Selasa, 09 November 2010

“Mungkin saja saudaraku punya Alasan yang aku tidak mengetahuinya”

Alloh Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

“Hai orang- orang yang beriman, jauhilah banyak PRASANGKA, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa, dan janganlah kamu MENCARI- CARI KESALAHAN orang lain”. (QS. Al- Hujuraat: 12).

Dalam ayat yang mulia ini terdapat perintah untuk menjauhi sikap suka mengumbar prasangka, karena sebagiannya adalah dosa, dan larangan mencari- cari kesalahan orang lain, yaitu mengorek- ngorek tentang kesalahan orang lain. Hal itu terjadi adalah akibat dari berburuk sangka.

Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda,

“Hindarilah sikap suka mengumbar prasangka, karena sesungguhnya prasangka adalah perkataan yang paling dusta. Dan janganlah kalian berusaha untuk mendapatkan informasi tentang kejelekan dan mencari- cari kesalahan orang lain, jangan pula saling DENGKI, saling BENCI, saling MEMUSUHI, jadilah kaian hamba Alloh yang bersaudara”. (HR. al- Bukhori, No. 6064, dan Muslim, No. 2563).

Amirul Mu’minin ‘Umar bin al- Khaththab Radhialloohu 'Anhu berkata,

“Janganlah kamu berprasangka buruk terhadpa sebuah perkataan yang keluar dari mulut saudaramu yang beriman, berilah persangkaan yang BAIK. Terlebih lagi bila engkau dapat membawakannya ke arah yang baik”. (Disebutkan oleh Ibnu Katsir Rahimahulloh dalam tafsir surat Al- Hujuraat).

Bakr bin ‘Abdulloh al- Muzani Rahimahulloh berkata, sebagaimana yang terdapat dalam biografinya dalam kitab At- Tahdzibut Tahdziib,

“Hati- hatilah kamu terhadap perkataan, kalaupun kamu di pihak yang benar, kamu tidak diberi pahala. Dan jika kamu di pihak yang salah kamu memikul dosanya, yaitu BERBURUK SANGKA terhadap saudaramu”.

Abu Qilabah ‘Abdulloh bin Zaid al- Jurmi Rahimahulloh sebagaimana dalam kitab al- Hilyah karangan Abu Nu’aim (2/ 285) mengatakan,

“Bila sampai kepadamu sesuatu yang kamu benci dari saudaramu, maka BERUSAHALAH untuk MENCARIKAN ALASAN untuknya, jika kamu tidak menemukan alasan untuknya, maka katakanlah dalam haimu, “MUNGKIN SAJA SAUDARAKU PUNYA ALASAN YANG AKU TIDAK MENGETAHUINYA”.

Sufyan bin Husain Rahimahulloh berkata,

“Aku menyebut kejelekan seseorang di hadapan Iyas bin Mu’awiyah, maka ia menatap wajahku dan berkata, ‘Apakah engkau ikut berperang melawan Romawi?’, Aku jawab, “Tidak”, Ia bertanya lagi melawan Sind, India, dan Turki..? Aku jawab, “Tidak”, Ia berkata lagi, ‘Apakah orang- orang Romawi, Sind, India, dan Turki merasa aman darimu, namun saudaramu sesama Muslim tidak merasa aman darimu..?”.
Sufyan bin Husain Rahimahulloh berkata, “Aku tidak mengulanginya lagi sesudah itu”. (Silahkan lihat al= bidayah Wan Nihayah, karangan Ibnu Katsir Rahimahulloh, 13/ 121).

Alangkah bagusnya jawaban Iyas bin Mu’awiyah tersebut yang sangat terkenal dengan kecerdasannya. Jawaban di atas adalah salah satu bukti dari kecerdasannya.

Abu Hatim bin Hibban al- Busti Rahimahulloh berkata dalam Kitabnya Raudhatul ‘Uqala’ halaman 131,

“Orang yang punya akal, seharusnya terhindar dari sikap suka mencari- cari tentang kejelekan (aib) orang lain. Hendaklah ia sibuk memperbaiki kejelekannya diri sendiri. Sesungguhnya orang yang sibuk dengan kejelekannya sendiri dari pada mencari- cari kejelekan orang lain, badannya akan tenteram dan jiwanya akan tenang. Setiap kali ia melihat kejelekan dirinya akan terasa ringan dalam pandangannya ketika ia melihat kejelekan tersebut pada saudaranya. Sesungguhnya orang yang sibuk dengan kejelekan orang lain dari memperhatikan kejelekan dirinya, hatinya akan buta, badannya akan letih, dan akan sulit baginya untuk meninggalkan kejelekan dirinya sendiri”.

Ia (Ibnu Hibban) berkata lagi masih dalam kitab tersebut halaman 133,

“Mencari- cari kejelekan orang lain adalah salah satu cabang dari sifat kemunafikan. Sebagaimana halnya berbaik sangka adalah salah satu dari cabang keimanan, orang yang berakal sehat akan selalu berbaik sangka terhadap saudaranya, dan menyendiri dengan membawa kesusahan dan kesedihannya. Orang yang jahil akan selalu berburuk sangka dengan saudaranya dan tidak mau berpikir tentang kesalahan dan penderitaannya”.

Sumber: “Lembutnya Dakwah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah”. Hal. 45- 49. Syaikh Abdur Razzaq bin Abdul Muhsin al- ‘Abbad. Pustaka Darul Ilmi. Bogor.


Keutamaan Ilmu (Dien/ Syar’i) dan Penuntutnya.

Keutamaan Ilmu (Dien/ Syar’i) dan Penuntutnya.

Banyak terdapat ayat- ayat dalam kitab Alloh ‘Azza Wa Jalla yang menerangkan tentang kemuliaan Ilmu dan keutamaan penuntut Ilmu begitu juga dalam hadits- hadits Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam.

Alloh Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

“Alloh dan para Malaikat serta orang- orang Yang berilmu menyatakan bahwa tiada Ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia (Alloh)”. (QS. Ali Imran: 18). *Yaitu ketika Alloh Ta’ala menjadikan persaksian orang yang berilmu serangkai dengan persaksian Alloh ‘Azza Wa Jalla dan para Malaikat.

Alloh Subhanahu Wa Ta’ala juga berfirman,

“Katakanlah, “Apakah sama orang- orang yang mengetahui dengan orang- orang yang tidak mengetahui”. (QS. Az- Zumar: 9).

Alloh Subhanahu Wa Ta’ala juga berfirman,

“Alloh meninggikan derajat orang- orang yang beriman di antara kalian dan orang- orang yang berilmu dengan beberapa derajat”. (QS. Al- Mujadilah: 11).

Alloh ‘Azza Wa Jalla berfirman,

WA QUL ROBBI ZIDNII ‘ILMAA...
“Dan katakanlah, “Ya Rabb- ku tambahlah Ilmuku”.” (QS. Thoha: 114).

Adapun hadits- hadits yang menerangkan tentang keutamaan Ilmu dan Penuntutnya, di antaranya adalah Sabda Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam,

“Barangsiapa yang dikehendaki Alloh untuknya kebaikan, Alloh menjadikannya orang yang paham tentang Agama”. (Hadits ini diriwayatkan oleh al- Bukhori No. 71, dan Muslim No. 1037).

Hadits ini menunjukkan bahwa di antaranya tanda Alloh Ta’ala menghendaki kebaikan bagi seorang hamba adalah bahwa Alloh Ta’ala menjadikannya seorang yang paham tentang agama, karena dengan pemahamannya tentang agama ia akan beribadah kepada Alloh Ta’ala dengan hujjah yang nyata dan mendakwahi orang lain dengan hujjah yang nyata pula.

Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam juga bersabda,

“Sebaik- baik kamu adalah orang yang mempelajari Al- Qur’an dan mengajarkannya”. (Diriwayatkan oleh al- Bukhori, No. 5027).

Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam juga bersabda,

“Sesungguhnya Alloh mengangkat dengan kitab ini (Al- Qur’an) beberapa kaum dan merendahkan yang lainnya”. (Diriwayatkan oleh Muslim, No. 817).

Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam juga bersabda,

“Alloh menjanjikan kenikmatan untuk seseorang yang mendengar perkataanku, lalu ia menghafalnya dan menyampaikannya seperti yang ia dengar”.

Ini adalah hadits yang mutawatir yang diriwayatkan lebih dari dua puluh orang shahabat, aku (Syaikh Abdurrazzaq) telah menyebutkan riwayat- riwayat mereka dalam kitab “Dirasah Hadits Riwayah Wa Dirayah”.



Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam juga bersabda,

“Barangsiapa yang menempuh jalan untuk mencari Ilmu, niscaya Alloh memasukkannya kepada salah satu jalan dari jalan- jalan menuju Surga. Sesungguhnya Malaikat meletakkan sayapnya dengan penuh keridhoan untuk penuntut Ilmu. Sesungguhnya penghuni Langit dan Bumi sampai Ikan dalam air memohonkan ampun untuk seorang ‘Alim. Sesungguhnya keutamaan seorang ‘alim atas seorang ahli ibadah sepeerti keutamaan cahaya bulan purnama atas cahaya bintang- bintang. Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para Nabi. Sesungguhnya para Nabi tidak meninggalkan dinar dan dirham. Mereka mewariskan ilmu. Barangsiapa mengambilnya sesungguhnya ia telah mendapatkan warisan tersebut dengan bagian yang banyak”.

Hadits ini Diriwayatkan oleh Abu Dawud, No. 3628, dan lainnya, silahkan lihat takhrijnya dalah Shahih at- targhiib wat Tarhiib, No. 70 dan Ta’liq Musnad Imam Ahmad, No. 21715, Ibnu Rajab telah mensyarahnya dalam sebuah tulisannya. Potongan pertama dari hadits ini terdapat dalam Shahih Imam Muslim, No. 2699.

Para ulama berbeda pendapat, apa yang dimaksud dengan “Malaikat meletakkan sayap mereka” tersebut, ada yang berpendapat, “Malaikat meletakkan sayapnya sebagai hamparan tempat berjalan bagi penuntut ilmu”, ada yang berpendapat, “Mereka bertawadhu’ di hadapan penuntut Ilmu|”, ada yang berpendapat, “Mereka berhenti dari melakukan perjalanan ketika menemukan majelis penuntut Ilmu”, ada yang berpendapat, “Mereka menaungi para penuntut Ilmu dengan sayap mereka”.

Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam juga bersabda,

“Apabila seorang manusia meninggal terputus darinya segala amalannya, kecuali tiga perkara, yaitu Shodaqoh Jariyah, atau Ilmu yang bermanfaat, atau anak yang Shaleh yang mendo’akannya”. (Hadits ini diriwayatkan oleh imam Muslim, No. 1631).

Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam juga bersabda,

“Barangsiapa yang mengajak kepada petunjuk, ia akan mendapatkan pahala sebanyak pahala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi sedikitpun dari pahala mereka. Barangsiapa yang mengajak kepada kesesatan ia akan menanggung dosa sebanyak dosa orang yang mengikutinya tanpa mengurangi sedikitpun dari dosa mereka”. (Diriwayatkan oleh Muslim, No. 2674).

Semoga Alloh mengumpulkan kita semua di atas kebenaran dan petunjuk, dan menyelamatkan kita semua dari berbagai fitnah baik yang nyata maupun yang tersembunyi. Sesungguhnya Alloh Maha Penolong di atas segalanya dan Maha Kuasa atasnya. Wallohu A’lamu.

Sumber: Sumber: “Lembutnya Dakwah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah”. Hal. 100- 111. Syaikh Abdur Razzaq bin Abdul Muhsin al- ‘Abbad. Pustaka Darul Ilmi. Bogor.


Senin, 08 November 2010

Sesungguhnya Besarnya ganjaran/ pahala tergantung pada besarnya cobaan.

Sesungguhnya Besarnya ganjaran/ pahala tergantung pada besarnya cobaan.

At- Tirmidzi dan Ibnu Majah meriwayatkan dari Shahabat Anas bin Malik Radhialloohu 'Anhu, Dia mengatakan bahwa Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda,


“Sesungguhnya besarnya ganjaran/ pahala tergantung pada besarnya cobaan. Dan sesungguhnya jika Alloh mencintai sebuah kaum, maka Dia menguji mereka. Barangsiapa ridho maka baginya ridho- Nya, dan barangsiapa marah, maka baginya kemurkaan- Nya”. (Shahiih al- Jami’ish Shaghiir No. 2110).


Ketika terjadi cobaan, maka seorang muslim wajib beristirja’ (mengucap, ‘Innaa Lillaahi Wa Innaa Ilaihi Rooji’uun) dan memuji Alloh karena Dia tidak memberinya ujian yang lebih berat. Hendaklah ia ingat bahwa jika ia bersabar, maka segala musibah yang menimpanya adalah PENGHAPUS DOSA dan MENGANGKAT DERAJAT nya. Alloh Ta’ala berfirman,


“Dan apa saja yang menimpamu maka hal itu disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Alloh memaafkan sebagian besar (dari kesalahan- kesalahanmu)”. (QS. Asy- Syuuraa: 30).

Yang juga ia harus camkan adalah bahwa menghadapinya dengan kemurkaan tidak akan pernah mendatangkan manfaat baginya, bahkan malah mengundang murka Alloh. Sedangkan bila ia menghadapi ujian dan cobaan tadi dengan penuh kesabaran, niscaya ia akan mendapat pahala dan Alloh akan menggantinya dengan yang lebih baik daripada apa yang hilang atau luput darinya yang sebelumnya ia perkirakan akan membawa maslahat baginya. Hendaknya ia juga mengingat firman Alloh Ta’ala,



“Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu, Alloh mengetahui sedang kamu tidak mengetahui”. (QS. Al- Baqoroh: 216).

Begitu pula dengan sabda Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam,


"Sungguh mengagumkan perkara orang mukmin, Sesungguhnya semua perkaranya adalah mengagumkan. Tidaklah perkara itu ada pada seseorang melainkan hanya pada orang mukmin saja. Jika ia mendapat kebahagiaan, dia bersyukur, maka itu adalah kebaikan baginya. Dan jika ia mendapatkan musibah, dia bersabar, maka itu adalah kebaikan baginya”. (HR. Muslim dan yang lain, Shahiih al- Jami’ush Shaghiir, No. 3980).



Imam Muslim dalam Kitab Shahiih- nya meriwayatkan dari Ummu Salamah Radhialloohu 'Anha, Ia berkata, “Aku pernah mendengar Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda,



“Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu musibah kemudian ia mengucapkan untaian do’a yang telah diperintahkan oleh Alloh, “ALLOOHUMMA-JURNII FII MUSHIIBATII WA AKHLIFLII KHOIRON MINHAA”

Sesungguhnya kami adalah milik Alloh dan sesungguhnya kepada- Nya lah kami akan kembali, Ya Alloh, berilah hamba pahala atas mushibah yang menimpaku, dan berilah hamba ganti yang lebih baik daripadanya”, Melainkan Alloh memberinya ganti yang lebih baik daripadanya”. (Shahiih Muslim, Syarh an-Nawawi (VI/ 474)).

Sumber: ‘Ensiklopedi Larangan: hal. 161- 164. Muhammad Basyir ath- Thahlawi. Media Tarbiyah.



Jumat, 05 November 2010

Larangan Taqlid dan Wajibnya Ittiba'

Larangan Taqlid dan Wajibnya Ittiba' :
Para Imam Melarang Taqlid dan Mewajibkan Ittiba’

Ittiba’ adalah menempuh jalan orang yang (Wajib) diikuti dan melakukan apa yang dia lakukan. (I’lamul Muwaqqi’in, 2/171). Seorang muslim wajib ittiba’ kepada Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam dengan menempuh jalan yang beliau tempuh dan melakukan apa yang beliau lakukan. Adapun Taklid adalah mengikuti perkataan yang tidak ada hujjahnya sebagaimana dikatakan oleh al- Imam Abu Abdillah bin Khuwaiz Mindad (Jami’ Bayanil Ilmi Wa Ahlihi, 2/ 993, I’lamul Muwaqqi’in, 2/ 178). Ada juga yang mengatakan taklid adalah mengikuti perkataan oranglain tanpa mengetahui dalilnya. (Mudzakkiroh Ushul Fiqh, hal. 314).

Di antara hal lain yang menunjukkan perbedaan yang mendasar antara taklid dan ittiba’ adalah larangan para imam dari taklid dan perintah mereka kepada para pengikutnya agar selalu ittiba’.

Al- Imam Abu Hanifah Rahimahulloh berkata, “Tidak halal atas seorang pun mengambil perkataan kami selama dia tidak tahu dari mana kami mengambilnya”. Dalam riwayat lain beliau berkata, “Orang yang tidak tahu dalilku, haram atasnya berfatwa dengan perkataanku”. (Dinukil oleh Ibnu Abidin dalam Hasyiyah nya atas Bahru Raiq, 6/ 293, dan Sya’rony dalam al- Mizan, 1/ 55).

Al- Imam Malik Rahimahulloh berkata, “Sesungguhnya aku adalah manusia yang bisa benar dan (bisa) keliru. Lihatlah pendapatku, setiap yang sesuai dengan Kitab dan Sunnah maka ambillah, dan setiap yang tidak sesuai dengan Kitab dan Sunnah maka tinggalkanlah”. (Diriwayatkan oleh Ibnu Abdil Barr dalam al- Jami’, 2/ 32).

Al- Imam asy- Syafi’i Rahimahulloh berkata, “Jika kalian menjumpai Sunnah Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam ittiba’ lah kepadanya, janganlah kalian menoleh kepada perkataan siapapun”. (Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliya’, 9/ 107 dengan sanad yang shahih).

Beliau juga berkata, “Setiap yang aku katakan, kemudian ada hadits Shahih yang menyelisihinya, maka hadits Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam lebih utama untuk diikuti, janganlah kalian taklid kepadaku. (Diriwayatkan oleh Abu Hatim dalam Adab Syafi’i hal. 93 dengan sanad Shahih).

Al- Imam Ahmad Rahimahulloh berkata, “Janganlah engkau taklid dalam agamamu kepada seorangpun dari mereka, apa yang datang dari Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam dan para Shahabatnya ambillah”. Beliau juga berkata, “Ittiba’ adalah jika seseorang mengikuti apa yang datang dari Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam dan para Shahabatnya”. (Masail al- Imam Ahmad, oleh Abu Dawud hal. 276- 277).


Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda,

“Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan- Nya seandainya Musa ‘Alaihis Salam hidup maka tidak boleh baginya kecuali mengikutiku”. (Dikeluarkan oleh Abdurrazzaq dalam Mushannafnya, 6/ 113, Ibnu ...Abi Syaibah dalam Mushannafnya, 9/ 47, Ahmad dalam Mushannafnya, 3/ 387, dan Ibnu Abdil Barr dalam Jami’ Bayan Ilmi, 2/ 805, Syaikh al- Albani berkata dalam Irwa’ul Ghalil, 6/ 34: Hadits hasan).

Syaikh al- Albani rahimahulloh berkata, “Jika saja Musa Kalimulloh tidak boleh Ittiba’ kecuali kepada Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam bagaimana dengan yang lainnya..? Hadits ini merupakan dalil yang qoth’i atas wajibnya mengesakan Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam dalam hal Ittiba’, dan ini merupakan keharusn Syahadat MUHAMMADAN RASUULULLOOH. Karena itulah Alloh sebutkan dalam QS. Ali Imran: 31, “Katakanlah: “Jika kamu (benar- benar) mencintai Alloh, ikutilah aku, niscaya Alloh mengasihi dan mengampuni dosa- dosamu”. Alloh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. Bahwa Ittiba’ kepada Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam bukan kepada yang lainnya, adalah dalil Kecintaan Alloh kepadanya. (Muqaddimah Bidayatussul Fii Tafdhili Rosul, hal 5-6).

Al- Imam asy- Syafi’i Rahimahulloh berkata, “Aku tidak pernah mendebat seorang pun kecuali aku katakan, “Ya Alloh jalankan kebenaran pada hati dan lisannya, jika kebenaran bersamaku maka dia ittiba’ kepadaku, dan jika kebenaran bersamanya, maka aku ittiba’ kepadanya”. (Qowa’idul Ahkam Fii Mashalihil Anam, oleh al- ‘Izz bin Abdussalam, 2/ 136).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahulloh berkata, “Barangsiapa yang ta’ashub kepada seseorang dia kedudukannya seperti orang- orang Rofidhoh yang ta’ashub kepada salah seorang shahabat, dan seperti orang- orang Khowarij. Ini adalah jalan ahli bid’ah dan ahwa’ yang mereka keluar dari syari’at dengan kesepakatan umat dan dan menurut Kitab dan Sunnah..yang wajib kepada semua makhluk adalah ITTIBA’ KEPADA SEORANG YANG MA’SHUM (yaitu Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam ) yang mengucap bukan dari hawa nafsunya, yang dia ucapkan adalah wahyu yang diturunkan kepadanya”. (Mukhtashar Fatawa Mishriyyah, hal. 46- 47, Lihat Kitab al- Iqna’ Bima Ja’a A’immati Da’wah Minal –Aqwal Fil Ittiba’ oleh Syaikh Muhammad bin Hadi al- Madkholi).

Al- Imam Ibnu Abil ‘Iz al- Hanafi Rahimahulloh berkata, “UMAT INI TELAH SEPAKAT BAHWA TIDAK WAJIB TAAT KEPADA SEORANGPUN DALAM SEGALA SESUATU KECUALI KEPADA RASULULLOH SHALLALLAAHU 'ALAIHI WA SALLAM... maka barangsiapa yang ta’ashub (fanatik) kepada salah seorang imam dan mengesampingkan yang lainnya maka seperti orang yang ta’ashub kepada seorang Shahabat dan mengesampingkan yang lainnya, seperti orang- orang Rafidhah yang ta’ashub kepada ‘Ali Radhialloohu 'Anhu dan mengesampingkan tiga khalifah yang lainnya. Ini adalah jalannya Ahlul Hawa’. (al- Ittiba’ cetakan ke.2, hal. 80).

Sumber: ‘Sudah Benarkah Sholat Kita: Bab ‘ Antara Taklid dan Ittiba’”. Hal. 8- 13. Arif Fathul Ulum bin Ahmad Saifullah. Majelis Ilmu Publisher. Gresik.

Keutamaan Sholat- Sholat Sunnah.

Keutamaan Sholat- Sholat Sunnah.

Dari Abu Hurairoh Radhialloohu 'Anhu dia berkata, Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda,

“Sesungguhnya yang pertama kali dihisab dari manusia pada hari Kiamat dari amalan- amalan mereka adalah Sholat. Beliau Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda, “Rabb kami ‘Azza Wa Jalla berfirman kepada para Malaikat –dalam keadaan dia paling tahu-

“LIHATLAH KEPADA SHOLATNYA HAMBA- KU APAKAH SEMPURNA ATAU KURANG, JIKA SEMPURNA MAKA TULISLAH KESEMPURNAAN PADA AMALAN- AMALANNYA”. Dan jika kurang maka Alloh berfirman, “LIHATLAH APAKAH HAMBA- KU MEMILIKI AMALAN- AMALAN SUNNAH” jika ia memiliki amalan- amalan Sunnah maka Alloh berfirman,

“SEMPURNAKAN BAGI HAMBA- KU AMALAN- AMALAN WAJIBNYA DARI AMALAN- AMALAN SUNNAHNYA KEMUDIAN AMBILLAH AMALAN- AMALAN ATAS (KAIFIYAT) INI”.

Diriwayatkan oleh Abu Dawud di dalam Sunan nya 1/ 229, Ibnu Majah dalam Sunan nya 1/ 458, Nasa-i dalam Sunan nya 1/ 323, dan Tirmidzi dalam Jami’ nya 2/ 269, dan dishahihkan oleh Syaikh al- Albani dalam Shahiihul Jaami’ No. 2020.

Sholat- sholat sunnah memiliki banyak hikmah- hikmah dan keutamaan- keutamaan yang agung di antaranya,

1. Alloh akan membangunkan rumah bagi pelakunya di Surga sebagaimana hadits Ummu Habibah Radhialloohu 'Anha bahwasanya Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda,

“Tidak ada seorang hamba muslim yang sholat untuk Alloh di setiap harinya 12 rokaat yang sunnah melainkan Alloh akan membangunkan baginya rumah di Surga”. (HR. Muslim).

2. Alloh mengharamkan Neraka atas pelakunya sebagaimana dalam hadits Ummu Habibah Radhialloohu 'Anha bahwasanya Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda,

“Barangsiapa yang selalu mengamalkan empat roka’at sebelum Dzuhur dan empat roka’at sesudahnya maka Alloh mengharamkan Neraka atasnya”. (Hadits Riwayat Ahmad, Abu Dawud, Nasa-i, dan Tirmidzi, dan dishahihkan oleh Syaikh al- Albani dalam Shahih Targhib 1/ 310).

3. Dua roka’at sebelum Shubuh lebih baik daripada dunia dan seisinya sebagaimana dalam hadits ‘Aisyah Radhialloohu 'Anha bahwasanya Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda,

“Dua rokaat Fajar lebih baik daripada Dunia dan Seisinya”. (Hadits Riwayat Muslim).

4. Menjadi sebab turunnya Rahmat Alloh ‘Azza Wa Jalla sebagaimana dalam hadits Ibnu Umar Radhialloohu 'Anhuma bahwa Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda,

“Semoga Alloh merahmati orang yang sholat empat roka’at sebelum Sholat Ashar”. (Hadits Riwayat Ahmad, Abu Dawud, dan Tirmidzi dan dishahihkan oleh Syaikh al- Albani dalam Shahih Targhib: 1/312).


5. Alloh memuji dalam Kitab- Nya orang- orang yang sholat sunnah antara Maghrib dan ‘Isya sebagaimana dalam hadits Anas bahwasanya firman Alloh Ta’ala,

“Lambung mereka jauh dari tempat tidur mereka”. (QS. As- Sajdah [32]: 16) turun pada sholat antara Maghrib dan ‘Isya (Hadits Riwayat Abu Dawud, dan Tirmidzi dan dishahihkan oleh Syaikh al- Albani dalam Shahih Targhib 1/ 313).

6. Sholat Witir di akhir malam disaksikan oleh para Malaikat sebagaimana dalam hadits Jabir bahwasanya Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda,

“Sesungguhnya sholat di akhir malam disaksikan (oleh para Malaikat)” (Hadits Riwayat Muslim).

7. Alloh memberikan sebuah kamar di Surga yang nampak dalamnya dari luarnya, dan nampak luarnya dari dalamnya bagi orang yang Sholat Malam sebagaimana dalam hadits Abu Malik al- Asy’ari bahwasanya Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda,

“Di Surga ada sebuah kamar yang nampak dalamnya dari luarnya dan nampak luarnya dari dalamnya”. Abu malik berkata, “Bagi siapa kamar itu Wahai Rasululloh..?” Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda,
“Bagi orang yang BAIK UCAPANNYA, MEMBERI MAKAN, dan SHOLAT MALAM KETIKA MANUSIA SEDANG TIDUR”. (Hadits Riwayat Ibnu Hibban dan dishahihkan oleh Syaikh al- Albani dalam Shahih Targhib 1/ 326).

8. Sholat malam adalah penghapus kejelekan- kejelekan sebagaimana dalam hadits Abu Umamah bahwasanya Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda,

“Hendaknya kalian melakukan sholat malam karena dia adalah kebiasaan orang- orangsholih sebelum kalian, kurbah (untuk mendekatkan diri) kepada Rabb kalian, penghapus kejelekan- kejelekan, dan menjauhkan dari dosa”. (Hadits Riwayat Tirmidzi dan dihasankan oleh Syaikh al- Albani dalam Shahih Targhib 1/ 328).

Sumber: ‘Sudah Benarkah Sholat Kita”. Hal. 117- 120. Arif Fathul Ulum bin Ahmad Saifullah. Majelis Ilmu Publisher. Gresik.

Rabu, 03 November 2010

MANA YANG LEBIH BAIK, KAMBING ATAUKAH SAPI..?

MANA YANG LEBIH BAIK, KAMBING ATAUKAH SAPI..? [Fataawaa al- Lajnatid Daaimah Lil Buhuutsil Ilmiyah Wal Iftaa’, 11/ 398]

Soal: Mana yang lebih baik untuk berkurban, Kambing ataukah Sapi..?
Jawab: Hewan kurban terbaik pertama adalah UNTA, kemudian kedua SAPI lalu ketiga KAMBING dan setelah itu yang keempat berserikat pada unta atau SAPI (maksudnya beberapa orang- maksimal tujuh orang- iuran untuk membeli unta atau Sapi untuk dikurbankan.Red). Berdasarkan sabda Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam tentang hari Jum’at:

“Barangsiapa yang berangkat (Sholat Jum’at) pada jam pertama, maka seakan- akan dia mengurbankan UNTA, barangsiapa yang berangkat pada jam kedua, maka seakan- akan dia berkurban dengan SAPI, barangsiapa berangkat pada jam ketiga, maka seakan- akan dia berkurban dengan KAMBING JANTAN, barangsiapa yang berangkat pada jam keempat, maka seakan- akan dia berkurban dengan AYAM, barangsiapa yang berangkat pada jam kelima, maka seakan- akan dia berkurban dengan TELUR”.

Dikeluarkan oleh Imam Malik dalam al- Muwattha’, 1/ 101; Imam Ahmad, 2/ 460; Imam Bukhori No. 881; Imam Muslim No. 850; Abu Dawud No. 351; Imam Tirmidzi No. 499, Imam Nasa’i 3/ 99, Kitaabul Jum’ah bab Waktil Jum’ah; Ibnu Hibban No. 2775, dan al- Baghawi dalam Syarhus Sunnah 4/ 234, no. 1063.

Sisi pendalilannya yaitu ada perbedaan nilai antara beribadah kepada Alloh Subhanahu Wa Ta’ala denganmengurbankan unta, sapi, dan kambing. Tidak diragukan lagi bahwa ibadah kurban termasuk ibadah yang agung kepada Alloh Ta’ala, penyebab lainna (kenapa UNTA lebih utama), karena unta itu lebih MAHAL, lebih BANYAK DAGING nya, dan lebih BANYAK MANFAAT nya. Inilah pendapat tiga Imam Yaitu Imam Abu Hanifah Rahimahulloh, Imam asy- Syafi’i Rahimahulloh, dan Imam Ahmad Rahimahulloh




Imam Malik Rahimahulloh mengatakan, “Hewan terbaik (untuk berkurban) adalah Kambing, kemudian Sapi lalu Unta. Karena Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam berkurban dengan dua kambing dan beliau Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam tidak melakukan sesuatu kecuali yang baik”.

Menjawab pendapat ini, kami mengatakan, “Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam terkadang tidak memilih yang terbaik. Karena RASA SAYANG beliau Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam kepada umatnya, sebab umat beliau Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam akan mengikuti perbuatan beliau Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam dan beliau Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam tidak ingin memberatkan umatnya. Juga beliau Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam sudah menjelaskan keunggulan unta dibandingkan Sapi dan Kambing sebagaimana hadits di atas. Walloohu a’lamu.

Al- Lajnatud Daaimah Lil Buhuutsil Ilmiyah Wal Iftaa’. Ketua: Syaikh Abdul Aziz bin Abdulloh bin Baaz. Wakil Ketua: Syaikh Abdurrazzaq Afifi, Anggota: Syaikh Abdulloh Ghaydan dan Syaikh Abdulloh Mani’.
Sumber: “Majalah As- Sunnah” Rubrik Soal- Jawab. Hal. 49-50. Edisi 06/thn.XIV. DzulQa’dah.1431H. Oktober 2010M.

Menangis di Kuburan. (Bolehkah..?)


Menangis di Kuburan. (Bolehkah..?)

Soal: Assalamu’alaikum. Saya ingin bertanya tentang hadits pada edisi bulan April tentang hadits bahwa Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam menziarahi kubur ibunya lalu menangis, dan beliau Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda, “Aku meminta izin kepada Rabb- ku untuk memohonkan ampun bagi ibuku, tetapi aku tidak diberi izin. Maka hendaknya kamu berziarah kubur, karena ziarah kubur itu bisa mengingatkan kepada kematian”. Apakah perempuan boleh menangis pada waktu berziarah kubur..?

Menurut pengertian saya, bila berziarah kubur kita tidak boleh memohonkan ampun atau mendo’akan. Dan Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam mengajarkan untuk berziarah kubur untuk mengingat kematian. Apakah pengertian saya benar..? Terima kasih. Wassalamu’alaikum. (+628386282xxxxx).

Jawab: Dalam pertanyaan ini ada dua permasalahan,

Pertama, tentang hukum menangis bagi wanita saat ziarah kubur..?
Kedua, tentang kebenaran pemahaman penanya.

Untuk itu kami akan menjawab pertanyaan yang pertama terlebih dahulu. Berdasarkan zhahir hadits di atas, perempuan boleh menangis pada waktu berziarah kubur sebagaimana laki- laki, karena pada asalnya hukum yang dibolehkan bagi laki- laki juga dibolehkan bagi perempuan, kecuali ada dalil yang mengkhususkannya.

AKAN TETAPI TANGISAN ITU TIDAK BOLEH SAMPAI NIYAAHAH.
Yang dimaksud NIYAAHAH (meratap) adalah menangisi mayit dengan disertai menghitung- hitung kebaikan- kebaikannya. Ada juga yang mengatakan, maksudnya adalah MENANGIS DENGAN SUARA. (Tuhfatul Ahwadzi Syarh Sunan Tirmidzi).

Dan meratap in isering disertai dengan perkara yang lebih dari menangis, seperti berteriak- teriak, menampar wajah, merobek baju, dan lainnya.

Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam telah melarang Niyaahah sebagaimana dalam hadits di bawah ini:

Dari Abu Malik al- Asy’ari bahwa Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda, “Ada empat perkara pada umatku yang termasuk perkara jahiliyyah yang tidak mereka tinggalkan, MEMBANGGAKAN KEMULIAAN ORANG TUA/ NENEK MOYANG, MENCELA NASAB, ISTISQA’ (MEMINTA HUJAN) DENGAN BINTANG, DAN MERATAP”. Dan beliau Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda, “WANITA YANG MERATAP, JIKA TIDAK BERTAUBAT SEBELUM MATINYA, MAKA DIA AKAN DIBANGKITKAN PADA HARI KIAMAT DENGAN MEMAKI PAKAIAN ASPAL DAN GAUN KUDIS”. (HR. Muslim, No. 934).


Adapun hadits yang menjelaskan bahwa Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam menegur wanita yang menangis di kuburan, sebagaimana riwayat sebagai berikut:

Dari Anas bin Malik Radhialloohu 'Anhu, dia berkata, “Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam melewati seorang wanita di dekat sebuah kuburan, dan dia sedang menangis, maka beliau bersabda, “BERTAKWALAH KEPADA ALLOH dan SABARLAH (Wahai Wanita)!”. (HR. Bukhori, No. 1252).



Tentang hadits ini, imam al- Qurthubi Rahimahulloh menjelaskan,

“Yang Zhahir bahwa dalam tangisan wanita itu ada sesuatu yang lebih dari sekedar tangisan biasa, seperti Niyaahah atau semacamnya. Oleh karena itu, beliau Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam memerintahkannya agar bertakwa”.

Penjelasan imam al- Qurthubi Rahimahulloh ini dikuatkan oleh al- Hafizh Ibnu Hajar al- ‘Asqalani Rahimahulloh dalam Fat-hul Baari. (Fat-hul Baari, Syarah hadits No. 1283).

Demikian jawaban kami untuk pertanyaan yang pertama. Sedangkan untuk pertanyaan yang kedua, kami katakan bahwa pengertian anda tidak benar, karena Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam mengajarkan berziarah kubur bukan hanya untuk mengingat kematian, namun juga UNTUK MENDO’AKAN dan MEMOHONKAN AMPUN BAGI KAUM MUSLIMIN YANG SUDAH MENINGGAL., Sebagaimana hadits di bawah ini,

Dari ‘Aisyah Radhialloohu 'Anha, bahwa Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam biasa keluar menuju (pekuburan) Baqi’, lalu beliau mendo’akan kebaikan untuk mereka. ‘Aisyah pernah bertanya tentang hal itu, lalu beliau Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam menjawab, “SESUNGGUHNYA AKU DIPERINTAHKAN UNTUK MENDO’AKAN KEBAIKAN BAGI MEREKA”.

(HR. Ahmad. Hadits ini dinyatakan shahih oleh Syaikh al- Albani Rahimahulloh dalam Ahkaamul Janaaiz).

Adapun mayit orang- orang KAFIR maka TIDAK BOLEH DIMINTAKAN AMPUN. Alloh berfirman,

“Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang- orang yang beriman memintakan ampun (kepada Alloh) bagi orang- orang musyrik, walaupun orang- orang musyrik itu adalah kaum kerabat (nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang- orang musyrik itu adalah penghuni Neraka Jahannam”. (QS. At- Taubah/9: 113).

Walloohu a’lamu.

Sumber: “Majalah As- Sunnah” Rubrik Soal- Jawab. Hal. 7-8. Edisi 06/thn.XIV. DzulQa’dah.1431H. Oktober 2010M.