT MERUSAK MADU”.

Hasan, Diriwayatkan oleh: ath- Thabrani dalam al- Kabir No. III/209, dan XII/ 453, ath- Thabrani dalam ash- Shaghir No. II/ 35, Ibnu Asakir dalam Tarikh- nya No. XVIII/ 1, Ibnu Abid Dunya Dalam Qadhaaul Hawaaij No. 36, al- Mundziri dalam at- Targhiib No. III/ 394, asy- Syajari dalam al- Amali No. II/ 177 serta dicantumkan dalam Silsilah al- Ahaadiits ash- Shahiihah No. 906 oleh Syaikh al- Albani



Dalam Wasiat yang menyeru kepada setiap kebaikan bagi muslim dan muslimah ini, Rasululloh Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam mengisyaratkan kepada hamba dan amal yang paling dicintai Alloh. Wahai saudaraku para pembaca marilah bersama- sama kita... menyimak setiap kebaikan yang ada dalam wasiat yang sangat bermanfaat dan luas yang mengajak kepada perkara- perkara yang baik.

Apa yang dimaksud dalam sabda Nabi,

“Orang yang paling dicintai Alloh adalah orang yang paling bermanfaat bagi orang lain”.

Ketahuilah bahwa yang dimaksud dengan manfaat di sini bukan hanya dari sisi materi saja. Akan tetapi meliputi berbagai manfaat lainnya seperti nashihat yang baik, masukan yang berguna dan sejenisnya. Seluruh perkara yang engkau mampu memberikan manfaat kepada saudaramu sesama kaum muslimin maka berikanlah, Niscaya engkau termasuk dalam golongan orang- orang yang dicintai Alloh.

Adapun sabda Nabi, “Amal yang paling dicintai Alloh” :

Pertama, Kegembiraan yang engkau berikan kepada seorang muslim.
Kegembiraan di hati seorang muslim bisa terwujud dengan menanyakan keadaannya, bisa terwujud dengan mengunjunginya, bisa terwujud dengan yang lainnya, wajib bagi setiap muslim menjauhkan diri dari seluruh perkara yang bisa menyebabkan kesedihan atas hati saudaranya sesama muslim.

Kedua, Melepaskan seorang muslim dari kesulitan.
Kurbah, artinya kesulitan yang sangat yang membuat seseorang sedih, murung dan susah. Alloh telah menjanjikan melalui lisan Rasul- Nya bahwa Dia akan melepaskan kesulitan- kesulitan di hari Akhirat, siapa saja yang melepaskan kesulitan kaum muslimin di Dunia.
Betapa kita membutuhkannya wahai saudaraku para pembaca yang budiman.

Ketiga, Melunasi hutang- hutangnya.
Sesungguhnya Alloh telah memberi bagian tertentu dari harta zakat bagi orang- orang yang terlilit hutang dan Alloh telah menjadikan bagi mereka hak- hak tertentu dari harta orang- orang kaya. Al- Ghaarimin adalah orang- orang yang terlilit hutang yang harus dilunasinya. Kemudian mereka tidak mendapatkan sesuatu untuk melunasinya. Orang- orang yang berharta dituntut secara syar’i untuk melunasi hutang orang- orang yang terlilit hutang ini.



Keempat, Melepaskannya dari Rasa Lapar.
Melepaskan rasa lapar dari orang- orang yang kelaparan merupakan salah satu amal kebajikan. Alloh akan membalas pelakunya dengan Jannah yang tinggi. Buah- buahan Jannah sangat dekat untuk dipetik. DI dalamnya terdapat kenikmatan yang tidak pernah terlihat oleh mata, tidak pernah terdengar oleh telinga, dan tidak pernah terlintas dalam hati manusia.

Kelima, Berjalan menemani seseorang untuk menunaikan kebutuhannya lebih aku suakai daripada i’tikaf di masjid ini, yakni Masjid An- Nabawi selama sebulan penuh.

Ini merupakan isyarat keutamaan berjalan menemani kaum muslimin dalam menunaikan kebutuhan mereka yang tidak terdapat di dalamnya kemaksyiatan terhadap Alloh. Rasululloh Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam menjelaskan bahwa waktu yang digunakan oleh setiap muslim dalam membantu menunaikan kebutuhan saudaranya tidak akan terbuang sia- sia.

Kalaulah engkau memberikan sedikit dari waktumu untuk saudaramu sesama muslim, engkau membantunya dalam menunaikan keperluannya, niscaya Alloh akan memberikan yang lebih baik daripada yang engkau berikan kepada saudaramu itu dan lebih banyak lagi dari apa yang engkau usahakan untuknya. Siapa yang menolong kebutuhan saudaranya maka Alloh akan menolong kebutuhannya.

Keutamaan berjalan menemani saudaramu untuk menunaikan keperluannya, baik keperluan itu dalam bentuk harta, ilmu, etika, agama, atau dunia, maka sesungguhnya Alloh akan meneguhkan tapak kakimu pada hari tapak- tapak kaki manusia tergelincir.

Rasululloh Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam menutup wasiat ini dengan sabda beliau,

“Sesungguhnya akhlak yang buruk dapat merusak amal, sebagaimana cuka dapat merusak madu”.

Akhlak yang buruk dapat menggugurkan amal dan menghilangkan pahala, sebagaimana yang disabdakan Nabi dalam hadits, “Tahukah kamu siapa orang yang pailit?”

Oleh karena itu Wahai saudaraku para pembaca yang budiman, berusahalah melaksanakan wasiat yang universal dan bermanfaat untuk setiap kebaikan ini. Ketahuilah, setiap amal perbuatanmu akan diberi balasan, kelak engkau akan mendapati hasil perbuatanmu.

Tujuan kami semata hanyalah memperbaiki keadaanmu. Jika engkau orang yang sadar maka amalkanlah. Jika engkau orang yang tidur maka bangunlah dan dengarkanlah firman Alloh,

“Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu”. (QS. An- Nisaa’: 123).

Sumber: ’58 Wasiat Nabi Shallallaahu ‘alaihi Wa Sallam kepada setiap Muslim’ hal 161- 168. Syaikh Usamah Na’im Musthafa. Daar An- Naba’. Surakarta.

Kamis, 16 September 2010

Bila Jodoh Tak Kunjung Tiba..!

Bila Jodoh Tak Kunjung Tiba..!

Siang datang bukan untuk mengejar malam, malam tiba bukan untuk mengejar siang. Siang dan malam datang silih berganti dan takkan pernah kembali lagi. Menanti adalah hal yang paling membosankan, apalagi jika menanti sesuatu yang tidak pasti. Sementara waktu berjalan terus dan usia semakin bertambah, namun satu pertanyaan yang selalu mengganggu “Kapan aku menikah ??“.

Resah dan gelisah kian menghantui hari-harinya. Manakala usia telah melewati kepala tiga, sementara jodoh tak kunjung datang. Apalagi jika melihat disekitarnya, semua teman-teman seusianya, bahkan yang lebih mudah darinya telah naik ke pelaminan atau sudah memiliki keturunan. Baginya, ini suatu kenyataan yang menyakitkan sekaligus membingungkan. Menyakitkan tatkala masyarakat memberinya gelar sebagai “bujang lapuk” atau”perawan tua” , “tidak laku“.Membingungkan tatkala tidak ada yang mau peduli dan ambil pusing dengan masalah yang tengah dihadapinya.

Apalagi anggapan yang berkembang di kalangan wanita, bahwa semakin tua usia akan semakin sulit mendapatkan jodoh. Sehingga menambah keresahan dan mengikis rasa percaya diri. Sebagian wanita yang masih sendiri terkadang memilih mengurung diri dan hari-harinya dihabiskan dengan berandai-andai.

Ini adalah kenyataan yang tidak dapat dipungkiri sebab hal ini bisa saja terjadi pada saudari kita, keponakan, sepupu atau keluarga kita. Salah satu faktor yang menyebabkan hal ini, tingginya batas mahar dan uang nikah yang ditetapkan. Hal ini banyak terjadi dinegeri kita -khususnya di daerah sulawesi-. Telah banyak kisah para pemuda yang sudah ingin sekali menikah, mundur dari lamarannya hanya karena tidak mampu menghadapi mahar yang ditetapkan. Setan pun mendapatkan celah untuk menggelincirkan anak-anak Adam sehingga melakukan perkara-perkara terlarang mulai dari kawin lari sampai pada perbuatan-perbuatan yang hina (zina), bahkan sampai menghamili sebagai solusi dari semua ini. Padahal agama yang mulia ini telah menjelaskan bahwa jangankan zina, mendekati saja diharamkan,

“Dan janganlah kamu mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk.”. (QS. Al-Israa’:32 )

Al-Allamah Muhammad bin Ali Asy-Syaukaniy-rahimahullah- berkata, “Di dalam larangan dari mendekati zina dengan cara melakukan pengantar-pengantarnya terdapat larangan dari zina –secara utama-, karena sarana menuju sesuatu, jika ia haram, maka tujuan tentunya haram menurut konteks hadits”.[Lihat Fathul Qodir (3/319)]

Pembaca yang budiman, sesungguhnya islam adalah agama yang mudah; Allah I telah anugerahkan kepada manusia sebagai rahmat bagi mereka. Hal ini nampak jelas dari syari’at-syari’at dan aturan yang ada di dalamnya, dipenuhi dengan rahmat, kemurahan dan kemudahan. Allah I telah menegaskan di dalam kitab-Nya yang mulia,

“Thaahaa. Kami tidak menurunkan Al Quran Ini kepadamu agar kamu menjadi susah; Tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah)“. (QS.Thohaa :1-3)

Allah I berfirman

“Allah tidak menghendaki menyulitkan kalian, tetapi Dia hendak membersihkan kalian dan menyempurnakan nikmat-Nya bagi kalian, supaya kalian bersyukur.”(QS. : Al-Maidah: 6)

Namun sangat disayangkan kalau kemudahan ini, justru ditinggalkan. Malah mencari-cari sesuatu yang sukar dan susah sehingga memberikan dampak negatif dalam menghalangi kebanyakan orang untuk menikah, baik dari kalangan lelaki, maupun para wanita, dengan meninggikan harga uang pernikahan dan maharnya yang tak mampu dijangkau oleh orang yang datang melamar. Akhirnya seorang pria membujang selama bertahun-tahun lamanya, sebelum ia mendapatkan mahar yang dibebankan. Sehingga banyak menimbulkan berbagai macam kerusakan dan kejelekan, seperti menempuh jalan berpacaran. Padahal pacaran itu haram, karena ia adalah sarana menuju zina. Bahkan ada yang menempuh jalan yang lebih berbahaya, yaitu jalan zina !!

Di sisi yang lain, hal tersebut akan menjadikan pihak keluarga wanita menjadi kelompok materealistis dengan melihat sedikit banyaknya mahar atau uang nikah yang diberikan. Apabila maharnya melimpah ruah, maka merekapun menikahkannya dan mereka tidak melihat kepada akibatnya; orangnya jelek atau tidak yang penting mahar banyak !! Jika maharnya sedikit, merekapun menolak pernikahan, walaupun yang datang adalah seorang pria yang diridhoi agamanyadan akhlaknya serta memiliki kemampuan menghidupi istri dan anak-anaknya kelak. Padahal Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam-telah mamperingatkan,

إِذَا أَتَاكُمْ مَنْ تَرْضَوْنَ خُلُقَهُ وَدِيْنَهُ فَزَوِّجُوْهُ . إِلَّا تَفْعَلُوْا تَكُنْ فِتْنَةٌ فِيْ الْأَرْضِ وَفَسَادٌ عَرِيْضٌ

“Jika datang seorang lelaki yang melamar anak gadismu, yang engkau ridhoi agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah ia. Jika tidak, maka akan terjadi fitnah (musibah) dan kerusakan yang merata dimuka bumi “[HR.At-Tirmidziy dalam Kitab An-Nikah(1084 & 1085), dan Ibnu Majah dalam Kitab An-Nikah(1967). Di-hasan-kan oleh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (1022)]

Jadi, yang terpenting dalam agama kita adalah ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, bukan sekedar kekayaan dan kemewahan. Sebuah rumah yang berhiaskan ketaqwaan dan kesholehan dari sepasang suami istri adalah modal surgawi, yang akan melahirkan kebahagian, kedamaian, kemuliaan, dan ketentraman. Namun sangat disayangkan sekali, realita yang terjadi di masyarakat kita, jauh dari apa yang dituntunkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Hanya karena perasaan “malu” dan “gengsi” hingga rela mengorbankan ketaatan kepada Allah; tidak merasa cukup dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan dalam syari’at-Nya. Mereka melonjakkan biaya nikah, dan mahar yang tidak dianjurkan di dalam agama yang mudah ini. Akhirnya pernikahan seakan menjadi komoditi yang mahal, sehingga menjadi penghalang bagi para pemuda untuk menyambut seruan Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam-

يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ

“Wahai para pemuda! Barang siapa diantara kalian yang telah mampu, maka menikahlah, karena demikian (nikah) itu lebih menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan. Barang siapa yang belum mampu, maka berpuasalah, karena puasa akan menjadi perisai baginya“. [HR. Al-Bukhoriy (4778), dan Muslim (1400), Abu Dawud (2046), An-Nasa’iy (2246)]

Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- telah menganjurkan umatnya untuk mempermudah dan jangan mempersulit dalam menerima lamaran dengan sabdanya,

مِنْ يُمْنِ الْمَرْأَةِ تَسْهِيْلُ أَمْرِهَا وَقِلَّةُ صَدَاقِهَا

“Diantara berkahnya seorang wanita, memudahkan urusan (nikah)nya, dan sedikit maharnya“. [HR. Ahmad dalam Al-Musnad (24651), Al-Hakim dalam Al-Mustadrok (2739), Al-Baihaqiy dalam Al-Kubro (14135), Ibnu Hibban dalam Shohih-nya (4095), Al-Bazzar dalam Al-Musnad (3/158), Ath-Thobroniy dalam Ash-Shoghir (469). Di-hasan-kan Al-Albaniy dalam Shohih Al-Jami’ (2231)]

Oleh karena itu, pernah seseorang datang kepada Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- seraya berkata,”Sesungguhnya aku telah menikahi seorang wanita.” Beliau bersabda, “Engkau menikahinya dengan mahar berapa?” orang ini berkata:”empat awaq (yaitu seratus enam puluh dirham)”. Maka Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:

عَلَى أَرْبَعِ أَوَاقٍ ؟ كَأَنَّمَا تَنْحِتُوْنَ الْفِضَّةَ مِنْ عَرْضِ هَذَا الْجَبَلِ مَا عِنْدَنَا مَا نُعْطِيْكَ وَلَكِنْ عَسَى أَنْ نَبْعَثَكَ فِيْ بَعْثٍ تُصِيْبُ مِنْهُ

“Dengan empat awaq (160 dirham)? Seakan-akan engkau telah menggali perak dari sebagian gunung ini. Tidak ada pada kami sesuatu yang bisa kami berikan kepadamu. Tapi mudah-mudahan kami dapat mengutusmu dalam suatu utusan (penarik zakat) ; engkau bisa mendapatkan (empat awaq tersebut)“. [HR, Muslim(1424)].

Al-Imam Abu Zakariyya Yahya bin Syarof An-Nawawiy-rahimahullah- berkata tentang sabda Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- yang kami huruf tebalkan, “Makna ucapan ini, dibencinya memperbanyak mahar hubungannya dengan kondisi calon suami“.[Lihat Syarh Shohih Muslim (6/214)]

Perkara meninggikan mahar, dan mempersulit pemuda yang mau menikah, ini telah diingkari oleh Umar -radhiyallahu ‘anhu-. Umar -radhiyallahu ‘anhu- berkata,

أَلَا لَا تَغَالُوْا بِصُدُقِ النِّسَاءِ فَإِنَّهَا لَوْ كَانَتْ مَكْرَمَةً فِيْ الدُّنْيَا أَوْ تَقْوًى عِنْدَ اللهِ لَكَانَ أَوْلَاكُمْ بِهَا النََّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا أَصْدَقَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اِمْرَأَةً مِنْ نِسَائِهِ وَلَا أُصْدِقَتْ اِمْرَأَةٌ مِنْ بَنَاتِهِ أَكْثَرَ مِنْ ثِنْتَيْ عَشَرَ أُوْقِيَةٌ

“Ingatlah, jangan kalian berlebih-lebihan dalam memberikan mahar kepada wanita karena sesungguhnya jika hal itu adalah suatu kemuliaan di dunia dan ketaqwaan di akhirat, maka Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- adalah orang yang palimg berhak dari kalian. Tidak pernah Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- memberikan mahar kepada seorang wanitapun dari istri-istri beliau dan tidak pula diberi mahar seorang wanitapun dari putri-putri beliau lebih dari dua belas uqiyah (satu uqiyah sama dengan 40 dirham)” .[HR.Abu Dawud (2106), At-Tirmidzi(1114),Ibnu Majah(1887), Ahmad(I/40&48/no.285&340). Di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Takhrij Al-Misykah (3204)]

Pembaca yang budiman, pernikahan memang memerlukan materi, namun itu bukanlah segala-galanya, karena agungnya pernikahan tidak bisa dibandingkan dengan materi. Janganlah hanya karena materi, menjadi penghalang bagi saudara kita untuk meraih kebaikan dengan menikah. Yang jelas ia adalah seorang calon suami yang taat beragama, dan mampu menghidupi keluarganyanya kelak. Sebab pernikahan bertujuan menyelamatkan manusia dari perilaku yang keji (zina), dan mengembangkan keturunan yang menegakkan tauhid di atas muka bumi ini.

Oleh karena itu, Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- perkah bersabda,

ثَلَاثَةٌ كُلُّهُمْ حَقٌّ عَلَى اللهِ عَوْنُهُ الْغَازِيْ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ وَالْمُكَاتَبُ الَّذِيْ يُرِيْدُ الْأَدَاءَ وَالنَّاكِحُ الَّذِيْ يُرِيْدُ التَّعَفُّفَ

“Ada tiga orang yang wajib bagi Allah untuk menolongnya: Orang yang berperang di jalan Allah, budak yang ingin membebaskan dirinya, dan orang menikah yang ingin menjaga kesucian diri”. [HR. At-Tirmidziy (1655), An-Nasa’iy (3120 & 1655), Ibnu Majah (2518). Di-hasan-kan oleh Al-Albaniy dalam Takhrij Al-Misykah (3089)]

Orang tua yang bijaksana tidak akan tentram hatinya sebelum ia menikahkan anaknya yang telah cukup usia. Karena itu adalah tanggung-jawab orang tua demi menyelamatkan masa depan anaknya. Oleh karena itu, diperlukan kesadaran orang tua semua untuk saling tolong-menolong dalam hal kebaikan. Ingatlah sabda Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam-

إِنَّ الدِّيْنَ يُسْرٌ وَلَنْ يُشَادَّ الدِّيْنَ أَحَدٌ إِلَّا غَلَبَهُ

“Agama adalah mudah dan tidak seorangpun yang mempersulit dalam agama ini, kecuali ia akan terkalahkan“. [HR. Al-Bukhary (39), dan An-Nasa’iy(5034)]

Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- memerintahkan umatnya untuk menerapkan prinsip islam yang mulia ini dalam kehidupan mereka sebagaimana dalam sabda Beliau,

يَسِّرُوْا وَلَا تُعَسِّرُوْا وَبَشِّرُوْا وَلَا تُنَفِّرُوْا

“permudahlah dan jangan kalian mempersulit, berilah kabar gembira dan jangan kalian membuat orang lari“. [HR.Al-Bukhary(69& 6125), dan Muslim(1734)]

Syaikh Al-Utsaimin-rahimahullah- berkata, “Kalau sekiranya manusia mencukupkan dengan mahar yang kecil, mereka saling tolong menolong dalam hal mahar(yakni tidak mempersulit) dan masing-masing orang melaksanakan masalah ini, niscaya masyarakat akan mendapatkan kebaikan yang banyak, kemudahan yang lapang, serta penjagaan yang besar, baik kaum lelaki maupun wanitanya”.[Lihat Az-Zawaaj]

Sumber : Buletin Jum’at Al-Atsariyyah edisi 54 Tahun I. dikutip dari http://almakassari.com/, Judul asli : Jeritan Anak Muda

Sumber: http://www.facebook.com/note.php?note_id=470515311514&comments&ref=notif¬if_t=note_reply#!/notes/nivia-adriani/bila-jodoh-tak-kunjung-tiba-/470507076514