Selasa, 15 Mei 2012

SEKILAS BIOGRAFI IMAM AL- BUKHARI RAHIMAHULLAH

Beliau adalah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Mughirah bin Bardizbah al- Bukhari, penulis Kitab Hadits terbaik yang dinobatkan oleh para ulama, yaitu al- Jaami' Bayaanil 'Ilmi Wa Fadhlihi al- Musnad ash- Shahiih al- Mukhtashar Min Umuuri Rasuulillaah Shallallaahu 'alaihi Wa Sallam Wa Sunanihi Wa Ayyaamihi yang kemudian mashur dengan Sebutan ‘Shahiih al- Bukhaari’ yang beliau Susun selama 16 tahun.

Imam al- Bukhari Dilahirkan di Bukhara selepas Sholat Jum’at, tepatnya tanggal 13 Syawal 194H. Ayah Imam al- Bukhari yaitu seorang yang bertakwa dan wara’, sempat belajar dari Imam Malik Rahimahullah dan berjumpa dengan Hammad bin Zaid dan Abdullah Bin Mubarak Rahimahullah, namun Allah Ta’ala berkehendak mewafatkannya saat Imam al- Bukhari masih kanak- kanak. Karena itu beliau tumbuh dan berkembang dalam tarbiyah dan asuhan sang Ibu.


Al Hafizh Ibnu Hajar al- Asqalani berkata,

“Ketika Ismail bin Ibrahim meninggal, Muhammad bin Ismail masih kecil. Oleh karena itu, Muhammad bin Ismail tumbuh dalam asuhan ibunya. Ibu Muhammad adalah seorang perempuan yang taat beribadah yang dikaruniai karomah.

Dikisahkan dari Ghunjar dalam Tarikh Baghdad dan al- Ilka’I dalam Syarh as- Sunnah, Bab Karamatu al- Auliya’ bahwa pada waktu kecil, kedua mata Muhammad bin Ismail telah buta. Kemudian ibu Muhammad dalam tidur melihat Nabi Ibrahim al- Khalil ‘Alahissalaam berkata kepadanya, “Wahai kaum perempuan, sungguh Allah telah mengembalikan kedua mata putramu karena kamu sering berdo’a kepadanya/ karena engkau banyak menangis (banyak berdo’a) kepada- Nya”.

Perawi menambahkan, “Di pagi harinya, Sungguh Allah telah mengembalikan penglihatan kedua mata Imam al- Bukhari”. (Hadyu as- Sari (Muqaddimah Fat-hul baari, 502)).





Imam al- Bukhari Rahimahullah memulai perjalanan ilmiahnya sejak dini. Beliau juga telah menghafalkan al- Qur’an semenjak kecil. Inilah salah satu factor yang menyebabkan beliau senang dan suka menghafalkan hadits- hadits Nabi Shallallaahu 'alaihi Wa Sallam. Kegemaran yang didukung oleh kecerdasan dan taufiq dari Allah Subhaanahu Wa Ta'ala, beliau menjadi orang yang sangat menonjol dalam ilmu hadits.

Imam al- Bukhari menimba ilmu bersama lebih dari Seribu (1000) guru. Sebelum meninggal imam al- Bukhari menyatakan,

“Aku menulis (hadits) dari seribu lebih Syaikh. Dari setiap Syaikh itu, aku tulis sepuluh ribu riwayat bahkan lebih. Tidaklah ada hadits padaku kecuali aku sebutkan sanadnya (juga)”. (LIhat as- Siyaar 12/ 407, al- Bidaayah, 11/ 12))..


Di antara nama Ulama besar yang menjadi guru beliau adalah Imam Ishaq bin Rahuyah, Imam Muhammad bin Yusuf al- Firyaabi, Imam Abu Nu’aim Fadhl bin Dukain, Imam Ahmad bin Hanbal, Imam ‘Ali bin al- Madini, Imam Yahya bin Ma’in, Imam Makki bin Ibraahim al- Balkhi, Abdaan bin ‘Ustman, Imam Abu Ashim an- Nabiil, Muhammad bin ‘Isa ath- Thabbaa’, ..dan masih banyak lagi.

Di antara sebagian murid- murid imam al- Bukhari yang terkenal beliau adalah Imam Muslim Rahimahullah, Imam at- Tirmidzi Rahimahullah, Imam Abu Hatim Rahimahullah, Imam Ibnu Khuzaimah Rahimahullah, Imam Ibnu Abi Dunya Rahimahullah, Imam Ibrahim bin Ishaq al- Harbi Rahimahullah.

Pujian Ulama terhadap imam al- Bukhari baik dari para Guru maupun teman- temannya juga murid- muridnya yang sangat banyak.

Imam Ahmad bin Hanbal Rahimahullah (wafat 241H) –Salah satu guru Imam al- Bukhari- berkata,

“Belum pernah ada di Khurasan orang yang melahirkan anak seperti Muhammad bin Isma’il (al- Bukhari)”. (Siyaar a’laamin Nubalaa’ (XII/ 419)).


Imam Abu Hatim ar- Raazi Rahimahullah (wafat 277H) berkata,

“Tidak ada orang yang keluar dari Khurasan yang lebih hafal dari Muhammad bin Isma’il (al- Bukhari), dan tidak ada yang datang ke Iraq yang lebih ‘alim dari al- Bukhari Rahimahullah”. (Muqaddimah Fat-hul Baari, hal. 484- cet. Darul Fikri)).


‘Abdullah bin ‘Abdurrahman bin Fadhl bin Bahram ad- Daarimi Rahimahullah (wafat 255H) berkata,

“Saya melihat ulama di Haramain, Hijaaz, SYam dan Iraq, dan tidak ada yang lebih sempurna (ajma’) daripada Muhammad bin Isma’il. Beliau (al- Bukhari) adalah orang yang paling ‘alim diantara kami, dan paling faqih serta paling banyak muridnya”. (Muqaddimah Fat-hul Baari, hal 484)).


Imamnya para imam, yaitu Abu Bakr Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah Rahimahullah (wafat 311H) berkata,

“Tidak ada di bawah langit ini orang yang lebih ‘alim tentang hadits daripada Muhammad bin Isma’il”. (Muqaddimah Fat-hul Baari, Hal. 485, dan SYarah ilal at- Tirmidzi, I/ 494 karya Ibnu Rojab al Hanbali).


Muhammad bin ‘Isa bin Saurah at- Tirmidzi Rahimahullah (wafat 279H) berkata,

“Saya tidak melihat di Iraq dan Khurasan orang yang lebih ‘alim tentang ‘illat-illat hadits, tarikh, dan Sanad- sanad daripada Muhammad bin Isma’il al- Bukhari”. (Muqaddimah Fat-hul Baari, Hal. 485, dan SYarah ilal at- Tirmidzi, I/ 494 karya Ibnu Rojab al Hanbali).


Dan masih banyak lagi yang lainnya. Imam al- Bukhari wafat pada malam Sabtu, malam hari raya idul Fithri tahun 256H daalam Usia 62 Tahun. Semoga Rahmat Allah 'Azza Wa Jalla senantiasa tercurahkan pada seluruh ulama Islam di setiap masa dan tempat. Wallaahu a’lam. Semoga bermanfaat.

Sumber:

Imam al- Bukhari, Satu Tanda Kekuasaan Allah Subhaanahu Wa Ta'ala’. Ust. Abu Minhal Lc Hafizhahullah. Rubrik Mabhats Majalah Assunnah Edisi 01/ thn XVI/ Jumadil Akhir 1433H/ Mei 2012M. Hal 1-43. (Resume).

[34]- Muhammad bin Isma’il- Syaikh al- Muhadditsiin. 60 Biografi Ulama Salaf. Hal. 467- 510. Syaikh Ahmad Farid. Pustaka al- Kautsar. Jakarta

Kekuatan Hafalan Imam al- Bukhari Rahimahullaah (Wafat th 256H)

Kekuatan hafalan imam al- Bukhari Rahimahullah sudah terakui oleh para ulama di masanya, bahkan banyak yang menyampaikan kalau beliau langsung menghafal suatu kitab hanya dengan membacanya sekali saja.

Hasyid bin Ismail pernah menceritakan,

“Dahulu Abu ‘Abdillah (Imam al- Bukhari) bersama kami mendatangi para guru di Bashrah. Waktu itu ia masih belia, dan tidak (tampak) mencatat apa yang telah didengar. Hal itu berlangsung beberapa hari. Kami pun bertanya kepadanya,

“Engkau menyertai kami mendengarkan hadits, tanpa mencatatnya. Apa yang kamu perbuat sebenarnya?

Enam belas hari kemudian, imam al- Bukhari Rahimahullah akhirnya menjawab, “Kalian telah sering bertanya dan mendesakku. Coba tunjukkanlah apa yang telah kalian tulis”.

Maka kami mengeluarkan apa yang kami miliki yang berjumlah lebih dari 15 ribu hadits. Selanjutnya ia menyebutkan seluruhnya dengan hafalan, sampai akhirnya kami membenahi catatan- catatan kami melalui hafalannya. Kemudian ia berkata, “Apa kalian menyangka aku bersama kalian hanya main- main saja dan menyia- nyiakan hari- hariku?!” Maka kami pun sadar, tidak ada seorangpun yang melebihinya”. (as- Siyaar: XII/ 407).




Kehebatan hafalan beliau juga tampak ketika Ulama Baghdad mendengar akan kedatangan Abu ‘Abdillah (Imam al- Bukhari) ke kota mereka,.dengan sengaja mereka mempersiapkan seratus hadits, dan kemudian menukar dan merubah matan dan sanadnya. Mereka menukar matan satu sanad dengan teks hadits yang lain, dan begitu sebaliknya. Setiap orang memegangi sepuluh hadits yang nantinya akan dilontarkan kepada Abu ‘Abdillah sebagai bahan ujian kekuatan hafalannya.


Orang- orang pun berkumpul di dalam majelis, orang pertama menanyakan kepada Imam al- Bukhari Rahimahullah sepuluh hadits yang ia miliki satu per satu. Setiap kali ditanya, imam al- Bukhari menjawab sampai hadits yang kesepuluh, “Saya tidak mengenalnya (hadits itu dengan sanad yang disebutkan)”. Para ulama yang hadir pun saling menoleh kepada yang lain dan berkata, “Orang ini (benar- benar) paham”. Sementara orang yang tidak tahu tujuan majelis itu diadakan menilai imam al- Bukhari Rahimahullah sebagai orang yang lemah hafalannya.

Kemudian tampillah orang kedua, melakukan hal yang sama, dan setiap kali mendengarkan satu hadits, beliau berkomentar sama, “Aku tidak mengenalnya”. Selanjutnya tampil orang ketiga sampai terakhir. Dan komentar beliau pun tidak lebih dari ucapan, “Aku tidak mengenalnya”.

Setelah semua selesai menyampaikan hadits- haditsnya, imam al- Bukhari Rahimahullah menoleh ke arah orang pertama seraya meluruskan, “Haditsmu yang pertama mestinya demikian, yang kedua mestinya demikian, yang ketiga mestinya demikian, .. “ sampai membenarkan hadits yang kesepuluh.

Setiap hadits beliau satukan dengan matan- matannya yang benar. Beliau melakukan hal yang sama kepada para ‘penguji’ lainnya sampai pada orang yang terakhir. Akhirnya orang- orang pun betul- betul mengakui akan kehebatan hafalan beliau Rahimahullah. (lihat al- Bidayah Wan Nihaayah: 11/12, as- Siyaar 12/ 409 hal. 62-63)).

Di Samarkand beliau juga menghadapi hal yang sama. Empat ratus ulama hadits menguji beliau dengan hadits- hadits yang sanad- sanad dan nama rijaal (para perawi) yang telah dicampuradukkan, menempatkan sanad penduduk Syam ke dalam sanad penduduk Irak, meletakkan matan hadits bukan pada sanadnya. Kemudian mereka membacakan hadits- hadits dan sanad- sanadnya yang sudah campur aduk ini ke hadapan Imam al- Bukhari Rahimahullah. Dengan sigap beliau mengoreksi semua hadits dan sanad itu dan menyatukan setiap hadits dengan sanadnya yang benar. Para ulama yang menyaksikan hal itu tidak mampu menjumpai satu kesalahan pun dalam peletakan matan maupun penempatan posisi para perawi. (Lihat as- Siyaar 12/ 411, al- Bidayah 11/ 12)).


Abu Bakar bin al- Munir berkata, “Aku telah mendengar imam al- Bukhari berkata, “Sewaktu aku sedang bersama Abu Hafsh Ahmad bin Hafsh, aku telah mendengar kitab Al- Jaami' karya imam Sufyan ats- Tsauri. Lalu Abu Hafsh membacakannya, sementara yang dibaca itu tidak ada padaku. Ketika aku mengulangi bacaan Abu Hafsh, dia berkata, “Kedua, Ketiga?” dan aku mengulangi bacaan hadits yang telah aku hafal tersebut sampai dia terdiam. Kemudian Abu Hafsh bertanya, “Siapakah orang ini?” mereka yang hadir menjawab, “Ibnu Ismail (imam al- Bukhari)”. Lalu Abu Hafsh berkata,

“Hadits yang benar adalah hadits yang telah dibaca Ibnu Ismail dan kalian hafalkanlah hadits yang tadi ia baca. Sesungguhnya orang ini (Muhammad bin Ismail) kelak akan menjadi ulama Besar”.

(Taghliq at- Ta’liq, 5/ 387 dan al- Qishshah al- Musannadah Fii Tarikh Baghdad, 2/ 11)).



Beberapa kejadian tersebut sudah sangat cukup menjadi petunjuk akan kekuatan dan kekokohan daya ingat imam al- Bukhari Rahimahullah, sebab tanpa persiapan sedikitpun dan tidak mengetahui apa yang akan ia hadapi, ternyata beliau mampu melewati ‘ujian’ tersebut.

Abu Ja’far pernah menanyakan kepada Abu ‘Abdillah, “Apakah engkau hafal seluruh (riwayat) yang engkau masukkan dalam kitabmu?” beliau menjawab, “Tidak ada yang kabur pada (hafalan)ku seluruhnya” (As- Siyaar: 12/ 403)).

Mengenai cara menghasilkan daya ingat yang kuat, beliau tidak memandang adanya makanan atau minuman yang perlu dikonsumsi untuk menguatkan hafalannya, beliau berkata, “Aku tidak mengetahui sesuatu yang lebih bermanfaat (menguatkan) hafalan daripada keinginan kuat seseorang dan sering menelaah (tulisan)”. (As- Siyaar: 12/ 406)).

Sumber:

Imam al- Bukhari, Satu Tanda Kekuasaan Allah Subhaanahu Wa Ta'ala’. Ust. Abu Minhal Lc Hafizhahullah. Rubrik Mabhats Majalah Assunnah Edisi 01/ thn XVI/ Jumadil Akhir 1433H/ Mei 2012M. Hal 1-43. (Resume).

[34]- Muhammad bin Isma’il- Syaikh al- Muhadditsiin. 60 Biografi Ulama Salaf. Hal. 467- 510. Syaikh Ahmad Farid. Pustaka al- Kautsar. Jakarta

Rabu, 09 Mei 2012

Kisah Keajaiban Hafalan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah

Imam Yusuf bin Muhammad as- Surmurri al- Hambali Rahimahullah (wafat th. 776H) berkata dalam kitab Amaali karya beliau dalam masalah hafalan,

“Di antara keajaiban yang ada dalam masalah menghafal dari orang yang hidup di zaman kita adalah Syaikhul Islam Abul Abbas Ahmad bin Abdul Hakim bin Taimiyyah. Sesungguhnya beliau pernah mendapatkan suatu kitab lalu membacanya sekali, maka terukirlah (isi kitab itu) dalam benaknya, dan ia dapat mengingatnya kembali dan mampu memindahkannya ke dalam kitab karyanya dengan lafal dan maknanya”.

“Di antara kejadian paling menakjubkan yang pernah aku dengar tentang dirinya adalah peristiwa yang disampaikan kepadaku oleh sebagian teman- temannya.

“Ketika ia masih kecil, pada suatu hari ayah beliau ingin mengajak anak- anaknya pergi ke taman untuk bertamasya, ia berkata kepada anaknya ini, “Ahmad, hendaknya engkau ikut pergi bersama saudara- saudaramu untuk beristirahat”.

Lalu beliau mengemukakan alasannya untuk tidak ikut serta.



Setelah itu ayah beliau mendesak dirinya untuk ikut pergi. Tapi beliau bersikeras tidak mau dan berkata, “Aku harap ayah mengizinkanku untuk tidak ikut”.

Akhirnya beliau ditinggal. Lalu ayahnya keluar bersama anak- anaknya yang lain. Dan pada hari itu, mereka terus berada di taman dan kembali menjelang Sore hari.

Ayah beliau berkata, “Wahai Ahmad, hari ini engkau membuat saudara- saudaramu murung dan menyusahkan mereka, sebab engkau tidak ikut bersama mereka, bagaimana ini?”

Ia menjawab, “Wahai ayahku, sesungguhnya hari ini aku telah menghafal kitab ini”.

Ayahnya menjawab, “Engkau telah menghafalnya?!” (seperti orang yang mengingkari dan kagum).

Lalu ia berkata, “Paparkanlah kepadaku”.

Maka beliau pun menyetorkannya. Dan ternyata kitab itu telah selesai dihafal semuanya.

Kemudian ayahnya mencium kening yang berada di antara kedua matanya, lalu mengatakan, “Wahai anakku, jangan kau katakan kepada seorangpun apa yang telah engkau lakukan, karena khawatir ain (penyakit yang ditimbulkan orang yang hasad) akan menimpanya”.


[ar- Radd al-Wafir ‘Ala Man Za’ama Anna Man Samma Ibna Taimiyyat Syaikh al- Islam Kafir, Karya Ibnu Nashiruddin ad- Dimasyqi, Hal. 133. Maktab Islami, Cet.I, Beirut 1393H].

Sumber: ‘Majalah adz-Dzakhiirah. Vol 8 Edisi 58, No.04 Th. 1431H/2010. Hal.59- Ragam Faedah.

Biografi Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah lebih lengkap dapat dilihat pada buku ’60 Biografi Ulama Salaf’ Hal. 780- 811. Oleh Syaikh Ahmad Farid. Pustaka Al-Kautsar.

Senin, 07 Mei 2012

Mendengarkan Murottal Sambil Beraktivitas


Syaikh Shalih al- Fauzan Hafizhahullah pernah ditanya,

“Terkadang saya menghabiskan banyak waktu di dapur untuk menyiapkan masakan suamiku. Untuk memanfaatkan waktu, aku mendengarkan Al-Qur’anul Karim, baik melalui Siaran atau dari tape. Apakah perbuatanku ini benar? Ataukah tidak sepantasnya aku melakukan hal ini? Sebab Allah Ta’ala berfirman,

“Dan apabila dibacakan Al-Qur’an, maka dengarkanlah baik- baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat”. (QS. Al- A’raf: 204).


Syaikh Shalih al- Fauzan hafizhahullah menjawab,

“Tidak mengapa mendengarkan Al-Qur’an dari radio atau dari tape sambil mengerjakan suatu kesibukan, hal ini tidak bertentangan dengan firman Allah,

“Maka dengarkanlah baik- baik dan perhatikanlah” (QS. Al-A’raf: 204)

Sebab Inshat (mendengarkan dengan baik) yang diminta (pada ayat ini- red) disesuaikan dengan kemampuan. Orang yang sibuk, ia boleh mendengarkan Al-Qur’an sesuai kemampuannya”. [al- Mutaqa Min Fatawa Syaikh Fauzan, Jilid 3. Hal 298]. Wallaahu a'lam.

Sumber: Majalah adz-Dzakhiirah, Vol.8 No. 9 Edisi 63 Thn.1431H/ 2010. Hal 49.

Senin, 23 April 2012

Sekapur Sirih Bagaimana Para Salaf Mencari Nafkah

Allah 'Azza Wa Jalla Wa Jalla mewajibkan kepada hamba- hamba- Nya bekerja untuk mencari rezeki supaya mereka bisa menjadikannya sebagai pendorong untuk melaksanakan ketaatan kepada- Nya. Allah Subhaanahu Wa Ta'ala berfirman,

“..Dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allh banyak- banyak supaya kamu beruntung”. (QS. Al- Jumu’ah [62]: 10).

Di sini Allah menjadikan bekerja itu sebagai sebab terlaksananya Ibadah. Allah Subhaanahu Wa Ta'ala juga memberitahukan tentagn bagaimana manusia, dan kecintaannya terhadap harta. Allah Ta’ala berfirman,

“Dan Sesungguhnya dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta”. (QS. Al- ‘Adiyaat [100]: 8).

Allah juga memerintahkan hamba- hamba- Nya untuk mencari rezeki setelah selesai melaksanakan sebuah kewajiban agung, yaitu Sholat Jum’at dengan firman- Nya:

“..Maka bertebaranlah kamu di muka Bumi, dan carilah karunia Allah”. (QS. Al- Jumu’ah [62]: 10).



Imam al- Baghawi Rahimahullah berkata, “Maksudnya, apabila Sholat sudah usai, menyebarlah kalian di muka Bumi untuk berdagang serta bekerja untuk kebutuhan- kebutuhan kalian”. (Muhktashar Tafsir al- Baghawi (II/ 945).

Dikisahkan bahwa Shahabat Urrak bin Malik Radhiyallahu 'Anhu apabila telah selesai melaksanakan Sholat Jum’at, ia keluar kemudian berdiri di pintu masjid, dan mengucapkan,

“Ya Allah, Sesungguhnya telah ku penuhi panggilan- Mu serta telah ku kerjakan kewajiban sholat dari- Mu dan aku menyebar di Bumi sebagaimana yang Engkau perintahkan, maka berilah aku rezeki dari keutamaan- Mu. Dan Engkaulah sebaik- baik pemberi Rezeki”. (Tafsir Ibnu Katsir (IV/ 471)).

Islam menganjurkan kepada para pengikutnya untuk bekerja, dan berusaha. Jadi Islam sendiri merupakan agama yang memerintahkan untuk bekerja, aktif, dan melakukan Usaha di muka Bumi serta memakmurkannya. Rasulullah Shallallaahu 'alaihi Wa Sallam bersabda,

“Sungguh Salah seorang dari kalian yang mengambil seutas tali kemudian ia ikat kayu bakar pada punggungnya, itu lebih baik daripada ia mendatangi orang yang Allah beri karunia- Nya kemudian meminta kepadanya, baik (permintaan itu) diterima atau ditolak”. (Muttafaqun ‘Alaih).

Nabi Shallallaahu 'alaihi Wa Sallam pun telah memuji harta yang baik dan dipegang oleh tangan hamba yang Shalih, beliau Shallallaahu 'alaihi Wa Sallam bersabda,

"Sebaik- baik harta yang bagus adalah yang dimiliki oleh seorang hamba yang shalih”. (HR. Tirmidzi)

Kenikmatan dunia itu sendiri sebenarnya tidak tercela, ia tercela tak lain karena kemasyiatan, dosa- dosa, serta perbuatan memakan harta haram yang terdapat di dalamnya. Jadi dunia yang diharamkan adalah yang memalingkan dari agama dan dihimpun dari barang yang haram. Artinya engkau mengumpulkannya dari yang haram serta menggunakannya pada sesuatu yang haram.

Rasulullah Shallallaahu 'alaihi Wa Sallam bersabda,

“Dunia itu milik empat orang, Seseorang yang mengumpulkan harta dari yang halal, kemudian menginfakkan sesuai hak-nya. Inilah derajat tertinggi. Kemudian seseorang yang mengumpulkan harta bukan dari yang halal, kemudian membelanjakannya pada hak-nya. Ini lah seburuk- buruk derajat…… “ (HR. Tirmidzi).

Bekerja dan berusaha menjadi kewajiban bagi mereka yang sudah mempunyai keluarga atau sudah memiliki tanggung jawab. Islam telah menjadikan sikap menyia- nyiakan hak isteri, anak- anak, serta kedua orang tua termasuk dalam kategori dosa- dosa besar.

Dari Wahb bin Jabir ia berkata, “Aku pernah menyaksikan Abdullah bin Amru Ibnul Ash di Baitul Muqaddas didatangi oleh salah seorang pembantunya, ia berkata, “Bulan ini saya ingin tinggal di sini” – saat itu bulan Ramadhan- Abdullah berkata, “Sudahkah engkau tinggalkan kebutuhan pokok untuk keluargamu? Ia menjawab, “Belum”. Beliau berkata, “Kalau begitu jangan, pulanglah engkau, tinggalilah kebutuhan yang mencukupi mereka, sebab aku pernah mendengar Rasulullah Shallallaahu 'alaihi Wa Sallam bersabda,

“Cukuplah seseorang itu berdosa bila ia menyia- nyiakan orang yang menjadi tanggungannya”. (HR. Abu Dawud).

Dan dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu 'Anhuma berkata,

“Rasulullah Shallallaahu 'alaihi Wa Sallam apabila melihat seseorang kemudian merasa kagum kepadanya, beliau bertanya, “Apakah ia memiliki profesi?” jika orang- orang menjawab, ‘Tidak’, lelaki itu jatuh (hina) di mata beliau. Ada yang bertanya, “Bagaimana bisa begitu wahai Rasulullah?’ beliau bersabda, “Sebab seorang mungkin apabila tidak memiliki profesi, ia akan hidup dengan mengandalkan hutangnya”. (Kitaabul Jaami' (I/ 34)).

Perlu dicatat bahwa seorang muslim itu mendapatkan pahala dari nafkah yang ia berikan kepada keluarganya. Sebagaimana Nabi Shallallaahu 'alaihi Wa Sallam bersabda,

“Satu dinar yang engkau belanjakan di jalan Allah, satu dinar yang engkau sedekahkan kepada orang miskin, serta satu dinar yang engkau belanjakan untuk keluargamu, yang paling besar adalah yang engkau belanjakan untuk keluargamu”. (HR. Muslim).

Harta jika dikelola oleh seorang muslim akan menjadi sarana menghantarkan kepada kehidupan yang mulia di dunia dan kebahagiaan di kampong akhirat.

Sa’id bin Musayyib Rahimahullah berkata,

“Tidak ada kebaikan pada orang yang tidak mau mengumpulkan harta dari sumbernya yang halal, kemudian ia bisa memberi, menuntut haknya yang sesuai serta menutup wajah dari meminta- minta kepada manusia”. (as- Siyaar (IV/ 238)).

Ali Ibnul Fudhail berkata, “Aku mendengar ayahku berkata kepada Ibnul Mubarak Rahimahullah, “Anda menyuruh kami untuk Zuhud, hidup sederhana dan sekedarnya saja, sementara kami melihat anda mendatangkan barang- barang dagangan dari Negeri Khurasan menuju tanah haram, bagaimana ini?” Ibnul Mubarak menjawab, “Wahai Abu Ali, sesungguhnya aku melakukan hal itu untuk menjaga wajahku, memuliakan kehormatanku, serta membantuku untuk berbuat taat kepada Rabb- ku”. (as- Siyaar (VII/ 277)).

Agama Islam adalah agama Tawakkal, bukan Tawaakul (Sikap Mengandalkan Orang).

Umar Radhiyallahu 'Anhu berkata,

“Janganlah kalian duduk saja, tidak mencari rezeki, sembari mengucapkan, “Ya Allah, berilah aku Rezeki”,.bukankah kalian sudah mengerti bahwa langit tidak akan mengucurkan hujan emas dan perak?!” (al- Ihya’ (II/ 71)).

Muhammad bin Munkadir berkata dalam sebuah ungkapannya yang Indah perihal harta, “Sebaik- baik Sesuatu yang membantu untuk bertakwa kepada Allah 'Azza Wa Jalla Wa Jalla adalah kekayaan”. (Hilyatul Auliyaa’ (II/ 149)).

Zuhud terhadap dunia bukanlah dengan cara meninggalkan harta sama sekali atau menghambur-hamburkannya begitu saja semaunya secara beruntun dan sesuai kehendak hati. Tetapi zuhud terhadap dunia adalah meninggalkan dunia karena tahu betapa remehnya ia jika dibandingkan dengan mahalnya akhirat. Dan siapa yang tahu bahwa dunia itu ibarat Es yang akan mencair sementara akhirat ibarat batu mutiara yang abadi, maka akan semakin menguatkan keinginannya untuk menjual dunia ini dengan mutiara abadi. (Minhaajul Qaashidiin, Hal. 355)).

Imam Ibnu Qudamah berkata dalam keterangan beliau yang begitu rinci ketika berbicara mengenai keadaan pencari dunia,

“Telah kami terangkan sebelumnya bahwa harta itu secara dzatnya tidaklah tercela, bahkan sepatutnya dipuji. Sebab harta merupakan sarana untuk menggapai kemaslahatan agama dan dunia.

Allah Subhaanahu Wa Ta'ala sendiri menyebutnya sebagai sebuah kebaikan dan harta itulah yang menjadi penopang hidup manusia. Allah 'Azza Wa Jalla Wa Jalla berfirman pada permulaan Surat An- Nisaa’,

"Dan janganlah kamu serahkan kepada orang- orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu),..” (QS- An- Nisaa’ [4]: 5)).

Abu Ishaq as- Subai’I berkata, “Mereka (maksud beliau mungkin adalah para Shahabat Radhiyallahu 'Anhum, red) menganggap bahwa kelapangan hidup merupakan sarana untuk membantu merealisasikan ajaran Diin (agama,-ed).

Sufyan berkata, “Harta di zaman kita sekarang ini adalah senjata orangn- orang mukmin”.

Kesimpulannya, Harta itu ibarat seekor ular, di sana ada bisanya, tapi di sana juga ada obat penawarnya. Obat penawar itulah faedahnya, sementara hal- hal yang merusak itulah racun bisa- nya. Maka siapa yang mengerti mana faedahnya, ia akan bisa melindungi diri dari keganasannya serta mengambil kebaikannya. (Mukhtashar Minhaajul Qaashidiin, hal. 214)). Wallaahu a’lam.

Sumber: “Bagaimana Para Salaf Mencari Nafkah”. Hal. 7- 19. Penulis: Abdul Malik al- Qasim. Pustaka al- Qowam. Surakarta.

Selasa, 27 Maret 2012

Tidak Meremehkan Risalah, Walaupun tampak Kecil.

Beberapa Faedah di balik ‘Sedikit’
Oleh Ust. Muhtar Arifin, Lc.

Tidak Meremehkan Risalah, Walaupun tampak Kecil.

Kitab- kitab yang disusun oleh para ulama dan peneliti ada yang besar sampai puluhan jilid, bahkan ada pula yang beberapa lembar saja. Dalam kitab Kutub fi as-Saahah al- Islamiyyah, disebutkan:

“Ketahuilah bahwa tidak ada kitab yang kosong dari faedah. Maka janganlah engkau meremehkan kitab apapun milik seorang muslim,….Berapa banyak masalah yang telah tertahqiq dalam sebuah kitab kecil, sedangkan engkau tidak menemukannya dalam kitab yang terdiri dari berjilid- jilid”.

(Hal. 23, Dar ash- Shumai’I, Cet. 1, 1992M).


Satu Demi Satu Faedah Akan menjadi Melimpah

Ada yang mengatakan:



Pada Hari ini sedikit, demikian juga keesokan harinya sedikit,

Dari Nukhbah- nukhbah orang yang alim yang dapat diambil,

Dengannya, seseorang akan mendapatkan sebuah hikmah,

Sesungguhnya Banjir itu adalah kumpulan Tetesan Air




(Bughyah al- Wu’at, as- Suyuti (I/ 14) al- Maktabah al- Ashariyyah, 1424H, Beirut, tahqiq Muhammad Abul Fadhl Ibrahim).

Syaikh Bakr bin ‘Abdullah Abu Zaid berpesan, “Kerahkanlah Kesungguhanmu untuk menjaga ilmu dengan menulisnya. Hal itu karena mencatat ilmu dengan tulisan adalah merupakan:

(1) Keamanan dari lenyapnya

(2) Meringkas waktu untuk meneliti ketika dibutuhkan, terutama berkaitan dengan masalah- masalah ilmu yang berada pada tempat- tempat yang tidak disangka- sangka.

(2) Di antara fawa’id- Nya yang paling besar adalah ketika telah lanjut usia dan kekuatan telah melemah, maka engkau memiliki materi yang dapat engkau ambil suatu permasalahannya yang akan engkau tulis darinya tanpa bersusah payah dalam mencarinya.

Oleh karena itu, hendaklah engkau memiliki kumpulan atau catatan untuk menulis fawa’id dan faroo’id (faedah- faedah istimewa) serta pembahasan- pembahasan yang bercerai- berai dan berada bukan pada tempat yang disangka- sangka”.
(Al- Majmu’ah al- ‘Ilmiyyah, hal. 175)).



Belajar Agama Dimulai Dari Perkara yang ‘Tampak’ Sederhana

Allah telah memerintahkan hamba- Nya untuk menjadi hamba- hamba yang Rabbani sebagaimana firman- Nya:

“Akan tetapi (dia berkata), ‘Hendaklah kamu menjadi orang- orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan al- Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya”. (QS. Ali Imran: 79).


Imam al- Bukhari Rahimahullah menjelaskan bahwa ada yang mengatakan tentang makna Rabbani, yaitu:

“Rabbani adalah orang yang mendidik manusia dari ilmu yang kecil sebelum ilmu yan besar”.

(Shahiih al- Bukhari, dalam Bab ke-10, Kitab al- ‘Ilm)).


Imam Ibnu Hajar Rahimahullah mengatakan:

“Ilmu- ilmu yang kecil maksudnya adalah masalah- masalah yang tampak jelas, sedangkan ilmu- ilmu yang besar adalah masalah- masalah yang pelik”.

Ada yang mengatakan: (maksudnya adalah) mengajar juz’iyyah (parsial) ilmu sebelum kulliyah-nya (global), atau furu’- nya (cabang) sebelum ‘ushul- nya (intinya), atau muqaddimah- nya sebelum maksud- maksudnya”.


(Fat-hul Baari, I/ 213)).


Oleh karena itu, para ulama menjelaskan bahwa penuntut ilmu, sebelum masuk ke dalam kitab- kitab yang pembahasannya panjang, terlebih dahulu hendaknya memulai dengan kitab- kitab yang ringkas dan pendek”. (Lihat Kitab al- ‘Ilm, Syaikh ‘Utsaimin, Hilyah Thalib al- ‘Ilm, dll)).

Syaikh ‘Muhammad bin SHalih al- Utsaimin Rahimahullah berkata,

“Sudah sepantasnya bagi seseorang ketika menyebarkan ilmu untuk menjadi orang yang bijak dalam mengajar, di mana dia menyampaikan kepada para penuntut ilmu masalah- masalah yang mampu dicerna oleh akal- akal mereka, sehingga dia tidak membawa masalah- masalah yang mu’dholat, akan tetapi mendidik mereka sedikit – demi sedikit

Oleh karena itu, sebagian di antara mereka mengatakan tentang alim rabbani yaitu rabbani adalah orang yang mendidik manusia dari ilmu yang kecil sebelum ilmu yang besar.

Kita semua telah mengetahui bahwa bangunan itu tidak didatangkan secara utuh kemudian diletakkan di permukaan tanah, lalu menjadi sebuah istana yang berdiri tegak, akan tetapi dibangun satu bata demi satu bata, sampai bangunan itu menjadi sempurna”.


(Fatawa Syaikh Shalih al- ‘Utsaimin, Jilid 1, hal. 389- 390, dikumpulkan oleh Asyraf ‘Abdul Maqshud, Cet. 2. Riyadh. Dar ‘Alam al- Kutub)).

Menghafal Sedikit demi Sedikit

Imam at- Tibrizi Rahimahullah berpesan,

“Hendaknya menghafalkan hadits sedikit demi sedikit bersama berlalunya hari- hari dan malam- malam”. (Al- Kafi, hal. 669)).


Imam az- Zuhri Rahimahullah berkata,

“Barangsiapa yang mencari ilmu secara sekaligus, maka akan hilang secara sekaligus juga. Ilmu itu diperoleh dari satu hadits, dua hadits”.

(Dikeluarkan oleh Mubarok bin ‘Abdul Jabbar dalam ath- Thoyyuriyat, (no 1336- pilihan Thahir Salafi), dan al- Khathib dalam al- Jami’ (I/ 232) no. 450. Demikian penjelasan Syaikh Masyhur dalam tahqiq al- Kafi, hal. 671)).


Sumber: Majalah adz- Dzaakhiirah. Hal. 580 60. Rubrik Fawa’id. Edisi 72. Vol 09 no. 06. 1432H/ 2011.

Senin, 05 Maret 2012

Imam Baqi’ bin Makhlad Rahimahullah “Berjalan kaki dari Spanyol Menuju Baghdad untuk Belajar dengan Imam Ahmad bin Hanbal Rahimahullah”


Imam Baqi’ bin Makhlad (wafat th. 276H) Rahimahullah melakukan perjalanan pada tahun 221H dengan berjalan kaki dari Andalusia (Spanyol) ke kota Baghdad hanya untuk bertemu Imam Ahmad dan mengambil ilmu darinya.

Imam Baqi’ menuturkan, “Ketika mendekati Baghdad, Sampailah kepadaku tentang ujian Imam Ahmad (yaitu firnah perkataan Al-Qur’an adalah makhluk) dan beliau dikekang (dilarang untuk mengajarkan hadits). Aku sangat sedih, lalu aku menetap di Baghdad dan memilih sebuah rumah rumah sebagai tempat bermalam. Kemudian aku pergi ke Masjid untuk duduk bersama orang lain. Lalu, aku terdorong untuk menghadiri sebuah halaqah yang mulia, dan aku melihat seseorang berbicara tentang ilmu Rijalul Hadits. Ada yang berkata kepadaku, ‘Ini adalah Yahya bin Ma’in’.

Lalu mereka melowongkan tempat untukku dan aku berdiri di hadapannya seraya berkata, “Wahai Abu Zakaria, semoga Allah merahmati anda. Seseorang yang asing telah meninggalkan kampong halamannya, wajib diberikan kesempatan untuk bertanya dan jangan anda menganggap lancang”.

Dia (Imam Yahya) berkata, ‘Katakanlah!’ maka aku menanyakan tentang orang- orang yang kutemui, sebagian ia merekomendasikan dan sebagian lagi ia sebutkan kekurangannya.

Aku bertanya tentang Hisyam bin ‘Ammar (wafat th. 245H). Dia berkata kepadaku, ‘Abu Walid pengarang kitab Shalat dari Damaskus. Dia Tsiqah, bahkan lebih dari tsiqah. Walaupun ia sedikit angkuh, tetapi hal itu tidak berpengaruh kepada kebaikan dan keutamaannya’.

Orang yang hadir di halaqah berteriak, ‘Cukup! Semoga Allah merahmati anda, berikan kesempatan kepada yang lain untuk bertanya”. Aku berkata sambil berdiri di depan, “Ungkapkanlah tentang satu orang, Ahmad bin Hanbal?’ Dia (Imam Yahya bin Ma’in) menatapku penuh keheranan, lalu berkata, “Orang seperti kita mengungkapkan tentang Ahmad bin Hanbal? Dia adalah Imamnya kaum Muslimin, yang terbaik dan paling utama”.

Kemudian aku pergi dan meminta mereka menunjukkan kepadaku di mana rumah Imam Ahmad, mereka memberitahuku, lau aku mengetuk pintu rumahnya. Dia keluar dan aku bertanya, “Wahai Abu ‘Abdillah, Seseorang yang asing telah meninggalkan kampung halamannya. Ini adalah kali pertama aku datang ke tempat ini, aku ingin belajar hadits dan menguasai sunnah, dan tidak ada yang ku tuju dari perjalananku ini selain Anda”.

Dia berkata, “Masuklah ke dekat tiang ini agar engkau tidak terlihat”. Kemudian aku masuk dan dia berkata kepadaku, “Dari mana asalmu?” ‘Jauh ke Sebelah Barat”, jawabku. Dia kembali bertanya, “Afrika?”, Kujawab, “Lebih jauh dari Afrika. Aku harus mengarungi lautan bila ingin pergi dari daerahku ke Afrika, negeriku Andalusia”. Dia berkata, “Tempatmu sangat jauh, tidak ada yang lebih aku sukai daripada menjamu orang sepertimu. Akan tetapi aku berada dalam keadaan diuji, mungkin engkau sudah mengetahui hal itu”.

Aku menjawab,

“Ya, aku sudah mengetahuinya sejak pertama kali sampai ke tempat ini. Di sini tidak ada orang yang mengenalku. Jika anda mengizinkan, aku akan datang setiap hari dengan penampilan seorang pengemis. Ketika sampai di depan pintu aku akan berkata seperti apa yang dikatakan seorang pengemis kemudian Anda keluar. Kalaulah anda tidak mengajarkan kepadaku, kecuali hadits saja setiap harinya, sudah cukup rasanya bagiku”.


“Ya Baiklah. Dengan syarat engkau tidak menceritakannya kepada siapa pun tidak juga kepada Ahli Hadits”. Kukatakan, “Aku memegang Syarat Anda”.

Kemudian aku mengambil sebuah tongkat dan membuat kepalaku dengan sehelai kain yang telah lusuh, lalu aku mendatangi rumahnya sambil berteriak, “Kasihanilah Aku! Semoga Allah merahmati Anda”. Kemudian dia keluar aku pun masuk. Dia menutup pintu dan mengajarkanku dua atau tiga hadits, bahkan terkadang lebih. Itulah yang kulakukan terus hingga meninggal penguasa yang memfitnahnya dan digantikan oleh seorang yang berpemahaman Ahlus Sunnah.

Kemudian imam Ahmad bebas kembali dan dia diberi hadiah beberapa unta. Dia telah melihat kesabaranku. Jika aku mendatangi majelisnya, aku disediakan tempat dan dia menceritakan tentang kisahku dengannya kepada ahli hadits. Dia mengajarkanku hadits dan aku membacakan hadits di hadapannya. Ketika aku sakit, dia pun menjengukku bersama murid- muridnya”. (Siyar A’laamin Nubalaa (XIII/ 291- 294), karya Imam adz- Dzahabi Rahimahullah)).

Sumber: ‘Menuntut Ilmu Jalan Menuju Surga: Bab.11- Sekilas Perjalanan Ulama Dalam Menuntut Ilmu. Hal 255- 258. Ust. Yazid bin Abdul Qadir Jawas. Pustaka at- Taqwa. Bogor.